Halo!

Dewi Tombak - Chapter 55

Memuat...
Dewi Tombak

Chapter 55

"Karena jika usaha kita sampai gagal, anak cucu kita pasti akan melanjutkannya dengan semangat yang lebih menggelora daripada kita, yang kemudian tergolong sebagai pelopor kaum tua!" Pidato si Dewi Tombak yang berapi-api itu tentu mendapat sambutan yang sangat meriah dari para kawan seperjuangannya. Secara spontan, beberapa orang maju ke depan dan menawarkan diri. Mereka menyatakan bahwa jika penyerbuan terhadap pasukan tentara kaum penjajah itu dilakukan, mereka bersedia untuk berada di barisan paling depan dan tidak segan-segan mengorbankan jiwa dan raga demi mencapai tujuan revolusi yang suci itu.

Su Nio dan kawan-kawan merasa sangat terharu sekaligus bangga mendengar kesepakatan, kepatuhan, serta sifat setia kawan mereka. Si nona mendapatkan gambaran yang jelas bahwa lambat laun revolusi mereka akan mendapat dukungan dari seluruh pendekar pencinta bangsa, yang hingga saat itu masih menyembunyikan diri di kalangan rakyat.

"Kini permusyawaratan yang kita adakan telah mendapat persetujuan bulat dari saudara sekalian," ujar si nona.

"Namun, untuk memperkokoh serta mempererat cara kerja kita, rasanya belum lengkap jika tidak mengikutsertakan rombongan Kok Toako dari markas pegunungan barat."

"Untuk pergi ke sana dalam keadaan cuaca yang begini buruk?" terdengar suara yang hampir berbarengan.

"Kalau begitu, siapakah yang bersedia diutus ke sana?" Su Nio menoleh kepada para saudaranya di kiri dan kanan.

"Itu benar!" sahut An Jie dan Siauw Giok dengan cepat. "Sesungguhnya bukan pekerjaan yang mudah bagi orang yang menjadi utusan itu."

"Oleh sebab itu, apakah tidak baik jika menggunakan merpati pembawa surat dari pegunungan barat saja? Selain bisa sampai lebih cepat, cara itu juga lebih selamat dan terjamin," usul Siauw Giok, yang terbiasa mengirim burung-burung merpati tersebut. Ia pun membenarkan pemikiran kakak angkatnya itu.

Su Nio menuruti saran kedua saudaranya. Ia menulis sepucuk surat undangan kepada Kok An Yong, Sin-chio Lie Cwan, dan kedua saudara Kwee di markas pegunungan barat untuk membicarakan lebih jauh tentang rencana penyerbuan besar-besaran terhadap pesanggerahan pimpinan ketentaraan kaum penjajah yang kini dikepalai oleh Hap Nouw Siu Bun.

Demikianlah isi surat undangan Yo Su Nio yang singkat namun jelas:

"Saudara Kok An Yong dan Saudara-saudara Sekalian Yang Terhormat. Kini, atas persetujuan saudara-saudara sekalian, kami bertekad untuk melakukan serangan kilat terhadap pesanggerahan musuh sebagai pembalasan atas serangan hebat yang telah dilancarkan terhadap markas kita di pegunungan barat. Namun, untuk mencapai persetujuan bulat, kami mengundang saudara-saudara untuk bertemu guna bertukar pikiran mengenai waktu dan strategi serangan. Menantikan jawaban saudara sekalian, hormat kami, Yo Su Nio dan kawan-kawan."

Dengan menggunakan seekor burung merpati yang sebelumnya dikirim dari pegunungan barat, Su Nio menyuruh Siauw Giok mengikatkan surat itu pada kaki burung tersebut, lalu menerbangkannya kembali ke pegunungan barat.

Namun, takdir rupanya belum menginginkan pemerintahan bangsa Kim tumbang di tangan Yo Su Nio dan kawan-kawan. Saat burung merpati itu terbang, Hap Nouw Siu Bun sedang berburu dengan membawa dua ekor burung alap-alap peliharaannya yang sangat jinak dan seolah mengerti perintah majikannya. Ketika kedua alap-alap itu diterbangkan untuk menangkap mangsa, tiba-tiba di angkasa tampak seekor burung merpati yang terbang secepat anak panah.

Pemandangan itu menarik perhatian kedua ekor alap-alap tersebut. Kecurigaan muncul di hati sang pahlawan bangsa Kim itu. Ia bersiul memberi isyarat kepada alap-alapnya, yang segera mengejar burung merpati itu dengan gesit. Dalam sekejap, merpati tersebut berhasil diterkam dan dibawa turun kepada majikannya.

Tatkala Hap Nouw Siu Bun melihat surat yang terikat di kaki burung itu, ia segera membacanya. Ia menyadari bahwa Yo Su Nio dan kawan-kawan bermaksud melakukan penyerbuan kilat terhadap pesanggerahan yang dipimpinnya. Ia pun berpikir, mengapa tidak ia saja yang mendahului dengan mengerahkan seluruh pasukan tentara yang berada di bawah kekuasaannya?

Hap Nouw Siu Bun segera memerintahkan para serdadu kembali ke pesanggerahan secepat mungkin. Ia mengatur lima pasukan yang terdiri dari belasan ribu serdadu pilihan untuk berpencar. Setengah di antaranya diperintahkan membentuk barisan yang bersembunyi di empat penjuru agar tidak ada musuh yang bisa meloloskan diri. Setelah semua diatur, pahlawan Kim itu melepaskan kembali burung merpati tadi agar kembali ke pegunungan barat dengan membawa surat yang isinya sudah diketahui oleh pihak musuh.

Pada suatu malam yang mendung dan gelap gulita, Hap Nouw Siu Bun memerintahkan lima orang pahlawan bawahannya untuk melakukan pencegatan di jalan-jalan penting yang menghubungkan pegunungan timur dan barat. Sementara itu, ia sendiri memimpin pasukan untuk melakukan penyerbuan kilat ke pegunungan barat dengan melepas giring-giring kuda agar gerakannya tidak terdengar.

Kok An Yong dan kawan-kawan yang baru menerima surat dari Yo Su Nio dan sama sekali belum bersiap-siap, menjadi kelabakan ketika tiba-tiba diserbu oleh tentara Hap Nouw Siu Bun yang menerjang naik ke atas gunung sambil bersorak-sorai. Karena kegelapan malam, mereka tidak mengetahui berapa banyak musuh yang mengepung. Keadaan menjadi kacau; tidak sedikit pejuang yang binasa karena terjerumus ke jurang, terinjak kuda, atau keliru membunuh kawan sendiri.

Dengan mudah, markas kaum Jaket Merah di gunung itu berhasil diduduki. Hap Nouw Siu Bun sendiri maju ke depan untuk bertempur melawan Sin-chio Lie Cwan yang hendak melarikan diri bersama Kok An Yong dan yang lainnya. Hap Nouw Siu Bun, yang tahu betul betapa dahsyatnya kepandaian si Tombak Sakti, tidak berani menghadapinya seorang diri. Ia malah menyerukan anak buahnya untuk mengeroyok dari segala jurusan, hingga Lie Cwan yang lihai itu terdesak ke suatu sudut.

Selagi kerusuhan berlangsung, tiba-tiba terdengar teriakan, "Saudara-saudara, lekas kabur! Pasukan musuh telah mengepung semua jalan keluar di kaki gunung ini! Lekas ikuti kami untuk kabur ke bawah gunung!"

Kok An Yong dan kawan-kawan, yang tidak mengetahui bahwa itu adalah siasat Hap Nouw Siu Bun, justru berlari ke arah yang dianjurkan. Mereka pun berpapasan dengan Hap Nouw Siu Bun sendiri. Dalam keadaan nekat, mereka melakukan serangan serentak. Namun, Hap Nouw Siu Bun segera memberi isyarat siulan panjang, dan mereka pun diserbu dari segala jurusan. Saat hampir dibekuk, Kwee Kin maju menerjang sambil membentak, "Kami datang!" Mereka berdua mengepung Hap Nouw Siu Bun bagaikan dua harimau yang haus darah.

Hap Nouw Siu Bun terpaksa turun tangan menghadapi kakak-beradik itu. "Saudara Kwee, lekas kabur!" seru Kok An Yong. "Markas kita telah diduduki musuh!" Karena tidak ada kesempatan untuk meloloskan diri, Kok An Yong mengambil jalan nekat dengan menggorok lehernya sendiri. Perbuatan itu diikuti oleh para pendekar kaum Jaket Merah yang tidak sudi menekuk lutut kepada penjajah.

Demikianlah mereka semua gugur sebagai pahlawan bangsa yang namanya harum sepanjang masa. Sementara itu, Kwee Liat dan Kwee Kin, yang melihat kesempatan untuk bergabung dengan Yo Su Nio di gunung timur, segera melarikan diri di antara para pejuang lainnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment