Halo!

Dewi Tombak - Chapter 40

Memuat...
Dewi Tombak

Chapter 40

"Sekarang begini saja, kita ambil jalan yang tidak memberatkan, malah boleh dikatakan menguntungkan kedua pihak.

Engkau hidup bujangan dan aku pun demikian.

Oleh sebab itu, paling betul kita ambil ketentuan begini saja.

Jika engkau kalah dalam *pie-bu* ini, engkau harus rela menjadi istriku.

Tapi jika aku yang kalah, aku pun tidak akan menolak menjadi suamimu!

Akurkah kiranya diatur begitu?" Pek In jadi mendongkol bukan main dan membelalakkan matanya sambil menuding dan mendamprat, "Dasar laki-laki tidak punya mata!

Engkau anggap aku ini perempuan macam apa?" Orang laki-laki itu tertawa *haha-hihi* dan kontan menjawab, "Aku anggap engkau seorang perempuan cantik yang ada hanya untuk menjadi pujaan hatiku!.................." Amarah Pek In sudah tak dapat dibendung lagi, hingga tanpa memikirkan pula apa yang akan terjadi kelak, ia membentak dengan suara nyaring sambil menerjang orang laki-laki itu dengan pukulan mematikan yang bernama *Pek Lek Siang-eng* atau kilat dan guntur sambut-menyambut.

Dengan melayang di udara, Nona itu telah merapatkan sepasang telapak tangannya untuk menusuk ulu hati pihak lawannya.

Orang laki-laki itu terkejut dan lekas-lekas menjatuhkan diri dengan berjungkir balik ke suatu pinggiran, hingga terjangan Nona itu hanya berhasil menubruk angin!

Sementara orang laki-laki itu telah dapat berdiri pula di suatu pinggiran, dengan tersenyum lalu berkata, "Pek Tin, paling bagus kau pergunakan siasat *Pektee Bun* yang telah kukatakan keliru dimainkan olehmu tadi, agar ini dapat diketahui di mana kekurangannya atau setidaknya koreksi yang telah kukatakan tadi....." Nona itu jadi agak terkejut dan heran mendengar orang laki-laki itu mengetahui namanya, hingga dengan sigap ia balas bertanya, "Engkau siapa?" "Aku paham," kata orang laki-laki itu, "Engkau bertanya kepadaku demikian karena heran mengapa aku dapat mengenalmu. Ini bukan suatu kejadian yang aneh karena kita toh berasal dari desa Pek-kee-chung juga!

Lupakah engkau kepada anak petani yang bungsu dan keluarganya ditimpa malapetaka saat terbit bahaya kelaparan di desa kita?" Gambaran dari peristiwa yang menyedihkan itu segera terbayang dalam pikiran Nona Pek In, cara bagaimana dahulu keluarganya pernah memberikan sumbangan besar kepada para korban. Di antaranya terhitung anak bungsu petani ini, yang kemudian berbalik menjadi penolong keluarganya saat terjadi perampokan dan melabrak kawanan perampok itu bersama lima orang saudaranya, sehingga di antara enam orang saudara itu hanya anak bungsu ini yang masih hidup hingga saat itu.

Dan dialah yang kemudian mengaku dirinya bernama Liok Kong atau Tuan Keenam. Pek In segera teringat akan peristiwa tersebut yang seakan-akan baru saja terjadi pada hari kemarin.

Tapi si Nona yang bersifat besar kepala dan merasa direndahkan oleh seorang anak petani itu dalam hatinya jadi sangat mendongkol dan lalu mengeluarkan bentakan dari lubang hidung, "Hm!" katanya, "Patutlah sedari tadi telah dapat kucium bau kotoran kerbau!" Tapi orang laki-laki itu yang kini telah diketahui bernama Liok Kong tidak menghiraukan ejekan itu dan kembali tertawa sambil berkata, "Pek Tin!" "Bukan Pek Tin, tapi Pek In!" potong Nona itu.

"Dan aku minta engkau tinggalkan halaman kelentengku ini sekarang juga!" "Oh, sekarang namamu telah berubah menjadi Pek In?" kata Liok Kong sambil tersenyum simpul.

