Chapter 39
"Hendak kusaksikan sampai dimana kelihayanmu!" Tapi Pek In hanya dapat menduga-duga saja, bahwa itu adalah suara Ciu Hong yang telah memfitnah suaminya sehingga binasa, dan bersamaan dengan itu, apakah orang laki-laki yang pertama bicara itu bukan Thio Pin, yang ia pernah dengar namanya tapi belum pernah melihat bagaimana wajahnya?
Pek In belum sempat berpikir terlalu lama, ketika di sebelah dalam tiba-tiba terdengar suara orang bertempur dengan menggunakan kuali atau alat-alat rumah tangga lainnya sebagai senjata.
"Tolong! Tolong!" Orang perempuan itu berlari-lari keluar masuk meminta bantuan kepada beberapa orang laki-laki yang bekerja dan memang berdiam dalam gedung itu juga.
"Ringkus si orang she Thio yang tak mengenal budi kebaikan orang ini," begitulah Ciu Hong berteriak kepada orang-orang itu.
Sementara Pek In yang mendengar kata-kata si bajingan she Ciu itu segera menduga bahwa orang itu pasti bukan lain daripada Thio Pin adanya.
"Sekali ini akan dapat kubalas dendam suamiku dengan sekaligus!" pikir Pek In didalam hatinya, lalu ia hunus pedangnya sambil berdoa sendirian, "Jika roh suamiku di alam baka senang hatinya suka melindungi diriku untuk dapat melaksanakan cita-citaku membalas dendam kepada musuh-musuh itu." katanya dengan mulut berkemak-kemik, "Biarlah pada petang hari ini juga aku dapat menunaikan tugasku ini dengan baik!"
Tatkala baru saja ia selesai berdoa, tiba-tiba ia mendengar satu jeritan ngeri yang dibarengi dengan jatuhnya barang sesuatu yang agak berat ke atas ubin dan disusul dengan suara bentakan, "Mampus kau! Sekarang engkau baru rasakan betapa enaknya tinjuku ini!" Setelah itu terdengar suara itu pula yang memerintahkan kepada orang-orang bawahannya itu, "Kepalanya telah kukepruk dengan tinjuku ini. Sekarang kalian tak usah banyak pusing, mati atau hidup seret saja dirinya dan lemparkan ke dalam sungai, habis perkaranya!"
Orang perempuan tadi menjerit ketika mendengar perintah itu.
Itulah suara Thio Pin, yang sedari semula dikenal orang sebagai seorang yang ganas dan terkenal sekali namanya di antara kawanan penjahat yang beroperasi di sepanjang sungai yang biasa dilaluinya.
"Dia sesungguhnya telah mati!" kata seseorang hingga orang perempuan itu terdengar menangis tersedu-sedu.
Thio Pin terdengar tertawa mengakak.
"Tidak usah engkau berpura-pura sedih." Katanya tenang. "Sejak hari ini dan selanjutnya rumah dan seluruh harta benda yang berada di sini telah menjadi milikku...... berikut nyonya rumahnya sekali! Ha... ha... ha!"
"Engkau sesungguhnya seorang manusia yang ganas dan jahat sekali!" kata suara nyonya itu, "Niscaya para dewa dan Thian akan mengutuk segala kejahatanmu itu!"
"Bohong!" ejek Thio Pin. "Thian tidak ada. Sedang untuk bisa menjadi kaya raya karena hasil daripada usaha dan kerja keras, bukanlah karena Thian Yang Maha Kuasa!"
"Thian akan mengutuk kepadamu! Pembalasan itu akan datang lebih cepat daripada apa yang kau duga!" kata nyonya itu yang ternyata bukan lain daripada Bie Kie adanya, tapi tidak dikenal oleh Pek In.
"Percayalah apa kataku, engkau manusia yang tak berguna pasti akan menemui pembalasan yang setimpal dengan perbuatanmu!"
Sementara Pek In yang sudah tak dapat menahan pula amarahnya, tiba-tiba melompat turun dan menerobos masuk ke gedung itu tanpa memperhitungkan pula akan untung rugi yang bakal dialaminya.
"Bangsat Thio Pin!" bentaknya dengan suara nyaring. "Kini Thian telah mengirim aku untuk mengambil jiwa anjingmu!"
Thio Pin yang mendengar bentakan itu, tidak berbeda dengan mendengar suara guntur di siang hari, hingga ia lekas mengambil goloknya dan menyambut kedatangan Pek In sambil berseru, "Engkau ini siluman dari mana yang mengaku sebagai utusan Thian untuk datang mengacau ke tempat kediamanku ini?"
Tapi sebelum ia bergerak, pedang Pek In telah mendahului menyambar goloknya itu sehingga putus menjadi dua, hingga Thio Pin jadi sangat terkejut dan lekas-lekas membalikkan badannya dan mengambil sebatang toya dari atas arak senjata.
Tapi, cara inipun ternyata masih terlampau lambat untuk ia dapat menolong dirinya sendiri.
Karena begitu tangannya meraba kepada toya tersebut, pedang Pek In telah menabas batang lehernya, sehingga kepala Thio Pin putus dan jatuh menggelinding di atas ubin.
Darah hidup menyembur keluar dari dalam tubuh penjahat yang telah membunuh Ciu Hong itu, ketika tubuh yang tak berkepala itu roboh di tanah bagaikan sebuah pohon yang tumbang diterjang angin tofan.
Bie Kie menjerit ngeri dan jatuh pingsan seketika itu juga.
Mula-mula Pek In hendak menghabiskan juga jiwa isteri Ciu Hong itu.
Tapi waktu teringat akan omongan Tio Ceng, yang mengatakan bahwa Bie Kie bukan orang jahat yang turut menyebabkan Ong Ciang meninggal dunia, maka ia telah mengampuninya.
Kemudian ia meloloskan diri dengan jalan melalui pagar tembok, tatkala mengetahui bahwa kedua orang musuh besarnya itu telah terbinasa dengan sekaligus, yaitu Ciu Hong telah dibinasakan oleh Thio Pin, sedangkan Thio Pin sendiri telah terbinasa dalam tangannya.
Maka anak buah Thio Pin jadi gusar sekali waktu datang untuk melakukan pengepungan, karena Pek In telah menghilang entah kemana perginya.
Dengan menggunakan ilmu berjalan cepat, Pek In telah kembali ke kelenteng tempat kediamannya sebelum hari menjelang tengah malam.
"Kini telah selesailah tugasmu," kata biarawati itu dengan tersenyum simpul, "Hanya belum tahu bagaimana akan kau tuntut penghidupanmu nanti? Kembali kepada masyarakat ramai atau menetap tinggal di sini?"
"Oleh karena pengalaman-pengalaman getir yang pernah kuderita itu," kata Pek In dengan bercucuran air mata, "Di dalam hatiku tiba-tiba timbul keinginan untuk menyiarkan ilmu silat di antara kaum wanita, agar mereka dapat menentang atau sedikit-dikitnya dapat menolong diri serta suami atau sanak saudara jika sampai mereka mengalami kejadian serupa apa yang pernahku alami itu, hanya apakah dengan ilmu kepandaian yang kumiliki sekarang ini, aku dapat melaksanakan keinginanku itu dengan berhasil?"
Si biarawati tersenyum dan menjawab, "Ilmu silat yang kau miliki sudah dapat digolongkan pada ahli-ahli silat dan teruslah melatihnya sehingga untuk menurunkan kepandaian itu kepada orang lain dapat dikatakan sudah agak cukup juga.
Lebih-lebih jika hanya akan dipergunakan untuk sekadar menjaga diri saja.
Tapi, jadi guru bukanlah suatu pekerjaan yang mudah dan engkau anggap sudah cukup dengan pelajaran-pelajaran apa yang kau miliki.
Karena dalam kedudukan sebagai guru, ada kalanya bisa juga kita bertemu dengan orang-orang sombong dan iseng, yang acapkali hendak mencoba kepandaian kita untuk mencari nama tersohor dengan jalan merobohkan nama kita.
Selain dari itu, bisa kejadian kita diadudomba oleh murid-murid kita sendiri, jika umpama kita kurang data pada waktu pertama memilih murid.
Maka kita menjadi guru orang, bukan saja harus bersikap sabar dan pandai timbang-menimbang segala perkara dengan seksama, kita pun jangan sekali mudah dihasut sehingga mudah pula diperalat oleh lain orang.
Itulah antara lain merupakan alat yang pertama-tama bagi orang yang hendak menjadi guru."
Pek In mendengarkan nasihat gurunya itu sambil menundukkan kepala dan memasang telinganya besar-besar.
Dan disaban waktu si biarawati menoleh sebagai tanda menekankan agar omongannya itu lebih diperhatikan oleh si nona, Pek In lalu menganggukkan kepalanya sedikit sambil berkata, "Aku perhatikan dengan seksama apa pesan guruku itu."
Setelah selesai memberi nasihat kepada muridnya, Nikouw tua itu lalu mempersilahkan Pek In masuk beristirahat.
Beberapa bulan kembali telah lewat.
Pada suatu hari biarawati itu telah mengutarakan pikirannya kepada Pek In, bahwa pada hari besok ia akan pergi merantau ke lain tempat untuk beberapa waktu lamanya.
Dan ia meminta supaya Pek In baik-baik menjaga kelentengnya dan jangan bepergian kemana-mana selama ia belum pulang dari perantauannya.
Pek In berjanji untuk mematuhi segala pesan gurunya itu.
Pada suatu hari selagi ia berlatih ilmu silat di muka halaman kelenteng, tiba-tiba muncul seorang laki-laki sebayanya yang berdiri menyaksikan di suatu pinggiran tanpa Pek In menyadarinya.
Tatkala ia bersilat beberapa jurus lamanya, sekonyong-konyong orang laki-laki itu berseru, "Sayang, sayang! Jurus-jurus yang pertama dan selanjutnya telah kau lakukan dengan baik sekali tapi ketika bersilat pada bagian Pektee bun, atau ratusan bunga menyebar dan mewangi di seluruh muka bumi, bagian itu ternyata masih kurang baik kaulakukannya!"
Pek In yang sedang asyik bersilat dan mendadak mendengar dirinya dicerca orang, sudah barang tentu lantas menghentikan permainan silatnya dan menoleh ke arah orang laki-laki itu dengan wajah memerah karena jengah.
Maski ia merasa mendongkol, tapi ia lantas bertanya dengan suara cukup manis, "Cara bagaimana engkau bisa mengetahui bahwa aku telah keliru memainkan ilmu silatku, sedangkan engkau sendiri bukan orang dari kaumku, yang meyakinkan ilmu silat dari cabang perguruanku pula?"
Orang laki-laki itu jadi tertawa geli mendengar pertanyaan nona itu.
"Engkau sendiri bukan aku," katanya, "Yang tak dapat membedakan permainan silat mana yang benar atau keliru!"
Pek In jadi semakin mendongkol dan menjawab ketus, "Jika engkau sesungguhnya mengerti atau paham segala macam ilmu silat dengan sesempurna-sempurnanya, sudilah kiranya engkau memberi petunjuk-petunjuk dan membenarkan bagian-bagian yang keliru dengan jalan pie-bu?"
Orang laki-laki itu tertawa mengakak, "Tidak kunyana bahwa engkau ini seorang yang mudah tersinggung dan pemarah.
Tapi karena engkau telah menantang pie-bu kepadaku akupun bersedia untuk mengabulkan permintaanmu itu.
Tapi aku punya syarat yang hendak ditanyakan dahulu kepadamu.
Jika engkau yang kalah, bagaimana?"
Tanpa banyak pikir memikir pula nona itu lalu menjawab, "Akan kugunduli kepalaku dan masuk menjadi biarawati!"
"Jangan engkau berlaku nekat dahulu!" kata orang laki-laki itu pula sambil tertawa geli.