Halo!

Dewi Tombak - Chapter 37

Memuat...
Dewi Tombak

Chapter 37

Tio Ceng, yang kabarnya tidak ditahan oleh pejabat berwenang, ternyata telah ditahan dan segera dihukum dengan dua puluh kali cambukan rotan. Ia juga diancam hukuman yang lebih berat jika berani menuduh orang lain secara sembarangan.

Pengaduan Nona Pek Tin pun kandas sampai di situ. Tak lama kemudian, Tio Ceng menghilang tanpa jejak.

Dengan berdagang sendiri dan menguasai seluruh harta Ong Ciang yang ada di tangannya, yang tidak dapat diganggu gugat oleh Nona Pek Tin sebagai istri mendiang, Ciu Hong kini menjadi pedagang kaya raya. Di luar, ia disegani oleh rekan-rekannya. Namun, di dalam rumah, ia bagai kerbau dicocok hidungnya, atau bahkan "kacung", bagi istrinya yang cantik dan pandai bersandiwara.

Jika ia tidak memiliki Thio Pin di belakang layar, kedudukannya pasti sudah direbut oleh Ang Hoa, yang ternyata diam-diam berhasil merebut hati Ciu Hong dan menjadi saingan gelap bagi Thio Pin dan Bie Kie sekaligus.

Jalannya kehidupan manusia memang tidak berbeda dengan lakon sandiwara yang berlangsung di atas pentas. Sedih dan gembira datang silih berganti. Demikian pula halnya dengan Nona Pek Tin. Setelah mengalami berbagai macam penderitaan, ia akhirnya berhadapan dengan nasib buruk yang sangat langka.

Suatu hari di musim dingin, desa Pek-kee-chung kedatangan seorang pengemis tua bersama cucunya, seorang anak perempuan berusia empat atau lima tahun. Nona Pek Tin merasa kasihan melihat mereka berteduh di bawah pohon. Ia lalu memanggil mereka dan mengizinkan mereka berlindung dari hujan salju di serambi rumahnya. Ia pun menyediakan bubur hangat dan pakaian kering, membuat kakek dan cucunya sangat berterima kasih atas kebaikan hati Nona Pek Tin.

Namun, kakek itu tertegun melihat wajah Nona Pek Tin yang selalu muram. Ia memberanikan diri menanyakan penyebabnya. Nona Pek Tin, yang tidak ingin urusan rumah tangganya diketahui orang lain, memberikan alasan yang berbeda dari kenyataan. Awalnya, si kakek hanya mengangguk. Lama-kelamaan, seolah-olah ia mengetahui bahwa keterangan Nona Pek Tin jauh menyimpang dari persoalan yang sebenarnya dialaminya.

"Nona?" kata si kakek akhirnya. "Saya bukan orang yang suka mencampuri urusan orang lain, tetapi jika saya melihat seseorang tidak berdaya menghadapi peristiwa sebesar itu, saya tidak akan membiarkannya. Dengan kata lain, saya hanya menyediakan tenaga untuk melakukan sesuatu yang tidak dapat atau tidak mungkin dilakukan oleh orang yang saya anggap perlu mendapat bantuan saya. Oleh karena itu, cobalah Nona jelaskan, persoalan apa yang membuat hati Anda gelisah?"

Nona Pek Tin merasa tidak punya pilihan lain untuk menyembunyikan rahasia hatinya. Ia terpaksa menceritakan segala persoalan yang dialaminya. Si kakek yang mendengar tentang sikap pejabat setempat yang korup dan pandai memutarbalikkan fakta, menjadi gusar. Ia mengepal-ngepalkan tinjunya sambil memaki, "Kurang ajar! Jika seorang pejabat yang bertugas menjaga ketertiban dan kesejahteraan di kota justru berbalik menjadi musuh rakyat dan tidak mengindahkan keadilan, lalu apa gunanya ia dihormati serta dijunjung tinggi sebagai bapak rakyat?"

"Nona, saya bukan bicara sombong," lanjutnya, "Jika saya belum mengambil tindakan terhadap manusia busuk itu, saya belum puas rasa penasaran saya! Namun, agar kita saling menjamin dan mengindahkan kepentingan masing-masing, saya punya satu syarat yang hendak saya ajukan kepada Anda. Jika saya tidak berhasil dalam pekerjaan membasmi pejabat lalim itu, tentu jiwa saya akan melayang! Oleh karena itu, jika saya sudah meninggal, sudilah Nona merawat cucu saya ini dengan sebaik-baiknya. Selain dia mungkin akan hidup terlunta-lunta di luar, dia juga satu-satunya anak keluarga kami yang masih hidup setelah bangsa Kim melakukan serangan kilat ke tanah air kita ini. Maka, biarpun nanti saya binasa, saya akan mati dengan tenang, tanpa ada sesuatu yang perlu saya khawatirkan."

Hati Nona Pek Tin mencelos. Ia cemas memikirkan tindakan yang akan diambil si kakek. Diam-diam ia sangat menyesali keterangan yang telah diberikannya, yang membuatnya gelisah luar biasa, namun ia tak berdaya membuat si kakek mengubah niatnya.

Tatkala malam tiba, si kakek membiarkan cucunya tidur nyenyak. Kemudian, ia meminta diri kepada Nona Pek Tin, sambil tidak lupa mengulangi syarat yang harus ditepati Nona Pek Tin jika ia celaka dalam percobaan yang sangat berbahaya itu. Nona Pek Tin berjanji akan menepatinya.

