Halo!

Dewi Tombak - Chapter 46

Memuat...
Dewi Tombak

Chapter 46

"Aku dapat berjalan sendiri!" kata Siauw Giok. Di dalam hatinya, tiba-tiba timbul pikiran untuk kabur dengan cara memperdaya si kepala gundul itu.

"Segeralah bebaskan aku dari totokanmu!"

Siu Leng Siangjin hanya tertawa terbahak-bahak. "Jika aku membebaskan totokanku," katanya, "engkau pasti akan melawan dan mengingkari janjimu. Oleh karena itu, aku hendak membawamu dalam keadaan seperti sekarang ini. Tak dapat meronta, juga tak dapat melawanku. Jika nanti kita sudah menikah, barulah akan kubebaskan totokanmu itu!"

"Celaka! Celaka!" keluh Siauw Giok di dalam hatinya. "Ternyata dia kini tak dapat diperdaya pula!"

"Barusan engkau telah mengabulkan permintaanku untuk menjadikanku suamimu," kata biksu tua itu lagi, "tapi mengapa sekarang engkau hendak mengingkari janji itu? Ingatlah bahwa ludah yang sudah dibuang ke tanah tidak mungkin dijilat kembali."

Siauw Giok menyesal karena begitu mudah mengabulkan permintaan orang tadi. Ia menyangka bahwa si kepala gundul itu adalah Hap Nouw Siu Bun, pahlawan bangsa Kim yang tampan itu.

Beruntung, sebelum Siu Leng Siangjin membawanya pergi ke pesanggrahannya, tiba-tiba dari kegelapan berkelebat sesosok bayangan manusia yang disusul suara bentakan, "Kepala gundul! Sejak tadi aku telah menyaksikan perbuatanmu yang melanggar kesopanan itu! Kini sudah cukup bagimu hidup di dunia ini."

Bersamaan dengan kata-kata itu, orang yang baru datang segera menyerang Siu Leng Siangjin dengan pedang di tangannya. Namun, biarawan tua itu ternyata tidak kalah gesit. Ia segera melawan dengan siasat Kongpek-jim, teknik tangan kosong yang terkenal di dunia persilatan untuk menghadapi musuh yang menyerang dengan senjata tajam. Keduanya pun bertempur dengan sama lihai dan dahsyatnya.

Siauw Giok yang mengenali siapa orang yang baru datang itu pun berseru dengan hati sangat girang, "Koko Hap Nouw Siu Bun, lekas tolong aku! Jalan darahku telah ditotok oleh biksu keji itu!"

"Baik, baik!" sahut Hap Nouw Siu Bun sambil terus bertempur melawan biarawan tua itu. "Jika kepala gundul ini sudah kutabas batang lehernya, pasti engkau terbebas dan boleh mengikutiku ke pesanggrahanku!"

Siauw Giok merasa gembira sekaligus menyesal. Ia gembira mendengar pahlawan pujaannya mengajaknya pulang, tetapi ia menyesal karena dalam keadaan lumpuh ia tidak dapat membantu Hap Nouw Siu Bun untuk membunuh biarawan yang sangat menjengkelkan itu.

Tatkala pertempuran berlangsung puluhan jurus lamanya, Hap Nouw Siu Bun kelihatan terdesak dan akhirnya terpaksa kabur ke dalam rimba dengan dikejar oleh biarawan tua itu.

"Meski engkau kabur ke langit atau menerobos ke dalam bumi," kata Siu Leng Siangjin dengan sengit, "tidak urung akan kukejar juga sampai dapat!"

Nona Siauw Giok yang merasa khawatir atas keselamatan pahlawan idamannya menjadi mencelos hatinya. Ketika mendengar Hap Nouw Siu Bun yang kabur ke dalam rimba berteriak, "Matilah aku kali ini!", ia menganggapnya sebagai pertanda yang sangat buruk. Seolah-olah pahlawan bangsa Kim itu telah kehabisan akal dan putus asa melawan musuhnya.

"Celaka!" batin Thio Siauw Giok, tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa untuk membebaskan diri dari pengaruh totokan biarawan tua itu.

Namun di luar dugaannya, tiba-tiba ia melihat Hap Nouw Siu Bun berlari keluar dari dalam rimba sambil menjinjing kepala Siu Leng Siangjin yang darahnya masih mengucur.

"Aiiiii!" Dari rasa cemas, kini perasaan si nona berubah menjadi sangat gembira. Dengan wajah berseri-seri ia memanggil, "Koko, lekas tolong aku!"

Tetapi pada saat itu juga, tiba-tiba ia dikejutkan oleh sebuah sinar terang yang menyambar ke arahnya secepat kilat.

"Ah!" teriak si nona dengan hati mencelos. Ternyata itu sebuah tempuling yang disambitkan orang ke arahnya! Ia mencoba berkelit, tetapi sia-sia saja. Tempuling yang meluncur secepat kilat itu menancap di dadanya hingga ia menjerit, "Celaka!" dan roboh ke tanah dalam keadaan mandi darah.

Hal tersebut tentu saja mengejutkan Yo Su Nio yang segera datang menolongnya. Tatkala Siauw Giok membuka mata, ia mendapati dirinya terbaring di atas ranjang. Yo Su Nio tampak duduk di sampingnya sambil menatap wajahnya dengan sorot mata tenang. Kemudian ia tersenyum melihat Siauw Giok tersadar dan balas menatapnya dengan penuh keheranan.

Hati nona itu semakin heran lagi ketika meraba dadanya dan mendapati bagian tubuhnya itu tidak terluka sedikit pun, tidak sakit, dan tidak berdarah. Ia pun bertanya sambil membuka lebar kedua matanya, "Bukankah barusan dadaku terluka oleh sambitan tempuling musuh?"

"Engkau mabuk!" kata Nona Su Nio sambil mengomel sayang. "Siapa suruh engkau minum arak melampaui batas? Syukurlah aku segera mengetahui, kalau tidak, pasti engkau terus meringkuk di tanah sampai besok pagi!"

"Aiiii!" kata Thio Siauw Giok sambil menghela napas. Ia merasa malu untuk menceritakan impiannya itu kepada kakak angkatnya, terutama pada bagian yang romantis.

Sejak peristiwa mabuk arak itu, Nona Siauw Giok selalu teringat kepada pahlawan bangsa Kim yang menjadi idaman hatinya. Namun ia merasa sangat menyesal karena niatnya untuk mendekati pemuda itu ditentang oleh Nona Su Nio, yang tidak memercayai kejujuran pihak musuh. Oleh karena itu, kini Siauw Giok menghadapi persoalan yang pelik. Apakah ia harus bertindak sendiri menuruti perasaan hatinya, atau menuruti pikiran Su Nio yang bertentangan dengan kehendaknya?

Suatu pagi di pesanggrahan Yo Su Nio, terjadi kegemparan karena lenyapnya Thio Siauw Giok yang meninggalkan tempat itu secara diam-diam. Beberapa orang anak buah segera dikerahkan untuk mencari, tetapi meski sudah dicari hingga radius tiga puluh li persegi, semua orang pulang dengan tangan hampa tanpa menemukan jejak kepergiannya. Tidak ada seorang pun yang melihat wanita lewat di jalur yang mungkin dilalui Siauw Giok. Hal ini membuat Su Nio pusing bukan main.

Namun, Yo An Jie yang hubungannya kurang akrab dengan Thio Siauw Giok menganjurkan agar Su Nio membiarkannya saja. Ia mengatakan bahwa Siauw Giok sudah dewasa dan merdeka untuk pergi ke mana saja. Mengapa mereka harus merintanginya?

Tetapi Su Nio tetap berpegang teguh pada pendiriannya. Karena menganggap Siauw Giok sebagai adik, ia merasa harus memperhatikan tindak-tanduknya selama berada di bawah asuhannya.

Setelah dua hari berselang, tiba-tiba sebatang anak panah melesat ke sebuah pohon besar di depan pesanggrahan Yo Su Nio. Pada bagian ekor anak panah itu terikat secarik kertas bertuliskan pesan yang kemudian diserahkan oleh seorang ronda kepada Yo Su Nio. Isinya berbunyi:

"Cici yang baik dan Saudara-saudara sekalian, jika surat ini tiba di tangan kalian, adik telah berangkat jauh ke luar perbatasan daerah kita. Ada kemungkinan hanya untuk sementara waktu saja atau untuk selama-lamanya. Siapa tahu? Itu tergantung pada keadaan. Sementara ini adik belum dapat menyampaikan sesuatu kepada kalian selain mengabarkan tentang keberangkatan yang tanpa pamit ini. Harap Saudara-saudara sudi memaafkan aku. Sekian. Hormat dari adikmu, Thio Siauw Giok."

Su Nio menghela napas setelah membaca surat singkat itu. "Siauw Giok masih kekanak-kanakan," katanya. "Aku khawatir ia tertipu oleh mulut manis. Oleh karena itu, dia tidak dapat dibiarkan bepergian seorang diri. Kita harus menyusul atau dia akan menjadi korban dari sifatnya yang keras kepala itu."

"Hm, itu tidak usah kita ambil pusing!" kata Yo An Jie jengkel. "Telah berkali-kali dia memusingkan hati kita, sehingga kita sendiri hampir celaka karena ulahnya. Apakah itu belum cukup untuk membuatnya kapok?"

Yo Su Nio kembali menghela napas dan menundukkan kepalanya sejenak. Kemudian ia berkata, "Aku pikir aku harus menemukannya secepat mungkin. Kalau tidak..."

"Kalau tidak, bagaimana?" Yo An Jie semakin uring-uringan.

Su Nio membisu. Tatkala ia membaca sekali lagi surat yang dikirim dengan anak panah itu, hatinya merasa curiga. Ia berkata, "Surat ini ada kemungkinan bukan ditulis oleh Siauw Giok sendiri. Inilah surat palsu! Jika Siauw Giok hendak meninggalkan surat untuk memberitahu kita, seharusnya ia menulis dan meninggalkannya pada petang hari sebelum ia berangkat. Dengan demikian, jelaslah bahwa ini bukan surat dari Siauw Giok!"

An Jie menganggap pendapat adik perempuannya itu benar. "Jika demikian halnya," katanya, "apa yang selanjutnya hendak kau perbuat?"

"Hanya ada satu jalan," sahut Su Nio mantap, "yaitu pergi menyusulnya secepat mungkin."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment