Halo!

Dewi Tombak - Chapter 43

Memuat...
Dewi Tombak

Chapter 43

"...untuk menikahimu," ucapnya sambil merendahkan suaranya pada kata-kata terakhir itu.

Siauw Giok tidak merasa heran mendengar pernyataan Hap Nouw Siu Bun yang disampaikan secara terbuka itu. Sebagai seorang wanita yang sudah dewasa, ia sendiri pun sudah mulai memahami perihal cinta, walaupun baginya hal itu baru sebatas teori belaka. Seperti halnya Hap Nouw Siu Bun, ia pun hanya manusia biasa yang dapat mencintai dan membenci.

Sangat disayangkan bahwa Hap Nouw Siu Bun adalah seorang musuh. Meskipun hatinya tidak membenci, secara lahiriah ia tidak dapat berlaku manis untuk menunjukkan kelemahannya. Maka, saat melihat pahlawan bangsa Kim itu menghampirinya dari luar kamar tahanan, ia tetap menatap wajah laki-laki itu dengan jantung berdebar.

"Apakah engkau bersedia menjadi istriku?" tanya Hap Nouw Siu Bun lagi.

"Jika aku bersedia menjadi istrimu, syarat apakah yang hendak kau ajukan?" Kata-kata itu tiba-tiba muncul di dalam hati sang nona, tetapi rasa jengah membuatnya kandas dan tenggelam bagaikan batu yang terjatuh ke dasar lautan. Ia membelalakkan matanya saat mendengar pengakuan cinta pahlawan bangsa Kim yang tampan itu, namun tetap berpura-pura enggan berbicara.

"Apakah engkau marah kepadaku?" tanya Hap Nouw Siu Bun lagi.

Nona itu memberengut. Namun, sifatnya yang masih kekanak-kanakan dan gemar menggoda akhirnya mendorongnya untuk membuka mulut.

"Jika marah, memangnya kenapa? Dan jika tidak marah, bagaimana?" katanya.

Hap Nouw Siu Bun menganggap sikap itu sebagai sifat manja sang dara yang lincah. Sambil tersenyum, ia maju mendekat untuk memegang kedua tangan Siauw Giok.

"Enyah!" bentak nona itu, yang oleh si pahlawan muda hanya dianggap sebagai candaan belaka.

"Aku bicara dengan setulus hati," kata Hap Nouw Siu Bun dengan sikap sungguh-sungguh. "Aku mencintaimu dan telah memutuskan untuk memperistrimu. Apakah engkau akan menolak atau membenciku?"

Kali ini Siauw Giok menatap wajah pria itu dengan saksama, meneliti sedalam-dalamnya isi hati Hap Nouw Siu Bun saat itu.

"Kini aku punya sebuah rencana baru yang dapat membuka jalan bahagia bagi kita berdua," kata pahlawan bangsa Kim itu lagi. "Tetapi untuk melaksanakan rencana itu dengan sebaik-baiknya, aku memerlukan seseorang yang cerdik sebagai pembantuku."

Dalam hati Siauw Giok timbul rasa ingin tahu, lalu ia berkata, "Coba terangkan rencanamu itu!"

"Mari kita duduk sambil merundingkan rencana yang baru saja kupikirkan," kata Hap Nouw Siu Bun sambil menarik tangan sang nona untuk mengajaknya duduk di sudut kamar tahanan.

Namun, Siauw Giok tiba-tiba mengibaskan tangannya dan berkata, "Bukankah aku ini tawananmu?"

"Bagi pihak pemerintah," kata si pahlawan muda, "engkau dianggap sebagai tawanan. Namun bagiku pribadi, engkau adalah pujaan hatiku, bagian dari jiwaku sendiri."

"Apa buktinya?"

Hap Nouw Siu Bun segera menanggalkan tali ikatan pedang di punggungnya, lalu menyerahkan pedang tersebut dengan kedua tangannya kepada sang nona. "Hidup dan matiku aku serahkan ke tanganmu!" katanya.

Siauw Giok merasa tergerak oleh kata-kata itu sehingga muncul rasa simpatinya. Sebagai manusia yang berdarah panas, ia pun harus mengaku bahwa ia merasa tertarik pada pahlawan muda tersebut.

"Untuk maksud apa engkau menyerahkan pedang ini kepadaku?"

"Jika engkau merasa perlu, engkau boleh membunuhku dengan pedang itu," jawab Hap Nouw Siu Bun singkat dan berani.

Thio Siauw Giok tersenyum simpul. Namun, tiba-tiba ia menghunus pedang itu dengan gerakan secepat kilat dan membentak mengancam, "Benarkah engkau tidak sayang pada nyawamu?"

Hap Nouw Siu Bun mengangguk mantap. "Jika engkau sendiri yang turun tangan untuk membunuhku, aku akan menyambutnya dengan lapang dada!" katanya.

Mendengar jawaban itu, Siauw Giok menyeringai dan berkata bengis, "Kalau begitu, serahkan nyawamu kepadaku!"

Hap Nouw Siu Bun berdiri tegak membelakangi dinding tembok sambil tersenyum dan memejamkan mata. "Aku serahkan jiwaku kepadamu tanpa penyesalan atau rasa kecewa," katanya.

Dengan satu bentakan nyaring, Siauw Giok mengayunkan pedang itu ke arah tubuh si pahlawan muda!

SRET! DAK!

Jantung Hap Nouw Siu Bun terkesiap mendengar suara pedang yang mendesing ke arahnya. Namun, meskipun pedang itu mencapai sasarannya, ia merasa dirinya tidak kurang suatu apa pun. Kenyataannya, Siauw Giok tidak menghunjamkan pedang itu ke tubuhnya, melainkan ke dinding yang hanya berjarak beberapa inci saja dari lehernya.

"Sungguh hebat kepandaianmu!" puji pahlawan Kim itu dengan napas lega.

Hati Siauw Giok melunak. Ia segera mencabut pedang itu dari dinding, lalu dengan tangan lainnya ia menggandeng tangan Hap Nouw Siu Bun. "Sekarang aku percaya akan ketulusan hatimu. Maafkan atas kelancangan daku tadi."

"Aku tidak suka engkau memanggilku tuan," kata pahlawan muda itu. "Akan lebih merdu jika engkau memanggilku kakak, dan aku akan memanggilmu adik sebagai balasannya."

Siauw Giok tersenyum dan mengangguk setuju. "Akan kuturuti permintaan Kakak," katanya.

"Itulah yang sangat kuharapkan setiap saat, Dik!" Hap Nouw Siu Bun hampir memeluk dan mencium nona itu karena girang, namun Siauw Giok segera mundur untuk menghindar.

"Ingatlah batas-batas kesopanan yang kita junjung tinggi sejak zaman kuno!" kata sang nona dengan wajah memerah karena malu dan gugup.

Jika menuruti keinginannya, Hap Nouw Siu Bun bisa saja berbuat sesukanya terhadap tawanannya itu. Namun sebagai pria yang mengerti tata krama, ia harus mengindahkan adat kesopanan yang diingatkan oleh Siauw Giok. Ia pun terpaksa menahan nafsu dan asmara yang bergelora di hatinya saat itu.

"Engkau sungguh seorang gadis yang sangat berharga untuk menjadi pendamping hidup dan ibu rumah tangga yang bahagia," kata Hap Nouw Siu Bun.

Sementara itu, Siauw Giok yang seumur hidupnya belum pernah mengalami rayuan seorang kekasih, merasa jantungnya berdebar keras hingga lupa bahwa dirinya masih menjadi tawanan tentara penjajah. Persentuhan tangan dan tubuh yang terjadi seketika itu terasa seperti aliran listrik bagi sang nona. Terlebih saat tangan Hap Nouw Siu Bun menyentuhnya dan mengajaknya duduk berdampingan di atas bangku panjang; sekujur badannya terasa gemetar. Mereka kemudian melanjutkan perundingan dengan sangat akrab.

"Kini aku bertugas sebagai seorang pahlawan," kata Hap Nouw Siu Bun mencoba memaparkan rencananya. "Namun hatiku merasa kurang puas. Aku hendak berusaha berdiri di atas kaki sendiri tanpa mengandalkan bantuan siapa pun, kecuali orang yang berada di sampingku..." Ia melirik ke arah sang nona.

Gadis itu segera menundukkan kepalanya dengan wajah memerah karena jengah.

"Kalau begitu, aku punya sebuah usul," katanya setelah berpikir sejenak. "Hanya saja, apakah saran ini dapat Kakak setujui?"

"Cobalah jelaskan," kata pahlawan muda itu.

"Bagaimana pendapatmu jika pasukanmu digabungkan dengan pasukan kami untuk bekerja sama melakukan pekerjaan besar?"

Hap Nouw Siu Bun tertegun sejenak, lalu tersenyum sambil mengangguk. "Saranmu itu memang baik untuk dipertimbangkan," katanya. "Namun risikonya sangat besar jika sampai terendus oleh pihak pemerintah. Dengan mengikuti saranmu, berarti aku harus memberontak kepada pemerintahku sendiri dan memihak kalian yang dianggap pemberontak. Namun, aku punya sebuah siasat."

"Siasat apa dan bagaimana?" tanya sang nona.

"Cara pemberontakan kawan-kawanmu itu kurang tepat dan tidak terencana dengan baik karena pasukannya terpencar di mana-mana. Bagaimana kalian bisa bekerja sama jika pasukan pemerintah mengepung markas besar kalian? Aku, meski bertugas sebagai pahlawan musuh, di dalam hati selalu memihak kepadamu yang kucintai setulus jiwa raga."

"Oleh sebab itu, aku usulkan agar kawan-kawanmu yang terpencar itu dikumpulkan di satu tempat. Selain agar bisa saling berkomunikasi dari dekat, mereka juga dapat menyatukan seluruh tenaga untuk melawan musuh jika diserbu. Coba pikirkan, bukankah pendapatku ini benar?"

Siauw Giok yang masih hijau dalam urusan cinta segera menganggap saran pahlawan muda yang mengaku sebagai kekasihnya itu benar. Segala perkataannya dianggap sebagai pedoman bagi pergerakan mereka di kemudian hari.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment