Halo!

Goresan Di Sehelai Daun - Chapter 01

Memuat...
Goresan Di Sehelai Daun

Chapter 01

Sepotong kalimat sederhana ini berulang-ulang kali terngiang di kepala Tan Leng-ko. Tidak dapat dipungkiri lagi, Lo Tong merupakan penjaga sebenarnya dari salinan kitab-kitab silat itu, yang Tan Leng-ko tidak habis mengerti dengan kesaktian Lo Tong, mengapa ia rela hanya menjadi seorang kacung-buku.

Jika ia berniat untuk menyusup masuk, dengan kesaktiannya ia dapat keluar-masuk memperoleh apa yang diingininya tanpa diketahui oleh seorang pun. Lalu, urusan apa yang menahannya hingga ia tinggal bertahun-tahun di Lokyang Piaukiok? Lalu, siapakah jati diri si naga sakti yang sebenarnya? Apakah ia juga termasuk salah satu penghuni Lokyang Piaukiok?

Pening kepala Tan Leng-ko memikirkannya, hatinya terasa bimbang, mukanya semakin pucat. Terlampau banyak pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya dan terlalu sedikit jawaban yang memuaskan hatinya.

Perlahan ia menarik napas dalam dalam mencoba menenangkan batin dan menghibur diri. Urusan ini, toh aku dapat mencoba bertanya langsung padanya. Sedangkan mengenai si naga sakti, bagaimanapun juga aku telah berhasil menangkap ekornya, gumamnya sendirian.

Bagaimanapun juga si naga sakti atau locianpwee yang tempo hari pernah ditemuinya di taman belakang toko buku itu tidak berbohong kepadanya ketika ia memiliki ilmu memecah diri. Pencurian kitab-kitab tujuh perguruan jelas tidak mungkin dapat dilakukan oleh hanya satu orang, seharusnya sedari dulu ia telah memikirkan hal ini.

Seingat Tan Leng-ko, penanggalan yang tercatat di punggung salinan kitab Kun-lun-pay Hui-liong Cap-sasik yang dilihatnya tempo hari di kamar Khu Han-beng, tidak terpaut terlalu lama dengan tanggalan yang tertera di salinan kitab Thay-kek-kun milik Butong-pay.

Sedangkan lokasi ke dua tempat itu terlampau jauh, jelas pencurian kitab perguruan besar tersebut tidak dapat dilakukan hanya oleh satu orang, melainkan harus dilakukan oleh sekelompok orang, dan Lo Tong jelas merupakan salah satu dari kelompok mereka.

Sekaligus juga merupakan buntut baginya untuk melihat kepala sinaga sakti.

Puas dengan analisanya, Tan Leng-ko menutup buku jurnal kerja yang dipegangnya. Tanpa ia sadari, tangannya berhenti bergerak ketika matanya membaca sesuatu yang sempat membuat mulutnya mengeluarkan suara tawa kecil.

Mendadak suara tawanya tenggelam ditelan desingan nyaring pedang yang sedang dicabut dari sarungnya. Sesosok bayangan manusia tampak berkelebatan masuk, dan dengan kecepatan bagaikan kilat menyerangnya dengan ganas!

Pedang orang itu bagaikan seekor ular beracun yang keluar dari liangnya langsung mematuk, menusuk ke dada Tan Leng-ko. Belum cahaya pedang yang berkelebat tiba, Tan Leng-ko dapat merasakan hawa dingin yang sangat tajam menyayat tubuhnya.

Tentu saja serangan mematikan itu membuat Tan Leng-ko terkejut, cepat ia menimpuk buku jurnal yang dipegangnya menyambut tusukkan pedang itu. Dalam sekejap buku kerja itu hancur berkeping-keping terkena hawa pedang.

Tapi bukan lemparannya tidak berguna, sesaat hawa pedang tersebut melemah, memberi kesempatan yang cukup bagi Tan Leng-ko untuk menjatuhkan diri berguling kesamping.

Dengan gerakan kilat Tan Leng-ko melenting berdiri dan dengan tergesa-gesa ia bergeser menjauh beberapa tindak, hampir ia menabrak patung Mik Lik-bud yang terletak di samping rak lemari buku.

Cepat ia menoleh, jarak di antara mereka cukup dekat sehingga ia dapat melihat sepasang mata yang memancar sinar licik lagi kejam tapi seperti juga keheranan di balik lelaki berkedok kain hitam yang membungkus kepala penyerangnya itu.

Sebelum Tan Leng-ko menempatkan diri di posisi yang lebih baik, kembali pedang orang itu berputar mengikuti gerak badannya. Ujung pedang lawan yang sangat tipis lagi tajam mengancam bit-kian-hiat, hiat-to mematikan di depan dada Tan Leng-ko.

Serangan lawan selain cepat juga ganas sekali sehingga tiada tempo bagi Tan Leng-ko untuk menangkis mempertahankan diri. Melihat ujung pedang lawan mengancam dirinya, dengan sigap Tan Leng-ko menekuk pinggangnya ke belakang sehingga badannya seperti papan yang menggantung ditopang dengan kuda-kuda kakinya.

Serangan dahsyat yang disertai hawa pedang itu, dengan telak menghantam patung Buddha yang berada di belakangnya. Orang berkedok hitam itu terdengar seperti mendengus, ia menggerakkan pergelangan tangannya memacul ke bawah.

Hati Tan Leng-ko berdesir, ia cukup memahami tidak akan pernah ada jurus pedang semacam itu. Gerakkan memacul seperti itu merupakan gerakkan pedang tanpa jurus yang lebih. Walau tenaga hentakkan pergelangan tangan bersifat lemah tapi dengan ketajaman pedang lawan sudah lebih dari cukup untuk membinasakan dirinya.

Dalam perhitungan waktu yang lebih cepat daripada menuturkannya, Tan Leng-ko mengerahkan tenaga di kedua pahanya mendorong tubuhnya ke belakang hingga pundaknya menompang patung Mik Lik-bud yang setinggi dirinya.

Meremang bulu kuduk Tan Leng-ko ketika ia dapat merasakan dinginnya pedang lawan ketika berkelebat di sela-sela kedua kakinya. Dengan sekuat tenaga, kaki kanannya cepat ia ayunkan ke atas mengancam modal tunggal di antara belahan paha lawannya.

Orang berkedok hitam itu memutar tubuh, kaki kirinya ditempatkan di belakang kaki kanan sedangkan pedangnya menebas ke kanan. Situasi menjadi terbalik, justru modal tunggal Tan Leng-ko yang sekarang terancam!

Tan Leng-ko menarik napas panjang sambil mengerahkan ginkang. Tendangan kakinya yang barusan tidak mengenai sasaran menimbulkan daya lenting yang mementalkan tubuhnya melengkung ke atas.

Dengan dibantu kedua tangannya, ia menekan perut buncit patung Mik Lik-bud sehingga tubuhnya melayang berjungkir balik dengan kaki di atas. Mencelos hati Tan Leng-ko ketika merasakan goloknya melorot turun, terlepas dari sarungnya.

Dia juga dapat merasakan hawa pedang lawan mengancam punggungnya. Terdengar suara siulan nyaring ketika Tan Leng-ko meraih senjatanya yang melayang di udara sambil memutar tubuhnya menghantam goloknya ke batang pedang lawan dengan pengerahan tenaga sakti sedapatnya.

Beradunya tenaga sakti, golok dan pedang membuat orang berkedok hitam itu terhuyung mundur sedangkan tubuh Tan Leng-ko mental menuju sudut langit kamar. Tan Leng-ko mengatur tubuhnya yang terapung, kedua kakinya menjejak pada sudut langit kamar, dengan tenaga tolakan ini tubuhnya berganti arah meluncur balik.

Cahaya golok meluncur keluar dengan kecepatan luar biasa menebas ke depan. Segulung hawa dingin yang membeku berupa selapis kabut cahaya golok menerjang ke arah lawannya.

Serangan Tan Leng-ko selain tepat juga lebih ganas, diam-diam lawannya merasa terperanjat ketika ia rasakan aliran darahnya serasa membeku, tubuhnya menggigil kedinginan. Sukar baginya untuk mempertahankan diri, sambil membentak dan mengerahkan tenaga sakti, cepat ia meloncat menghindar.

Sekalipun serangan golok yang dilancarkan Tan Leng-ko tidak menemui sasaran, namun sudah cukup menggetarkan musuhnya yang amat tangguh. Ternyata ronce hitam di sarung pedang orang berkedok itu sudah terpapas putus!

Tan Leng-ko mendengus, sembari menggerakkan goloknya dengan serangan susulan yang berbahaya. Melihat Tan Leng-ko memburu tiba serta menyerang, orang itu tidak tinggal diam, pedang ditangannya memutar kencang, mengayun dari bawah menebas ke atas, dalam sekejap ke dua belah senjata tersebut sudah saling bentrokan satu sama lain.

Terdengar dua kali suara dentingan nyaring, golok dan pedang sudah saling bersimpangan. Didalam bentrokkan pertama, kedua belah pihak sama-sama bertarung seimbang.

Dibentrokkan berikutnya, orang berkedok hitam itu nampak terhuyung tidak tahan menahan bacokan golok Tan Leng-ko yang disertai pengerahan tenaga sakti penuh. Diruang kerja Khu Pek Sim yang tidak terlampau luas dalam waktu singkat berubah menjadi sebuah ajang pertempuran yang amat seru.

Cahaya golok dan bayangan pedang sudah menyelimuti seluruh tubuh kedua orang itu yang bertarung di ruang sempit sehingga orang lain sulit untuk menyaksikan jurus-jurus serangan yang dipergunakan kedua orang itu dan langkah tubuh yang mereka gunakan.

Orang berkedok itu tidak ingin menderita kerugian, ia menggunakan kelincahan tubuh dan keanehan jurus pedangnya untuk menyerang Tan Leng-ko. Tusukkan pedangnya yang disertai hawa dingin yang menyayat bergulung menyerang Tan Leng-ko bagaikan amukkan hempasan ombak yang saling menyusul tiada habisnya.

Tan Leng-ko kerepotan, ia harus mengakui keanehan jurus pedang lawan. Gerakkan orang itu tidak hanya menusuk atau menebas, bahkan meliputi gerakkan mengungkit, berubah arah menyerang lawan dari arah yang tidak terduga.

Nampaknya hanya jurus Ouw Yang Ci-to yang dapat menandingi keanehan gerak pedang lawan tapi ia sudah berjanji pada dirinya untuk tidak akan menggunakannya lagi.

Ditengah seribu kerepotan, tiba-tiba Tan Leng-ko menemukan satu hal yang membuatnya kegirangan. Tubuhnya dirasakan jauh lebih ringan, ayunan goloknya membawa hawa dingin menusuk tulang yang mempengaruhi gerak tubuh lawannya.

Tangan kirinya yang melakukan totokkan dan cengkraman mengandung hawa panas yang menghanguskan. Ia paham entah kenapa hawa liar Hek Pek Coa ditubuhnya, telah berhasil melebur dengan Hek Yang Pek Im Sinkangnya.

Menyadari kemampuan tenaga saktinya di atas kemampuan lawan, Tan Leng-ko mengubah siasat dengan menerkam lawan sambil mengerahkan tenaga penuh mengadu senjata. Kembali terdengar dentingan pedang beradu golok yang memekakkan.

Tan Leng-ko menyeringai kesakitan ketika beberapa bunga api memercik mengenai punggung tangannya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment