Chapter 41
Tapi apakah cara ini bisa dianggap adil?
Lambat laun Pek In menginsafi juga bahwa dalam segala hal ia selalu mau menang sendiri. Namun, karena sudah merasa terlanjur berbuat salah, ia terpaksa tetap mempertahankan cara ini dengan jalan tidak mau menunjukkan kelemahan dirinya sendiri.
Malam itu, menurut perhitungan waktu di zaman sekarang, Pek In segera menarik kesimpulan bahwa Liok Kong tidak mungkin datang. Sambil menghela napas lega ia berkata, "Ada kemungkinan si Liok Kong telah mampus disambar kolera, sehingga dia tidak dapat menepati janjinya untuk datang ke sini selama waktu tiga bulan!"
Kata-kata itu baru saja selesai diucapkan ketika dari tepi atap genting tampak sesosok bayangan yang bergelantungan bagaikan seekor kelelawar, disusul dengan suara tertawa terbahak-bahak. Sosok itu berkata, "Siapa bilang si Liok Kong mampus disambar kolera? Padahal sedari siang aku telah berada di sini, memandangi dirimu dengan perasaan terpesona."
Jika terdengar suara guntur di sisi telinganya, mungkin Pek In tidak akan begitu terkejut seperti saat ia mendengar suara Liok Kong saat itu. Segera ia menolehkan kepalanya ke atas atap kelenteng sambil berpura-pura tertawa geli dan berkata, "Hm, apakah engkau menganggap aku kepala ubi sehingga tidak mengetahui engkau berada di situ? Ayo, sekarang lekas turun untuk merasakan telapak tanganku ini!"
Liok Kong tertawa mengakak mendengar gertak sambal nona itu. "Apakah dengan hanya berlatih selama tiga bulan saja, engkau anggap sudah cukup untuk mengalahkan aku?"
Pek In tidak menjawab sepatah kata pun. Begitu Liok Kong melayang turun ke bawah, ia lantas segera menyambutnya dengan tendangan kilat ke arah perut sambil membentak, "Ini hadiah sebagai tanda selamat datangku!"
Tetapi Liok Kong yang bermata jeli dan selalu bertindak dengan penuh perhitungan, dengan sebat mengelakkan tendangan tersebut dengan memiringkan tubuhnya. Kemudian dengan tangan kiri, ia mengibaskan kaki nona itu sehingga tendangannya meleset dan jatuh di tempat kosong.
"Alangkah lihainya tendanganmu itu!" serunya sambil berkelit dengan gerak yang amat lincah.
Pek In menjadi semakin sengit dan segera menyalurkan tenaga dalam pada kedua telapak tangannya. Ia mendorong tangannya ke muka sambil membentak, "Engkau memandang rendah kepadaku? Kelak engkau akan menyesal!"
Kali ini Liok Kong tidak sempat mengelakkan serangan tenaga yang tak terlihat itu. Dengan suara terkejut ia berseru, "Aya!" Ia terdorong mundur hingga beberapa kaki jauhnya, kemudian jatuh telentang tanpa dapat dicegah.
"Kali ini betul-betul aku harus memuji tinggi kepandaianmu itu!" katanya, meskipun di dalam hati ia merasa dongkol bukan buatan.
"Dengan demikian," kata si nona dengan hati gembira, "bukankah berarti bahwa engkau menyerah kalah kepadaku?"
"Hm!" Liok Kong mengeluarkan suara ejekan dari lubang hidungnya. "Jika Beng Hek dikalahkan oleh Khong Beng hingga tujuh kali baru menyerah kalah, maka di manakah ada aturan aku harus segera menyerah kalah hanya karena dirobohkan secara licik ini?"
Pek In tertawa getir. "Jika engkau masih penasaran," katanya, "aku bersedia untuk mengulangi pertempuran ini!"
Namun Liok Kong yang hendak menyenangkan hati si nona, tersenyum simpul lalu berkata, "Tunggu sampai lain waktu! Aku belum kalah!"
"Kapan?" Si nona seakan-akan meminta penjelasan.
"Entah kapan, tapi pasti pada suatu hari aku akan kembali untuk mengalahkanmu!"
"Setahunkah? Dua tahunkah?"
"Tidak!" sahut Liok Kong. "Paling lama enam bulan, atau kurang dari waktu yang telah kukatakan itu. Siapa tahu?"
Setelah berkata demikian, ia segera melayang ke atas pagar tembok dan menghilang ditelan kegelapan. Nona Pek In tercengang sejenak. "Apakah maksud si Liok Kong itu?" pikirnya. "Aku tahu ia belum kalah, tapi mengapa ia berlaku begitu tergesa-gesa dan begitu mudah meninggalkan medan pertempuran dengan rela meminta waktu bertempur kembali enam bulan lagi?"
Si nona belum sempat berpikir lebih jauh ketika secara tiba-tiba ada sesosok bayangan manusia yang menyergap dari belakangnya, disusul dengan bentakan nyaring, "Aku kembali lagi setelah berselang enam detik lamanya!"
Pek In belum sempat bergerak untuk mengelak ketika tahu-tahu ia telah disergap dan dipeluk erat-erat untuk kedua kalinya oleh Liok Kong yang nakal itu.
"Sialan kau!" omel Pek In sambil meronta-ronta. "Ini bukan suatu pertempuran! Aku telah ditipu selagi aku lengah. Jika engkau sesungguhnya seorang *ho-han*, seorang gagah sejati, segeralah lepaskan aku supaya aku bisa melawanmu sebagaimana layaknya. Kalau engkau tidak mau mengabulkan, maka akan kuanggap engkau berlaku curang dan menyimpang dari syarat pertempuran yang telah kita tetapkan."
"Sehingga dengan demikian," Liok Kong melanjutkan sambil memotong pembicaraan, "bolehlah engkau menganggap bahwa aku kalah dalam pertempuran ini?"
"Ya," jawab si nona singkat.
"Bagus sekali perbuatan kalian berdua!" Tiba-tiba terdengar suara bentakan yang sangat nyaring. Ketika Liok Kong dan Pek In menoleh ke arah suara tersebut, tampak seorang biarawati tua yang berdiri tegak dengan sebatang tongkat berhiaskan ukiran kepala naga di tangannya.
Ia menudingkan tongkatnya ke arah Liok Kong sambil bertanya, "Engkau ini siapa, dan apa sebab berani mengacau di kelenteng tempat kediaman kami ini?"
Biarawati tua itu tidak lain adalah guru Pek In yang baru saja kembali dari perantauannya di kalangan *Kang-ouw*. Si nona merasa sangat malu dan segera menghampiri sang guru sambil memberi hormat. Ia mengadu bahwa Liok Kong telah beberapa kali datang ke situ untuk menantangnya bertarung, namun ia tidak menceritakan bahwa ia telah mengalami kekalahan dalam pertempuran itu.
Sementara itu, Liok Kong yang dituduh mengacau segera membela diri dengan memberikan segala keterangan yang diperlukan untuk kepentingan pihaknya sendiri. Oleh sebab itu, biarawati tua tersebut menjadi agak dongkol kepada muridnya dan berkata dengan hardikan, "Ah, janganlah engkau berani main gila di sini! Inilah sebuah biara dan bukan tempat di mana orang boleh berbuat sesukanya, kau mengerti? Ayo, segera masuk ke dalam!"
Sedangkan kepada Liok Kong, ia menuding dan berkata, "Segera berlalu dari sini selekas mungkin, dan selanjutnya aku larang keras engkau menginjakkan kaki di halaman biara ini."
Demikianlah, selama biarawati tua itu masih hidup, antara Pek In dan Liok Kong tidak pernah terjadi pertarungan lagi. Namun, setelah biarawati tua itu meninggal dunia kurang lebih tiga tahun kemudian, Liok Kong kembali datang menemui Pek In untuk menantangnya bertarung lagi.
Tatkala untuk kesekian kalinya nona itu mengalami kekalahan yang tidak mau diakuinya sebagai kemenangan resmi bagi pihak Liok Kong, tiba-tiba pada suatu hari Pek In angkat kaki dari dalam biara itu dan menghilang entah ke mana. Liok Kong menjadi bingung dan bersumpah untuk mencari nona itu sampai bertemu. Ia kemudian pergi merantau untuk menyelidiki ke mana tujuan kepergian nona Pek In yang sangat dicintainya itu.
Sementara itu, Pek In yang telah merantau di kalangan *Kang-ouw* sekian lamanya, akhirnya mendapatkan seorang murid perempuan. Murid itu adalah seorang gadis yang hampir menjadi korban seorang penjahat di sebuah desa sunyi, yang berhasil ditolongnya setelah penjahat itu dibinasakan. Karena khawatir akan pembalasan dari komplotan penjahat tersebut, nona bernama Soat Kouw itu lalu mengikuti Pek In merantau dengan menyamar sebagai seorang laki-laki.
Karena perawakan Soat Kouw yang bongsor dan hampir seimbang dengan perawakan Pek In sendiri, orang-orang di jalan yang berpapasan dengan mereka lebih sering menganggap mereka sebagai suami-istri daripada guru dan murid. Mereka bepergian bersama-sama, serta duduk makan dan minum bersama pula. Di setiap rumah penginapan, mereka selalu tidur dalam satu kamar dan di atas ranjang yang sama. Oleh karena itu, wajar jika orang-orang menyangka mereka sebagai sepasang suami-istri yang sedang melakukan perjalanan untuk urusan penting atau mengunjungi sanak saudara di tempat jauh.
Soat Kouw memang sudah mengerti ilmu silat meskipun belum sempurna. Hal ini membuat Pek In lebih mudah untuk menurunkan kepandaiannya daripada kepada seseorang yang sama sekali belum mempunyai dasar. Dalam waktu satu atau dua tahun saja, Soat Kouw telah menjadi seorang ahli silat yang memiliki kepandaian yang tidak dapat dipandang sebelah mata.
Selain mendapat pendidikan ilmu silat tangan kosong dan bersenjata, ia pun lambat laun menjadi mahir dalam hal melempar *piauw* atau senjata rahasia kecil seperti *Lian-cu-piauw* dan *Kim-chi-piauw*—dua macam senjata rahasia yang terbuat dari peluru besi dan uang logam. Dengan ilmu kepandaian yang diperoleh dari gurunya, Soat Kouw pernah merobohkan perampok dan melukai beberapa penjahat dengan sambitan *Hui-piauw*. Ia juga pernah menangkap hidup-hidup beberapa pencuri yang mahir melompati pagar tembok dan berlari di atas genting, meskipun kawanan pencuri itu berjumlah tidak kurang dari empat atau lima orang.
Hal tersebut tentu saja membuat Pek In sangat bangga atas hasil pendidikannya terhadap gadis muda yang berperawakan sama besarnya dengan dirinya sendiri itu. Pada suatu hari, mereka kemalaman di luar kota Lay-bu, Provinsi Shandong.