Chapter 42
Oleh karena itu, mereka terpaksa mencari rumah penginapan terdekat untuk melewati malam yang tampak mendung, karena ada kemungkinan akan turun hujan pada petang hari itu.
Pek In dan Soat Kouw baru saja hendak tidur ketika tampak sesosok bayangan manusia yang mengintai mereka dari luar jendela kamar. Orang ini rupanya telah membuntuti mereka sedari siang tanpa disadari oleh guru dan murid tersebut.
Dengan gerakan lincah bagaikan seekor kucing, orang itu muncul di atas genting, lalu melompat turun ke halaman tanpa suara. Setelah itu, barulah ia mengintip ke dalam kamar dari celah-celah jendela. Namun, selagi ia asyik mengintip, tiba-tiba api di dalam kamar dipadamkan sehingga keadaan yang semula terang benderang berubah menjadi gelap gulita bagaikan di liang kubur.
Bersamaan dengan padamnya lampu, daun jendela tampak terkuak. Dengan cepat bagaikan kilat, sesosok bayangan melompat keluar sambil membentak, "Apakah maksudmu mengintip ke dalam kamar orang di waktu malam buta begini?"
Kata-kata itu dibarengi dengan berkelebatnya sebilah pedang, hingga orang itu pun terpaksa melompat mundur sambil menghunus golok di tangannya.
"Engkau siapa?" bentak sosok yang baru keluar dari kamar, yang ternyata adalah Nona Soat Kouw.
Tanpa banyak bicara, orang itu segera meladeni pertempuran dengan sungguh-sungguh. Baru saja pertarungan berlangsung belasan jurus, Soat Kouw terluka parah dan jatuh ke tanah dalam keadaan sekarat.
Tatkala orang itu hendak melarikan diri, tiba-tiba Pek In datang mengejarnya sambil membentak, "Jangan lari! Aku akan adu jiwa denganmu!"
Mendengar kata-kata itu, orang tersebut tertawa getir dan berkata, "Memang begitulah tindakan pasangan sehidup semati seharusnya, setelah yang satu dilukai orang!"
Pek In sangat terkejut mendengar ejekan itu. Ia mundur beberapa tindak sambil melintangkan pedangnya dan berkata bengis, "Engkau siapa? Apa maksudmu melukai muridku? Apakah dosanya sehingga engkau merasa perlu melukainya sampai sehebat ini?"
Mendengar kata-kata Pek In, orang tersebut tertegun sejenak, kemudian menepuk dahinya dengan suara lemah. "Ampun Tuhanku! Aku telah melakukan sesuatu tanpa memeriksa persoalannya secara saksama! Ampunkan aku, Pek In. Aku telah menjadi korban rasa cemburuku, sehingga aku patut menerima hukuman yang setimpal atas kesembronoanku ini!"
Setelah berkata demikian, ia segera membalikkan badan sambil berseru, "Akan kuserahkan diriku kepada pembesar yang berwajib!" Kemudian ia melarikan diri dan lenyap ditelan kegelapan.
"Liok Kong!" seru Pek In dengan hati mencelos.
Ia berdiri sejenak bagaikan orang yang terkesima. Dalam keadaan begitu, barulah ia paham mengapa Liok Kong membunuh muridnya. Hal itu dikarenakan Liok Kong cemburu; ia mengira Soat Kouw yang gemar memakai pakaian laki-laki adalah seorang pria sungguhan yang dianggap sebagai saingan dalam memperebutkan Nona Pek In, padahal kenyataannya Soat Kouw adalah seorang wanita.
Dengan perasaan sedih, Pek In mengangkat Soat Kouw dan membawanya ke dalam kamar dengan bantuan beberapa pelayan penginapan. Dua orang pelayan diperintahkan untuk melaporkan peristiwa tersebut kepada kepala kampung, yang kemudian meneruskan laporan tentang pembunuhan itu kepada pihak berwajib.
Oleh karena Liok Kong telah menyerahkan diri dan mengakui kesembronoannya yang menyebabkan melayangnya nyawa Soat Kouw, ia luput dari hukuman mati. Namun, ia tidak dapat lolos dari hukuman buang ke tempat yang jauh dari kampung halamannya.
Sementara itu, Pek In yang khawatir terus diganggu oleh laki-laki seperti Liok Kong akhirnya terpaksa mencukur rambutnya untuk berpura-pura menjadi seorang Nikouw. Saat itulah ia memperoleh seorang murid perempuan yakni Thio Siauw Giok, yang kemudian dibawanya ke luar daerah Tembok Besar. Di sana, Siauw Giok dilatih ilmu memainkan kaitan *Houw-thouw-kauw* dan ilmu pukulan telapak tangan bernama *Cee gwa-soan-hongciang*.
Bersamaan dengan itu, Pek In mempergunakan obat-obatan untuk membuat wajahnya tampak jauh lebih tua dari usia sebenarnya, rambutnya memutih, dan matanya dibuat tampak seperti orang buta. Dalam keadaan demikianlah Yo Su Nio menjumpainya. Dengan ilmu kepandaian *khikang*-nya, ia telah membuat Ciu Tek Seng dan Siu Leng Siangjin kabur pontang-panting karena tak sanggup menahan pukulan jarak jauh nenek buta tersebut yang memiliki tenaga dalam dahsyat.
