Chapter 49
"Siauw Giok memang kerap timbul sifat otak-otakannya," kata nenek itu. "Namun, percayalah kepadaku bahwa dia bukan orang pendendam, maka lambat laun ia pasti akan kembali ke sini." Su Nio hanya mengangguk dan tersenyum, walaupun rasa khawatir tidak pernah berkurang meski telah dihibur oleh nenek tersebut.
Pada suatu petang, saat Su Nio sedang duduk termenung di dalam kamar, tiba-tiba ia terkejut oleh suara ribut para liauwlo yang berlari naik ke atas gunung untuk melaporkan sesuatu kepada Yo An Jie dan Ngo Sian Tie. Yo An Jie segera memberi komando, "Segera bersiap-siap! Rombongan liauwlo boleh dipecah menjadi empat jalur!" Sementara itu, Su Nio yang mendengar perintah tersebut segera keluar untuk menanyakan apa yang membuat suasana menjadi gempar.
"Di suatu tempat yang agak jauh," kata Yo An Jie, "tampak rombongan orang berkuda membawa obor dan menuju tepat ke arah gunung kita. Oleh sebab itu, ada kemungkinan mereka hendak menggempur markas kita di sini, berhubung pesanggerahan Hap Nouw Siu Bun telah kita obrak-abrik dan musnahkan dengan api." Su Nio menganggap omongan kakaknya itu masuk akal.
Ia pun segera bersiap-siap, menyoren pedangnya, dan menjinjing tombak Lee-hoa-chio. Namun, ketika baru saja ia hendak memerintahkan anak buahnya mengambil kuda dari istal, seorang liauwlo melapor kepada Yo An Jie di ruangan Ci-gi-thia bahwa rombongan orang berkuda tersebut bukanlah tentara musuh, melainkan tentara Kok An Yong yang dipimpin oleh Sin-chio Lie Cwan.
Yo An Jie dan yang lainnya merasa heran serta tidak paham maksud kedatangan mereka dari markas gunung barat. Namun, ketika Yo An Jie hendak turun gunung untuk menyambut mereka, Su Nio segera melarangnya. "Koko, sabar dulu! Jangan sembarangan turun gunung sebelum menyelidiki apakah tentara yang mendatangi itu sesungguhnya tentara Kok Toako atau bukan. Dalam keadaan kalut seperti sekarang, kita sukar membedakan kawan dan lawan. Terlebih lagi, setelah kita menggempur pesanggerahan Hap Nouw Siu Bun, ada kemungkinan pihak musuh hendak membokong markas kita dengan berpura-pura sebagai tentara Kok Toako agar dapat melakukan serangan kilat saat kita tidak siap."
"Itu benar," kata Ngo Sian Tie yang setuju dengan pendapat si nona. Yo An Jie menuruti kata adiknya dan membatalkan niatnya untuk menyambut kedatangan rombongan tersebut.
Tidak lama kemudian, seorang liauwlo datang melapor bahwa pasukan yang mendatangi itu memang benar pasukan Kok An Yong dari markas gunung barat, dengan Kok An Yong sendiri turut datang bersama Sin-chio Lie Cwan. "Heran," kata Su Nio, "aku sungguh tidak mengerti apa maksud kedatangan mereka ke sini." Ia memanggil liauwlo pembawa kabar itu dan bertanya, "Apakah pasukan Kok Toako masih dalam keadaan utuh?"
"Semua utuh dan teratur rapi," jawab liauwlo itu. Oleh sebab itu, Yo Su Nio mengajak Yo An Jie segera turun gunung untuk menyambut kawan seperjuangan mereka.
Kok An Yong dan Lie Cwan beserta kawan-kawannya tampak gembira melihat Yo Su Nio dan yang lainnya sehat walafiat. Ketika para tamu dipersilakan naik gunung dan berkumpul di ruangan Ci-gi-thia, Su Nio sengaja mengajukan pertanyaan yang samar mengenai maksud kedatangan mereka, karena khawatir Kok An Yong dan kawan-kawan akan merasa tersinggung.
"Maksud kedatangan kami ke sini," terang Kok An Yong kemudian, "bukanlah semata-mata atas maksud sendiri, melainkan karena undanganmu juga di sini, bukan?" Su Nio dan yang lainnya ternganga mendengar jawaban itu.
"Aku harap Kok Toako dan saudara-saudara sekalian tidak kecil hati karena pertanyaanku tadi," kata Su Nio. "Kami di sini selama ini belum pernah mengirim utusan untuk mengundang kalian datang ke markas kami. Oleh sebab itu, mohon tanya, melalui siapakah kalian menerima undangan kami?"
Kok An Yong dan kawan-kawannya saling berpandangan. Akhirnya, pria bermarga Kok itu merogoh sakunya dan memperlihatkan sepucuk surat undangan. "Kami datang berkunjung ke sini karena menerima surat undanganmu ini."
"Surat undanganku?" tanya Su Nio dengan mata terbelalak. Surat undangan itu berbunyi:
*Saudara Kok An Yong dan Kawan-kawan Seperjuangan yang Terhormat,*
*Dalam keadaan dunia kalut seperti ini, segala peristiwa bisa terjadi secara tiba-tiba dan di luar dugaan. Kami mendengar pihak kaum penjajah hendak menggempur markas-markas kita di sana-sini secara besar-besaran. Hal mana telah kuduga sejak awal, namun kini tampaknya sudah sukar dihindarkan. Maka, sebelum kita digempur secara tiba-tiba, hendaknya kita bersiap dari awal dengan segala kesempatan yang ada. Salah satu cara terbaik adalah mempersatukan pasukan kita dan memusatkannya di suatu tempat agar kita dapat bekerja sama dengan erat melawan musuh secara serentak.*
*Oleh sebab itu, setelah menerima surat ini, kami mengharap saudara sekalian sudi mengunjungi markas kami di gunung timur untuk merembukkan soal persatuan pasukan tersebut secara seksama.*
*Sekian.*
*Hormat kami,*
*A.n. Pimpinan markas gunung timur,*
*YO SU NIO.*
Su Nio sangat terkejut membaca surat yang mengatasnamakan dirinya. "Aku tidak pernah mengirim surat undangan seperti ini. Dari siapakah Kok Toako menerima surat ini?"
"Surat ini kami terima dari seorang liauwlo yang menurutnya telah diperintah olehmu di sini," sahut Kok An Yong. "Sesudah itu, ia lekas meminta diri dan berlalu karena masih ada tugas lain."
"Celaka!" seru Yo Su Nio. "Inilah pasti siasat busuk musuh yang sengaja hendak mengumpulkan kita di suatu tempat untuk kemudian menggempur dan memusnahkan kita sekalian sekaligus!"
Ketika Kok An Yong dan yang lainnya mendengar keterangan Su Nio, mereka sangat terkejut. Namun, siapakah gerangan yang mengatur siasat itu? Su Nio segera teringat akan siasat Hap Nouw Siu Bun yang didengarnya melalui percakapan dengan Thio Siauw Giok. Apakah Siauw Giok rela diperalat musuh untuk mencelakai kawan sendiri? Jika bukan Siauw Giok yang membantu, bagaimana mungkin surat itu disusun begitu rapi seolah-olah dibuat oleh orang dalam yang sangat mengerti seluk-beluk kedua markas serta nama-nama tokoh yang berkuasa?
Su Nio merasa pening memikirkan hal itu, terlebih karena ia pernah menentang keras saran Siauw Giok sebelumnya agar markas di kedua gunung dipersatukan. "Jika ternyata di antara kita ada pengkhianat atau musuh dalam selimut," kata Yo An Jie dengan suara keras, "niscaya akan kupenggal kepalanya seketika ini juga!"
Ngo Sian Tie segera menyabarkan Yo An Jie agar perundingan tidak terganggu. Meskipun An Jie merasa curiga terhadap Siauw Giok, ia tidak menyebutkan nama tersebut agar keributan lebih jauh dapat dicegah.
Setelah berembuk selama beberapa jam, mereka mengambil keputusan bulat bahwa urusan markas kaum Jaket Merah tidak akan diubah. Hubungan mereka justru dipererat dengan pertemuan rutin pada tanggal 1 dan 15 setiap bulan untuk saling memberikan laporan dan saran demi melancarkan perlawanan terhadap kaum penjajah. Semboyan "PANTANG MUNDUR" dibagikan kepada para anggota kedua pihak, kemudian perembukan tersebut ditutup dengan perjamuan meriah.
Keesokan harinya, ketika Kok An Yong dan rombongannya hendak kembali ke gunung barat, para pengawal pribadi An Jie masuk dan melapor bahwa mereka telah melihat Kwee bersaudara. "Setelah keadaan menjadi gawat begini rupa," kata Yo An Jie, maka ia segera turun gunung dengan wajah heran, diikuti oleh Kok An Yong dan Sin-chio Lie Cwan yang turut terkejut.