Chapter 54
Menurut cerita yang disampaikan oleh Kwee Kin kepada Thio Siauw Giok, Nona Su Nio jatuh sakit karena sangat memikirkan Siauw Giok yang meninggalkan markas timur secara diam-diam.
Oleh sebab itu, setelah markas di gunung barat yang diduduki oleh musuh dapat direbut kembali, Kwee Kin diutus untuk mencari Siauw Giok. Ia tidak menyangka akan menemukan gadis itu di tempat tersebut.
Ketika Siauw Giok menanyakan mengapa Kwee Kin masuk ke pekarangan orang tanpa mengetuk pintu, melainkan justru berlindung di bawah pohon saat hujan lebat, Kwee Kin menjelaskan bahwa saat beristirahat di suatu tempat yang sunyi di luar desa, ia melihat seorang pemuda yang dari belakang tampak mirip dengan seorang pahlawan Kim yang pernah dijumpainya dalam peperangan. Karena tidak mengetahui namanya, ia terpaksa bersembunyi dan menunggu hingga pemuda itu berlalu.
Namun, ketika hujan turun dengan hebatnya, ia melihat seorang anak dara menuntun kuda ke belakang rumah. Ia merasa curiga dan mencoba mengintainya dari balik pohon untuk kemudian turun tangan jika dirasa perlu.
Ternyata, itu bukanlah kuda pahlawan Kim yang ia lihat tadi, melainkan kuda milik Siauw Giok yang tidak ia ketahui keberadaannya sebelum ia masuk ke pekarangan rumah milik Empe Lo. Hal ini membuat semua orang tertawa karena menganggap kejadian itu sangat kebetulan dan menguntungkan bagi semua pihak: Siauw Giok ditemukan, Empe Lo mendapat menantu, Nona Giok Jie memperoleh jodoh, dan Kwee Kin mendapatkan keberuntungan yang tidak terduga.
Sekarang, apa pula yang hendak dikatakan?
Empe Lo beserta putrinya sangat berterima kasih kepada Siauw Giok, yang kedatangannya ke sana bagaikan Dewi Perjodohan yang dikirim oleh Thian Yang Maha Kuasa untuk membawa kebahagiaan bagi rumah tangga kepala desa itu.
Setelah berjanji akan kembali setelah urusan mereka selesai, Siauw Giok dan Kwee Kin segera pergi ke gunung timur. Mereka disambut dengan senang hati oleh Yo Su Nio dan An Jie. Su Nio sempat menyesalkan kesembronoan adiknya yang ia cintai, yang menyebabkan dirinya jatuh sakit selama Siauw Giok berkelana tanpa tujuan. Siauw Giok pun menyatakan penyesalan yang sebesar-besarnya dan berjanji tidak akan berbuat sembrono lagi. Dengan demikian, selesailah persoalan yang membuat Su Nio cemas.
Namun, persoalan besar belum selesai sampai di situ. Siu Leng Siangjin, yang sempat ditolong oleh Hap Nouw Siu Bun setelah kehilangan sutitnya yang tewas di tangan musuh, kini merasa terpencil dan kesepian. Orang-orang sekaliber dirinya sangat langka, sedangkan Hap Nouw Siu Bun lebih mengutamakan kepangkatan dan kesenangan duniawi daripada hubungan persaudaraan. Oleh karena itu, ia tidak dapat berhubungan erat dengan Hap Nouw Siu Bun seperti yang ia alami dengan mendiang sutitnya, Ciu Tek Seng.
Pada suatu petang, karena merasa kesepian, biarawan tua itu diam-diam pergi berjalan-jalan dengan dikawal oleh dua orang serdadu kepercayaannya. Kali ini, ia menyamar sebagai orang biasa, sementara para serdadu menyamar sebagai preman.
"Hendak pergi ke mana kita sekarang?" tanya salah seorang serdadu.
Siu Leng Siangjin melirik sambil tersenyum. "Pakai bertanya lagi hendak pergi ke mana? Aku kan telah katakan, kalian boleh ajak aku ke mana saja, asal di sana ada kedai arak yang memiliki pelayanan istimewa."
Serdadu itu paham dan menjawab, "Hamba mengerti apa kehendak Kok-su-ya."
"Kalau begitu, perlu apa engkau bertanya-tanya lagi?" kata biarawan tua itu. Lalu, ketiganya berangkat ke sebuah rumah kuning yang cukup dikenal oleh orang-orang yang gemar dengan paras cantik di tempat itu. Kedatangan mereka disambut dengan manis oleh para Hengsiu. Namun, saat sedang asyik makan dan minum hingga tengah malam, tiba-tiba beberapa orang datang mencari mereka dengan tergesa-gesa.
Siu Leng Siangjin bertanya dengan perasaan kurang senang, "Ada urusan apa kalian datang ke sini dengan tergesa-gesa?"
"Hamba mohon beribu ampun ke hadapan Kok-su-ya," kata pemimpin serdadu itu. "Di pesanggerahan kita terjadi kerusuhan besar karena kedatangan kaum pemberontak! Mohon supaya Kok-su-ya lekas pulang untuk menindas kerusuhan tersebut!"
Siu Leng Siangjin terkejut bukan main. Setelah membayar makanan dan minuman serta memberi persenan, ia segera kembali ke pesanggerahannya. Sesampainya di sana, benar saja terjadi kekacauan, tetapi bukan karena pemberontak, melainkan ulah Hap Nouw Siu Bun dan anak buahnya yang menyamar sebagai pemberontak.
Ternyata, Hap Nouw Siu Bun yang mendongkol karena Siu Leng Siangjin menyerobot jasanya dalam menduduki markas pemberontak, telah melaporkan perbuatan buruk biarawan itu kepada atasan. Akibatnya, datang utusan yang membawa surat pemecatan tidak hormat. Biarawan itu dituduh sering main gila, tidak disiplin, serta berlaku curang sehingga kemenangan berubah menjadi kekalahan yang memalukan. Karena dianggap pernah berjasa, ia tidak dihukum mati, melainkan hanya diberhentikan dari jabatannya.
Siu Leng Siangjin merasa lemas dan dengan perasaan menyesal, ia kembali ke gunung tempat tinggalnya. Dengan perginya biarawan itu, pimpinan tertinggi kini jatuh ke tangan Hap Nouw Siu Bun, yang kini dapat bergerak lebih leluasa.
Selagi pergantian pimpinan berlangsung, di markas besar pegunungan timur, Yo Su Nio berembuk dengan Yo An Jie, Thio Siauw Giok, dan para liauwlo mengenai cara melakukan serangan balasan terhadap pasukan penjajah. Mereka tidak mengetahui bahwa siasat buruk sebelumnya adalah buah pikiran Hap Nouw Siu Bun.
"Dengan meninggalnya saudara Ngo," kata Yo Su Nio, "kita kehilangan salah satu penunjang yang kuat. Namun, selama kita masih hidup, sudah selayaknya berjuang sekuat tenaga. Maju terus dan pantang mundur untuk mencapai cita-cita suci kita. Usir kaum imperialis dan hancurkan usaha kaum penjajah yang hendak mengadu domba kita."
"Janganlah kita lekas putus asa. Bangsa yang besar adalah bangsa yang tak pernah mengeluh atau mundur karena rintangan. Orang boleh menangis, tapi tidak dibenarkan jika lekas putus asa. Oleh sebab itu, sekali lagi kita harus menanamkan semangat 'MAJU TERUS' agar cita-cita kita lekas tercapai."