Sekianlah riwayat nenek buta samaran itu. Namun, meskipun tampak perubahan jelas sejak ia pertama kali menerima Soat Kouw sebagai murid, hati Pek In telah patah. Ia merasa sangat membenci Liok Kong dan merasa tidak puas sebelum dapat membinasakannya. Terlebih mengingat bagaimana Soat Kouw, murid kesayangannya, tewas di tangan Liok Kong tanpa menyadari bahwa kematiannya disebabkan oleh rasa cemburu karena penyamarannya sebagai laki-laki dianggap sebagai saingan cinta.
Itulah sebabnya timbul pikiran dalam diri Pek In untuk membunuh Yo Su Nio yang merupakan murid musuh besarnya. Namun, hatinya akhirnya melunak setelah Siauw Giok memberitahukan bahwa si "Dewi Tombak" itu menjadi murid Liok Kong setelah kakek itu pulang dari pembuangan. Dengan demikian, Su Nio tidak memiliki tanggung jawab atas permusuhan yang terjadi di antara guru mereka masing-masing.
Kini, setelah mendengar pujian Yo An Jie yang begitu tinggi, Pek In merasa lega. Ia pun melepaskan Su Nio dan Siauw Giok untuk ikut pulang bersama Yo An Jie dan kawan-kawannya.
Bagaimanakah Thio Siauw Giok, Yo An Jie, dan kawan-kawannya bisa mengetahui bahwa Su Nio berada di atas gunung itu dan tengah dikejar-kejar oleh Ciu Tek Seng beserta paman gurunya?
Untuk mengetahui ini semua, kita harus menilik beberapa peristiwa yang terjadi sebelumnya, saat Thio Siauw Giok ditawan oleh pahlawan bangsa Kim yang bernama Hap Nouw Siu Bun.
Pahlawan muda ini, sebagai manusia biasa, tentunya tidak bebas dari rasa kasih dan benci, meskipun ia berasal dari bangsa yang rajanya hampir menjajah seluruh tanah Tionggoan dan berusaha mempertahankan keunggulannya sebagai bangsa penguasa. Sebagai seorang pahlawan yang bertugas melayani rajanya dalam peperangan, ia merasa tidak harus bertindak hanya dengan menuruti segala petunjuk atasan tanpa menimbang akibatnya. Ia harus patuh kepada raja dan bela kepada tanah air, tetapi dalam pertimbangannya, ia harus lebih patuh dan bela kepada dirinya sendiri.
Menurut aturan, ia harus mengirim Siauw Giok yang menjadi tawanannya kepada atasan untuk dijatuhi hukuman sebagaimana layaknya seorang pemberontak. Namun, semua itu hanyalah ketentuan undang-undang pihak penguasa yang dapat bertindak sesuka hati. Hap Nouw Siu Bun rupanya sengaja melupakan ketentuan ini.
Bukan saja ia tidak menyerahkan nona itu kepada atasannya, malah sebaliknya, secara diam-diam ia melepaskannya serta memberi petunjuk kepada Siauw Giok untuk menyusul Su Nio ke daerah pegunungan di arah selatan, karena ia mengetahui bahwa si Dewi Tombak tengah dikejar oleh Siu Leng Siangjin dan Ciu Tek Seng.
Apakah maksud Hap Nouw Siu Bun menyuruh nona itu menyusul Yo Su Nio? Hal ini perlu dijelaskan lebih mendalam. Sejak bertemu dengan Yo Su Nio dan Thio Siauw Giok, hatinya bimbang dan terpikat, hingga dalam segala tindakannya ia tidak dapat melupakan mereka berdua. Ia selalu berikhtiar untuk memiliki salah seorang di antara mereka, jika tidak mungkin memiliki keduanya sekaligus.
Selama Siauw Giok masih menjadi tawanannya, timbul keinginan dalam diri Hap Nouw Siu Bun untuk berjasa bagi rajanya sekaligus memperoleh istri cantik untuk masa depannya. Namun, bagaimana cara melaksanakan semuanya sekaligus?
Dengan diam-diam, ia menyamar sebagai prajurit biasa dan menuju ke kamar tahanan Nona Siauw Giok. Meskipun kaki dan tangannya tidak diborgol, Siauw Giok terkurung rapat dan tidak mungkin kabur tanpa mematahkan jeruji besi yang besar dan kokoh.
Siauw Giok tengah duduk termenung merenungi nasibnya ketika tiba-tiba ia melihat seorang prajurit datang menghampiri dari luar jeruji. Ia memandang sejenak dan segera mengenali bahwa orang yang menyamar sebagai prajurit Kim itu tidak lain adalah Hap Nouw Siu Bun.
"Nona Siauw Giok," kata pahlawan Kim itu dengan sikap ramah dan hormat. "Setelah aku berpikir bolak-balik sekian lamanya, kini aku telah mengambil keputusan untuk..."