Halo!

Goresan Di Sehelai Daun - Chapter 08

Memuat...
Goresan Di Sehelai Daun

Chapter 08

Baru beberapa ranting ia kumpulkan, pendengarannya yang tajam menangkap suara lirih desingan pedang yang ditarik dari sarungnya.

Seseorang berkedok hitam menghunus sebilah pedang, menyerang dari atas pohon mengancam jantung Mo Tian Siansu.

Dengan kecepatan luar biasa, Khu Han Beng mengerahkan ginkangnya secepat mungkin.

Melihat seorang bocah yang entah muncul dari mana tahu-tahu berdiri di antara Mo Tian Siansu dan pedangnya, orang berkedok hitam itu tidak menghentikan tusukannya. Malah, ia menambah kecepatan ayunan pedangnya sambil mengejek, "Biar kau ikut mampus sekalian!" Khu Han Beng dengan tenang menatap ujung pedang lawan yang mengancam ke arah dadanya.

Ketika ujung pedang tinggal sejengkal jari, tiba-tiba dengan gerakan yang mudah diikuti pandangan mata, jari telunjuk Khu Han Beng menjentik perlahan.

Tiba-tiba seruan kaget keluar dari mulut si kedok hitam, bersamaan dengan itu matanya melotot terkejut bercampur ketakutan.

Bukan saja jentikan jari bocah itu sangat tepat, bahkan mengandung daya dorong balik yang kuat luar biasa.

Pedang orang berkedok hitam itu patah menjadi puluhan keping dan terpental ke mana-mana. Malah, ada beberapa keping yang menancap di tubuhnya.

Tangan kanannya patah terdorong balik secara paksa oleh arus tenaga balik yang sukar dilukiskan kekuatannya.

Sisa gagang pedang di tangannya terlepas, menancap pada sebuah pohon.

Bahkan dalam mimpinya pun, orang berkedok hitam itu tidak menyangka bakal menderita kekalahan dalam satu gebrakan saja. Kekalahan semacam ini benar-benar suatu kejadian yang aneh dan sama sekali di luar dugaannya. "Kau… kau seharusnya tidak menguasai ilmu silat!" seru orang berkedok hitam itu dengan tercengang, takut bercampur kesakitan.

Ia paham sekali, walaupun pedangnya bukan pedang mustika, tetapi dibuat dari baja pilihan.

Dia sendiri yang memimpin proses pembuatan pedang tersebut.

Selain ia menggunakan tenaga pengrajin besi yang paling ahli, ia juga memerlukan 42.990 kati baja pilihan hanya untuk membuat sebilah pedang!

Bisa dibayangkan betapa bingung dan ngeri perasaan hatinya melihat pedangnya patah berkeping-keping hanya disebabkan sebuah jentikan jari.

Jentikan jari itu, selain tidak cepat, juga tidak ditujukan kepada batang pedang, melainkan tepat pada ujung pedang yang sedang menusuk melebihi kecepatan terbang seekor burung!

Khu Han Beng tidak menjawab, hanya menatap orang berkedok hitam itu dengan dingin.

Dengan jeritan ngeri, orang berkedok hitam itu mengerahkan ginkang melarikan diri.

Baru ia melompat beberapa langkah, ia menghentikan gerakannya.

Bulu kuduk tubuhnya meremang ketika melihat Khu Han Beng mendadak berdiri enam langkah tepat di hadapannya.

Cepat ia membalikkan tubuh dan berlari sekuat tenaga, namun usahanya sia-sia. Kembali ia melihat Khu Han Beng menghadangnya.

"Hendak membunuhku?" tanya orang itu dengan suara gemetar ketakutan.

"Bukankah kau tadi hendak membunuh orang?" tanya Khu Han Beng tiba-tiba.

"Bukankah tadi kau tidak menerangkan sebabnya?" Orang berkedok hitam itu terdiam sambil memegang tangannya yang patah dan meringis kesakitan.

Dengan nada hambar Khu Han Beng melanjutkan, "Tidak seharusnya kau bertanya padaku." Orang berkedok hitam itu gelisah bukan main ketika Khu Han Beng mendekati dirinya.

Ia paham, sukar sekali untuk meloloskan diri. Cepat ia berteriak, "Mo Tian Siansu keracunan! Aku tahu cara mengobatinya!" Khu Han Beng menghentikan langkahnya, ia berpikir sejenak sebelum berkata, "Dari mana kau tahu ia keracunan? Coba kau pikirkan."

"Tidak mungkin seorang bhiksu sakti dari Siaulimpay muntah darah hanya gara-gara memukul sebongkah batu. Ia terluka disebabkan tenaga saktinya menyusut dan hilang terkena racun." Rupanya orang berkedok hitam itu turut menyaksikan peristiwa tersebut.

Khu Han Beng mendongakkan kepala, hanya tebing di atas yang cocok menjadi tempat persembunyian orang berkedok hitam ini hingga lolos dari pengamatannya.

Entah bagaimana cara orang ini lolos dari bencana gempa tadi.

Setelah termenung beberapa saat.

Katanya perlahan, "Sebagai imbalan, kau ingin kubebaskan pergi?" "Benar," jawab orang berkedok hitam itu. Keringat dingin keluar dari tubuh orang berkedok hitam ketika melihat Khu Han Beng termenung tidak segera menjawab.

Dengan nada gemetar ia bertanya, "Masakan kau enggan menolongnya?" "Ya, sebetulnya aku tidak terlalu ingin," seru orang berkedok hitam itu dengan heran sekaligus terkejut.

Bocah ini berjalan bersama dengan bhiksu itu, jelas mempunyai hubungan yang tidak biasa.

Sungguh di luar dugaannya bocah semuda ini memiliki hati yang tega.

"Jika ia tewas, urusanku tentu lebih mudah," gumam Khu Han Beng tak terasa.

Ia bukan tidak mau menolong Mo Tian Siansu, hanya jika susioknya tewas, ia akan dapat segera menyusul yaya-nya ke Po-Ting.

Orang berkedok hitam itu paham, jika Mo Tian Siansu tewas, dilihat dari ketegaan bocah ini, jangan harap dirinya bisa selamat.

"Bukankah barusan ia telah menyelamatkan dirimu?" bujuknya mengingatkan.

"Aku dapat menyelamatkan diri. Sebetulnya, ia tidak perlu menolongku," sesal Khu Han Beng sambil menghela napas.

Hal inilah yang menimbulkan pertentangan di batin Khu Han Beng.

Jika ia menolong susioknya, tentu akan menyita waktu yang tidak sebentar.

Lagipula, perasaannya mengatakan semakin lama ia mengulur waktu, semakin besar kemungkinan kakeknya celaka daripada selamat.

Jika ia pergi menyusul yaya-nya, Mo Tian Siansu tentu akan tewas.

"Urusan mana yang lebih penting? Urusan yang menyangkut hubungan darah, atau kewajiban menolong?" Lama ia termenung.

Urusan ini benar-benar menyulitkannya untuk mengambil keputusan.

Lama mereka terdiam. Orang berkedok hitam itu menggunakan kesempatan untuk mengikat tangannya yang patah.

"Baik! Kau boleh menyembuhkannya," akhirnya Khu Han Beng memutuskan.

Badan orang berkedok hitam itu seperti mengendur lega.

Beriringan mereka kembali ke tempat Mo Tian Siansu bersandar.

Dengan agak ragu, orang berkedok hitam bertanya, "Dari mana kutahu kau akan membiarkanku pergi setelah mengobatinya?" "Kau tidak tahu? Kuingin kau bersumpah." Khu Han Beng seperti mengeluarkan suara tertawa tertahan. Katanya, "Tak kusangka kau masih percaya dengan sumpah yang tiada harganya." "Kuingin kau bersumpah mengatasnamakan ibumu," kata orang berkedok hitam itu sepatah demi sepatah.

Mendadak raut wajah Khu Han Beng berubah hebat.

Dengan dingin ia berkata, "Kau tidak perlu mengobatinya, dan tidak usah pergi. Sebaiknya kau mati saja." Orang berkedok hitam itu merasa khawatir.

Cukup lama Khu Han Beng memandang orang berkedok hitam itu dengan penuh selidik, sebelum akhirnya ia mengangguk perlahan.

Diam-diam orang berkedok hitam menarik napas lega. Lekas ia mengeluarkan sebuah toples kecil dari saku dalamnya dan menuangkan satu butir pil berwarna merah yang langsung dijejalkan ke mulut Mo Tian Siansu.

Rona hitam di wajah Mo Tian Siansu perlahan menghilang walaupun masih terlihat pucat.

Pernapasannya masih berat, setelah ditunggu sekian lama ia masih belum sadarkan diri.

"Kenapa kondisinya masih belum membaik?" tanya Khu Han Beng. "Aku hanya mampu menawar racunnya. Untuk luka dalamnya yang parah, kau harus membawanya ke sepasang tabib di Gunung Pek Hoa-san." Khu Han Beng menimbang ucapan orang berkedok hitam itu, kemudian katanya, "Buka kedok mukamu!"

Orang berkedok hitam tampak enggan melakukan.

Katanya, "Tiada yang istimewa di wajahku, kenapa kau ingin melihatnya?" Mendadak tubuh Khu Han Beng berkelebat, dalam sekejap tangannya memegang kedok hitam dan toples kecil berisi obat antiracun.

Orang itu ternyata seorang pemuda, berwajah tampan, berbibir tipis. Hanya sorot matanya yang terkesan licik tampak jelalatan, ketakutan bercampur terkejut.

"Aku tidak melihat sesuatu yang luar biasa di wajahmu, kenapa kau enggan kulihat wajahmu?" "Dia tidak mengenal diriku," jerit pemuda itu dalam hati.

Hatinya lega bukan main.

Cepat ia menjawab, "Apakah kau benar-benar tertarik ingin tahu urusan pribadiku?" Khu Han Beng termenung sejenak, kemudian katanya, "Semestinya aku bertanya padamu, kenapa kau ingin membunuhnya? Kenapa kau mengetahui ia terkena racun, bukan luka disebabkan gempa? Tetapi saat ini aku memang tiada waktu untuk mengurusmu. Suatu waktu aku tentu akan mencarimu. Kau boleh meninggalkan tempat ini." Kembali pemuda itu menarik napas lega. Tak tahan, mulutnya menyungging senyuman. "Sampai mampus kau tidak bakal dapat mencariku," cemoohnya dalam hati.

Seperti memahami arti senyuman pemuda itu, Khu Han Beng menukas perlahan, "Aku yakin dapat mencarimu." "Kau tidak kenal diriku, tidak tahu di mana aku tinggal, bagaimana kau dapat mencariku?" tanya pemuda itu tidak tahan.

"Sebab kau telah salah ucap." "Apa yang salah kuucapkan?" "Tidak semestinya kau mengatakan aku seharusnya tidak mengerti silat." "Maksudmu?" "Walau aku tidak mengenalmu, kuyakin kau mengenalku. Kau mengenalku tidak bisa silat, sedangkan aku jarang sekali keluar kamar. Ruang lingkup mencarimu sangat terbatas. Makanya kuyakin pasti dapat menemukanmu." Kembali sinar mata orang itu mengeluarkan cahaya ketakutan.

"Aku tidak berbohong." "Ya, kutahu kau mengatakan yang sebenarnya." Pemuda itu menatap Khu Han Beng sejenak.

Dengan agak ragu ia bertanya, "Maukah kau kembalikan barangku?" Pemuda itu menangkap kedok hitam miliknya yang dilempar oleh Khu Han Beng.

"Seingatku, toples kecil itu juga aku yang punya. Tentu kau salah ingat," kata Khu Han Beng lembut.

Dengan jantung berdegup, pemuda itu berkata, "Ya, kuyakin tentu terjatuh di tengah jalan. Aku mohon diri untuk mencarinya." Khu Han Beng memandang pemuda itu menghilang ditelan kegelapan malam.

Perlahan ia menoleh ke arah Mo Tian Siansu.

Ia harus lekas membawa susioknya ke Gunung Pek Hoa-san.

Tiba-tiba ia tertegun, baru teringat olehnya bahwa dia tidak tahu lokasi gunung itu.

Bagaimanapun juga ia kurang pengalaman, ia lupa bertanya pada pemuda itu.

Dahinya berkerut, ia berpikir keras mencoba mengingat buku yang mengandung peta Tionghoan yang pernah dibacanya.

Setelah mengira-ngira lokasinya sekarang, perasaannya mengatakan untuk menuju ke Gunung Pek Hoa-san, ia harus menempuh arah ke Barat.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment