Chapter 56
Dalam upaya melarikan diri itu, mereka telah membunuh banyak musuh yang menghadang di sepanjang jalan. Akhirnya, mereka berhasil menghadap Yo Su Nio dan kawan-kawan di gunung timur. Mereka terperanjat ketika menerima laporan bahwa markas di gunung barat telah diduduki musuh, sementara Kok An Yong dan kawan-kawan telah bunuh diri karena tak sudi menjadi tawanan.
Yo An Jie gusar bukan kepalang. Ia memukul hancur sebuah meja sambil berseru, "Jika aku tak dapat menumpas kaum penjajah bangsat itu, aku bersumpah tak akan hidup di muka bumi ini!" Sambil berkata demikian, ia segera memanggil Siauw Giok untuk bersiap-siap.
Namun, meski ia memanggil sampai tenggorokannya terasa hampir pecah, gadis itu tidak juga menampakkan diri.
"Ke manakah gerangan perginya Nona Giok?" akhirnya ia bertanya kepada anak buahnya.
Tetapi, tidak seorang pun tahu ke mana perginya gadis itu.
Seorang *liauwlo* justru masuk dengan tergesa-gesa dan menjura di hadapan Yo An Jie, lalu melaporkan, "Barusan Nona Siauw Giok menunggang kuda dan turun gunung, entah ke mana perginya."
An Jie jadi semakin gusar dan berseru, "Sungguh keterlaluan kelakuan budak yang kurang tahu diri itu! Selagi kita sibuk, bukannya datang membantu, dia malah meninggalkan kita! Memelihara anjing ternyata masih lebih baik daripada memelihara bocah sial itu! Akan kubunuh dia jika menjumpainya."
Sambil berkata demikian, ia mengambil golok dan berlari bagaikan orang kalap. Su Nio terkejut dan mencoba mencegahnya, tetapi sudah tidak sempat lagi. Begitu sampai di luar, An Jie segera menunggangi seekor kuda dan memacunya ke lereng gunung. Ketika Su Nio hendak menyusul, An Jie sudah tidak tampak lagi. Mula-mula gadis itu hendak terus mengejar, tetapi dicegah oleh dua bersaudara Kwee.
"Berbahaya, berbahaya," kata mereka. "Lebih baik kita menjaga musuh di sini saja!" Oleh karena itu, Su Nio terpaksa menurut meskipun hatinya merasa tidak enak.
Pada waktu hari menjelang tengah malam, seorang penunggang kuda yang pakaiannya berlumuran darah naik ke atas gunung dan jatuh pingsan sesampainya di ruangan Ci-gi-thia.
"Aii!" Seruan kaget bercampur girang itu tiba-tiba diucapkan oleh Su Nio dan anak buahnya. Karena saat penunggang kuda itu diperiksa dengan teliti, ternyata dialah Thio Siauw Giok yang menyamar sebagai seorang pahlawan bangsa Kim. Di dekatnya tergeletak sebuah bungkusan berlumuran darah yang, ketika dibuka dan diperiksa isinya, bukan lain daripada kepala Hap Nouw Siu Bun yang baru saja dipenggal oleh si nona itu.
Kemudian menyusul Yo An Jie yang membawa Sin Chio Lie Cwan dalam keadaan terluka. Tampaknya ia sangat lelah, tetapi masih dapat melaporkan kepada Su Nio bahwa Siauw Giok telah berhasil menolongnya dari tangan pahlawan bangsa Kim itu, yang kemudian berhasil dibinasakan nyawanya.
"Kita sekarang harus mundur dahulu," katanya lemah, "sebelum melanjutkan perjuangan kita ini. Tanah air kita tidak boleh dijajah musuh dari luar! Aku ingin hidup seratus tahun lagi untuk melihat negeri kita jaya dan makmur, tapi... tak dapat... Oleh karena itu, aku serukan supaya para putra dan putri bangsa Han tawakal dan lanjutkanlah cita-cita kita yang gagal ini dalam perjuangan yang tak kunjung padam... Su-moay, di dunia kita tak dapat berkumpul sebagai suami-istri, semoga Thian menggabungkan kita di liang kubur..."
Dengan berakhirnya kata-kata itu, berakhirlah pula riwayat hidup si Tombak Sakti yang pernah mencintai si Dewi Tombak dengan setulus hati, namun ternyata tak berjodoh untuk hidup sebagai pasangan sehidup-semati.
Su Nio mencekal erat-erat kedua tangan pemuda tampan itu, sementara air matanya mengucur deras bagaikan air hujan yang turun dari langit pada saat itu.