"Akan selalu kuingat baik-baik nama itu, Nona.

Tapi aku belum mau pergi sebelum kita *pie-bu* dan ketahuan siapa yang menang atau kalah.

Kemudian kunantikan jawabanmu atas syarat yang telah kusebutkan tadi!" "Sudah kukatakan tadi," kata Pek In dengan suara ketus, "Lihat saja kalau aku kalah denganmu, akan kugunduli kepalaku dan menjadi biarawati!

Habis perkara!" Liok Kong kembali tertawa mengakak.

"Tidak usah engkau begitu terburu-buru mengambil keputusan nekat serupa itu.

*Pie-bu* ini toh belum berakhir, bukan?" Tanpa banyak bicara pula, Pek In segera menerjang untuk kedua kalinya dengan siasat *Ti-Cu-Pokeng* (laba-laba menubruk dahi) dengan mengambil kesempatan selagi Liok Kong dianggapnya berlaku lengah.

Tapi, di luar dugaannya, anak petani itu telah berlaku begitu cepat dan lincah karena di samping mengelakkan pukulan Nona itu, ia pun berbareng dapat menyergap Pek In dan memeluk pinggangnya begitu rupa, sehingga si Nona tak berdaya untuk melepaskan dirinya dari pelukan itu.

"Nah, inilah baru berarti bahwa *pie-bu* ini telah selesai," kata Liok Kong sambil tertawa gembira.

"Engkau tentunya sudah rela menyerah kalah kepadaku, bukan?" Mula-mula Pek In tidak menjawab apa-apa.

Ia coba meronta-ronta dengan segala daya, tapi ternyata tak dapat berbuat sesuatu untuk melepaskan dirinya.

"Sialan benar anak si petani ini!" gerutunya dengan wajah memerah saking gusar dan malunya.

"Ayoh, lekas lepaskan aku, kalau tidak ....." Suaranya tertahan saat ia meronta-ronta dengan sekuat tenaganya.

"Kalau tidak, artinya engkau menyerah kalah dan suka menjadi istriku!" Liok Kong menggodanya.

Akhirnya terpikir oleh Pek In suatu siasat untuk melepaskan dirinya, dan ia berkata, "Ayoh segeralah lepaskan aku!

Aku ada suatu hal yang hendak kusampaikan kepadamu!" "Jadi engkau sudah suka menyerah kalah?" "Hal itu akan kukatakan sebentar setelah aku bebas dari tanganmu!" "Tidak!" kata Liok Kong.

"Engkau harus berjanji dahulu kepadaku, bahwa engkau rela menjadi istriku!" "Jika aku diminta menyatakan demikian selagi aku masih berada dalam tangkapan, bukankah itu berarti bahwa engkau memaksaku untuk mendapat jawaban itu?

Seorang yang dipaksa untuk mengutarakan sesuatu dalam keadaan tak berdaya, apakah ada kemungkinan dia akan memberikan jawabannya dengan setulus hati?" Setelah berpikir bolak-balik, memang benarlah apa kata Nona Pek In itu.

Demikianlah pendapat Liok Kong, yang segera melepaskan Nona itu dan berkata, "Katakanlah pikiranmu itu dengan setulus hati." Tapi bukannya memberikan jawaban yang telah dijanjikannya itu, sebaliknya Pek In telah mentertawakannya dan berkata, "Jika engkau sesungguhnya seorang jantan asli, tidaklah patut engkau merasa bangga karena dapat menyergap dan mengalahkan aku selagi aku berlaku lengah dan tidak bersiap siaga!" Liok Kong jadi agak mendongkol mendengar jawaban yang dianggapnya tak masuk di akal itu.

"Jika demikian halnya," katanya, "Bagaimanakah kehendak dan pendapatmu agar persoalan ini dapat diselesaikan secara adil, tidak berat sebelah dan sama enaknya?" "Untuk sekarang," kata Pek In, "Tak ada jalan lain daripada menunda dahulu *pie-bu* ini!" "Menunda *pie-bu* ini?

Sungguh aneh sekali," kata Liok Kong keheran-heranan.

"Engkau sudah kalah bertanding denganku, maka di manakah ada istilah menunda *pie-bu* ini?" "Aku paham apa katamu," sahut Pek In.

"Engkau juga tentunya pernah mendengar tentang Khong Beng yang menaklukkan Beng Hek sampai tujuh kali, barulah Beng Hek suka menyerah dengan setulus hati.

Kini engkau baru mengalahkan aku satu kali dengan cara licik, cara bagaimanakah aku suka menyerah mentah-mentah padamu?

Oleh sebab itu, aku suka memberi kelonggaran kepadamu untuk mengulang *pie-bu* ini di lain waktu. Selama waktu itu, aku akan berlatih untuk menentukan siapa di antara kita berdua yang lebih unggul ilmu kepandaiannya.

Tapi sudah barang tentu tidak turuti syaratmu yang berat sebelah itu!" Liok Kong jadi tersenyum mendengar bantahan si Nona. Memang sesungguhnya bahwa syaratnya itu berat sebelah dan menguntungkan dirinya.

Benar juga, pikirnya. Karena jika Nona itu kalah, Pek In harus rela menjadi istrinya. Jika dia yang kalah, Nona itu harus rela pula untuk menerima sebagai suami!

Kan sama saja? Dan di manakah ada aturan serupa itu, yang hanya mengutamakan keenakan diri sendiri saja tanpa mengindahkan ketidaknyamanan orang lain?

Oleh karena itu, mau tak mau Liok Kong harus mengabulkan permintaan Nona itu. Lebih-lebih karena Pek In memang berhasil dapat dirangkap kalah. "Kalau begitu," katanya agak mendongkol.

"Bilamanakah pertempuran ini hendak dilanjutkan pula?" "Tiga bulan yang akan datang," sahut Pek In, "Terhitung mulai hari ini.

Jika selama itu engkau tidak datang, aku akan anggap engkau takut dan kalah dalam *pie-bu* ini, sehingga dengan demikian, semua syarat yang telah ditetapkan itu tidak berlaku lagi!" "Sungguh aneh sekali," kata Liok Kong menggerutu.

"Engkau yang minta menunda *pie-bu*, tapi engkau juga yang minta orang datang mendatangi kamu. Di mana, sih, ada aturan begitu?

Setahuku, barang siapa yang menunda *pie-bu*, maka dialah yang harus datang ke tempat orang yang ditantangnya, kau mengerti?" "Aku mempunyai aturan pribadi, dan persetan dengan aturan yang lain!" kata si Nona ngotot, "Maka kalau engkau tak mau mengindahkan aturanku ini, kau akan kuanggap kalah dalam *pie-bu*, kau mengerti?" "Dasar perempuan .........!" Entahlah apa yang hendak dikatakan Liok Kong selanjutnya, ketika ia membanting kakinya sambil berlalu dengan cepat.

Satu bulan, dua bulan, dan akhirnya tepatlah tiga bulan lamanya sejak *pie-bu* antara Liok Kong dan Pek In terjadi di halaman kelenteng tempat kediaman si Nona itu.

Pek In yang selalu memperhatikan waktu yang telah ditentukannya itu, diam-diam menantikan kedatangan Liok Kong dengan perasaan yang agak ragu.

Karena jika selama waktu tiga bulan itu ia telah berlatih dengan giat sekali, apakah pihak lawannya juga tinggal diam saja dan tidak berbuat yang sama pula untuk mengimbangi keunggulannya?

Ia bukannya tidak percaya pada dirinya sendiri akan mampu mengalahkan lawannya itu, tetapi kenyataan dan kemampuan Liok Kong sesungguhnya tak dapat dipandang ringan.

Hingga hari menjelang senja, pihak lawannya itu tidak juga muncul untuk memenuhi janjinya. Tapi hal ini tidak membuat hatinya menjadi semakin besar karena akan memperoleh kemenangan tanpa bertempur sebagaimana layaknya orang yang melakukan *pie-bu*, walaupun dia telah mengatakan sebelumnya bahwa jika telah tiba saatnya tiga bulan Liok Kong tidak muncul, maka dengan sendirinya dia itu dinyatakan kalah dalam *pie-bu* itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment