Chapter 38
Setelah itu, ia diminta agar tenang dan beristirahat dengan perasaan lega.
Pada keesokan harinya, benar saja Pek Tin merasakan badannya lebih segar, luka-luka bekas siksaan yang dideritanya pun menjadi sembuh dan tidak sakit lagi.
Tatkala Pek Tin telah sembuh total dan dapat bergerak bebas, pada suatu hari si biarawati menunjuk sebilah pedang yang tergantung di dinding tembok sambil berkata, "Jika engkau ingin bertanya di mana keadilan berada dewasa ini, tanyakanlah itu kepada pedang ini!" Semula Pek Tin tidak mengerti maksud si biarawati.
Namun, ketika dijelaskan bahwa pada masa itu hanya senjata dan kekuatan saja yang memiliki keadilan, nona itu baru sadar, lalu memohon kepada si biarawati agar diterima sebagai muridnya dan diberi pelajaran ilmu silat untuk dapat memperoleh keadilan seperti yang telah dikatakan oleh biarawati itu.
Biarawati tua itu menyanggupi, jika Pek Tin bersedia menerangkan terlebih dahulu kepadanya, untuk maksud apa keadilan itu hendak dijalankannya.
"Itulah untuk membalas dendam terhadap musuh-musuh suamiku!" Pek Tin menjawab singkat dan jelas, "Aku merasa perlu sekali untuk bertindak sendiri, sebab para pembesar yang berwajib selalu membela mereka dan membuat aku tak berdaya!" Biarawati tua itu tampak tersenyum dan menganggukkan kepalanya sambil berkata, "Itu boleh, asalkan keadilan itu dijalankan dengan menuruti peraturan yang layak." Begitulah, di bawah bimbingan biarawati tua itu.
Pek Tin mempelajari ilmu silat dengan sangat giat selama beberapa tahun dengan satu tujuan tertentu, yaitu akan membalas dendam terhadap musuh-musuh suaminya. Di antara mereka, sebagaimana telah diketahuinya dari keterangan Tio Ceng, selain Ciu Hong, adalah Thio Pin yang menjadi biang keladi kematian yang sangat mengenaskan hati yang dialami oleh Ong Ciang.
Hari berganti bulan, bulan berganti tahun.
Bagaikan berputarnya sang waktu, demikian juga kepandaian Nona Pek Tin kian hari kian bertambah, hingga masa anak bawang telah dilampauinya hampir tak terasa.
Jika pada beberapa tahun yang lalu dia hanya seorang perempuan yang lemah dan tak berdaya, kini dia telah memiliki kepandaian silat yang sangat hebat.
Memainkan pedang dan alat-alat senjata lainnya.
Melompat tinggi bagaikan kucing dan berjalan setengah miring bagaikan burung kepinis.
Segala kepandaian itu kini telah dimilikinya dan mencapai taraf seorang taihiap atau pendekar wanita.
Dengan demikian, ia pikir sudah cukup untuk membalas dendam kepada musuh-musuh suaminya itu.
Namun, ketika maksud ini diutarakan kepada biarawati tua yang menjadi gurunya itu, ia hanya mendapat jawaban dengan gelengan kepala, "Belum cukup, sebab pihak musuh telah berhasil mengumpulkan orang-orang pandai untuk melindungi dan membantu dalam usaha mereka yang tidak halal itu."
"Oleh sebab itu, aku menasihati agar engkau menunggu sedikit waktu lagi untuk bergerak."
"Karena segala pekerjaan yang dilakukan dengan tergesa-gesa tidak akan memberikan hasil yang baik bagimu!"
Tatkala kembali berlatih giat sehingga hampir setahun lamanya, Pek Tin mengajukan permintaannya kepada sang guru untuk keluar melakukan pembalasan kepada musuh-musuhnya itu.
Kali ini sang biarawati mengabulkan sambil berpesan, "Sejak saat ini dan selanjutnya aku usulkan agar engkau mengubah namamu menjadi Pek In (Awan Putih) dan bukan lagi Pek Tin (Permata Hijau Gemerlap) seperti yang biasa disebut orang."
"Bagaikan orang yang maju di medan perang, engkau harus selalu waspada dan jangan berlaku lengah."
"Segera mundur jika ternyata perlu, tetapi janganlah mengumbar nafsu untuk mengurangi tekadmu yang sedang menyala-nyala."
"Orang yang mundur dalam peperangan tidak selalu kalah atau berlaku pengecut."
"Maka dalam segala pekerjaan, engkau harus berpegang pada kepercayaan diri, dan jangan berlaku sombong di waktu memperoleh kemenangan, atau lekas putus asa di waktu mengalami kegagalan."
"Karena orang yang selalu mengetahui di mana ia harus mundur dan dalam keadaan bagaimana ia harus maju, dialah seorang yang pandai melihat gelagat."
"Camkanlah pesanku ini karena hidupku di dunia ini pun semakin lama semakin pendek, hingga segala tugasku yang belum dapat diselesaikan semasa hidupku, selayaknya dilanjutkan olehmu sebagai muridku di kemudian hari."
"Tetapi soal permusuhan, setelah pihak-pihak yang bersangkutan telah terbalas impas, lebih baik disudahi daripada berlarut-larut hingga anak cucu kita turut terseret ke dalamnya."
"Itulah suatu kebiasaan lama yang sangat kutentang keras untuk dipraktikkan oleh setiap orang yang berkecimpung dalam dunia Kang-ouw."
Maka, dengan menukar pakaian ringkas dan membekal pedang hadiah dari gurunya serta kantong kulit berisi beberapa macam senjata rahasia, Pek In kembali diam-diam ke desa Pek-kee-chung untuk menyatroni kediaman Ciu Hong, yang kabarnya menetap di desa halamannya itu, setelah peristiwa dilarikannya Pek Tin dari penjara dan setelah beberapa tahun lamanya persoalan tersebut hampir dilupakan oleh penduduk di sana.
Malam terang bulan merupakan malam yang menyenangkan sekali bagi seluruh umat manusia di muka bumi, tetapi tidak demikian halnya dengan para pencuri dan penjahat, yang justru merasa lebih leluasa dan lebih tenang pada malam-malam gelap gulita!
Demikian juga menurut pendapat Pek In yang tengah menyatroni gedung Ciu Hong di waktu itu.
Tetapi hatinya yang selalu dipenuhi dengan hasrat pembalasan, seketika itu seolah tidak menghiraukan keadaan tersebut.
Ke jurusan mana saja ia menuju, matanya seolah berbentrokan dengan musuh-musuhnya yang sangat dibencinya itu sehingga merasuk ke dalam tulang-tulang dan sumsumnya. Musuh-musuhnya itu tak lain adalah Ciu Hong, Thio Pin, dan seluruh komplotannya.
Pada petang hari itu juga Pek In telah mengambil keputusan dalam hatinya, "Jika bukan kedua bangsat bermarga Ciu dan Thio itu yang mampus, tentulah aku!" Setelah berhasil menyusur sepanjang pagar tembok dan tiba di atas sebuah kamar yang penerangannya agak guram, tiba-tiba ia mendengar suara seorang perempuan yang berbicara dengan berbisik-bisik kepada seorang laki-laki, "Engkau ini tampaknya kian hari kian bertambah berani saja!"
"Apakah engkau tidak pernah memikirkan bagaimana akibatnya nanti, jika sampai suamiku mengetahui persoalan ini?"
Si laki-laki tertawa tengik.
"Takutkah engkau jika segala sesuatu diketahui oleh suamimu?"
"Tetapi mengapa engkau berani bermain api jika engkau merasa takut terbakar?" katanya memukul balik kata-kata si perempuan itu.
"Ah, tidak kusangka keberanianmu ini."
"Sudah diberi bahu, lalu minta kepala!" kata perempuan itu mendongkol.
Si laki-laki tertawa terkekeh-kekeh, hingga Pek In jadi jengah dan mengomel dalam hati, "Sialan benar lelaki berengsek itu! Aai!" Dengan mendengarkan percakapan itu, ia segera paham apa yang terjadi dalam kamar tersebut di saat itu.
"Baru saja aku hendak bergerak," pikir Nona Pek In. "Tiba-tiba aku menemui perkara mesum serupa ini!"
"Tetapi siapakah gerangan orang laki-laki itu?"
"Apakah perempuan itu istri Ciu Hong?" Pek In belum dapat berpikir panjang, ketika dari sebelah dalam gedung itu tiba-tiba terdengar suara orang yang membentak dengan suara keras, "Binatang!" katanya.
"Anjing yang dipelihara dengan baik masih ingat kepada majikannya."
"Tetapi engkau seorang manusia, meski diperlakukan sebaik dan sehormat apa pun, akhirnya masih saja berani merusak rumah tanggaku tanpa memikirkan segala kebaikan yang telah kulimpahkan padamu!"
"Apakah engkau sesungguhnya menyangka aku hendak berlayar ke kota lain?"
"Sepertinya perlu juga kuberitahukan kepadamu, bahwa sekian lamanya aku mengintip perbuatan kalian berdua, dan sekarang terbuktilah bahwa dugaanku itu tepat! Maka apakah yang hendak kaukatakan pula?" Laki-laki yang tertangkap basah itu rupanya menjadi nekat dan balas mengancam orang yang pertama menerbitkan kehebohan itu dengan bentakan keras, "Tutup bacotmu! Orang yang telah membuat engkau menjadi kaya raya seperti sekarang ini, antara lain aku sendiri... engkau harus berterima kasih karena tenaga bantuanku itu! Ingatlah, dengan siasat-siasat yang telah kuusahakan itu, engkau telah terbebas dari segala tuntutan yang sebenarnya engkau sendiri yang harus bertanggung jawab! Lupakah, atau engkau sengaja melupakan peristiwa istri Ong Ciang yang telah dipenjarakan karena dituduh menyewa pembunuh untuk menghabisi nyawa pembesar yang berwajib, yang kemudian telah melayang juga nyawanya di tangan seorang Nikouw yang tak diketahui asal-usulnya, yang menurut para penjaga penjara, sekaligus telah melarikan juga istri Ong Ciang dari dalam penjara? Ingatlah baik-baik! Apakah semua itu barangkali perlu diungkit-ungkit pula untuk memperbarui kasus itu yang akan menjerat lehermu sendiri? Ayo, katakanlah! Aku bersedia untuk menjadi saksi yang akan menyeretmu ke tiang gantungan atau ke tangan algojo!" Dengan memperhatikan kata-kata yang diucapkan orang tersebut, Pek In segera mengetahui betapa liciknya sifat orang itu, karena selama mengucapkan kata-katanya yang sedemikian lancarnya, sedikit pun ia tidak membayangkan kelemahan di pihaknya sendiri!
"Inilah apa yang dapat dikatakan dengan tepat: senjata makan tuan!" pikir Nona Pek In. "Barang siapa berani berbuat, dialah yang harus berani menanggung segala akibatnya!" "Engkau berani mengancamku?" kata suara orang laki-laki yang kedua yang ternyata bukan lain adalah Ciu Hong.