Chapter 45
"Kali ini engkau jangan harap dapat lolos dari genggaman kami!" Sambil berkata demikian, pemuda itu lantas menggerakkan golok besarnya, membacokkannya ke arah ubun-ubun orang licik dan cabul itu.
Namun, ketika terdengar benturan dua senjata yang menimbulkan suara "Traang!" nyaring sekali, golok Yo An Jie tampak terpental melayang di udara, sementara dia sendiri terdorong mundur beberapa langkah jauhnya dan jatuh terlentang di tanah bagaikan buah kundur yang gugur dari tangkainya.
Dalam keadaan begitu, anak buah Ciu Tek Seng segera maju dengan cepat, membekuk dan membelenggu Yo An Jie yang belum sempat bangun, sementara separuh tentara Kim itu melawan Ngo Sian Tie dan kawan-kawan yang hendak menolong kawan mereka yang sudah tertawan musuh. Siu Leng Siangjin, yang telah berhasil membuat Yo An Jie terpental dan ditawan oleh anak buahnya, tertawa gembira lalu berkata pada kedua gadis jelita yang masih mengeroyoknya itu, "Nona-nona manis, tidak berapa lama lagi kalian berdua pun akan kubekuk!" Namun, tanpa banyak bicara, Siauw Giok menyerang dari arah kiri perut hweeshio yang agak gendut itu, menjadikannya sasaran serangannya.
Siu Leng Siangjin lekas-lekas memutarkan tongkatnya untuk menangkis serangan itu, sehingga Siauw Giok yang bertindak terburu nafsu, kedua gaetannya sekaligus dapat dipukul. Sementara sepasang Tok-bwee-kwie yang disambitkan oleh Su Nio itu pun dengan mudah dapat dihindarkannya dan jatuh ke tempat jauh tanpa mengenai sasaran yang dituju.
Su Nio terkejut dan terpaksa melindungi Siauw Giok untuk memungut sepasang gaetannya yang jatuh ke tanah.
Namun, selagi Siu Leng hendak maju menyergap nona yang bertangan kosong itu, tiba-tiba dari kejauhan tampak Hap Nouw Siu Bun mendatangi sendirian dan berseru, "Kok-su, cepat pulang!"
"Kewedanaan Ceng-hiang-tien sedang dikepung pasukan tentara pemberontak!" Oleh karena itu, biarawan tua itu terkejut dan segera meninggalkan kedua gadis itu untuk mengerahkan anak buahnya menolong Pasukan Cian-hu Pek Tek Ceng yang terkurung di sana.
Setelah menjatuhkan hweeshio tua itu, diam-diam ia memberi isyarat kepada Siauw Giok untuk segera meninggalkan medan pertempuran, sementara ia sendiri lekas-lekas kembali ke dalam pesanggerahannya.
Siauw Giok tersenyum sendirian dan lalu menoleh kepada kakaknya, seolah hendak berkata, "Nah, lihatlah, betapa besarnya cinta pemuda bangsa Kim itu kepadaku!" Namun, Su Nio hanya menghela napas dan segera membantu Ngo Sian Tie dan kawan-kawan yang hendak merebut kembali Yo An Jie yang ditawan musuh itu.
Begitulah, setelah pertempuran dahsyat berlangsung beberapa lama, barulah mereka berhasil menolong Yo An Jie, yang kemudian diajak kembali ke atas gunung dalam keadaan selamat dan tidak kurang suatu apa pun.
"Jika aku belum membasmi pasukan musuh hingga tiada seorang pun di antara mereka yang masih bisa bernapas," kata Yo An Jie dengan perasaan gemas, "Belumlah puas rasa penasaranku!" Namun, bagaimanapun besarnya kemarahannya itu, dia tak dapat berbuat lain selain melampiaskannya dengan memukul meja menggunakan tinjunya.
Kini kita mengajak pembaca menilik pada Hap Nouw Siu Bun. Ternyata, selain lihai ilmu silatnya, ia juga mahir dalam mengatur siasat yang justru sangat menguntungkan bagi dirinya sendiri.
Yang pertama, ia sengaja menganjurkan Siauw Giok menyampaikan sarannya kepada Su Nio dan kawan-kawan, agar kaum pejuang yang terpencar itu dipusatkan di suatu tempat tertentu.
Namun, Su Nio yang segera dapat melihat bahaya yang mungkin terjadi bagi pihaknya sendiri jika hanya menuruti ajaran pahlawan bangsa Kim itu, secara spontan menolak dan menunjukkan bahaya-bahaya yang mungkin terjadi karena pemusatan pasukan gerilya di suatu tempat tertentu.
Atas penolakan ini, Siauw Giok yang sedang mabuk asmara menjadi kurang senang dan menganggap kakaknya sombong, meskipun tenaga pasukan di bawah perintahnya tidak seberapa besar.
Oleh karena itu, hati Siauw Giok yang masih muda dan hijau dalam percintaan lalu timbul pikiran untuk memisahkan diri dari Su Nio dan kawan-kawan, dan kemudian menggabungkan diri dengan pihak Hap Nouw Siu Bun, yang ia anggap kelak akan menjadi suami yang dapat memenuhi segala cita-citanya.
Maka, setelah naik gunung dan mengalami pertempuran sengit dengan Siu Leng Siangjin dan anak buahnya, pada petang hari itu Siauw Giok tak dapat tidur nyenyak.
Dia tak dapat tidur meski Su Nio sudah lama tidur nyenyak karena sangat lelah.
Dan tatkala berselang beberapa lama ia belum juga dapat memejamkan matanya, lalu nona itu turun dari ranjang, mengambil arak untuk diminum, sambil pikirannya tak henti berkeliaran dan akhirnya teringat akan pahlawan muda yang tampan itu, hingga ia merasa tidak akan kecewa hidupnya jika dapat mempersuaminya dan membangun rumah tangga yang akan dibanggakan oleh sanak saudara dan handai taulannya.
Namun, ia belum dapat memikirkan suatu keputusan, apakah ia harus tinggal di situ bersama Su Nio dan kawan-kawan atau mengikuti pihak Hap Nouw Siu Bun yang sudah jelas berdiri di pihak bertentangan dengan mereka, kaum pemberontak Jaket Merah.
Oleh sebab itu, ia sangat bingung dan apa yang selanjutnya harus dilakukan?
Secawan demi secawan Siauw Giok meminum arak, tapi bukannya pemecahan yang diharapkan itu muncul di benaknya, sebaliknya kepalanya terasa makin pening dan penglihatannya mulai kabur.
Namun, ketika ia hendak mengisi kembali cawan yang sudah kering itu dengan arak dari poci, tiba-tiba dari jendela ia melihat sesosok bayangan yang semula tampaknya berniat masuk ke dalam kamar itu, namun maksud itu segera diurungkannya dan terus menyelinap ke bawah jendela tatkala melihat Siauw Giok bangkit dari tempat duduknya sambil membentak, "Siapa itu?" Dari arah sana tidak terdengar ada orang yang menjawab hingga nona itu menjadi uring-uringan dan segera mengejar keluar dengan menghunus pedang yang semula digantung di dinding tembok.
Mula-mula ia melemparkan sebuah bangku untuk memancing penyerangan gelap dari musuh.
Namun, setelah tidak melihat gerak-gerik apa pun, ia lantas melompat keluar jendela dengan menggunakan siasat Yanlim atau burung kepinis terbang keluar rimba, hingga dalam sekejap saja ia sudah berada di luar kamar, namun di sana pun ternyata tidak tampak sesuatu yang mencurigakan hatinya.
Hal itu sudah barang tentu membuat nona itu heran dan lalu memandang ke sekitar pekarangan pesanggerahan itu dengan gerak-gerik yang sangat hati-hati.
"Siapakah gerangan bayangan yang telah kulihat berkelebat tadi di luar kamarku ini?" Siauw Giok bertanya pada dirinya sendiri.
Ia berdiri di situ sesaat, sambil menoleh kian kemari dengan tanda tanya besar yang tiba-tiba timbul di dalam hatinya.
Namun, siapa sangka selagi ia berbuat demikian, tiba-tiba dari arah belakangnya ada orang yang menyergap dan memeluknya sambil membentak, "Engkau hendak kabur ke mana?" Siauw Giok terkejut dan segera meronta, namun orang itu ternyata bertenaga sangat kuat dan mencekal dirinya dengan amat erat sehingga dia tak mampu melepaskan diri atau bergerak sedikit pun.
"Engkau siapa?" balas nona itu membentak.
"Seorang kawan!" kata orang itu sambil tertawa.
Dalam keadaan begitu, Siauw Giok segera membungkukkan badannya ke depan dengan gerakan secepat kilat, karena dengan begitu ia berniat membanting lawannya hingga jatuh tersungkur, namun ternyata pihak musuhnya lebih gesit dan tubuhnya sangat berat hingga sia-sia saja ia beraksi menjebak musuhnya itu.
"Tidak usah engkau khawatir," kata orang itu lagi, "Aku tidak akan mencelakai dirimu, asalkan engkau bersedia mengabulkan permintaanku!" Siauw Giok yang merasa tak berdaya untuk meloloskan diri, terpaksa bersikap agak lunak, dan berkata, "Cobalah jelaskan apa permintaanmu itu!"
"Aku hendak memperistri dirimu!" kata orang itu sambil tertawa terbahak-bahak. Siauw Giok tidak segera menjawab, namun cepat melirik ke belakang untuk mengetahui siapa orang yang menyergapnya itu.
Tampaknya orang itu mengenakan pakaian perang yang rasanya pernah ia lihat dikenakan oleh seseorang. Lalu ia menundukkan kepalanya dan memperhatikan sepatu yang dikenakan orang itu.
Sepatu itu pun pernah juga dilihatnya dan dikenakan oleh orang yang sama.
"Tidak salah lagi," pikir Siauw Giok dengan perasaan lega.
"Meski aku sulit melihat wajahnya, tapi sudah jelas bahwa aku pernah mengenalnya!" Oleh karena itu, ia segera menjawab, "Aku kabulkan permintaanmu!" Orang itu tertawa terbahak-bahak, lalu ia...
...menotok urat darah nona itu, sehingga Siauw Giok jatuh terkulai dan tak berdaya sama sekali.
"Engkau siapa?" tanya Siauw Giok dengan perasaan curiga.
Tatkala ia menoleh dan menatap wajah orang itu... hatinya mencelos dan dengan gugup berkata, "Engkau... Siu Leng Siangjin!" Karena orang yang disangka Hap Nouw Siu Bun bukan lain daripada...
...Siu Leng Siangjin, yang mengenakan pakaian perang mirip dengan yang biasa dikenakan oleh pahlawan bangsa Kim yang menjadi idaman hatinya!
Namun, sekarang ia sudah tak berdaya lagi.
Dan lebih celaka, ia telah mengabulkan permintaan hweeshio kepala gundul itu untuk menjadi...
...istrinya.
"Sekarang engkau telah menjadi istriku sesuai persetujuanmu," kata hweeshio tua itu sambil cengar-cengir. "Bukan karena terpaksa atau diancam kekerasan. Ayo, mari sekarang kita ke pesanggerahanku, sehingga pernikahan kita dapat dilangsungkan secara resmi di sana." Setelah berkata demikian, Siu Leng Siangjin segera memondong nona itu hendak dibawa pergi.