Chapter 03
Satu kali ia berbuat salah pada gadis itu, ia rasakan sudah terlampau banyak. Perlahan ia mengatur pernapasannya. Matanya menatap tajam leher lawannya yang terlihat sebagian dari tempat ia berdiri. Tenaga saktinya ia kerahkan penuh mengelilingi seluruh tubuhnya, yang kemudian dia pusatkan di pergelangan tangannya. Udara dingin semakin membeku. Orang berkedok itu diam-diam terkejut merasakan gulungan hawa kematian yang semakin menebal, yang timbul dari golok Tan Leng-ko.
"Atau kita tidak usah mati bersama, jika..." ucapannya terputus.
Ia dapat merasakan keadaan Tan Leng-ko seperti anak panah yang ditarik kencang di busurnya. Setiap saat dapat menyerang dengan kecepatan dan kekuatan yang luar biasa dahsyatnya, sehingga ia tidak berani sembarangan bergerak. Sedikit ototnya mengejang percuma, ia dapat menemui ajalnya.
"Jika apa?" tiba-tiba Tan Leng-ko bertanya.
Orang berkedok itu diam-diam menarik napas lega. Udara beku yang menyesakkan ia rasakan menyurut, berkurang banyak. Ia dapat merasakan Tan Leng-ko telah mengendurkan saluran tenaga saktinya.
"Jika kau mau menjawab pertanyaanku dengan jujur," jawabnya.
"Jawab," kening Tan Leng-ko berkerut. "Apa yang hendak kau tanyakan?" tanyanya heran.
"Dua titik di punggung tanganmu, apakah kau baru-baru ini digigit seekor ular?" Tan Leng-ko melengak heran, diam-diam ia terkejut mendengar pertanyaan yang dirasakan terlalu tepat baginya. Tak terasa ia menggumam, "Aneh, biasanya jarang sekali seorang lelaki memperhatikan punggung tangan seorang lelaki lain. Kau bicara ngawur apa!" bentak si kedok hitam sambil mempererat cekikkannya sehingga Giok Si kesakitan.
Cepat Tan Leng-ko menukas, "Ya, beberapa minggu yang lalu, aku pernah digigit seekor ular beracun yang aneh."
"Bagaimana bentuk ular itu?"
"Selain ekornya berbentuk pipih, cabang lidahnya juga tidak umum, yang satu berwarna hitam, dan yang satu lagi berwarna putih."
"Apakah ular Hek Pek Coa?" tanya orang itu dengan nada gemetar.
"Apakah ular itu Hek Pek Coa atau tidak, aku tidak tahu," jawab Tan Leng-ko, semakin heran.
"Di mana kau digigit ular itu?" tanya si kedok hitam tanpa dapat menyembunyikan nada suaranya yang gembira.
"Kenapa kau menanyakan hal ini?" tanya Tan Leng-ko, yang menjadi tertarik berbareng semakin terkejut.
"Jika kau sedang mencekik istriku, tentu aku akan menjawab pertanyaanmu. Sebaiknya kau jawab saja pertanyaanku," ancam si kedok hitam.
Melihat darah kental kembali merembes ke rambut Giok Si, Tan Leng-ko menghela napas. "Di dekat sebuah goa di atas bukit belakang," jawab Tan Leng-ko sekenanya.
"Apakah racun ular itu yang menyebabkan tubuhmu belang dua warna?"
"Ya, kurasa demikian. Aku sendiri kurang tahu dengan jelas."
Si kedok hitam mendengus perlahan, jengkelnya, "Sudah kukatakan, kau harus menjawab dengan jujur. Bukankah belang di tubuhmu disebabkan kau telah mempelajari sebuah ilmu?"
Tan Leng-ko terkesiap, kembali ia menghela napas. "Jika kau mengetahui lebih jelas daripadaku, untuk apa lagi kau tanyakan padaku?"
"Darimana kau memperoleh ilmu itu?" desak orang berkedok hitam itu.
"Ketika aku keracunan setelah dipatuk ular itu, seorang locianpwee sakti tiba-tiba muncul di belakangku dan menyuruhku bersila. Ia menyuruhku untuk mengerahkan tenaga sakti dan mengikuti perintahnya. Aku yang setengah sadar keracunan, tentu saja mengikuti petunjuknya."
"Siapa dia, bagaimana rupanya?"
"Aku tidak tahu. Ketika kuterjaga dari pingsan, beliau sudah pergi. Aku pun belum mengucapkan terima kasih."
Orang berkedok hitam itu mendengus. "Selain racun Hek Pek Coa, apakah belakangan ini kau terkena racun lain?"
Tan Leng-ko semakin heran, banyak pertanyaan menumpuk di batinnya. "Aku rasa tidak," akhirnya ia menjawab setelah termenung sejenak.
"Darimana kau tahu dengan pasti?"
"Sebab aku tidak merasakan kelainan di tubuhku."
Tak terasa, orang berkedok hitam itu berseru keheranan. "Aneh! Kenapa belang-belang di tubuhmu mendadak menghilang?"
"Aku sendiri pun sedang keheranan."
"Kau harus percaya padaku. Aku benar-benar tidak tahu." Sepasang mata yang licik dari balik kedok hitam itu menatap tajam Tan Leng-ko seperti mengukur kebenaran ucapannya. Tiba-tiba ia mengeluarkan pertanyaan yang aneh. "Kau tidak sendirian. Sebenarnya, aku pun juga sedang keheranan."
"Apa yang kau herankan?" tanya Tan Leng-ko heran.
"Kenapa sedari tadi kau tidak pernah bertanya siapakah aku, kenapa hendak membunuhmu, kenapa aku bertanya macam-macam padamu?"
Dengan nada dingin Tan Leng-ko menjawab, "Aku tidak bertanya karena tidak yakin kau mau menjawab, lagipula..."
"Lagipula apa?"
"Sudah kukenali siapa dirimu."
"Kau kenali diriku?" tanya orang berkedok hitam itu dengan terkejut.
Tan Leng-ko mengangguk. "Tidak kusalahkan kau jika berminat membunuhku. Hanya kusalahkan caramu berpakaian. Kau mengenakan pakaian hitam di siang hari. Jika kau bukan pembunuh terbodoh yang pernah kujumpai, atau kau adalah Pek Kian Si yang memiliki dendam kesumat padaku hingga tidak sabar menunggu datangnya malam."
Orang berkedok hitam itu mengeluarkan tawa bernada dingin. Tiba-tiba ia melempar tubuh Giok Si ke arah Tan Leng-ko yang segera menangkapnya. Baru Tan Leng-ko hendak bergerak menyusul orang berkedok hitam itu, dua benda kenyal yang padat mendadak menekan tubuh Tan Leng-ko. Giok Si yang memeluk erat dirinya, menyembunyikan mukanya, menangis tersedu-sedu di dada Tan Leng-ko yang bidang. Bau harum dari tubuh Giok Si membuat jantung Tan Leng-ko berdegup kencang. Segera ia mengalihkan perhatiannya, melirik ke pintu, si kedok hitam sudah menghilang entah ke mana.
"Apakah kau dilukai olehnya?" tanya Tan Leng-ko dengan lembut.
Giok Si menggelengkan kepalanya perlahan, isak tangisnya semakin keras.
"Syukurlah, kalau kau tidak kurang apa," ujar Tan Leng-ko lega.
Tan Leng-ko membiarkan Giok Si menangis di dadanya. Ia cukup paham tiada manusia yang tidak pernah menangis, apalagi perempuan. Menangis memang suatu perbuatan manusia yang bersifat rada ganjil. Ketika seorang bayi dilahirkan, tangisannya malah membuat orang tuanya tertawa. Ketika bayi itu sedang sakit, tangisannya dapat membuat orang tuanya menjadi sedih. Tapi tidak jarang tangisan rewel seorang bayi dapat menjengkelkan orang tuanya. Tiga tangisan dengan proses yang sama, anehnya dapat memancing tiga perasaan yang berbeda. Keanehannya malah bertambah, karena menangis juga dapat mengurangi perasaan tertekan.
Setelah puas menangis, Giok Si menarik kepalanya dengan tersipu-sipu. Ia mendorong tubuh Tan Leng-ko perlahan, seperti baru menyadari telah berada di pelukannya. "Benarkah ia Pek Kian Si yang telah melukai diriku?" tanyanya dengan muka masih memerah.
"Kurasa bukan."
Paras Giok Si yang tadinya keheranan berubah seperti memperoleh sebuah pengertian. "Kau sengaja berkata demikian agar dia berlega hati, kau mencurigai orang yang salah."
"Apakah kau sudah mengetahui siapa dia sebenarnya?"
Tan Leng-ko menggeleng. Ia hanya berkata, "Aku tidak kenal dia, dan tidak mengerti kenapa ia ingin membunuhku. Hanya yang kuherankan bukan itu."
"Apa yang kau herankan?"
Tan Leng-ko tidak segera menjawab. Setelah termenung sejenak, ia menjawab, "Tidak seharusnya ia pergi begitu cepat."
Giok Si tertawa, katanya, "Dia sudah kau kalahkan, jika tidak merat kabur, lalu apa yang mesti ia lakukan. Dia kan tahu kau tidak mungkin mengundangnya minum arak."
Kali ini Tan Leng-ko tidak menjawab, matanya menggeridip, seperti banyak yang ia pikirkan. Cukup lama keduanya terdiam.
"Sebenarnya ilmu apakah yang ditanya orang itu?" tanya Giok Si memecah keheningan.
Dengan menghela napas, Tan Leng-ko menjawab, "Sebuah ilmu yang berguna untuk menawarkan racun, khususnya racun Hek Pek Coa."
"Benarkah kau mempelajari ilmu itu dari seorang locianpwee atau kau hanya mengatakan demikian untuk menipunya?"
"Kenapa kau menanyakan urusan ini?"
"Bukan tidak mungkin kau memperoleh ilmu ini dari sebuah kitab. Jika demikian, keadaanmu berbahaya sekali."
"Berbahaya?"
Dengan pandangan kuatir, Giok Si menjawab, "Mungkin sekali dia akan berusaha menjebak kemudian menyiksamu untuk mendapatkan kitab itu. Aku tidak ingin kau mengalami suatu kejadian yang buruk."
Dengan nada menghibur Tan Leng-ko berkata, "Jangan kau kuatir! Aku tidak memiliki kitab itu. Lagipula, ada kitab atau tidak, nampaknya orang berkedok itu telah bertekad untuk membunuhku."
Air mata kembali menggenang di kelopak mata Giok Si. Dengan bibir gemetar dia berkata, "Giok Si tidak dapat menahan dirinya lagi." Ia menubruk tubuh Tan Leng-ko dan kembali menangis.
Tan Leng-ko menghela napas, sekali lagi ia membiarkan Giok Si menangis di dadanya. "Orang itu tak akan mampu membunuhku," hiburnya.
Sekali lagi dua benda kenyal menekan dada Tan Leng-ko dan mengacaukan pikirannya. Kembali ia mengalihkan perhatiannya ke ruang kerja Khu Pek Sim yang berantakan seperti kapal pecah. Diam-diam ia mengeluh menyaksikan buku jurnal kerja yang hancur berkeping-keping terkena hawa pedang. Ketika matanya menerawang ke patung Mik Lik Bud, hatinya bergidik melihat sebuah goresan menggaris miring di bagian dada sebelah kiri, di sekitar jantung. Walau goresan itu tipis sekali, Tan Leng-ko mengerti tentu dalam sekali. Untung patung Mik Lik Bud itu terbuat dari kayu sehingga masih dapat tersenyum penuh dengan kedamaian.
Pagi hari cakrawala cerah. Langit terlihat terang membiru bersih dari awan, angin lembut bertiup. Di pagi hari yang cerah, udara yang biasanya dingin, tidak biasanya malah terasa sejuk menyegarkan. Anehnya, perasaan hati Tan Leng-ko justru sedang gundah. Ia sedang menunggu di luar pintu gerbang, menunggu Giok Si berganti pakaian. Entah kenapa, perempuan acap kali memerlukan tempo yang cukup lama untuk mengganti pakaian. Mungkin sama lamanya dengan lelaki ketika menggunakan kamar mandi, terutama di pagi hari. Entah apa ada kegiatan lain yang mereka lakukan. Atau apa masing-masing mempunyai kesibukan pribadi yang bersifat sebaiknya orang lain tidak perlu tahu apa yang sebenarnya mereka kerjakan. Tan Leng-ko sedang menunggu sambil merenung. Berapa hari belakangan ini, boleh dibilang nasibnya lagi tidak mujur.