Chapter 47
Aku akan berangkat hari ini juga untuk melakukan penyelidikan dengan menyamar sebagai seorang pria. An Jie cukup mengetahui bahwa kehendak Su Nio tak dapat dirintangi, hingga ia terpaksa mengabulkan juga, walaupun di dalam hati ia merasa khawatir atas keselamatan si adik itu.
Demikianlah, dengan menyamar sebagai seorang pria, Yo Su Nio segera melakukan perjalanan dengan diam-diam, dengan pesanggerahan Hap Nouw Siu Bun sebagai tujuan utama penyelidikannya itu.
Namun, setelah melakukan penyelidikan tersebut secara teliti, ia mendapat kenyataan bahwa Siauw Giok tak kedapatan berada di sana!
Su Nio jadi bingung.
Kemanakah gerangan perginya Nona Thio?
Dari perasaan bingung lalu berganti dengan perasaan ragu-ragu.
Sesudah itu kembali berganti pada perasaan khawatir.
Apakah Siauw Giok telah tertawan karena terjatuh ke dalam perangkap musuh?
Jika sesungguhnya ia tertawan, siapakah yang telah mengirim surat dengan perantaraan anak panah itu?
Di dalam rumah penginapan tempatnya berlindung untuk sementara waktu, pada suatu hari ia mendengar orang ramai bercerita bahwa pada malam kemarin seorang perempuan yang tak dikenal telah memasuki pesanggerahan Hap Nouw Siu Bun, tapi apa mau dikata perbuatannya telah ketahuan, sehingga ia terkepung dan akhirnya tertawan.
Kabarnya, tawanan itu akan segera dikirim pada Cian-hu di Ceng-hian-tien, dari mana kemudian akan dikirim langsung pada pembesar yang lebih tinggi.
Oleh karena mendengar kabar angin itu, hati Su Nio jadi gelisah bukan kepalang.
"Orang perempuan itu pasti Siauw Giok!" katanya di dalam hati.
Ia pikir, jika nanti Siauw Giok keburu dipindahkan ke Ceng-hian-tien, bukan saja perjalanan akan menjadi semakin jauh, malah penjagaan yang harus dilewatinya pun akan menjadi semakin sukar dan berbahaya.
Karena selain penjagaan di sana sangat kuat, ia pun tak mungkin melakukan penyerbuan ke sana seorang diri saja.
Oleh sebab itu, ia duduk termenung seorang diri sambil memutar otak, mencari cara dan siasat untuk dapat melaksanakan pertolongannya terhadap adik angkatnya yang ditawan musuh itu.
Lama-kelamaan timbullah pikiran nekat di dalam hatinya.
"Di zaman dahulu tatkala Jenderal Poan Tiauw menyerbu ke daerah kekuasaan suku Sian-sian," pikirnya, "Bukanlah mengandalkan jumlah tentara yang besar, tapi semangat yang menyala-nyala untuk dapat melaksanakan usaha itu dengan *si-jip houw hiat yan tek houw cu*?" kata jenderal yang sangat terkenal itu. Peribahasa itu berarti, "Jika tidak masuk ke sarang harimau, bagaimana kita dapat memperoleh anak harimau?" Itulah suatu peribahasa yang terkenal sekali dari zaman dahulu hingga saat ini.
"Aku sekarang hendak membuktikan sendiri serta mempraktikkan peribahasa jenderal di zaman Han Timur itu!" Setelah berpikir demikian, lalu siang-siang ia makan dan berpura-pura masuk tidur untuk menantikan hingga kentongan ketiga, yaitu antara pukul 11 malam sampai pukul 1 pagi, untuk memasuki pesanggerahan Hap Nouw Siu Bun secara diam-diam.
Selama menantikan waktu, Su Nio telah bersiap-siap menukar pakaian untuk berjalan di waktu malam, membawa senjata rahasia Tok-weu-kwie dan pedang sebagai gantinya tombak, yang terlampau panjang untuk dipergunakan dalam penyerbuannya itu.
