Chapter 02
Tapi dalam bentrokan kali ini, si Kedok Hitam tak mampu menahan getaran tenaga sakti yang terpancar dari golok Tan Leng-ko.
Pergelangan tangannya menjadi kaku dan linu walau ia sudah menggunakan segenap kekuatan yang dimilikinya.
Pedangnya terlepas dari genggaman dan melayang ke udara.
Tubuhnya cepat membalik, melenting ke pintu, jelas sekali ia berniat untuk kabur.
"Masakan kubiarkan kau merayap dari sini?" gusar Tan Leng-ko.
Mendadak terdengar jeritan kaget dari pintu keluar.
Terkesiap darah Tan Leng-ko ketika melihat kemunculan Giok Si di saat yang tidak menguntungkan.
Orang Berkedok Hitam segera memanfaatkan situasi, tubuhnya berkelebat ke belakang tubuh Giok Si, jari tangan kanannya mengancam hiat-to mematikan di pelipis gadis malang itu yang tentu saja menjadi ketakutan.
"Tentu saja kau akan membiarkan aku pergi dari sini," ujar orang itu dengan lembut setelah mengatur napasnya yang serabutan.
"Aku yakin kau tidak akan membunuh dia!"
Orang Berkedok itu seperti tertegun.
Sambil menganggukkan kepala ia memandang Tan Leng-ko dengan sorot kekaguman.
Dengan nada memuji ia berkata, "Kau sungguh seorang hebat!"
Giliran Tan Leng-ko yang melongo.
Ia benar-benar heran karena ia tidak menyangka lawan akan memujinya.
"Apanya yang hebat?" tanyanya tanpa sadar.
"Nada ucapanmu membawa getar keyakinan tingkat tinggi. Aku bukan jenis yang mudah dipengaruhi orang, tapi entah kenapa aku pun ikut percaya bahwa aku tidak akan membunuhnya." Kembali sorot matanya memancar kekaguman, "Hanya orang hebat dan pintar yang memiliki kemampuan seperti itu," terdengar pujiannya sekali lagi.
Dipuji sedemikian rupa membuat perasaan Tan Leng-ko jengah, wajahnya memerah, ia sedikit salah tingkah.
Kemarahannya tadi entah sudah menguap ke mana.
"Kalau aku boleh tahu, kenapa aku tidak akan membunuhnya?" tanya orang itu dengan nada halus.
Melihat sikap orang itu yang melunak, Tan Leng-ko ikut melunakkan sikapnya dan dengan lembut menjawab, "Karena kau datang berniat untuk membunuhku, bukan dia." Orang Berkedok Hitam itu terlihat mengangguk sambil berdiam diri.
Tapi tangannya tidak tinggal diam, tangan kirinya terlihat mencekram leher Giok Si dengan kuat.
Telinga gadis itu yang belum sembuh kembali mengeluarkan darah segar, tenggorokannya mengeluarkan suara tercekik.
Wajah Tan Leng-ko berubah hebat, cepat ia berseru, "Kau boleh pergi, lepaskan dia!"
Dengan nada hambar Orang Berkedok itu berkata, "Seperti yang barusan kau katakan, aku datang untuk membunuhmu."
"Jika tidak dapat menggunakan pedang, nampaknya aku harus menggunakan dia." "Ooo, kau hendak menggunakan kesempatan ini untuk mengancamku, memintaku untuk membunuh diri?" Orang Berkedok Hitam itu seperti menghela napas, ucapnya dengan tawar, "Ada yang pernah bilang jalan pikiranku sangat ruwet, tak dinyana kau dapat menerkanya dengan tepat." Mendengar ucapan yang seperti ejekan itu, Tan Leng-ko melototinya sekejap.
Ujarnya perlahan, "Jika kau katakan aku seorang pintar, bukankah dengan membunuh diri aku mirip orang bodoh?" "Kau lebih mirip seorang lelaki sejati."
"Sebab hanya seorang lelaki sejati yang bersedia berbuat bodoh untuk membela kaum yang lemah." Tangan orang itu menggeser dari tenggorokan Giok Si, perlahan menyisir rambut gadis malang itu yang basah menggumpal lengket terkena darah yang mengucur tidak berhenti.
Dengan nada menyesal, Orang Berkedok Hitam itu berkata, "Konon perempuan termasuk kaum yang lemah."
"Apalagi perempuan yang sudah terluka dan melemah kekurangan darah." Diam-diam hati Tan Leng-ko tersirap.
Bukan karena ucapannya, tapi cara nada ucapannya.
Hanya orang berbahaya yang dapat berkata dengan cara demikian.
Menggunakan nada halus dan simpatik, yang membuat dirinya sukar membantah ucapannya.
Dan yang membuat perasaan Tan Leng-ko benar-benar terkejut, dia tidak dapat menyelami isi hati orang itu!
Orang itu benar-benar tulus ketika memuji, benar-benar memelas ketika merasa menyesal.
Meninggalkan kesan, orang itu menyukai hal yang baik dan membenci hal yang buruk.
Tapi apa yang ia kerjakan sejauh ini bertentangan dengan nilai tersebut.
Benar-benar seorang lawan yang berbahaya!
"Jam berapa sekarang?" Orang itu mengeluarkan seruan heran mendengar pertanyaan Tan Leng-ko yang tiba-tiba dan tidak dapat ia duga arah pertanyaannya.
Di luar dugaan justru perempuan di pelukannya yang memberi penjelasan dengan gumaman memilukan tapi cukup jelas.
"Beberapa jam yang lalu, dia belum pernah mengenalku. Tentu saja ia enggan untuk membunuh diri demi seseorang yang baru dia kenalnya. Tidak mungkin ia mau memedulikan nasibku. Apalagi aku hanya seorang pelacur yang sudah ludes modal kerjanya. Kedatanganku kemari sebetulnya untuk mati di tangannya. Ia enggan untuk melakukan itu, sungguh kebetulan jika kau hendak membunuhku." Dengan nada terkejut orang itu bertanya kepada Tan Leng-ko, "Benarkah ucapannya?" "Benar!"
tegas Tan Leng-ko.
Giok Si menatap Tan Leng-ko dengan terkejut.
Ia tidak menyangka pemuda itu akan menjawab secepat dan setegas itu.
Dengan pandangan nanar ia terus menatap Tan Leng-ko tanpa berkedip.
Perlahan matanya mulai digenangi linangan air mata, bibirnya digigit kencang hingga berdarah, entah karena menahan sakit atau entah karena ia berduka.
Yang ditatap tidak tega, tapi sebelum Tan Leng-ko mengucapkan sesuatu, dengan gerakan perlahan seperti takut melukai, Orang Berkedok Hitam itu menolehkan kepala Giok Si ke arahnya.
Dengan lembut ia menghapus air mata yang menetes itu, ujarnya dengan halus, "Satu hal kau salah. Jawabannya barusan yang tegas dan menyakitkan hatimu sebenarnya bertujuan untuk mengelabuiku. Jika dia tidak memedulikan nasibmu, tentu dia telah menyerangku sejak tadi. Dia tidak menyerang karena sangat memperhatikan nasibmu."
Berubah hebat wajah Tan Leng-ko.
Lawannya kali ini benar-benar musuh yang paling menakutkan yang pernah ia jumpai seumur hidupnya.
"Aku kabulkan permintaanmu!" seru Tan Leng-ko dengan wajah pucat tapi dengan tekad bulat.
Orang Berkedok Hitam itu menatap Tan Leng-ko cukup lama, sebelum berkata, "Kau akan membunuh diri?" "Ya!"
"Aku akan membunuh diri." Dengan nada khawatir, Giok Si menjerit parau. Dengan cepat Orang Berkedok Hitam menggerakkan jari tangan menusuk urat gagunya, mencegah Giok Si untuk menyelesaikan ucapannya.
"Ssstt!"
"Ketika lelaki sejati sedang berbicara, seharusnya perempuan tidak ikut membuka mulut," ujar halus orang itu sambil meletakkan telunjuknya di bibir Giok Si.
Cepat orang itu menarik tangannya ketika melihat Giok Si berusaha menggigit.
Sambil melirik ke jari tangannya, tiba-tiba orang itu berujar sambil tersenyum, "Melihat bentuknya yang panjang dan lunak, nampaknya kau gemar untuk memasukkannya ke dalam mulut." Tan Leng-ko tidak tega melihat perubahan wajah Giok Si yang hatinya seperti tertusuk belati tajam.
Tapi sebelum ia mengatakan sesuatu Orang Berkedok Hitam itu mengalihkan perhatian kepadanya, "Aku tahu kau akan melakukannya. Aku yakin seorang lelaki sejati tidak mungkin membiarkan seorang perempuan terancam tanpa melindunginya. Walau terlihat bodoh, seorang lelaki..." "Sebelum aku mati, maukah kau lakukan satu hal untukku?" potong Tan Leng-ko tiba-tiba.
"Jika dapat aku lakukan, tentu akan aku lakukan," ujar orang itu dengan simpatik.
"Maukah kau tutup mulut! Ceramahmu tentang lelaki sejati membuat perutku mual." Di luar dugaan orang itu terdengar tertawa kecil, "Sebetulnya aku sendiri pun merinding mengucapkannya."
Tan Leng-ko tidak memedulikan orang itu, ia menatap Giok Si dengan pandangan berduka yang juga menatapnya dengan linangan air mata.
Dengan wajah pucat Tan Leng-ko menggumam, "Kau matilah dengan tenang, aku jamin dia akan juga mati aku bunuh."
"Lalu aku akan membunuh diri untuk menebus kematianmu." Orang Berkedok itu seperti terkejut mendengar perkataan Tan Leng-ko.
Tapi setelah berpikir sebentar, ia menganggukkan kepala, katanya, "Ya, caramu memang lebih baik. Semua tewas jauh lebih baik daripada mati konyol sendirian." Tan Leng-ko melotot kepadanya sekejap, kemudian ujarnya perlahan, "Atau semuanya tetap hidup."
"Seperti aku katakan tadi."
"Kau pergi, dia bebas."
"Setiap saat kau boleh mencoba membunuhku lagi."
"Hanya perlu aku beritahu padamu, "Tak lama lagi aku akan berangkat pergi ke Tiang-an, setiap saat kau boleh mencegatku di jalan untuk membunuhku." "Kenapa kau mengatakan tujuan perjalananmu?" tanya Orang Berkedok itu heran.
"Kau bertujuan untuk membunuhku."
"Aku pun berniat untuk membunuhmu," jawab Tan Leng-ko tawar.
"Hanya dengan mengatakan tujuanmu, kau tidak usah bersusah payah mencariku untuk membunuhku?" "Benar!"
Orang Berkedok itu kembali mengangguk setuju, ujarnya, "Ya, kau memang pintar. Hanya ada satu hal yang kau lupakan." "Apa yang aku lupakan?" "Seorang pembunuh ketika berniat membunuh, jika tidak berhasil maka siap untuk dibunuh," kata Orang Berkedok itu sepatah demi sepatah.
Berubah hebat wajah Tan Leng-ko, bulu kuduknya merinding mendengar ucapan dingin orang itu.
Sambil menghela napas ia bertanya, "Jadi kau lebih memilih kita semua mati bersama?" "Benar!"
Tan Leng-ko menarik napas panjang, tidak ada kata-kata lagi yang ia dapat ucapkan.
Matanya beradu pandang dengan Giok Si yang menatapnya dengan pandangan yang sukar dijelaskan.
Tan Leng-ko merasa sedih, tapi ia tidak memiliki jalan lain kecuali mengandalkan kepandaiannya.
Tiba-tiba teringat olehnya jurus ketigabelas Ouw Yang Ci To yang baru beberapa hari dilatihnya.
Jurus yang paling sukar yang pernah dilatihnya dan sebenarnya belum ia kuasai penuh.
Jurus yang ketika dilancarkan bagaikan gulungan cahaya perak yang melesat pesat seperti petir menyambar, jurus golok terbang!
"Lagi-lagi aku harus melanggar janji," keluh Tan Leng-ko sedih dalam hati.
Ia sudah beberapa kali melanggarnya.
Dia lebih suka mati konyol ketimbang melanggar janji, tapi dia tidak dapat membiarkan Giok Si tewas di tangan Orang Berkedok Hitam ini.