Si kakek, yang ternyata bukan orang sembarangan dan memiliki kepandaian silat yang cukup tinggi, akhirnya berhasil memasuki gedung pejabat korup itu. Namun, ketika pekerjaannya untuk membunuh pejabat itu gagal, ia tertangkap dan dilukai oleh para pengawal di gedung tersebut. Dengan susah payah ia berhasil kabur dan kembali ke rumah Nona Pek Tin dalam keadaan separuh mati.

Alih-alih meringankan penderitaannya, Nona Pek Tin justru mengalami kesulitan berlipat ganda ketika si kakek datang dalam keadaan terluka. Asap tak dapat ditutup, demikianlah kata peribahasa. Ketika Nona Pek Tin diam-diam memerintahkan orang untuk mengubur si kakek, berita ini diketahui oleh mata-mata dari kantor pejabat. Ia pun ditangkap dan digiring ke kantor pejabat tersebut. Mayat di dalam peti mati, ketika diperiksa, ternyata dikenali oleh pengawal yang pernah mengepung dan melukainya. Pengawal itu memastikan bahwa mayat itu adalah si kakek yang gagal membunuh pejabat tersebut.

Oleh sebab itu, Nona Pek Tin dituduh sebagai orang yang menyewa si kakek untuk melakukan kejahatan itu. Meskipun ia membantah keras dengan memberikan alasan-alasan yang masuk akal, ia tetap dijebloskan ke penjara. Selain memikirkan nasib buruknya, ia juga teringat akan cucu si kakek di rumahnya, dan tidak tahu bagaimana nasib anak itu saat itu.

Di bawah pemeriksaan yang bengis dan siksaan tanpa ampun, Nona Pek Tin terpaksa membubuhkan tanda tangan pada surat pengakuannya bahwa ia benar telah menyewa si kakek yang sudah meninggal itu untuk membalas dendam kepada pejabat tersebut. Dengan demikian, terbukalah jalan yang mudah bagi pengadilan negeri untuk menjatuhkan hukuman mati kepada Nona Pek Tin yang bernasib sangat buruk itu.

Namun, syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, yang masih melindungi Nona Pek Tin yang tak berdaya itu. Tatkala pada hari esoknya ia akan menjalani hukuman mati di tiang gantungan, tiba-tiba pada petang hari itu, seorang Nikouw atau biarawati lanjut usia muncul dan masuk ke dalam penjara tanpa diketahui oleh para sipir wanita yang menjaganya. Setelah mematahkan semua borgol Nona Pek Tin yang saat itu pingsan karena bekas siksaan, ia segera mendukung Nona Pek Tin dan membawanya pergi melayang melewati pagar tembok penjara yang tinggi. Dari sana, ia turun ke bawah dan menghilang ditelan kegelapan.

Ketika Nona Pek Tin tersadar dari pingsannya, ia mendapati dirinya terbaring di atas ranjang, namun tidak mengetahui di mana ia berada. Di tepi ranjang, ia melihat seorang biarawati berwajah sabar menunggunya untuk melayani segala keperluannya. Saat Nona Pek Tin hendak bangkit, biarawati itu dengan manis mencegahnya sambil tersenyum dan berkata, "Jangan engkau bangun dahulu, karena engkau masih terlalu lemah untuk berbuat begitu." Kemudian, sambil membuka tutup cawan yang terletak di atas meja, ia mengangkat cawan itu dan mendekatkannya kepada Nona Pek Tin, seraya berkata, "Minumlah obat ini. Esok hari Anda pasti akan merasa lebih segar dan dapat bangkit seperti biasa."

Nona Pek Tin mengucapkan terima kasih dan meminum obat yang rasanya sangat pahit itu dari cawan yang diulurkan oleh biarawati tua tersebut. "Sungguh pahit sekali," kata Nona Pek Tin sambil menggigil. Biarawati itu tersenyum dan mengiakan, "Benar," katanya, "Sehingga itu tak berbeda dengan rasa getir yang tengah Anda hadapi dewasa ini. Tapi Anda tidak perlu merasa cemas atau khawatir, karena pejabat itu tak mungkin dapat menangkap Anda lagi. Dia sudah saya bunuh dan saya ancam semua kaki tangannya, bahwa barang siapa berani membela perbuatan majikan yang keji itu, mereka semua akan saya sapu bersih, sehingga tidak seorang pun yang dapat saya ampuni!"

Nona Pek Tin merasa sedikit lega. Namun, ketika teringat akan cucu si kakek yang tertinggal di rumahnya, ia menjadi cemas dan memberitahukan hal itu kepada biarawati tua. Biarawati itu hanya tersenyum dan menghibur, agar Nona Pek Tin tidak khawatir terhadap anak itu, karena ia telah dibawa pergi oleh salah seorang sahabatnya untuk dididik dan dirawat sebagaimana mestinya. Lebih lanjut, biarawati itu memberitahukan kepada Nona Pek Tin bahwa si kakek yang telah meninggal itu adalah salah seorang saudara seperguruannya yang ilmu kepandaiannya paling rendah di antara mereka sekalian. Ketika Nona Pek Tin menanyakan siapa gelar biarawati itu, ia hanya mendapat jawaban bahwa ia akan mengetahuinya di kemudian hari.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment