Chapter 07
Ya, dibandingkan Siocia, tentu saja kepandaiannya tidak berarti. Si gadis bercadar hijau yang dipanggil Siocia oleh si kurus pendek seperti menghela napas, kemudian mengatakan sesuatu yang terdengar janggal, "Justru bocah tanggung di sampingnya itu yang mungkin harus diperhitungkan."
"Maksudmu? Masakan bocah itu memiliki kepandaian yang lebih hebat dari Hweesio Shaolinpai?" tanya si kurus pendek dengan nada heran.
Di pinggiran sungai becek dan basah, sepatu Hweesio itu pun tampak terciprat dan terendam lumpur, justru sepatu bocah itu tampak masih bersih seperti baru disemir.
Sepatunya tidak terendam becek, melainkan ia dapat berdiri seenaknya di atas permukaan lumpur tanpa bergerak.
"Hanya ginkang yang sudah mencapai tataran ini." Setelah menarik napas panjang, ia melanjutkan dengan menggumam perlahan, "Benar-benar di luar dugaanku, di Tionggoan ada yang sudah mencapai tataran ini, apalagi hanya seorang bocah. Sayang dia sedang menengok ke samping, aku tidak sempat melihat wajahnya."
Si kurus pendek cukup kenal sifat Siocianya yang hampir tidak pernah memuji orang. Jika bocah itu sampai dipuji, hal itu saja sudah di luar dari kebiasaan. Tak terasa ia menatap dengan terkesima. Siocianya terlihat termenung, keningnya berkerut, matanya yang mencerminkan kecerdasan yang luar biasa, tampak mencorong tajam. Sepasang mata yang bergemerlapan indah seperti embun di atas daun yang tertimpa cahaya matahari.
Malam hari, cakrawala tidak cerah. Langit gelap diselimuti oleh awan, tidak tampak sinar bulan atau cahaya bintang yang biasanya bertaburan.
Di pinggiran sebuah tebing batu yang menjulang tinggi, Mo Tian Siansu yang tertidur dalam posisi bersila, perlahan membuka matanya. Ia terbangun bukan disebabkan oleh dinginnya angin malam yang berembus kencang, melainkan ia terjaga karena mendengar suara isakan tertahan.
Dengan tatapan penuh kasih ia menatap Khu Han Beng yang berbaring tidur di sebelah api unggun. Kebetulan wajah bocah itu menghadap ke arahnya, wajah yang biasanya mencerminkan keteguhan hati entah mengapa saat ini mengandung kesedihan hati. Mo Tian Siansu dapat melihat linangan air yang menetes dari mata bocah itu. Menyaksikan Khu Han Beng menangis di dalam tidurnya, rasa haru memenuhi rongga hati Mo Tian Siansu.
Dalam beberapa hari mereka menempuh perjalanan, lebih dari satu kali Mo Tian Siansu mendengar Khu Han Beng mengigau dalam tidurnya. Kadang bocah ini menyebut yaya-nya, acapkali ia menyebut ayah ibunya di dalam mimpi. Pernah ia mencoba bertanya apa gerangan yang diimpikan oleh Khu Han Beng, tetapi bocah itu hanya diam saja, enggan menjawab.
Walaupun bergaul belum cukup lama, Mo Tian Siansu cukup mengetahui bocah ini tidak gemar berbicara, tetapi ketika berbicara juga tidak mirip perkataan seorang bocah! Teringat oleh Mo Tian Siansu ketika bermalam di pinggir sungai tempo hari, bocah itu seperti terpekur menatap bulan yang saat itu berbentuk sabit sambil menyantap bekal makanan.
"Apa yang sedang kau lamunkan?" tanya Mo Tian Siansu memecah keheningan.
Khu Han Beng menatap susioknya sejenak, kemudian menjawab, "Aku sedang memikirkan satu hal yang kuanggap rada janggal."
"Hal apa?"
"Kadang bulan berbentuk purnama dan kadang berbentuk sabit seperti sekarang, aku heran apa yang menyebabkannya berubah sedemikian rupa." Diam-diam Mo Tian Siansu terhenyak heran. Dia yang jauh lebih tua, lebih sering melihat perubahan itu malah tidak pernah berpikir mengenai hal itu.
"Omitohud! Pinceng tidak tahu apa penyebabnya, tetapi pinceng pikir, itulah kekuasaan Thian yang Maha Besar," jawab Mo Tian Siansu sedapatnya.
Khu Han Beng mengangguk tak acuh, mendadak matanya seperti mengeluarkan kilatan cahaya aneh. Ujarnya perlahan, "Mungkin bentuk bulan itu tidak berubah, hanya terlihat berbentuk sabit karena ditutupi oleh bayangan bumi itu sendiri yang berbentuk bulat."
"Dari mana kau tahu bumi berbentuk bulat?" seru Mo Tian Siansu heran.
Agak ragu Khu Han Beng menjawab, "Aku tidak tahu, hanya pernah kubaca sebuah kitab kuno yang menyatakan bumi seperti bagian telur yang kuning berbentuk bulat."
"Omitohud! Permukaan bumi nan luas sekali, rasanya janggal sekali jika penulis kitab itu mengetahui bentuk bulat bumi seperti kuning telur. Ya, isi kitab itu memang rada aneh. Malah ada halaman lain yang menyebutkan cara membuat alat untuk mendeteksi gempa."
"Apakah kitab itu ditulis oleh Zhang Heng?" tanya Mo Tian Siansu tertarik.
Khu Han Beng mengangguk. "Apakah ia sangat terkenal?" katanya berbalik tanya.
Tak terasa Mo Tian Siansu menarik napas dalam-dalam, katanya, "Dia adalah penasihat andalan kaisar di zaman dinasti Han. Walaupun sekarang tidak banyak orang yang mengenal namanya, tetapi tidak sedikit orang yang telah ia selamatkan dari bencana gempa melalui alat buatannya."
Selesai berkata, Mo Tian Siansu menatap Khu Han Beng dengan tatapan kagum. Ia benar-benar tidak menyangka bocah ini pernah membaca karya tulis Zhang Heng!
"Dari mana kau peroleh kitab langka itu?"
"Kubeli dari sebuah toko buku," jawab Khu Han Beng singkat.
Igauan Khu Han Beng yang menggumam tidak jelas, menyadarkan Mo Tian Siansu dari renungannya. Tak terasa ia menarik napas dalam-dalam sambil memperhatikan bulan yang telah menampakkan diri dan menerangi jagat raya dengan cahayanya yang lembut. Ia tahu dari posisi bulan yang miring, hari sudah menjelang subuh.
Mo Tian Siansu merapatkan jubahnya, malam yang cerah di musim gugur, entah mengapa biasanya jauh lebih dingin dibandingkan malam yang berawan. Setelah menghela napas, kembali ia melirik ke wajah Khu Han Beng yang masih tertidur. Tampak air mata bocah itu sudah mengering, terlihat bola matanya yang bergerak-gerak cepat di balik kelopaknya. Hanya raut wajahnya tetap tidak berubah, tetap seperti mengandung kedukaan yang dalam.
Memang ada segelintir orang yang mampu menyembunyikan perasaan batinnya sehingga tidak terlihat di wajahnya. Hampir mustahil bagi orang lain untuk mengetahui apakah ia sedang marah, gembira, atau sedang sedih. Semuda ini, Khu Han Beng sepertinya sudah mampu melakukan hal demikian. Hanya betapapun hebatnya seseorang menguasai perubahan wajahnya, ekspresi wajah seseorang ketika sedang tidur tidak mungkin berbohong. Ekspresi wajah Khu Han Beng ketika sedang tidur dapat mencerminkan perasaan batin yang sebenarnya. Mo Tian Siansu yakin ada sesuatu beban yang menekan di batin bocah ini.
"Entah apa yang disedihkan bocah ini," gumam Mo Tian Siansu dengan hati terenyuh. Ia sangat menyukai Khu Han Beng, sayangnya, tidak banyak yang ia dapat lakukan. Bocah itu selain jarang berbicara dan jika berbicara juga membicarakan hal yang umum, hampir tidak pernah menceritakan perihal pribadinya. Entah mengapa, sedikitnya setiap kali ada kesempatan Mo Tian Siansu berusaha untuk menyenangkan Khu Han Beng. Ada perasaan kuat yang mendorongnya untuk melakukan hal itu. Semacam insting untuk melindungi, mungkin timbul karena tidak sepatutnya bocah semuda ini tidur dengan muka muram, bahkan napasnya semakin lama semakin memburu kencang.
"Yaya!" jerit Khu Han Beng yang tiba-tiba terjaga dari tidurnya.
Terkejut Mo Tian Siansu melihat wajah Khu Han Beng yang pucat dihiasi butiran-butiran keringat sebesar jagung. Cepat ia menenangkan Khu Han Beng.
Khu Han Beng menatap susioknya dengan pandangan nanar. Jantungnya berdegup kencang, di sela-sela napasnya yang terengah-engah, ia berkata dengan nada parau, "-ku." Hatinya tidak tenang, dia seperti mempunyai firasat ganjil. Jika terjadi sesuatu hal yang buruk menimpa kakeknya, bukan saja ia akan kehilangan satu-satunya anggota keluarga yang ia miliki. Ia pun tidak akan pernah mengetahui asal usulnya. Apa pun juga, ia harus segera menyusul yaya-nya ke Po-Ting.
Baru saja ia ingin mengutarakan niatnya, mendadak terdengar suara gemuruh yang pekak, tanah yang didudukinya bergetar keras. Khu Han Beng merasa tubuhnya terombang-ambing seakan-akan sedang berada di atas sebuah perahu. Tanah yang didudukinya berguncang hebat. Sebuah celah yang cukup lebar melata bergerak cepat merekah seperti ular membelah tanah di sebelah kirinya.
"Awas!" teriak Mo Tian Siansu khawatir.
Khu Han Beng merasakan angin dingin mendesir dari atas kepalanya, ia mendongak dengan mata membelalak. Dari pantulan api unggun terlihat batuan-batuan sebesar rangkulan tangan jatuh dengan cepat mengarah ke dirinya. Mo Tian Siansu cepat mengumpulkan tenaga mengerahkan Siau Thian Sinkang, tiba-tiba ia mengeluarkan seruan lirih. Betapa terkejut ketika ia menyadari aliran tenaga Sinkangnya seperti tetesan air, tidak deras seperti biasanya. Ia tahu luka dalamnya yang belum sembuh benar-benar memengaruhi Sinkangnya. Ia telah merasakan Sinkangnya menyusut banyak ketika mencoba menolong nelayan yang tenggelam. Tetapi kali ini, tenaganya seperti hilang, seperti tenggelam di lautan yang dalam.
Sambil menggertakkan gigi, tidak hanya menggunakan tangan, Mo Tian Siansu menggunakan bahunya untuk mendorong bongkahan batu yang jaraknya tinggal satu kaki dari tubuh Khu Han Beng.
Buumm! Gumpalan darah segar keluar dari mulut Mo Tian Siansu, tubuhnya terhuyung ke belakang. Usahanya menyelamatkan Khu Han Beng berhasil, bongkahan batu itu bergeser menimpa tumpukan api unggun, mengeluarkan dentuman suara keras dan memadamkan penerangan.
Khu Han Beng melompat bangun, mendekati Mo Tian Siansu yang duduk terengah dengan tubuh gemetaran. "Seharusnya susiok tidak perlu melakukan hal itu. Aku dapat menyelamatkan diri," kata Khu Han Beng dengan nada menyesal.
Dengan suara serak, Mo Tian Siansu tersenyum, kemudian terkulai roboh. Khu Han Beng tertegun, ia tidak begitu mengerti kenapa susioknya pingsan hanya karena memukul sebongkah batu. Setelah menyandarkan tubuh Mo Tian Siansu di sebuah batu besar, ia melirik sekejap ke sekitarnya yang porak-poranda seperti digaruk oleh tangan raksasa. Dengan ringan ia berloncatan di antara serakan batu-batu memasuki hutan yang tidak terlalu jauh. Ia perlu mencari kayu bakar untuk penerangan, mengganti bekas api unggun yang terpuruk.