Halo!

Dewi Tombak - Chapter 48

Memuat...
Dewi Tombak

Chapter 48

Sewaktu masih kanak-kanak, mereka bertetangga. Namun, setelah dewasa mereka berpisah dan entah di mana mereka tinggal masing-masing.

"Kemudian aku membawa Siauw Giok naik gunung untuk dididik." "Beberapa hari yang lalu, mereka bertemu dalam sebuah rumah penginapan, keduanya menyamar sebagai pria."

"Mula-mula mereka tidak saling mengenal satu sama lain, tetapi akhirnya entah bagaimana, mereka saling mengenal juga." "Tetapi, celakanya, pemilik rumah penginapan itu adalah seorang mata-mata dari tentara Kim yang bekerja langsung di bawah perintah Cian-hu Wa Gan Tek."

Ketika ia mengetahui bahwa Siauw Giok dan Siauw Ceng adalah dua wanita dalam samaran, hatinya segera curiga dan dengan diam-diam melaporkan hal ini ke pesanggrahan tentara Kim yang terdekat, yakni pesanggrahan Hap Nouw Siu Bun.

Sementara Hap Nouw Siu Bun justru dalam perjalanan ke kota raja dan kedudukannya sebagai pahlawan diwakili oleh pahlawan Kim lain bernama Tok Poat Tek Cong, laporan tersebut jatuh ke tangannya. Ia segera mengerahkan sepasukan prajurit untuk mengepung serta menangkap Siauw Giok dan Siauw Ceng yang menyamar sebagai pria dan dituduh sebagai mata-mata pemberontak.

Siauw Giok merasa segan dan tidak tega untuk turun tangan terhadap Tok Poat Tek Cong yang menjadi wakil Hap Nouw Siu Bun, yang dianggap mencintai dirinya dengan setulus hati. Maka, dengan diam-diam ia meloloskan diri dari rumah penginapan tersebut, hingga Siauw Ceng tertangkap dan dijebloskan ke kamar tahanan di pesanggrahan tengah yang dijaga ketat oleh sepasukan tentara Kim yang sangat kuat.

Seperti halnya sikap para pembesar congkak dan korup di masa itu, Tok Poat Tek Cong pun tidak terlepas dari kebiasaan-kebiasaan yang lazim dipraktikkan oleh pembesar lainnya. Yakni, lalim dan berat sebelah, suka memeras, tidak segan mempersulit rakyat yang lemah demi keuntungan sendiri. Selain itu, ia pun sangat gemar akan paras cantik dan berani merampas anak istri rakyat untuk memuaskan nafsunya.

Maka, untuk mendapat muka dari pihak majikannya, si pemilik rumah penginapan itu sengaja melapor kepada Tok Poat Tek Cong bahwa di rumah penginapannya bersembunyi dua wanita cantik yang menjadi mata-mata pemberontak dan menyamar sebagai pria. Tok Poat Tek Cong yang mendengar dua patah kata, "Wanita Cantik," itu segera mengirim sepasukan prajurit untuk menangkap kedua nona tersebut.

"Tetapi ternyata hanya seorang saja yang tertangkap, sementara yang seorang lagi telah kabur entah ke mana perginya!" "Di sinilah letak rasa kecewaku terhadap Siauw Giok."

"Karena aku tahu, jika ia mau, ia dapat melawan para prajurit itu dan menolong Siauw Ceng. Tetapi ia bukan saja tidak berbuat demikian, malah sebaliknya ia meninggalkannya dan kabur sendirian."

"Cobalah kau pikir, apakah mungkin seorang Lie Hiap atau pendekar wanita bertindak sebegini pengecut sehingga hanya mementingkan diri sendiri saja?" "Syukur juga aku segera mengetahui hal ini, hingga aku berhasil mendapat kesempatan untuk menolong Siauw Ceng dari tangan manusia keji itu!"

Yo Su Nio terbengong mendengar penuturan nenek itu hingga sesaat ia membisu tanpa berkata sepatah kata pun.

"Sungguh tidak kuduga," katanya kemudian sambil menghela napas dan menggelengkan kepalanya.

Masih banyak pertanyaan hendak diajukannya, tetapi semua itu belum terlaksana, ketika dari arah pesanggrahan Hap Nouw Siu Bun terdengar keributan yang disertai munculnya sinar obor terang-benderang. Sementara suara denting berbagai senjata membuat orang lantas menduga bahwa di sana tiba-tiba telah terjadi pertempuran yang sangat dahsyat.

Su Nio melompat berdiri sambil menghunus pedangnya.

"Para prajurit di sana rupanya baru mengetahui bahwa tawanan mereka telah lenyap," katanya. "Tetapi pertempuran yang berlangsung di sana bukanlah dilakukan oleh beberapa orang saja," kata Pek In sambil menajamkan telinga.

Dalam pada itu, Su Nio segera memanjat sebuah pohon yang tinggi. Dari sana ia menyaksikan tentara Kim sedang bertempur dengan serombongan orang-orang berbaju merah, yang seketika itu juga dikenali sebagai kawan-kawannya, yakni mereka yang oleh pemerintah Kim dinamakan pemberontak Jaket Merah.

Menyaksikan hal itu, tentu saja nona itu sangat girang dan menganjurkan mereka berjuang dengan sekuat tenaga menggempur prajurit penjajah itu. Tetapi karena pertempuran sedang berlangsung dengan amat seru dan hebat, seruan Su Nio telah tenggelam di antara orang banyak, hingga sia-sia saja ia mencoba menarik perhatian kawan-kawan seperjuangannya yang sedang bertempur dengan musuh itu.

Sementara Su Nio yang kemudian menyadari ketidakbergunaan seruannya kepada kawan-kawannya itu, lekas-lekas ia turun dari pohon dan memberitahukan hal ini kepada nenek, hingga Pek In girang dan lalu menganjurkan Su Nio untuk menggabungkan diri dengan mereka yang menunggunya di situ, untuk kemudian mengikuti mereka naik gunung dengan mengajak Siauw Ceng yang baru ditolongnya.

Su Nio menurut, lalu kembali ke semak-semak tempat ia membuat kedua peronda tadi tidak berdaya karena ditotok jalur darahnya. Di sana ia lekas-lekas menukar pakaiannya, kemudian turun menyerbu bersama kawan-kawannya untuk membasmi tentara penjajah yang ketika itu dipimpin oleh seorang pahlawan yang mewakili Hap Nouw Siu Bun.

Seperti yang dikatakan Yo Su Nio tadi, memang benarlah rombongan orang-orang yang melakukan penyerbuan itu tidak lain dari kaum Jaket Merah yang dikepalai oleh Yo An Jie dan Ngo Sian Tie. Mereka telah menerjang pesanggrahan Hap Nouw Siu Bun karena mendengar kabar burung bahwa Su Nio tertawan dan dipenjarakan oleh penjajah di pesanggrahan tengah.

Ternyata laporan yang mereka terima agak kurang jelas karena orang yang ditawan musuh itu bukan Yo Su Nio, melainkan Siauw Ceng yang telah ditolong oleh Pek In. Tetapi mereka tidak sempat membeda-bedakan berita mana yang benar atau tidak, hingga Yo An Jie dan Ngo Sian Tie segera mengerahkan para liauwio di bawah perintah mereka untuk mengadakan penyerbuan kilat. Tujuannya adalah menolong Yo Su Nio yang mereka sangka tertawan, padahal sebenarnya ia sama sekali tidak pernah ditawan musuh-musuhnya. Pertempuran berlangsung beberapa lama, dan segera tampak sangat jelas bahwa pasukan penjajah tidak sanggup melawan yang mereka namakan pemberontak, sehingga mereka lari tunggang langgang tanpa memikirkan keselamatan kawan-kawan mereka.

Sementara rombongan Yo An Jie yang melihat pasukan Kim lari kocar-kacir, segera beramai-ramai menggunakan api untuk membakar pesanggrahan musuh. Dalam sekejap saja api tampak berkobar di empat penjuru, dengan penghuninya segera kabur bagaikan sekawanan semut yang sarangnya dibakar orang secara tiba-tiba.

Oleh karena itu, tidaklah heran jika dalam waktu singkat saja prajurit Kim telah dapat dihancurkan, sementara pemimpinnya telah lenyap entah ke mana perginya.

Yo Su Nio yang maju ke medan pertempuran setelah dapat merampas seekor kuda tunggangan dan sebatang tombak dari pihak lawan, lantas dapat dikenali oleh anak buah dan rekan-rekannya hingga mereka terdengar berseru serentak, "Yo Siocia telah terbebas dari tangan musuh! Yo Siocia telah terbebas dari tangan musuh!"

Sementara Yo An Jie dan Ngo Sian Tie segera memacu kuda masing-masing, datang menghampiri sambil bertanya dengan suara yang hampir bersamaan, "Apakah Adik tidak disiksa selama di tangan musuh?"

Su Nio hanya mengangguk, tersenyum, dan menjawab, "Sungguh aneh. Siapakah yang mengatakan bahwa aku ditawan musuh? Orang yang ditawan musuh itu adalah seorang nona bernama Siauw Ceng, yang semula kusangka Siauw Giok..."

"Apakah engkau telah memasuki pesanggrahan musuh secara diam-diam?" kata Yo An Jie tidak sabar.

"Tidak," sahut nona itu. "Tetapi aku justru telah berpapasan dengan Nenek Pek In, guru Siauw Giok, yang kau juga pernah menjumpainya, ketika ia menolongku dari kejaran Siu Leng Siangjin dan Ciu Tek Seng tempo hari."

Kemudian ia menuturkan riwayat perjalanannya sejak ia berangkat dari gunung sehingga berjumpa dengan mereka pada petang hari itu.

Sementara Yo An Jie yang mendengar adiknya menyebut tentang nenek yang semula disangkanya benar-benar buta itu, segera mengajak Su Nio dan kawan-kawan lainnya untuk pergi menjumpainya serta mengajaknya bersama-sama naik ke gunung, sambil mengangkut juga Siauw Ceng yang baru ditolong nenek itu dengan tandu.

Sesampainya di gunung, An Jie segera memperkenalkan nenek itu pada para rekan dan orang-orang bawahannya, sambil tidak lupa mengatakan bahwa Nenek Pek In ini adalah salah seorang Lie Hiap atau pendekar wanita yang disegani orang dalam kalangan Bu-lim di masa itu, hingga nenek itu merasa sangat senang mendengar pujian Yo An Jie yang muluk itu.

Tetapi meski semua orang kini telah berkumpul di gunung, hati Yo Su Nio masih tetap tidak senang, berhubung Thio Siauw Giok masih belum diketahui ke mana perginya.

Apakah ia pergi mengikuti Hap Nouw Siu Bun ke kota raja? Atau ditawan oleh pihak musuh yang telah menahannya secara diam-diam? Jika semua dugaannya itu meleset, ke manakah gerangan perginya sang adik itu?

Siang dan malam Su Nio selalu khawatir akan Siauw Giok dan pikirannya tidak tenang karenanya, sehingga akhirnya ia jatuh sakit. Syukur juga Pek In paham akan ilmu pengobatan, hingga selama ia di gunung, ia dapat merawat Su Nio serta mengatakan bahwa pada suatu hari Siauw Giok pasti akan kembali dan berkumpul pula dengan nona itu seperti sediakala. Sementara ia sendiri, jika dirasa perlu, akan turut pergi juga mencari nona yang binal itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment