Halo!

Goresan Di Sehelai Daun - Chapter 05

Memuat...
Goresan Di Sehelai Daun

Chapter 05

Mendadak terdengar suara ranting berderak, cepat Tan Leng Ko mengerahkan tenaga sinkang sambil menoleh ke belakang.

Nampak seekor beruang berjalan perlahan di antara semak-semak dan memanjat pohon.

Binatang itu berbulu putih dengan bercak hitam di sekitar kedua matanya. Selain tidak terlihat ganas, ia justru kelihatan lucu dan menggemaskan.

"Sudah lama aku tidak merasakan nikmatnya telapak kaki beruang," gumam Tan Leng Ko sambil menelan air liurnya.

Tangannya memegang goloknya, siap membunuh binatang itu.

"Jangan kau bunuh dia!" teriak Giok Si khawatir.

"Kenapa jangan?" tanya Tan Leng Ko heran.

"Selain buah-buahan, aku menyukai binatang, tetapi bukan untuk sarapan."

"Kau tidak boleh melukai binatang yang tidak bersalah padamu. Kau penyayang binatang?" seru Tan Leng Ko yang merasa aneh.

Setahunya, binatang seperti beruang memiliki banyak kegunaan. Selain dagingnya dapat dimakan, bulunya dapat dijadikan mantel pakaian. Gigi dan kukunya dapat dibuat kalung perhiasan yang melambangkan kejantanan pembunuhnya.

Banyak manfaat yang didapatkan dengan membunuh beruang itu. Yang jelas, ia tidak dapat melihat manfaat jika binatang itu disayangi.

"Bukankah ia sangat menarik?" kata Giok Si sambil menatap beruang itu dengan kagum.

Tan Leng Ko menarik napas dalam-dalam. Taring binatang itu kecil-kecil. Ia seperti menyeringai kepadanya ketika memakan pucuk daun bambu muda yang tersisa.

Diam-diam Tan Leng Ko mengakui, binatang ini memang terlihat lucu dan menggemaskan. Jika berukuran kecil, mungkin cocok menjadi boneka mainan anak kecil. Tidak ingin mengecewakan Giok Si, Tan Leng Ko membatalkan niatnya membunuh hewan itu.

Dengan sikap waspada, lalu ia memasuki gua gelap itu sendirian.

Setelah matanya terbiasa dengan sedikit pantulan cahaya dari luar, Tan Leng Ko dapat melihat gua itu ternyata tidak begitu dalam.

Tidak ada yang luar biasa dengan kondisi gua itu selain lembap, baunya juga tidak sedap. Diam-diam ia tertawa geli mengingat bau busuk di gang sempit toko buku Gu-Suko.

Tempat bersemayam locianpwe sakti itu tampaknya tidak jauh dari bau tidak sedap. Entah itu suatu kebetulan atau suatu kegemaran. Tiba-tiba terdengar jeritan kaget Giok Si.

Bagaikan kilat, tubuh Tan Leng Ko melesat menuju ke arah jeritannya.

Mata Tan Leng Ko membelalak kaget melihat seekor ular bersisik putih, dengan bola mata merah yang kontras, melingkar tidak jauh dari tubuh Giok Si yang menggeletak di tanah.

Melihat kedatangan Tan Leng Ko, ular itu mendongakkan kepalanya memandang curiga. Terdengar suara desis diiringi uap putih yang keluar dari mulut ular itu. Setengah badannya berdiri tegak, lidahnya keluar masuk dari rongga mulut yang berwarna hitam.

Lidah yang bercabang hitam dan putih!

Tan Leng Ko pernah melihat ular sejenis ini, sejenis ular yang ujung ekornya pipih melebar, walau ekor ular ini tersembunyi, tertutup daun-daun bambu kering.

Hanya ada satu hal yang dirasanya tidak beres. Setahunya, ular Hek Pek Coa merupakan jenis langka yang jarang ditemui berkeliaran di alam.

Apakah ular ini terlepas dari rantainya? Apakah telah terjadi sesuatu di toko buku itu? Rasanya tidak mungkin Pek Coa kembali ke habitatnya di alam dan kebetulan telah melepaskan ular itu di sekitar gua ini yang jarang dikunjungi orang.

Tan Leng Ko tertegun.

Mungkinkah ucapannya yang ngawur kepada orang berkedok hitam itu kini menjadi kenyataan? Tan Leng Ko tidak dapat berpikir lama-lama lagi, cepat ia mencabut goloknya, siap membunuh ular itu.

"Jangan kau bunuh dia!" seru Giok Si dengan nada lemah sambil menggeliat kesakitan.

Bagian tubuhnya sebelah kiri mengeluarkan asap tipis seperti terbakar, sedangkan separuh tubuh lainnya seperti dibungkus lapisan es yang tebal.

Hati Tan Leng Ko tenggelam melihat dua titik darah di punggung tangan kiri Giok Si yang masih terbalut.

Lekas ia menggebah ular beracun itu yang menyelinap kabur. Ekornya yang mirip sirip ikan tampak menghilang di sela-sela semak belukar.

Dengan nada khawatir, Tan Leng Ko memaksa Giok Si untuk bersila.

"Satukan hawa racun itu ke urat nadi Khi Hay, kemudian alirkan perlahan ke Hwee Tie!" perintah Tan Leng Ko. Kedua tangannya ia tempelkan ke punggung wanita itu, menyalurkan tenaga sinkang.

"Ah..." igau Giok Si lemah.

Tan Leng Ko teringat dirinya yang juga melantur tidak keruan ketika terkena racun Hek Pek Coa. Lekas ia bertukas, "Benar, ilmu locianpwe itu khusus untuk menawarkan racun ini. Sekarang kau harus mampu berkonsentrasi untuk mengikuti petunjukku."

Dengan susah payah, Tan Leng Ko membantu mengalirkan hawa liar itu ke tiga puluh enam nadi penting di tubuh Giok Si. Hampir ia tidak dapat menguasai gelombang hawa panas dingin yang menerjang seperti hempasan badai mengamuk. Untungnya, sinkangnya sudah mendapat banyak kemajuan.

Perlahan ia memberi petunjuk letak nadi yang diperlukan untuk menyalurkan racun tersebut. Secara teratur ia mengalirkan hawa saktinya yang mengalir halus tetapi kuat, membimbing dan menguasai hawa liar itu.

Sering kali Giok Si mengerang kesakitan. Bibirnya kering pecah-pecah, kulit wajah kirinya yang halus mengelupas kepanasan. Beberapa kali erangan... Entah sudah berapa ratusan kali hawa gabungan itu mengitari tubuh Giok Si.

Tan Leng Ko baru menarik tangannya yang bergemetaran, mukanya juga pucat. Tidak sedikit tenaga saktinya yang terhambur berlebihan. Namun, ia dapat menarik napas lega ketika mendengar suara dengkur Giok Si yang tertidur.

Baru ia sadari, hari telah menjelang malam.

Tan Leng Ko membopong Giok Si pulang dengan diterangi bintang-bintang yang banyak bertaburan di langit.

Sudah beberapa hari lamanya Mo Tian Siansu dan Khu Han Beng menempuh perjalanan. Mo Tian Siansu beranggapan daya tahan tubuh Khu Han Beng tidak sekuat dirinya, maka boleh dibilang perjalanan mereka tidak cepat.

Hari menjelang sore, mereka memasuki sebuah dusun kecil.

Dahi Mo Tian Siansu berkerenyit ketika ia mendapati semua warung makan tutup, tidak ada yang buka. Selain itu, ia juga merasakan kesunyian yang luar biasa, seolah dusun kecil ini mendadak ditinggalkan oleh penghuninya.

Setelah kuda mereka menikung ke kanan, di deretan ketiga sebelah kanan, mereka melihat seorang nenek tua yang duduk di kursi goyang di depan rumah gubuknya.

Menurut keterangan nenek tua tersebut, hari ini sedang diadakan perlombaan kayuh perahu yang dihiasi sedemikian rupa hingga berbentuk seekor naga. Perlombaan itu diadakan untuk menghormati Sian Liong Kang, dewa naga penunggu sungai yang dipercayai sebagai pemberi berkah sekaligus pemberi petaka bagi penduduk yang tinggal di bantaran.

Perayaan yang dilakukan setiap setahun sekali oleh penduduk setempat tentu saja mengundang banyak pengunjung. Tidak heran jika dusun ini terasa sepi sekali.

Khu Han Beng menatap lekat-lekat, seperti tertarik terhadap nenek tua tersebut. Cukup lama percakapan antara nenek tua itu dengan Mo Tian Siansu, tetapi tidak sekalipun bocah itu melihat nenek tua itu berkedip. Mata nenek tua itu juga tampak janggal. Selain berwarna kelabu keputihan, juga terlihat mati, tidak mengandung suatu perasaan. Sangat bertolak belakang dengan nada suaranya yang ramah.

"Kenapa kau sendiri tidak ikut menyaksikan keramaian?" tanya Khu Han Beng tak tahan.

Mendengar pertanyaan Khu Han Beng, wajah Mo Tian Siansu berubah drastis. Cepat ia meminta maaf pada nenek tua itu dan menegur murid keponakannya. Nenek tua tersebut mengeluarkan suara tawa kecil seperti menemukan sesuatu hal yang lucu.

Katanya kemudian, "Jika kau belum pernah melihat seorang buta, tentu belum pernah menyaksikan perayaan tersebut."

Seperti menyadari satu hal, wajah Khu Han Beng sedikit memerah. Dengan kikuk ia bertanya, "Apakah suara keramaian yang lapat-lapat terdengar dari kejauhan itu?"

"Ya, memang suara itu." Tiba-tiba nenek tua itu mengisyaratkan Khu Han Beng agar mendekat.

Mo Tian Siansu mengerenyitkan alisnya. Ia tidak begitu mengerti mengapa nenek tua tersebut perlu berbisik kepada murid keponakannya. Ia juga tidak mengerti suara keramaian apa yang mereka maksud sebab ia tidak mendengar suara apa pun. Yang lebih ia tidak habis mengerti, ternyata setelah dibisiki wajah Khu Han Beng terlihat lebih bingung daripada dirinya.

Setelah pamitan, mereka menghela kuda. Khu Han Beng memimpin jalan menuju ke tepi sungai.

Tak tahan, Mo Tian Siansu bertanya, "Dari mana kau tahu tempat perayaan itu?"

Setelah termenung sejenak, Khu Han Beng menjawab, "Bukankah nenek tua itu telah berbisik padaku?"

"Jika hanya arah petunjuk jalan, kau tentu tidak terlihat bingung seperti tadi," gumam Mo Tian Siansu.

"Sebab ia juga berkata satu hal yang aku tidak paham," ujar Khu Han Beng perlahan.

"Soal apa?"

"Nenek itu mengatakan ia telah buta sejak kecil dan selama ini dapat hidup berbahagia. Ia ingin aku tidak melupakan hal itu."

Mau tidak mau, Mo Tian Siansu ikut bingung, ia juga tidak mengerti maksud nenek tua tersebut. "Paling tidak, itu sebuah nasihat yang sangat baik," akhirnya ia berkata pelan.

Tersungging sebuah senyum kecil di ujung bibir Mo Tian Siansu melihat kegembiraan Khu Han Beng ketika mata bocah itu berbinar-binar menyaksikan keramaian. Namun, kening biksu tua itu juga tampak berkerut. Bagaimanapun juga, seharusnya bocah yang dibesarkan di Kota Luoyang, yang termasuk kota besar, tidak patut bereaksi seperti pertama kali melihat keramaian.

Tidak salah ucapan Piasu she Tan itu yang pernah mengatakan bocah ini jarang keluar kamar.

"Kegiatan perlombaan ini mirip dengan upacara kayuh perahu naga yang sering dilakukan di seluruh Tionggoan. Rupanya baru pertama kali kau saksikan?"

"Ya, memang pertama kali bagiku," jawab Khu Han Beng singkat.

Juga pengalaman pertama melihat nenek buta, pikir Mo Tian Siansu. Tetapi melihat bocah itu seperti malu, cepat ia mengajak Khu Han Beng berdiri di pinggir sungai yang becek dan berlumpur untuk menyaksikan perlombaan yang baru saja dimulai. Sekitar enam perahu besar berjajar memenuhi lebarnya sungai.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment