Halo!

Goresan Di Sehelai Daun - Chapter 04

Memuat...
Goresan Di Sehelai Daun

Chapter 04

Bukan hanya seorang berkedok hitam berusaha membunuhnya, bahkan hampir berhasil mengajaknya mati bersama jika ia meneruskan niatnya untuk membunuh Giok Si.

Ia tidak tahu siapa dan mengapa orang berkedok itu hendak membunuhnya.

Yang ia tahu, orang berkedok hitam itu jelas bukan Pek Kian Si.

Ronce di sarung pedang Pek Kian Si sudah dicuri Giok Hui Yan, kalaupun sudah diganti, Tan Leng Ko tidak yakin akan diganti dengan warna hitam.

Lagipula, jurus pedang Pek Kian Si berbeda dengan serangan orang berkedok hitam itu.

Jurus orang berkedok itu lebih ganas, buas, dan hawa pedangnya sudah mencapai dua jengkal.

Ia sengaja menyebut nama Pek Kian Si untuk mengalihkan perhatian orang berkedok hitam itu, seperti ketika ia menyebut gua di bukit belakang.

Ditinjau dari nada gembira orang itu, tampaknya orang berkedok itu akan berusaha mencari Hek Pek Coa di sana.

Orang itu tentu akan terbentur batunya jika bertemu dengan locianpwe sakti itu.

Tapi dengan kepergian Khu Han Beng, Tan Leng Ko tidak begitu yakin beliau masih gentayangan di sana.

Siapa sebenarnya orang berkedok hitam itu? Dan kenapa ia mengenal dan mencari Hek Pek Coa? Kenapa ia dapat memastikan ia pernah mempelajari Hek Im Pek Yang Sinkang? Tiba-tiba dahi Tan Leng Ko berkerut.

Hanya dua cara untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.

Pertama, orang berkedok hitam itu berhubungan dengan locianpwe sakti itu.

Tan Leng Ko menggeleng. "Kemungkinan itu tidak terlalu mungkin," gumamnya.

Jika kelompok pencuri sakti itu hendak membunuhnya, cukup dengan satu jurus tentu akan berhasil dan tidak perlu mengenakan kedok segala.

Tiba-tiba darah Tan Leng Ko berdesir.

Hanya tersisa satu penjelasan yang masuk akal: bukan tidak mungkin orang itu mempunyai hubungan dengan Ngo Tok Kauw!

Hanya locianpwe sakti dan tentunya orang Ngo Tok Kauw yang dapat mengenali ilmu Hek Im Pek Yang Sinkang.

Bahkan Giok Hui Yan, yang dapat mengenali Hek Pek Coa, jelas tidak mengenal ilmu tersebut.

Yang Tan Leng Ko tidak habis pikir, bukankah Ngo Tok Kauw sudah habis terbantai oleh Mi Tiong Bun? Jika ternyata masih bersisa, lalu untuk apa berusaha membunuh dirinya yang tidak mempunyai perhitungan budi dan dendam dengan mereka? Apa karena kebetulan ia mengenal dan berhubungan cukup dekat dengan putri ketua Mi Tiong Bun? Diam-diam Tan Leng Ko mengeluh dalam hati.

Tugasnya di Lok Yang Piaukiok adalah mengajar para piasu, bukan mengisi teka-teki yang saling menyilang.

Kepala Tan Leng Ko pusing memikirkan hal ini, dan yang juga membuatnya puyeng adalah Lo Tong yang sedang ditunggu-tunggunya ternyata tidak pulang!

Sebenarnya hal ini memang masih dalam perhitungannya, yang di luar dugaannya adalah perilaku Giok Si yang memberatkan hatinya.

Untuk pertama kalinya dia merasakan tundingan, dan getokan Hong Naynay lebih menyenangkan.

Dia lebih menyukai omelan Hong Naynay ketimbang sikap Giok Si yang mengintil ke mana dia melangkah.

Setelah ia menyelamatkan Giok Si dari si kedok hitam dan setelah menunjukkan sikap bersedia mati bersama, sikap Giok Si terhadap dirinya berubah seperti sikap seorang istri yang menghamba dan siap meladeni.

Sikap ini yang membuatnya tidak betah. Bahkan dengan manja ia meminta Tan Leng Ko untuk menemani dirinya mencari locianpwe sakti yang pernah menolongnya di gua bukit belakang sana.

Ketika ditanya untuk apa, Giok Si menjawab sudah berkali-kali ia menjadi korban penganiayaan; ia ingin meminta kepada locianpwe sakti itu agar mengajarinya kepandaian membela diri.

"Lagipula kau memiliki kepandaian tinggi, sedikitnya aku harus menguasai semacam kepandaian," kata Giok Si sambil tertawa jengah.

"Aku dapat mengajarimu," kata Tan Leng Ko yang tidak paham arti ucapan Giok Si yang bermakna ganda.

Giok Si menolak secara halus, sambil menggeleng ia berkata, "Seorang wanita tidak boleh terlalu tergantung kepada seorang pria."

"Sudah banyak hal yang kau lakukan untukku."

"Aku harus mempunyai kemampuan untuk berusaha sendiri. Bagaimana caramu untuk membujuknya agar mengajarimu?" tanya Tan Leng Ko yang akhirnya tertarik ingin tahu.

"Jika dia seorang lelaki, tentu ada akalku untuk membujuknya." Giok Si menghela napas sedih, lanjutnya perlahan, "Tiada wanita yang bercita-cita bekerja di tempat semacam Lampu Merah, tapi nyatanya aku telah bertahun-tahun bekerja di sana."

"Berbagai macam lelaki yang berdatangan ke sana, sedikit banyak aku paham satu-dua cara untuk membujuk mereka." Tan Leng Ko ikut menghela napas, katanya kemudian, "Yang kukhuatirkan beliau tidak bersemayam di gua bukit belakang sana. Siapa tahu ia hanya kebetulan lewat ketika menolongku." Giok Si sedikit mengangguk, ujarnya, "Walau kecil kemungkinannya, tapi sedikitnya aku harus mencoba." Melihat tekad bulat Giok Si, Tan Leng Ko hanya dapat mengangkat bahu, "Sudahlah, kau ganti pakaianmu dengan yang lebih ringkas."

"Kuantar kau ke gua di bukit belakang." Bagaimanapun juga, Tan Leng Ko tidak dapat membiarkan Giok Si pergi sendirian ke sana.

Jika perhitungannya tepat, orang berkedok hitam itu tentu bergentayangan di gua bukit belakang, dan selain melindungi Giok Si, ia ingin membuat perhitungan dengan orang itu. Giok Si yang sedang ditunggu-tunggu Tan Leng Ko akhirnya muncul mengenakan celana singsat.

Jubahnya yang berwarna merah jambu membungkus ketat tubuhnya yang padat.

Lekuk pinggulnya yang sempurna, pinggangnya yang kecil, postur tubuhnya yang tegak semampai, dan wajahnya yang cantik benar-benar menunjukkan ia seorang wanita pilihan.

Melihat wajah Tan Leng Ko yang murung, Giok Si menghela napas. "Dari sekian macam lelaki yang mengunjungi Lampu Merah, tahukah kau jenis mana yang paling menyebalkan?" Tan Leng Ko menatap heran Giok Si yang bicara tidak jelas juntrungannya.

"Yang gemar menunggak alias tidak bayar," jawab Tan Leng Ko hambar.

"Walau menyebalkan, tapi setidaknya jenis lelaki semacam ini berkunjung dengan niat melampiaskan hawa nafsu."

"Yang paling menyebalkan adalah jenis lelaki yang berkunjung ke sana karena telah jatuh cinta pada wanita yang menemaninya. Bukankah hal itu merupakan hal yang baik? Pernahkah kau jatuh cinta?" tanya Giok Si sambil memandang Tan Leng Ko dengan tajam.

Tan Leng Ko tertegun, ia benar-benar menyangka akan ditanya urusan semacam ini.

Lama ia terdiam, tidak menjawab.

Ia tidak mengangguk, juga tidak menggeleng.

Ketika seorang lelaki benar-benar jatuh cinta, umumnya perbuatannya tidak ada yang tepat, malah menjengkelkan.

Kebanyakan perbuatannya benar-benar membuat muak wanita yang dicintainya. "Kenapa kau membicarakan hal ini?" tanya Tan Leng Ko tidak tahan dan juga tidak paham.

"Karena aku baru menyadari satu hal. Ketika seorang wanita benar-benar jatuh cinta, ternyata perbuatannya juga menjengkelkan dan membuat murung lelaki yang dicintainya," kata Giok Si dengan pandangan berkaca-kaca.

Runyam perasaan Tan Leng Ko mendengarnya.

Sekali lagi ia tidak menyangka perempuan ini berani bicara blak-blakan urusan semacam ini.

Dengan mengeraskan hati ia berkata, "Tampaknya kau salah paham. Ketika kukatakan siap mati bersamamu, hal ini disebabkan sikapmu memang demikian."

"Kepada orang yang tidak kau kenal pun kau akan bersikap demikian."

"Kupahami hal itu." "Syukurlah jika kau memahami hal itu," kata Tan Leng Ko dengan lega.

"Apalagi kita baru saja kenal, tidak layak dan juga tidak pantas rasanya membicarakan urusan cinta." Tan Leng Ko mengangguk setuju.

"Aku juga paham, seorang wanita seperti barang bekas yang tidak ada harganya lagi, sudah tidak patut membicarakan soal cinta," kata Giok Si dengan nada hambar.

Hati Tan Leng Ko tenggelam. Cepat ia menelan ucapannya yang belum selesai.

Apa yang mesti ia perbuat pada perempuan ini? Ia tidak dapat menyalahkan sikap wanita ini kepadanya.

Giok Si kehilangan banyak, boleh dibilang gara-gara dirinya.

Balutan di tangan wanita ini masih bernoda merah, rambut yang tergerai menutupi telinganya masih terlihat darah kering. Salahkah ia jika mengagumi pria yang membela dan siap mati baginya? Tapi mungkinkah seorang wanita jatuh cinta dalam sekejap pada pria yang baru saja dikenalnya? Tan Leng Ko tidak dapat menjawab.

Pengetahuannya mengenai kaum wanita memang tidak terlampau banyak.

"Maukah kau melupakan pembicaraan hal seperti ini?" pinta Tan Leng Ko akhirnya.

"Hal apa? Aku sudah tidak ingat," kata Giok Si sambil memaksakan diri tersenyum manis.

Susulan nada tertawanya sungguh menggiurkan.

Kulit wajahnya seperti mengeluarkan sinar lembut ketika ia tertawa.

Tan Leng Ko pun tertawa melihat watak wanita ini yang mudah menangis dan mudah tertawa.

Mengingatkan dirinya kepada Giok Hui Yan, tiba-tiba timbul sebuah perasaan rindu yang sukar dijelaskan.

"Ayo, kubopong kau biar cepat sampai ke gua di bukit belakang sana," ujar Tan Leng Ko mengusir pikirannya.

Giok Si merentangkan tangannya memeluk leher Tan Leng Ko yang memegang punggung dan menaruh tangan kanan di antara lekuk kakinya.

Deru angin kencang menerpa wajah Giok Si yang kemudian memejamkan mata.

Hatinya sedikit ngeri melihat Tan Leng Ko meloncat ke atas dahan pohon yang cukup tinggi dan berlarian seperti berada di atas tanah datar saja.

Tak berapa lama kemudian, mereka tiba di gua di mana Tan Leng Ko pernah melihat Khu Han Beng berlatih.

Mau tidak mau, Tan Leng Ko teringat macam-macam urusan.

Ada beberapa hal yang menyenangkan Tan Leng Ko.

Dengan kepergian Lo Tong membawa salinan kitab-kitab pusaka, dia tidak usah mengkhawatirkan perihal kitab-kitab tersebut.

Juga dia bisa lebih bebas bertindak karena sudah tiada rahasia yang perlu ia jaga, dan yang lebih penting Lok Yang Piaukiok terhindar dari potensi malapetaka.

Setelah menurunkan Giok Si, Tan Leng Ko memandang sekitarnya.

Kecuali alang-alang yang sudah mati kedinginan, boleh dibilang tempat ini tidak berubah.

Gua itu kelihatan gelap dan sepi sekali.

Di mulut gua kelihatan kotor sekali, jelas bukan tempat yang layak untuk ditinggali seseorang.

Seperti yang telah diduga Tan Leng Ko, gua ini bukan tempat bersemayam locianpwe yang sakti itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment