Halo!

Dewi Tombak - Chapter 52

Memuat...
Dewi Tombak

Chapter 52

Setelah memerintahkan anak buahnya untuk mengangkut jenazah Ngo Sian Tie ke tempat yang lebih aman, Kwee Liat segera mengajak adiknya, Kwee Kin, yang telah berhasil mengalahkan kedua musuhnya, untuk membantu Sin-chio Lie Cwan mengepung Siu Leng Siangjin.

Namun, biarawan tua itu belum sampai pada ajalnya.

Ketika keadaan sudah terlampau sempit untuk meloloskan diri, tiba-tiba dari balik semak-semak melompat seorang pemuda bersenjata pedang panjang. Ia mencegat Lie Cwan sambil membentak, "Kok-su, jangan khawatir! Aku ada di sini untuk menolongmu!" Siu Leng Siangjin segera menyelinap ke samping di bawah perlindungan pahlawan muda tersebut.

Sin-chio Lie Cwan yang sedang mengejar biarawan tua itu terkejut dan merandek sejenak. Orang yang baru datang itu ternyata tidak lain adalah Hap Nouw Siu Bun.

"Sangkaku kau sudah mampus!" kata si Tombak Sakti sambil menuding pahlawan bangsa Kim itu dengan senjatanya.

Hap Nouw Siu Bun menyambut ejekan itu dengan siulan nyaring. Seketika itu juga, dari balik semak-semak muncul banyak serdadu musuh yang segera mengepung mereka dari segala jurusan.

Lie Cwan, pendekar muda yang pantang mundur dalam pertempuran, segera memutar tombaknya untuk meladeni serangan Hap Nouw Siu Bun dan anak buahnya. Kini, Lie Cwan yang semula menjadi pengejar, berbalik menjadi pihak yang dikepung.

Untungnya, pengepungan ini tidak berlangsung lama. Ketika pertempuran baru berjalan beberapa jurus, Kwee Liat, Kwee Kin, serta kawan-kawan tiba di lokasi. Pertempuran pun menjadi semakin ramai dan dahsyat. Karena jumlah anak buah Hap Nouw Siu Bun lebih sedikit, mereka akhirnya terpukul mundur dan melarikan diri bersama Siu Leng Siangjin yang terluka bahunya akibat sabetan si Tombak Sakti.

Dengan demikian, markas kaum Jaket Merah di gunung barat berhasil direbut kembali oleh Lie Cwan dan kawan-kawan. Semua orang merasa gembira dan memperkuat penjagaan di sekitar pegunungan tersebut dengan menambah pos-pos jaga. Namun, di balik rasa girang itu, mereka turut berduka cita atas meninggalnya Ngo Sian Tie yang sangat mendadak. Sebagai tanda belasungkawa, seluruh anggota Jaket Merah berkabung selama 49 hari.

Suasana tegang di kedua markas kaum revolusioner di gunung timur dan barat pun pulih kembali seperti sediakala, walaupun ketenteraman itu belum menjadi jaminan bahwa kedua markas tersebut terbebas dari serbuan pasukan bangsa Kim yang berkuasa pada masa itu.

***

Sebagaimana telah diketahui, Hap Nouw Siu Bun melakukan perjalanan ke kota raja yang terletak jauh dari kewedanaan Ceng-hiang-tien. Namun, mengapa secara tiba-tiba ia berada di gunung barat dan tepat waktu untuk menolong Siu Leng Siangjin?

Berita keberangkatan pahlawan bangsa Kim itu ke kota raja hanyalah siasat belaka. Hap Nouw Siu Bun bukanlah orang bodoh. Ia telah mendengar kabar angin bahwa kaum pemberontak Jaket Merah sewaktu-waktu bisa menyerang pesanggrahan di perbatasan Ceng-hiang-tien. Oleh karena itu, ia diam-diam meninggalkan pesanggrahan tersebut dengan membawa sebagian tentaranya untuk membokong musuh saat mereka tidak siap.

Ia pun menyusun akal untuk memancing Kok An Yong dan kawan-kawan meninggalkan markas di gunung barat menggunakan surat undangan palsu yang dibubuhi tanda tangan Yo Su Nio. Sebagai seorang pahlawan yang cerdik, ia berhasil memancing Siauw Giok untuk memberikan keterangan penting mengenai seluk-beluk kedua markas timur dan barat.

Berkat pancingan surat undangan palsu tersebut, Kok An Yong percaya dan segera mengajak Sin-chio Lie Cwan beserta anak buahnya berkunjung ke markas timur. Namun, seorang pesuruh Hap Nouw Siu Bun yang membawa surat perintah justru tertangkap oleh serdadu Siu Leng Siangjin. Biarawan itu kemudian mengetahui rencana Hap Nouw Siu Bun untuk menyerbu markas barat yang hanya dijaga oleh kedua saudara Kwee dan sedikit pengawal.

Timbullah perasaan dengki dalam diri biarawan tua itu. Ia segera mengajak Ciu Tek Seng dan pasukannya melakukan serbuan kilat ke gunung barat hingga Kwee Liat dan adiknya terpaksa kabur untuk melaporkan peristiwa tersebut kepada Kok An Yong.

Sementara itu, Hap Nouw Siu Bun yang semula sengaja memberi kesempatan pesanggarahannya diserbu musuh, sama sekali tidak menduga bahwa siasatnya diketahui oleh Siu Leng Siangjin. Biarawan itu telah mendahuluinya menduduki markas tersebut, seperti peribahasa mengambil padi dari bakul orang lain. Hal ini tentu membuat pahlawan muda itu gusar bukan kepalang. Namun, karena ilmu silat biarawan tua itu lebih tinggi, ia tidak bisa berbuat apa-apa selain mengeluh. Demikian pula tindakannya menolong Siu Leng Siangjin dari kejaran Lie Cwan adalah tindakan yang terpaksa.

Tujuan awalnya adalah mengumpulkan musuh di satu tempat agar mudah dibasmi sekaligus. Hal ini sejalan dengan anjurannya kepada Thio Siauw Giok tempo hari, yang ternyata ditentang oleh Yo Su Nio. Akibatnya, timbul rasa tidak senang dalam hati Thio Siauw Giok, yang akhirnya menyebabkan nona itu meninggalkan markas timur untuk menyusul Hap Nouw Siu Bun.

Namun, apa yang terjadi tatkala Siauw Giok mendengar bahwa pahlawan muda idamannya telah berangkat ke kota raja? Siauw Giok merasa kecewa sekaligus malu untuk kembali ke gunung. Ia bingung menentukan tindakan selanjutnya. Beruntung, di sebuah penginapan, ia bertemu dengan Siauw Ceng, seorang gadis yang menyamar sebagai pemuda.

Setelah mereka bergaul akrab dan membuka rahasia hati masing-masing, Siauw Ceng menyesalkan kepergian Siauw Giok yang diam-diam dari gunung tanpa alasan yang jelas. Siauw Giok akhirnya membenarkan teguran nona itu dan memutuskan untuk kembali ke gunung secara diam-diam, lalu mengirim surat yang diikatkan pada sebatang anak panah.

Pada suatu petang, mereka digerebek oleh sepasukan tentara bangsa Kim. Siauw Ceng tertangkap dan ditawan di pesanggrahan tengah karena pengaduan pemilik penginapan yang menyebutnya sebagai mata-mata pemberontak. Nona Siauw Giok berhasil meloloskan diri dan semula berniat menolong Siauw Ceng. Namun, saat mendengar kabar bahwa pesanggrahan bangsa Kim itu telah diserbu dan dibakar oleh kaum Jaket Merah, ia merasa puas karena yakin kawan-kawannya tidak akan membiarkan Siauw Ceng ditawan.

Kemudian, ia mendengar kabar bahwa markas di pegunungan barat telah diduduki Siu Leng Siangjin. Hatinya mendongkol, namun ia tidak sanggup menyerang sendirian. Siauw Giok menyesali perbuatannya yang gegabah. Ia merasa terjepit; kembali ke gunung ia malu, merantau pun terasa canggung.

Dalam perjalanan tanpa tujuan, ia tiba di sebuah desa kecil yang dihuni kaum tani. Kepala desa itu, seorang tua bermarga Lo yang baik hati, melihat Siauw Giok beristirahat di tepi jalan dan mengundangnya mampir, tanpa menyadari bahwa ia adalah seorang wanita yang menyamar.

Siauw Giok tidak enak menolak, lalu menuntun kudanya dan menambatkannya di bawah pohon rindang. Sebagai pengembara, ia menyembunyikan nama aslinya. Saat ditanya, ia menjawab bermarga Lie bernama Kim, berasal dari Pek-hoa-tien yang kemudian pindah ke utara.

Orang tua bermarga Lo itu tertarik dengan omongan pemuda gadungan tersebut. "Jika saudara juga bermarga Lie," kata Empe Lo, "Tentu engkau kenal pada Lie Tay Pin, seorang pedagang kelontong yang biasa berdagang keliling."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment