Chapter 51
"Dengan ini kami mengucapkan selamat panjang umur kepada Kok-su-ya dan Ciu Toa-ya," kata mereka dengan gaya yang sudah terlatih, "Semoga Kok-su-ya dan Toa-ya hidup hingga seribu tahun lamanya." Siu Leng Siangjin dan Ciu Tek Seng tertawa girang, kemudian menciumi pipi perempuan-perempuan itu secara asyik dan tidak tahu malu, hingga para serdadu di situ merasa sangat jengah dan hampir separuh di antaranya terpaksa meninggalkan ruangan itu secara diam-diam.
Kecuali mereka yang sudah mabuk atau tidur menggeletak di atas lantai tanpa sadar akan diri masing-masing.
Sementara Siu Leng Siangjin sendiri yang rupa-rupanya masih bisa mempertahankan diri, sambil sesekali membentak para serdadu agar meninggalkan ruangan, kemudian memerintahkan perempuan-perempuan itu untuk menemaninya masuk ke dalam kamar.
Namun sungguh tidak dinyana, begitu ia hendak melangkahkan kaki di ambang pintu, tiba-tiba beberapa orang serdadu muncul dengan tersipu-sipu sambil berkata, "Kok-su-ya, celaka! Pasukan kaum pemberontak telah kembali dan mengepung benteng gunung ini dari segala jurusan!" Siu Leng Siangjin dan Ciu Tek Seng kaget bukan buatan mendengar laporan itu.
"Kalian boleh segera bersiap-siap dan membagi pasukan kita menjadi beberapa rombongan!" kata biarawan tua itu. Kemudian ia menyuruh Ciu Tek Seng untuk keluar memimpin tentara guna menghambat serbuan musuh.
Dalam keadaan demikian, suasana yang tenang sekonyong-konyong berubah menjadi gawat dan kacau. Orang-orang perempuan yang barusan berlomba mengunjukkan kegenitan untuk mengambil hati, sekarang berubah menjadi pucat dan ketakutan setengah mati, sehingga di antaranya ada yang menangis sambil lari kian kemari tanpa tahu ke mana harus bersembunyi.
Ciu Tek Seng yang menerima perintah susioknya untuk melawan musuh terpaksa mengambil senjata dari rak, meskipun ia sendiri merasa segan untuk bertempur dalam keadaan tubuh letih. Begitulah, dengan terhuyung-huyung ia segera mengumpulkan anak buahnya, kemudian menggiring mereka turun gunung untuk mencegat musuh.
Kwee Liat dan Kwee Kin yang berjalan di depan dengan Ngo Sian Tie mengikuti di belakang, tidak lama kemudian berpapasan dengan Ciu Tek Seng, hingga kedua pihak saling mendamprat dengan sengit, lalu dilanjutkan dengan pertempuran yang ramai sekali.
Kwee Liat menerjang sambil menyabetkan goloknya, yang kemudian disambut oleh Ciu Tek Seng dengan cambuk Sampian di tangannya. "Petang hari ini adalah hari terakhir bagimu melihat dunia!" hardik Kwee Kin sambil hendak membantu kakaknya mengepung musuh itu. Namun, tiga orang pengawal pribadi Ciu segera menghambatnya dan mengepung dari tiga jurusan.
"Aku datang!" bentak Ngo Sian Tie sambil membantu Kwee Liat mengepung Ciu Tek Seng.
Suasana saat itu menjadi semakin ramai dan tegang. Sebagian serdadu kabur ke atas gunung melaporkan kepada Siu Leng Siangjin bahwa rombongan kaum pemberontak telah menerjang naik dari beberapa jurusan. Biarawan tua itu terkejut bukan main dan terpaksa meninggalkan nona-nona manis di dalam kamar; ia sendiri segera membawa tongkat besinya dan pergi menghadang musuh dengan diiringi sepasukan pengawal pribadi.
Begitu melangkahkan kaki keluar ruangan Ci-gi-thia, Siu Leng Siangjin menyaksikan seorang pemuda tampan yang bersenjatakan tombak tengah mendesak maju dan dalam sekejap saja telah membunuh beberapa anak buahnya yang terkenal tangguh dan berkepandaian tinggi. Oleh sebab itu, sambil membelalakkan mata, ia membentak, "Segera beritahukan siapa namamu! Karena tongkat besiku ini tak sudi memukul mampus seorang musuh yang tidak bernama!"
Si pemuda menyambut ejekan Siu Leng Siangjin dengan senyuman dingin. "Ah-ha!" katanya. "Tidak disangka bahwa sekarang si pecundang ini masih berani membual dan menganggap dirinya sangat lihai dan tak terkalahkan. Masih ingatkah dengan nenek buta itu yang telah membuatmu, susiokmu, dan sutitmu jungkir balik dan kabur?"
Siu Leng Siangjin menjadi merah wajahnya karena malu. Dia tak menyangka bahwa kekalahannya di tangan Pek In akhirnya diketahui orang luar. Hal itu membuatnya dari rasa malu menjadi gusar dan membentak, "Beritahukan namamu, agar mudah aku mengambil jiwamu!"
"Aku inilah Lie Cwan!" sahut si pemuda. "Sekarang mari kita mulai bertempur!"
"Apa bukan Sin-chio Lie Cwan?" balik tanya biarawan tua itu.
"Sin-chio atau bukan, itu sama sekali tidak menjadi halangan untuk kita bertarung hingga empat ratus atau lima ratus jurus lamanya!" ejek pemuda tampan itu.
Siu Leng Siangjin menjadi semakin mendongkol dan segera menyerang si pemuda dengan tongkat besinya. Lie Cwan yang juga telah mendengar tentang kelihaian biarawan tua itu, diam-diam tidak berlaku lengah untuk melakukan penangkisan dengan tombak di tangannya. Demikianlah selanjutnya mereka serang-menyerang dengan sama gagah dan beraninya, walaupun usia masing-masing memiliki selisih yang mengejutkan, yakni Lie Cwan baru berusia dua puluhan, sedangkan si biarawan tua berusia lima puluhan lebih.
Bersamaan dengan itu, anak buah kedua pihak segera saling mengadu senjata menuruti teladan majikan masing-masing. Menurut perbandingan taraf kepandaian Lie Cwan dan Siu Leng Siangjin, sebenarnya si pemuda bukan lawan biarawan tua itu, tapi karena hweeshio tua itu tengah dicengkeram pengaruh alkohol, perlawanannya sangat ngawur. Ia memukul dan menyapu musuh dengan seenaknya saja, sehingga banyak kesempatan baik untuk merobohkan musuh terlewatkan sia-sia.
Namun, Sin-chio Lie Cwan yang menyadari hal ini, sebaliknya berlaku lebih waspada dan hati-hati, sehingga pertempuran tampak berimbang. Di lain pihak, Kwee Kin yang menghadapi tiga orang serdadu bangsa Kim dalam sekejap saja telah melukai salah seorang di antaranya, sedang dua orang lainnya yang kepandaiannya ternyata lebih rendah tampak jeri dan hancur nyalinya, sehingga mereka lebih banyak mundur daripada mendesak maju.
Sedang Ciu Tek Seng yang dikepung oleh Kwee Liat dan Ngo Sian Tie lambat laun hanya mampu menjaga diri dan sama sekali tak dapat membalas serangan. Ngo Sian Tie yang melihat kesempatan terbaik itu segera mendesak dengan lebih hebat sambil berseru, "Kwee Hongtee, biarkan aku habiskan jiwa manusia busuk ini!" Namun Kwee Liat yang mempunyai dendam kesumat terhadap Ciu tidak mau mengalah. Seketika itu juga terjangan mereka berdua menjadi semakin hebat dan ganas, yang kesudahannya membuat Ciu Tek Seng kewalahan dan terdesak di suatu sudut.
Ia membela diri secara nekat, sehingga cambuk yang dicekalnya berkelebatan di sekitar badan bagaikan baling-baling yang ditempuh angin topan. Tapi meski bagaimanapun dahsyatnya ia membela diri, tidak urung penjagaannya dobrak juga setelah diserang serentak oleh Kwee Liat dan Ngo Sian Tie.
Begitulah selagi pertempuran berlangsung dengan sangat dahsyat, tiba-tiba para serdadu lari pontang-panting sambil berteriak, "Kaum pemberontak telah mengepung dari segala jurusan dan membakar habis gudang-gudang ransum perbekalan kita!" Di jurusan lain terdengar orang-orang menyerukan, "Lekas kabur, selagi kesempatan masih ada!"
Oleh karena timbul kekacauan di sana-sini, Siu Leng Siangjin yang sedang bertempur dengan Sin-chio Lie Cwan menjadi gelisah. Akhirnya, bahunya terluka oleh tombak si pemuda, sehingga dengan mengucurkan banyak darah ia terpaksa kabur untuk menyelamatkan diri. Lie Cwan yang belum puas segera mengejarnya sambil membentak, "Tinggalkan dahulu kepalamu, barulah aku suka melepaskanmu!" Namun biarawan tua itu tidak menghiraukannya dan terus kabur selama kakinya masih mampu membawa diri. "Meski engkau terbang ke langit atau menoblos ke dalam tanah, tak urung akan kususul juga!" bentak Lie Cwan dengan bernafsu.
Sementara Ciu Tek Seng yang sudah terdesak di suatu sudut hampir tak mampu lagi menolong diri. Setelah menyabet musuh berkali-kali dengan selalu mengalami kegagalan, akhirnya ia sendiri yang dilabrak habis-habisan dan terluka lengan kirinya oleh bacokan golok Kwee Liat. Sedangkan golok Ngo Sian Tie berhasil menebas kaki Ciu Tek Seng hingga putus dan terpisah dari tubuhnya bagaikan dahan pohon yang tumbang.
Ia akhirnya menyerah di bawah golok kedua musuh besarnya itu dalam keadaan tidak bernyawa, karena selain kepalanya, lengannya pun jatuh ke tanah dibarengi cairan merah yang muncrat ke muka bumi.
"Akhirnya mampuslah kamu! Ha, ha, ha! Hiduplah kaum Jaket Merah kita!" Ngo Sian Tie tertawa terbahak-bahak sambil mengangkat tangan dan mengacungkan goloknya yang berlumuran darah, kemudian sekonyong-konyong ia jatuh mengusruk tidak ingat akan diri lagi.
Kwee Liat yang menyaksikan demikian terkejut dan lekas-lekas menolongnya. Namun, setelah diperhatikan wajahnya sejenak, ternyata hembusan napas Ngo Sian Tie telah terhenti. Ia meninggal karena saking girangnya menyaksikan usaha mereka berhasil dan telah membalas dendam kepada Ciu Tek Seng yang menjadi musuh besar iparnya itu.