Halo!

Dewi Tombak - Chapter 44

Memuat...
Dewi Tombak

Chapter 44

Oleh sebab itu, ia segera berjanji akan menyampaikan saran itu kepada kakak angkatnya, Yo Su Nio, yang juga mempunyai kedudukan penting di antara kaumnya yang menamakan diri mereka Kaum Jaket Merah.

Hal itu, tentu saja, telah membuat Hap Nouw Siu Bun girang dan berkata di dalam hatinya, "Jika mereka menuruti syaratku ini, niscaya tidak akan sulit bagi pasukan Baginda untuk membasmi mereka, sehingga orang-orang yang kucintai akan segera jatuh ke dalam tanganku!" Maka setelah diberitahukan bahwa saat itu Yo Su Nio sedang dikejar ke daerah pegunungan oleh Siu Leng Siangjin dan Ciu Tek Seng berdua, Siauw Giok yang dilepaskan oleh Hap Nouw Siu Bun tanpa menunda lagi segera menyusul ke daerah pegunungan itu. Di sana, ia mendapati gurunya sedang bertengkar dan hendak membunuh Su Nio sebagai pengganti jiwa Soat Kouw yang telah keliru dibunuh oleh Liok Kong akibat rasa cemburu.

Kemudian, Yo An Jie dan kawan-kawan juga menyusul ke daerah pegunungan itu. Mereka telah mengetahui bahwa Su Nio berada di sana karena menerima surat yang dikirim dengan anak panah yang secara diam-diam telah dilakukan oleh Hap Nouw Siu Bun sendiri.

Ketika Su Nio, An Jie, dan yang lainnya telah berkumpul, barulah Siauw Giok menjelaskan saran Hap Nouw Siu Bun yang telah diceritakan di hadapannya itu. Menurutnya, alangkah baiknya jika pasukan-pasukan mereka yang terpencar digabungkan dan dikumpulkan dalam suatu tempat atau markas tertentu.

Demikianlah kata Siauw Giok, yang telah menyampaikan saran itu kepada Su Nio sekaligus sebagai penyambung lidah pahlawan muda bangsa Kim.

Namun, Su Nio yang mendengar saran tersebut lantas memotong pembicaraan adik angkatnya itu sambil berkata, "Sungguh licin sekali siasat pahlawan musuh itu!" "Tapi ia mengaku kepadaku bahwa dia mencintai aku," Siauw Giok membisikkan kata-kata itu di telinga kakaknya. "Mana mungkin dia memperdayakan kita?" Su Nio tersenyum getir mendengar bisikan adiknya itu.

"Mana mungkin?" ia mengulangi.

"Dapatkah kita menyelami hati orang lain? Air yang dalam dapat diukur, tetapi hati manusia bagaimana dapat diketahui? Ai, engkau yang masih terlalu muda, jangan sampai terperdaya oleh mulut manis!"

"Tapi, Cece, aku lihat dia bukan orang jahat," kata Siauw Giok yang bermaksud membela Hap Nouw Siu Bun yang dianggapnya telah berbuat baik kepadanya.

"Ada peribahasa lama yang mengatakan," kata Su Nio, "Melukis harimau sampai kulitnya sekali, tetapi sukar melukis tulangnya sekaligus. Mengenal orang dari wajahnya, tetapi sukar mengetahui bagaimana hatinya. Engkau baru pertama kali ini mengenal pahlawan bangsa Kim itu secara akrab, tetapi apakah itu sudah bisa dijadikan pedoman utama untuk mempercayai segala ucapannya? Engkau rupanya hanya melihat pada sisi hubungan yang baik saja, tetapi sama sekali tidak mau memikirkan bagaimana akibatnya nanti. Coba engkau timbang. Aku akan membuat suatu perjanjian mengenai saran Hap Nouw Siu Bun yang diajukan kepadamu itu."

Dengan ini, Su Nio telah membuat semua orang memasang telinga dan bersedia mendengarkan perundingan tentang rencana mereka selanjutnya.

"Ingatlah," kata nona itu, "bahwa dengan bergerak secara bergerilya dan saling berpencar, lebih sukar dihancurkan oleh musuh daripada jika kita memusatkan kekuatan kita di suatu tempat tertentu. Sebab, mereka dapat dengan mudah menghancurkan kita dengan pasukan yang besar dan kuat. Sementara itu, jika kita melakukan perlawanan dengan berpencar, itu pun bukan suatu gerakan yang sempurna. Itu hanya merupakan pertempuran kecil-kecilan untuk mengulur waktu saja, yang akhirnya pun akan mengalami kemusnahan yang sama jika siasat itu sudah tidak dapat diperluas atau ditambah dengan tenaga yang lebih banyak dan kuat. Jika sekarang kita menuruti siasat Hap Nouw Siu Bun dan memusatkan seluruh kekuatan kita di suatu tempat saja, itu hanya berarti bahwa pasukan kita akan lebih mudah dimusnahkan oleh pihak musuh. Oleh sebab itu, siapa yang sudi bunuh diri demi keuntungan pihak lain yang menganjurkan kita berbuat demikian?"

Banyak orang membenarkan pandangan Nona Su Nio itu, tetapi Siauw Giok menganggapnya salah dan sebaliknya membenarkan saran yang diajukan oleh Hap Nouw Siu Bun, meskipun ia tidak bisa membantahnya secara terbuka.

Su Nio baru saja selesai berbicara ketika dari kejauhan tampak seorang pengantar pesan yang memacu kudanya bagaikan terbang cepat.

Namun, begitu melihat Su Nio dan kawan-kawan mendekat, ia lantas maju menghampiri, menahan tali kekangnya dengan napas terengah-engah. "Nona!" katanya terputus-putus, "Celaka! Pesanggrahan kita di atas gunung telah diserbu dan dibakar oleh pasukan serdadu Kim yang dikirim dari Ceng Hiang-tien! Banyak kawan-kawan kita yang tewas, luka parah, dan tertawan oleh pihak musuh!"

Su Nio dan kawan-kawan jadi sangat terkejut.

"Mari kalian ikut aku!" katanya cemas.

Yo An Jie, Siauw Giok, dan yang lainnya segera meminta diri kepada nenek buta itu dan segera pulang untuk menolong kawan-kawan mereka yang masih terkepung musuh.

Namun, celaka, sesampainya di tengah jalan, mereka telah dicegat oleh sepasukan tentara Kim yang dikepalai oleh Ciu Tek-Seng dan si kepala gundul yang cerewet itu!

"Celaka!" Su Nio mengeluh di dalam hati. Namun, secara lahiriah ia tetap berlaku gagah dan segera melintangkan tombaknya dengan mantap, lalu membentak, "Hwesio cabul, apakah engkau telah mengambil keputusan untuk menyerahkan jiwamu ke dalam tangan kami?"

Siu Leng Siangjin menjadi sangat mendongkol dan lalu mengangkat tongkatnya untuk menerjang si nona.

Sementara itu, Ciu Tek Seng yang hendak membantu susioknya mengepung Yo Su Nio dengan menggunakan senjata Sampian di tangannya, segera dihadang oleh Yo An Jie yang bersenjatakan sebatang golok Tanto. Akibatnya, selain kedua pasang lawan itu, pihak tentara Kim dan para anak buah Yo An Jie pun lalu mulai bergebrak, saling serang tanpa banyak bicara.

Kemudian, Siauw Giok mengangkat sepasang kaitnya dan membantu Su Nio melawan Siu Leng Siangjin yang teramat lihai dan tidak mudah dikalahkan dengan cara keras lawan keras.

Oleh sebab itu, ia terpaksa melawan dari samping dengan maksud memberikan kesempatan agar kakaknya dapat segera melukai musuh itu dengan tombaknya.

Namun, Siu Leng Siangjin yang sebelumnya telah mengetahui sampai di mana kepandaian kedua anak dara itu, sambil tertawa ia memutar tongkatnya bagaikan baling-baling cepatnya; sebentar menyambar ke atas, dan sebentar pula menyabet ke bawah.

Suara tongkat itu yang menderu-deru dengan amat dahsyat, tiada bedanya dengan suara angin topan yang seakan hendak menyapu segala sesuatu yang berani merintanginya.

Pertempuran berlangsung dengan seimbang dan kuat, walaupun biarawan tua itu dikeroyok oleh dua orang anak dara yang lincah dan lihai sekali menggunakan senjata masing-masing.

Siu Leng Siangjin, yang sangat gemar akan paras cantik, sengaja melakukan perlawanan sambil sesekali sengaja mundur-mundur udang untuk memuaskan matanya memandang kedua dara itu dengan perasaan tanpa sopan santun.

"Kalian berdua lebih baik segera menyerah saja kepadaku," kata hwesio cabul itu dengan perasaan mengiler, "Makan dan pakaianmu pasti akan kutanggung seumur hidupmu, sementara keselamatanmu pun akan terjamin dan bebas dari segala tuntutan. Kalau tidak..."

"Kalau tidak, bagaimana?" Dengan mata membelalak, Siauw Giok memotong pembicaraan orang itu.

Siu Leng Siangjin baru saja hendak membuka mulut untuk menjawab ketika ia dikejutkan oleh satu sinar berkilauan yang melesat bagaikan kilat ke arahnya. "Ayaa!" katanya sambil menggunakan tongkatnya untuk menangkis benda tersebut, sehingga benda itu terpental menghantam ke arah Ciu Tek Seng yang sedang bertempur dengan Yo An Jie.

Tek Seng yang sedang sibuk melawan musuhnya, tentu saja tidak sempat mengelakkan sambaran sinar itu, sehingga seketika itu juga ia menjerit kesakitan dan jatuh terjungkal di tanah dengan bahu berlumuran darah!

Ternyata Yo Su Nio, yang merasa sangat jemu mendengar kata-kata biarawan tua yang sangat cerewet itu, diam-diam telah menyambit dengan senjata rahasia Tok-bwee-kwie untuk melukainya.

Namun, Siu Leng Siangjin cukup lihai untuk meloloskan diri dari ancaman bahaya dan menangkis senjata rahasia itu dengan tongkatnya, sehingga bahaya itu berpindah ke bahu sutitnya, yang untuk kedua kalinya telah terluka oleh senjata rahasia Nona Su Nio!

Syukurlah ia sempat ditolong oleh anak buahnya, yang telah menerjang Yo An Jie dari segala jurusan. Kalau tidak, niscaya Ciu Tek Seng ini akan melayang jiwanya karena ditebas oleh golok si orang bermarga Yo.

Kemudian, ia diangkut oleh anak buahnya ke tempat lain yang lebih aman untuk menantikan perawatan dan pengobatan sampai Siu Leng Siangjin berhasil memukul mundur Kaum Pemberontak Jaket Merah.

Namun, Yo Su Nio dan Thio Siauw Giok tidak membiarkan si biarawan tua mendapat kesempatan untuk melancarkan tangan jahat terhadap mereka berdua. Malah, senjata-senjata rahasia pun segera mereka gunakan untuk melukai serta melumpuhkan perlawanan Siu Leng Siangjin yang mereka ketahui bukan lawan yang setimpal. Syukurlah, perasaan hati si biarawan tua itu sudah terpengaruh oleh kecantikan kedua anak dara itu. Kalau tidak, niscaya ia dapat bertindak lebih ganas daripada seekor harimau yang haus darah atau burung bangkai yang sedang kelaparan di padang pasir.

Maka, biarpun Su Nio dan Siauw Giok selalu melancarkan serangan-serangan maut secara bersamaan, biarawan tua itu tertawa dan tetap tenang untuk menyambutnya, memandang mereka dengan wajah yang berseri-seri.

Hal itu, tentu saja, telah membuat An Jie marah. Lalu, ia menghasut kedua adiknya untuk mengepung si biarawan tua itu sambil membentak, "Kepala gundul!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment