Chapter 50
"Ada kemungkinan di sana telah terjadi suatu peristiwa yang tidak diinginkan," kata Yo Su Nio dengan perasaan hati yang tidak enak.
"Aku pun merasa sependapat denganmu," sahut Kok An Yong.
"Segeralah engkau persilakan supaya Saudara Kwee dan yang lain-lainnya naik ke atas gunung," Yo An Jie dan Ngo Sian Tie memerintahkan pengawal itu dengan suara yang hampir berbarengan.
Si pengawal menyahut, "Baik!" Ia segera mengajak beberapa orang kawannya untuk pergi menyambut mereka.
Yo Su Nio dan kawan-kawan lalu mengikuti di belakang para pengawal itu. Begitu Kwee Liat dan Kwee Kin bertemu muka dengan Yo Su Nio, Kok An Yong, dan yang lain-lainnya, mereka lantas memberi hormat sambil berkata, "Celaka! Markas kita telah diserbu tentara kaum penjajah dan dimusnahkan dengan api. Kami terpaksa membuka jalan darah dan mundur ke sini untuk berlindung dari bencana besar yang telah menimpa markas kami dan saudara-saudara di sana!"
"Aiii, gerakan ini sungguh tepat sekali dengan perkataan Adik Su Nio tadi!" kata Lie Cwan sambil menghela napas.
"Ya, benar," sahut sang nona. "Itulah suatu siasat yang dikenal orang dengan nama sebutan *Tiauwhauw-li-san*, atau memancing harimau keluar dari gunung tempat persembunyian. Suatu balasan tunai atas penyerbuan kilat yang telah kita lakukan terhadap pesanggerahan Hap Nouw Siu Bun yang orangnya justru tengah berkunjung ke kota raja!"
Kwee Liat bertanya dengan suara lesu, "Apakah yang kiranya baik akan kita lakukan selanjutnya? Markas kita di gunung barat telah diduduki musuh hingga kedudukan kita sekarang menjadi terkatung-katung."
"Adik Kwee tak usah khawatir atau berkecil hati karena kejadian ini," kata Kok An Yong dengan maksud menghibur. "Ingatlah bahwa kalah atau musnah dalam peperangan sudah menjadi hal yang lumrah dan jamak. Jika kita masih hidup, sudah barang tentu kita masih mempunyai kesempatan merebut kembali markas kita di gunung barat itu. Kita pasti akan menang dalam perjuangan untuk menumpas kaum penjajah. Jika usaha kita gagal, keturunan kita pasti akan dapat melanjutkan usaha itu, asalkan semangat pantang mundur dipupuk dengan sebaik-baiknya sejak sekarang agar dapat menghasilkan bunga-bunga bangsa yang lebih unggul dan bersatu hati dalam menolak bahaya yang datang mengepung negeri kita dari daerah lain di luar Tembok Besar!"
"Kami sepakat dengan omongan Kok Toako itu!" kata orang banyak sambil menyambut kata-kata yang bersemangat itu dengan tepukan tangan riuh.
"Dengan berpegang pada semboyan pantang mundur dan tidak mudah putus asa," kata Sin-chio Lie Cwan sebagai sambutan atas seruan Kok An Yong tadi, "pasti kita akan menang dalam perjuangan kita ini!"
Kembali orang banyak menyambutnya dengan sorak-sorai yang tidak kalah ramainya. Mendengar perkataan kedua pemimpin mereka yang penuh semangat, Kwee Liat dan saudaranya yang semula tampak agak lesu segera bangkit dari tempat duduk masing-masing.
"Bagaimana pendapat Saudara sekalian jika seumpama kita melakukan penyerbuan kilat untuk merebut kembali markas kita di gunung barat pada waktu sekarang ini juga? Kami berdua bersedia tampil di muka dan menyerbu sebagai orang-orang pertama yang akan mengorbankan jiwa untuk bertempur dengan musuh yang bercokol di sana!"
"Apakah Ji-wi Hian-tee telah mengetahui siapa pemimpin tentara yang menduduki markas kita itu?" tanya Kok An Yong.
"Seorang biarawan tua yang bernama Siu Leng Siangjin," sahut Kwee Kin. "Yang dibantu oleh seorang penjilat bangsa asing yang telah lama kita kenal, yakni si bangsat Ciu Tek Seng!"
"Ah, tidak tahunya si babi alas itu belum juga mampus?" kata Ngo Sian Tie dengan geram. "Jika Ji-wi Heng-tee hendak menyerbu ke sana, aku pun bersedia untuk mengikuti kalian berdua!"
Dalam pikiran orang bermarga Ngo itu tiba-tiba teringat akan keganasan Ciu Tek Seng yang pernah menganiaya iparnya, Lauw Yu, hingga menemui ajalnya. Oleh sebab itu, ia berniat mengikuti kedua Saudara Kwee untuk melakukan serbuan kilat ke gunung barat, sekaligus menuntut balas kepada Ciu Tek Seng.
Maka, atas permufakatan semua orang, penyerbuan ke gunung barat itu akan dilakukan dalam tiga rombongan. Jika rombongan pertama dikalahkan musuh, rombongan kedua dan ketiga akan segera datang membantu. Namun, jika rombongan pertama menang, rombongan kedua dan ketiga akan maju mengepung musuh dari dua jurusan.
Sebelum ketiga rombongan berangkat, Su Nio memerintahkan beberapa orang kepercayaannya ikut serta dalam rombongan ketiga dengan membawa beberapa ekor merpati pembawa surat. Jika pasukan yang maju mengalami kegagalan atau dikepung musuh, merpati itu boleh dilepaskan pulang ke gunung timur untuk meminta bala bantuan. Jika mereka berhasil, merpati itu tetap boleh dilepaskan, asalkan pada kaki-kakinya diikatkan kertas kosong untuk membingungkan pihak musuh jika burung-burung itu tertangkap.
Kok An Yong merasa heran mendengar petunjuk Yo Su Nio, namun tidak berani menanyakan perihal cara pengiriman merpati yang unik itu. Setelah semua persiapan selesai, para pendekar kemerdekaan berangkat saat senja dengan menyamar sebagai pedagang keliling, penyewa kuda atau keledai, dan pengantar kereta pio. Senjata disembunyikan di bawah pakaian atau dititipkan di atas pikulan dan kereta.
Sebagaimana layaknya pedagang keliling, jika kemalaman, mereka membuat tenda atau tempat pemondokan darurat di tepi jalan. Kelompok kecil mengikuti kelompok besar yang terdiri dari puluhan orang agar dapat saling tolong-menolong saat menghadapi bahaya.
Sementara itu, Siu Leng Siangjin dan Ciu Tek Seng sama sekali tidak menduga bahwa kaum Jaket Merah akan melakukan penyerbuan secepat itu. Pada petang hari itu, mereka justru sedang berpesta pora dilayani perempuan-perempuan muda nan cantik, ketika seorang pembawa kabar melaporkan bahwa dari bawah gunung tampak beberapa orang mendaki gunung dengan membawa obor.
"Dasar goblok!" bentak Ciu Tek Seng karena merasa kesenangannya terganggu. "Pergilah perhatikan dahulu, apakah mereka kawan atau lawan. Jika kawan, segera persilakan datang untuk makan minum. Jika mereka musuh, barulah engkau melapor ke sini. Kau mengerti?"
Si pelapor menjawab, "Menurut perintah Tuanku," sambil berlalu dengan perasaan jengah.
Makanan dan minuman segera ditambah. Siu Leng Siangjin yang sudah mulai mabuk memanggil dua wanita muda untuk duduk di pangkuannya sambil tertawa-tawa. "Cobalah engkau menyanyikan lagu yang merdu untuk menghibur hatiku yang bimbang!"
"Bimbang? Hihihi," kata salah seorang perempuan dengan genit. "Mana boleh Taysu, eh, Kok-su, merasa bimbang? Ada peribahasa mengatakan *Kin ciauw yu ciu, kin ciauw cui*. Hari ini ada arak, biarlah hari ini kita mabuk, masa Kok-su lupa peribahasa itu?"
Siu Leng Siangjin bukan main gembiranya. Ia memeluk perempuan itu sambil menciumi pipinya. "Sungguh pintar engkau ini. Ayo, sekarang nyanyikan lagu gembira!"
Setelah berbisik di telinga si biarawan tua, Siu Leng Siangjin membuka mulutnya lebar-lebar dan tertawa nyaring. Ciu Tek Seng pun turut tertawa terbahak-bahak. "Ya, segera nyanyikan lagu pilihanmu itu!"
Para perempuan itu lalu menyanyikan lagu dengan nada merdu dan arti yang menggairahkan. Setelah selesai, mereka menuangkan arak ke dalam cawan kedua orang tersebut.