Chapter 53
"Dia ini pun orang Pek-hoa-tien juga." Siauw Giok yang menganggap sepi si empe itu kontan menjawab, "Kenal, kenal. Dia memang biasa berdagang keliling!" Padahal, ia sama sekali tak kenal orang yang dimaksudkan itu. Ia menganggap petani tua tersebut seorang bodoh yang mudah didustai, sementara dirinya pun tak akan melewati desa itu untuk kedua kalinya.
"Bagus, bagus!" kata Empe Lo yang tampak semakin berharap mendengar jawaban sang nona. "Tolong Saudara sampaikan salamku kepadanya jika nanti bertemu." Siauw Giok berjanji untuk melakukannya.
Di tengah obrolan, hujan turun rintik-rintik. Siauw Giok terkejut dan bangkit dari kursinya hendak membawa kuda ke tempat yang kering. Namun, Empe Lo segera mencegahnya dan memanggil anak gadisnya untuk membantu Lie Kongcu membawa kuda itu ke belakang rumah.
"Apakah Nona ini anak perempuan Lo-tiang?" tanya Siauw Giok sebagai basa-basi. Si empe mengangguk. "Ya, benar," jawabnya. "Itu Lie Tay Pin yang telah kukatakan tadi, ia pernah datang ke sini untuk meminang putriku. Ia mengatakan untuk istri putranya, tapi menurut bisikan beberapa kawan dari Pek-hoa-tien yang mengenal baik perangai orang itu, tujuannya sebenarnya untuk dirinya sendiri. Mendengar keterangan demikian, hatiku timbul prasangka bahwa dia bukan orang baik!"
"Aiii, kurang ajar benar orang itu!" kata Siauw Giok mendongkol.
"Bukan begitu," kata si empe tenang. "Ini hanya berdasarkan prasangka. Dia sebenarnya orang baik..."
"Oh," kata Siauw Giok agak tersesat dengan ucapannya tadi.
"Sebenarnya dia bukan orang jahat," lanjut Empe Lo. "Dunia memang kerap membenci seseorang yang dianggap lebih senang atau lebih beruntung dalam suatu usaha, sehingga orang lain berusaha menjatuhkannya."
"Benar, benar," Siauw Giok mengiakan. "Memang demikian tabiat dunia pada umumnya."
"Tapi aku sungguh tidak mengerti. Sejak ia meminang putriku hingga terjadi kehebohan itu, ia tak pernah mengirim kabar apakah perjodohan ini hendak dilangsungkan atau dibatalkan. Oleh karena itu, sekali lagi aku mohon, kalau nanti Saudara berjumpa dengannya, sampaikanlah salamku. Katakanlah dari Empe Lo, ia pasti paham maksudku." Siauw Giok manggut-manggut sambil diam-diam tertawa geli mendengar peristiwa lucu itu.
"Berapa usia putrimu?"
"Akhir bulan ini genap delapan belas," sahut Empe Lo.
"Putrimu itu sesungguhnya manis sekali wajahnya," puji pemuda tiruan itu. Saat berkata demikian, Siauw Giok melirik ke ruangan dalam hingga matanya tak sengaja beradu pandang dengan seseorang yang tengah menatap ke arahnya. Ia tersenyum, dan Empe Lo yang menyadari perubahan wajah tamunya itu lekas menoleh ke dalam sambil memanggil, "Jie, mari keluar memberi hormat kepada tamu kita ini."
Sesaat tidak ada gerak-gerik, si empe kembali menoleh ke dalam tanpa berkata sepatah pun. Tak lama kemudian, muncullah seorang gadis cantik membawa baki berisi sepasang cangkir dan poci teh. Nona itu memberi hormat kepada Siauw Giok dan ayahnya, lalu meletakkan cangkir di hadapan mereka.
"Inilah putriku satu-satunya, Giok Jie," kata Empe Lo. Siauw Giok bangkit membalas hormat. "Ini tamu kita, Saudara Lie, Lie Kim nama lengkapnya." Tak lama, gadis itu masuk kembali setelah meminta diri dan melirik ke arah pemuda tiruan tersebut.
Saat pertemuan itu berlangsung, kilat yang bergemerlapan di luar menarik perhatian Siauw Giok pada sesuatu yang bergerak di bawah pohon tempat ia menambatkan kuda. Ia memandang sesaat dan menyadari ada seorang laki-laki mengintai. Siauw Giok menjadi curiga dan waspada. Siapakah orang itu? Apakah ia mengintai dirinya atau Empe Lo? Pikirannya mendadak kalut. Ia memutuskan untuk menanggung sendiri segala akibat agar si empe dan putrinya tidak gelisah.
Hujan semakin lebat, namun orang itu tetap bersembunyi bak patung, tak memedulikan air hujan. Pikiran Siauw Giok tergerak, ia berbisik, "Lo-tiang, ada yang hendak kubicarakan." Si empe tampak girang dan siap mendengar. Ia menduga pembicaraan ini akan berkisar pada perjodohan si pemuda tiruan dengan putrinya.
"Di balik pohon tempat kudaku tadi, aku melihat seseorang mengintai. Mungkin dia bukan orang baik-baik. Namun, Lo-tiang jangan khawatir, aku sanggup menghadapinya," ujar Siauw Giok.
Empe Lo terkejut dan menoleh cemas. "Habis bagaimana aku harus berbuat?"
"Jangan khawatir," kata sang nona. "Ada cara untuk mengatasi ini. Lo-tiang berpura-puralah memanggilnya untuk mampir ke sini. Aku ingin melihat raut wajahnya di bawah sinar lampu."
Empe Lo ragu, namun ia berpura-pura tenang dan memanggil dengan suara agak gemetar, "Hei, orang di balik pohon itu, aku undang untuk mampir ke rumahku!"
Sesuai dugaan, orang itu datang dan memberi hormat. "Barusan karena tertimpa hujan, aku terpaksa memasuki pekarangan tanpa izin. Harap Empe sudi memaafkan." Melihat sikap sopan orang itu, Empe Lo lega dan mempersilakannya masuk. Namun, begitu melihat wajah orang tersebut, Siauw Giok melompat bangun sambil berseru, "Jiko!"
Orang itu terlonjak mundur sambil menatap wajah sang nona dengan mata tak berkedip, lalu berseru, "Giok-moy! Aiii, tidak kusangka aku dapat menjumpaimu di sini!"
Empe Lo tertegun. Lebih-lebih ketika mendengar laki-laki itu memanggil tamunya dengan sebutan "Giok-moy" atau "Adik perempuan Giok", terbukalah rahasia bahwa pemuda tampan itu sebenarnya adalah seorang gadis jelita yang menyamar.
Bersamaan dengan itu, terdengar suara barang pecah belah jatuh dari dalam rumah. Empe Lo segera masuk dan mendapati Giok Jie yang terkejut setengah mati mendengar bahwa pemuda tampan itu adalah wanita. Lamunan romantisnya seketika musnah. Ia lemas, menjatuhkan piring dan mangkuk ke ubin, lalu lari ke dalam kamar sambil menangis terisak.
Laki-laki yang datang itu tak lain adalah Kwee Kin, adik Kwee Liat, yang sedang mencari Siauw Giok. Sang nona yang merasa tidak mungkin lagi mengelabui Empe Lo, akhirnya mengungkapkan identitas aslinya serta siapa Kwee Kin—dengan pengecualian bahwa mereka anggota kaum Jaket Merah.
Setelah berbincang intim, Siauw Giok bertindak sebagai perantara perjodohan Kwee Kin dengan Giok Jie. Hal itu disetujui oleh Empe Lo dan Giok Jie sendiri, mengingat Kwee Kin berwajah keren, ramah, dan sopan. Dengan demikian, tuntaslah tanggung jawab Siauw Giok atas diri Giok Jie, yang untungnya baru mengalami "cinta selayang pandang" terhadap dirinya.