Begitu suara kentongan dipalu tiga kali, Yo Su Nio segera bangkit dari tempat duduknya, membuka jendela kamarnya dengan perlahan, kemudian melompat keluar bagaikan seekor kucing.
Tidak bersuara, juga tidak tampak canggung dalam gerak-geriknya!
Setelah menutup kembali jendela itu dari sebelah luar, barulah ia mempergunakan ilmu berjalan cepat menuju ke pesanggerahan Hap Nouw Siu Bun yang memang telah diketahui seluk-beluknya sejak siang.
Sesampainya di sana, Su Nio melihat dari kejauhan ada orang peronda yang sedang mendekat, hingga lekas-lekas menyelinap di balik sebuah pohon besar di muka pesanggerahan tersebut.
Di situ, nona itu mendapat pikiran untuk membekuk kedua orang itu, kemudian memasuki pesanggerahan pahlawan bangsa Kim itu dengan menyamar sebagai salah seorang peronda.
Begitu cepat kedua peronda itu mendekat kepadanya, Yo Su Nio segera melompat keluar dari tempat sembunyinya dan membuat kedua orang itu tak berdaya setelah jalan darahnya ditotok.
Sudah itu, dengan pedang yang berkilauan sinarnya diayun pulang-pergi di hadapan kedua peronda itu, Su Nio mengancam mereka dengan suara berbisik, "Jika kalian berdua berani berteriak meminta pertolongan, pedang ini akan memisahkan batok kepala kalian dari batang leher masing-masing!" "Ho-han, ampunilah jiwa kami!" kata mereka dengan suara yang hampir bersamaan dan tubuh menggigil bagaikan orang kedinginan.
"Pada kemarin malam ada seorang perempuan yang telah ditawan oleh majikanmu dan kabarnya hendak diangkut ke Ceng-hiang-tien, apa kabar itu benar?" Su Nio bertanya bengis.
"Benar, benar!" sahut mereka.
"Tapi kini masih ditahan di pesanggerahan tengah, berhubung dikhawatirkan ada kawan-kawannya yang datang menyerbu untuk menolongnya..."
"Apakah kamu ketahui siapa namanya?" tanya Yo Su Nio dengan tidak sabar.
"Menurut cerita para rekanku," kata salah seorang peronda itu, "Ia bernama Siauw... Siauw... aku lupa siapa nama selanjutnya..."
"Apakah bukan Siauw Giok?" Su Nio memotong bicaranya.
"Bukan," sahut peronda yang seorang pula, "Dialah bernama Siauw Ceng!"
"Siauw Ceng? Siapakah gerangan orang perempuan yang bernama demikian? Terhadap seorang yang belum pernah dikenalnya, Siauw Giok ada kemungkinan dapat memalsukan namanya sendiri dengan nama lain, tapi terhadap Hap Nouw Siu Bun yang telah lama dikenalnya dan dicintainya, apakah ada kemungkinan ia berbuat demikian? Kalau orang itu bukan Siauw Giok, siapakah sebenarnya orang itu? Mungkinkah dia mempunyai hubungan sesuatu dengan Siauw Giok?" Su Nio merasakan kepalanya pening menimbang-nimbang serta menduga-duga terhadap persoalan yang baginya masih gelap itu. Semangat Poan Tiauw yang tinggal tetap menggelora dalam dirinya, tidak jera menghadapi persoalan yang sulit itu.
Maka setelah menotok jalan darah kedua peronda itu sehingga tak bisa bergerak dan berbicara, barulah ia menyeret tubuh mereka ke dalam semak-semak, tempat ia menukar pakaian dengan salah seorang di antara mereka.
Tapi, sungguh tidak dinyana, begitu ia melangkahkan kaki hendak masuk ke dalam pesanggerahan untuk berpura-pura melaporkan sesuatu kepada Hap Nouw Siu Bun, tiba-tiba dari sisi pesanggerahan tengah berkelebat sesosok bayangan yang bersenjata sebilah pedang panjang, sedangkan di tangan kirinya ia mengempit seorang yang bertubuh kecil molek, seolah-olah orang yang dikempitnya itu adalah seorang wanita.
Su Nio jadi terkejut dan lekas-lekas hendak bersembunyi di bawah pohon itu, tapi maksud itu ternyata sia-sia saja.
Karena sebelum ia sempat berbuat demikian, orang yang baru muncul itu sudah mendahului menyambit kepadanya dengan mempergunakan panah *Hui-piauw* segitiga, sehingga ia cepat berjongkok untuk menghindari sambitan itu, sedangkan pedang yang terselip di punggungnya segera dihunusnya untuk menghadapi segala kemungkinan.
Tapi ketika melihat Su Nio tidak menerbitkan suara ribut-ribut dan membalas menggeram kepadanya, orang itu jadi heran dan cepat-cepat menghampiri sambil bertanya, "Engkau siapa? Aku Pek In, guru Siauw Giok yang merantau di kalangan Kang-ouw." Suara itu ternyata tidak asing lagi baginya.
Itulah suara Suma Pek In, guru Siauw Giok yang merantau di kalangan Kang-ouw sambil berpura-pura buta dan sengaja membuat wajahnya tampak buruk dengan menggunakan ramuan obat-obatan yang sangat dirahasiakannya... Su Nio jadi girang dan lalu memanggilnya dengan suara perlahan, "Nenek, aku ini tidak lain adalah Yo Su Nio, orang yang pernah kau tolong dari kejaran Siu Leng Siangjin dan Ciu Tek Seng."
"Syukur, syukur!" kata Pek In sambil menepuk-nepuk dadanya, "Karena engkau mengenakan pakaian peronda tentara Kim, aku hampir saja salah sangka dan melukaimu! Sekarang, marilah mengikutiku!"
Su Nio belum sempat menanyakan siapa perempuan yang telah ditolong si nenek dari dalam pesanggerahan Hap Nouw Siu Bun itu.
Tatkala mereka berada agak jauh dari daerah penjagaan pahlawan bangsa Kim itu, barulah mereka berhenti dan beristirahat di balik sebuah semak-semak.
Di situ, Pek In dan Su Nio duduk berhadap-hadapan di atas rumput, sementara perempuan yang barusan ditolong itu, ternyata belum siuman dan diletakkan di tanah dengan paha si nenek sebagai bantal.
"Sejak tadi telah kuperhatikan," kata Su Nio, "Bahwa anak perempuan yang kini nenek tolong itu bukanlah adik Siauw Giok..."
"Ya, ya, memang bukan dia," sahut Pek In.
"Tapi karena menolong dia inilah, aku tidak mengetahui lagi Siauw Giok sekarang ada di mana."
Setelah beristirahat sejenak, Su Nio lalu menuturkan di hadapan Pek In tentang keadaan Siauw Giok pada beberapa waktu terakhir itu, sehingga sang guru menggeleng-gelengkan kepalanya dan menghela napas sambil berkata, "Si Siauw Giok ini memang agak kepala batu. Ada kalanya ia kerap menuruti saja perasaan hatinya, berlaku kekanak-kanakan, dan tidak mengenal bahaya. Selain itu, ia kerap berlaku sembrono sehingga sering juga mengakibatkan kerugian bagi orang lain. Syukur ia berani bertanggung jawab, hingga segala kekeliruan yang pernah dilakukannya dengan sengaja atau tidak disengaja, ia pun rela untuk memperbaikinya walaupun untuk itu ia harus mengorbankan jiwanya. Ini adalah salah satu sifatnya yang harus kupuji tinggi. Tapi kali ini dia telah membuat aku agak kecewa. Bocah ini bernama Siauw Ceng..."
Mendengar nama itu, Su Nio jadi teringat akan keterangan yang telah diperolehnya dari salah seorang peronda itu.
"Siauw Ceng, ya, nyatanya nama itu benar," pikirnya. Lalu ia mengangguk-anggukkan kepalanya, sebuah tanda ia paham akan kata-kata si nenek itu.
"Siauw Ceng ini bukan sanak saudara Siauw Giok," kata Pek In lagi, "Tapi hanya sekadar kenalan saja."