Halo!

Goresan Di Sehelai Daun - Chapter 06

Memuat...
Goresan Di Sehelai Daun

Chapter 06

Setiap perahu memuat sekitar dua puluh lima pasang pengayuh, ditambah satu orang yang duduk di belakang untuk mengemudi dan satu orang pemukul gendang yang duduk di bagian tengah.

"Nampaknya pemukul gendang mempunyai kegunaan lain, selain untuk memberi semangat," ujar Khu Han Beng dengan nada bergairah.

"Benar! Dia malah dianggap jantung sekaligus pemimpinnya. Irama ketukan gendangnya menentukan keseragaman kayuh yang menentukan laju perahu," ujar Mo Tian Siansu menerangkan.

Khu Han Beng mengangguk, kemudian katanya, "Kukira posisinya yang di tengah mempermudah pengayuh yang di depan maupun yang di belakangnya untuk mendengar tabuhannya."

"Ya, karena ia harus memperhitungkan arah dan kecepatan angin, derasnya arus sungai, dan perubahan riak air yang menentukan laju perahu otomatis memengaruhi irama tabuhannya yang kadang cepat, kadang perlahan."

Selagi mereka asyik bercakap-cakap, tampak keenam perahu tersebut yang berjarak ketat satu sama lain sudah mendekati batas final. Tiba-tiba terjadi satu kejadian yang di luar dugaan Khu Han Beng.

Para pengayuh yang berada di perahu-perahu yang tertinggal di belakang, beramai-ramai menimpuki batu ke perahu yang berada di paling depan. Bahkan beberapa orang menggunakan galah bambu panjang untuk membalikkan perahu, malah ada yang menyerang para pengayuh di perahu calon pemenang.

Suara riuh dan tepuk tangan penonton membingungkan Khu Han Beng yang menonton. Perkelahian di tengah sungai sudah melibatkan keenam perahu peserta. Mereka tidak hanya menyerang perahu calon pemenang, mereka juga menyerang satu sama lain.

Dalam sekejap saja, sudah tiga perahu yang terbalik, beberapa puluh orang yang terlempar keluar dari perahu berteriak ketakutan, tergulung arus sungai yang deras dan dingin. Anehnya, para penonton di tepian sungai seperti tidak berminat menolong mereka, malah melempari mereka yang tenggelam dengan kue lemper yang dibungkus daun.

Khu Han Beng melirik susioknya sejenak dengan pandangan bertanya.

Mo Tian Siansu menghela napas, kemudian katanya, "Kau tentu heran, kenapa tidak ada yang menolong?"

"Aku heran kenapa susiok tidak menolong mereka," gumam Khu Han Beng mengakui. "Semestinya, sudah sepatutnya seorang bhiksu saleh dari Siauw Lim Sie membantu orang yang sedang kesusahan."

Dengan muka sedih, Mo Tian Siansu menjawab, "Bukan aku tidak ingin, hanya aku tidak boleh menolong mereka."

"Kenapa?" tanya Khu Han Beng heran.

"Karena penduduk di tempat ini akan marah padaku jika aku turun tangan. Mereka beranggapan jika ada yang mati tenggelam, maka hal ini sudah menjadi kehendak dewa naga yang memilih beberapa manusia sebagai tumbal."

"Bukankah orang-orang yang malang itu, keluarga mereka sendiri?" tanya Khu Han Beng terkesiap.

"Benar! Tapi tradisi ini sudah berlangsung ribuan tahun lamanya. Tiada yang berani menolong walau kerabatnya sendiri. Tidak ada yang berani melanggar atau ikut campur melawan takdir yang sudah ditentukan."

"Pernah kubaca di sebuah kitab, jika kita melakukan hal yang benar seperti menolong orang, bukankah kita tidak perlu memedulikan pendapat orang lain?" Mo Tian Siansu tersenyum mendengar uraian Khu Han Beng yang seperti bernada menyindir.

"Ucapan bagus! Tapi ada satu hal yang patut kau ketahui. Kau harus dapat menghargai kepercayaan orang lain walau bertentangan dengan kepercayaanmu. Kau tidak boleh melanggar kepercayaan orang lain secara paksa walau kau anggap kepercayaan mereka salah, bagaimanapun juga mereka mempunyai hak untuk salah."

Tiba-tiba terdengar suara jeritan dan makian penonton, Khu Han Beng dan Mo Tian Siansu mengalihkan pandangan ke tengah sungai yang entah dari mana telah muncul sebuah kapal berukuran besar yang melaju cepat melawan arus sehingga menimbulkan ombak besar yang membalikkan sisa perahu perlombaan.

Mo Tian Siansu mengeluarkan seruan tertahan, tubuhnya mendadak mengapung ke sebuah pohon gundul yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Tangannya mematahkan sebuah dahan kecil, dan ketika tubuhnya melayang turun jatuh ke sungai, kembali ia mematahkan potongan ranting kecil yang dengan cepat ia lemparkan ke permukaan air. Ujung kakinya cepat menotol potongan ranting tersebut sebagai pijakan sehingga kembali tubuhnya mengudara sejauh dua tombak, mengarah kepada korban yang berjarak masih puluhan tombak dari dirinya, mereka bergelut dipermainkan arus sungai.

Baru dua-tiga kali lompat, Mo Tian Siansu menghentikan lompatannya. Tubuhnya terapung di atas ranting kecil, naik turun mengikuti riak air. Mulutnya menyeringai kesakitan, ia belum sehat benar dan telah memaksakan diri mengerahkan tenaga sakti yang ia rasakan menyusut banyak.

Tiba-tiba matanya membelalak lebar ketika ia menyaksikan lima bayangan tubuh yang berkelebat cepat dari kapal laut itu menuju para korban. Seperti pemain akrobatik, dengan manis kaki mereka menotol dayung-dayung pengayuh yang terlempar terapung. Ketika tubuh mereka berjungkir balik, tangan mereka meraih dayung tersebut yang kemudian digunakan untuk memukul permukaan air, dan menggunakan daya tolak pukulan untuk memantulkan tubuh mereka beberapa tombak mendekati para korban.

Tiga orang dari mereka menggunakan dayung tersebut untuk mencungkil di ujung-ujung, dan di bagian tengah perahu yang terbalik. Daya cungkil yang luar biasa kuatnya mengangkat perahu panjang tersebut sekitar tiga kaki di udara, menumpahkan air yang memasuki perahu dan mendarat dengan posisi tepat seperti dibalikkan oleh tangan. Ketika perahu tersebut masih menumpahkan air, tubuh tiga orang tersebut sudah bergerak menuju perahu lain yang masih terbalik dan dengan gerakan kilat mereka. Sedangkan dua orang lain menggunakan dayung yang mereka pegang untuk mengungkit korban yang tenggelam, yang kemudian melayang persis ke perahu yang sudah tidak terbalik.

Kecekatan mereka bekerja, ketepatan waktu dan keserasian kerja sama mereka, belum lagi penggunaan tenaga yang pas, benar-benar merupakan suatu pertunjukan kemampuan yang luar biasa. Mau tidak mau timbul kekaguman di hati Mo Tian Siansu, ia paham pekerjaan itu walau kelihatan mudah sebetulnya suatu perbuatan yang sukar sekali.

Ketika perahu tersebut sudah dalam keadaan terapung kembali, arus sungai telah mengubah posisinya, toh mereka dapat memperhitungkannya dengan tepat, ungkitan para korban melayang ke perahu tersebut, mendarat dengan perlahan dan tidak ada satu pun yang meleset. Dalam sekejap puluhan korban telah berhasil mereka selamatkan, tubuh lima orang itu menggunakan cara yang sama kembali melayang ke kapal berukuran besar tersebut.

Mo Tian Siansu menghela napas, sambil menahan sakitnya ia mengerahkan ginkangnya, dibantu dengan potongan ranting kecil melayang turun di sebelah Khu Han Beng yang memandangnya dengan pandangan bertanya.

"Amitabha! Pinceng tidak tahu siapa mereka, hanya ginkang mereka sudah luar biasa," ujar Mo Tian Siansu dengan nada kagum. "Satu orang saja yang mencapai tingkatan itu sudah sukar dicari. Dari kapal tersebut malah muncul lima orang, entah dari golongan mana mereka?" Matanya menatap kapal tersebut yang melaju cepat walau melawan arus melewati mereka. Posisi kapal tersebut jauh di tengah sungai sehingga Mo Tian Siansu tidak dapat melihat raut wajah mereka, hanya ia dapat melihat puluhan orang berdiri di anjungan kapal.

"Yang kuherankan, kenapa susiok mendadak berubah pikiran hendak menolong mereka?"

Sambil tersenyum Mo Tian Siansu menjawab, "Yang hendak kutolong adalah korban yang jatuh disebabkan kapal itu. Korban tersebut tidak berhubungan dengan adat istiadat, maka wajib bagi kita untuk menolong."

Khu Han Beng termenung sejenak, kemudian mengangguk menerima pendapat susioknya. Sambil ikut tersenyum ia berkata, "Kukira mereka datang dari luar Tiongkok."

"Kenapa kau menduga begitu?"

"Susunan layar di tiga tiang kapal tersebut seperti gambar yang pernah kulihat di sebuah buku, jelas menunjukkan sebuah kapal laut. Lagipula mereka menolong semua orang, tampaknya mereka tidak mengetahui adat istiadat di daratan Tiongkok."

Mo Tian Siansu berseru kaget. Perhitungan Khu Han Beng bukan tidak mungkin. "Apakah mereka rombongan dari Lamhaybun? Ditinjau dari kemampuan lima orang tersebut, bukan hal yang tidak mungkin," pikirnya dalam hati dengan jantung berdebar-debar. Ia menatap Khu Han Beng dengan kagum, ia benar-benar tidak menyangka kecerdasan daya pikir bocah ini. Selain pintar, pengetahuan dari hasil baca bukunya juga luas.

Yang dipandang, sedang memandang kapal laut tersebut dengan dahi berkerut.

"Ternyata memang benar ada," gumam Khu Han Beng dengan nada tertahan.

"Apanya yang ada?" tanya Mo Tian Siansu heran.

Khu Han Beng menatap susioknya sejenak, kemudian katanya perlahan, "Kukira tadinya semua orang mempunyai mata berwarna malam, ternyata bukan sebuah dongeng, mata seseorang mirip sehelai daun."

Mo Tian Siansu mengangguk sekenanya, ia tidak begitu mengerti ujung pangkal ucapan bocah itu yang terdengar janggal. Matanya beralih memandang kapal laut tersebut yang berlayar kian menjauh sehingga terlihat semakin mengecil.

Yang Mo Tian Siansu dan Khu Han Beng tidak ketahui, ternyata di kapal laut itu pun terjadi sebuah percakapan.

"Tidak rendah ginkang hwesio tua itu," ujar si kurus pendek berkepala botak, salah satu dari lima orang yang menolong para korban.

"Ditilik dari pakaiannya, tentu seorang tokoh Siauw Lim Pay," terdengar suara merdu, berartikulasi menjawab.

Si kurus pendek menatap sio-cianya yang masih berusia muda sekali, bertubuh tinggi semampai, berjari lentik, kulit tangannya putih halus kemerahan seperti memancarkan cahaya lembut. Sayang sebagian mukanya tertutup cadar, sebuah cadar yang berwarna hijau.

"Pantas, dia berkemampuan hebat."

"Ya, memang lumayan," jawab gadis bercadar hijau itu tawar.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment