Chapter 09
Khu Han Beng memandang langit yang kembali mendung gelap tanpa cahaya bulan maupun bintang yang bisa menunjukkan arah.
Ia mulai mengomeli dirinya, tadi ia benar-benar tidak memperhatikan arah terbenamnya matahari.
Apa yang harus dilakukannya sekarang? Menunggu hingga datangnya pagi baru menempuh perjalanan? Ditilik dari kondisi Mo Tian Siansu yang parah, Khu Han Beng menyadari ia tidak boleh membuang waktu.
Mendadak ia membungkukkan badan memunguti beberapa potong pecahan pedang.
Kedua tangannya meremas, kemudian memilin seperti menggenggam nasi lunak yang baru saja matang.
Sungguh mengagumkan, potongan-potongan pedang yang terbuat dari baja terlebur menjadi satu.
Berbentuk seperti sebuah sendok makan di mana bagian ujung atasnya meruncing.
Khu Han Beng memilih sebuah batu ukuran segenggam tangan yang tidak terlalu besar.
Kembali ia mengerahkan tenaga saktinya memapas dengan sisi tapak tangannya bagian atas permukaan batu hingga menjadi licin seperti telah dibilah oleh pedang tajam.
Dari kantong makanannya, ia mengeluarkan sepotong daging kering dan mengeluarkan hawa yang-kang hingga lemak daging tersebut menetes di bagian licin permukaan batu.
Dengan hati-hati ia meletakkan sendok baja itu di atas cairan lemak.
Tampak sendok baja itu bergerak memutar perlahan kemudian berhenti.
Khu Han Beng tersenyum senang, dari buku yang pernah dibacanya, ia paham ujung runcing yang melengkung dari sendok baja itu akan selalu menunjuk arah selatan.
Lekas ia memasukkan batu dan potongan baja itu ke sakunya dan memanggul tubuh Mo Tian Siansu hendak diletakkannya di atas pelana kuda.
Lagi-lagi ia tertegun, kembali ia kecolongan.
Kedua tunggangannya telah menggeletak mati dengan leher tertembus pedang, tampak sisi lehernya jebol beruaran, berlubang sebesar mangkuk.
Tampaknya pemuda itu seorang pembunuh yang berpengalaman.
Sebelum membunuh korbannya, telah lebih dahulu menutup jalan keluar calon korbannya.
Mulut Khu Han Beng bersiul nyaring yang menggetarkan tebing sekitarnya.
Ia telah mengerahkan hawa murni untuk mengitari tubuhnya belasan kali, kemudian dengan memikul Mo Tian Siansu, tubuhnya melesat secepat terbang, hilang ditelan kegelapan malam menuju...