Chapter 02
Liong Hui tertawa keras dan berseru, "Jika Ayahku kalah, diharuskan segera membunuh diri. Bila Ayah menang, memangnya Yap Jiu-pek itu dapat mati sekali lagi?" Apalagi, jelas-jelas kau tahu Ayahku tidak sudi bergebrak dengan kaum muda. Apa gunanya biarpun Yap Jiu-pek meninggalkan ilmu pedang segala?
"Diam?" mendadak Liong Po-si membentak.
Lalu ia mendekati si nona cantik dan berucap dengan suara tertahan, "Selama sepuluh tahun ini, apakah dia telah menciptakan pula seri ilmu pedang baru?" "Betul," jawab si nona.
Meneorong sinar mata Liong Po-si, tapi lantas menghela nafas lagi dan berkata, "Biarpun ada ilmu pedang maha sakti, kalau tidak dimainkan oleh orang yang menguasai kekuatan yang cukup, memangnya dapat mengalahkanku begitu saja?" Pelahan ia menunduk, tampaknya sangat kecewa.
Dengan ketus si nona berkata pula, "Jika ada orang yang kekuatannya sebanding denganmu, lalu dengan ilmu pedang tinggalan guruku untuk bergebrak denganmu, bukankah hal itu serupa halnya guruku bertempur sendiri denganmu?" Tahun yang lalu, segenap jago dunia persilatan kelas top berkumpul di Wi-san, kecuali gurumu dan aku, semuanya gugur dalam pertarungan di Wi-san sana.
Sekarang, bila ingin mencari seseorang yang mempunyai kekuatan sebanding denganku, untuk itu mungkin perlu menunggu tiga atau lima puluh tahun lagi.
"Untuk menguasai ilmu pedang dengan baik memang diperlukan kekuatan latihan yang cukup. Kurang salah satu di antaranya takkan mampu menjadi jago kelas tinggi. Dalil ini cukup jelas, sebab itulah setelah pertemuan di Wisan, tiada lagi jago lain yang mampu mengungguli Tan-hong dan Sin-liong.
Biarpun di antara angkatan muda ada juga yang mendapatkan penemuan yang mukjizat dan memperoleh ilmu gaib, tapi tetap juga tiada seorang pun yang berkekuatan melebihi Tan-hong dan Sin-liong, betul tidak?" "Ya, memang," sahut si kakek.
Sepuluh tahun yang lalu, apakah kekuatan guruku sebanding denganmu? "Umpama ada selisih juga tidak ada artinya." "Tapi selama sepuluh tahun ini guruku tidak pernah melupakan janji pertarungan denganmu disini, beliau giat berlatih siang dan malam." "Memangnya aku tidak begitu?" ujar si kakek.
"Jika begitu keadaannya, bila sekarang kalian berhadapan, bukankah kekuatan kalian juga tidak berbeda banyak?" "Ya, kecuali di dalam sepuluh tahun ini gurumu (perempuan) bisa mendapatkan obat mujizat yang dapat menambah kekuatannya dengan cepat, kalau tidak pasti tidak dapat melebihiku."
Setelah menghela nafas, mendadak ia berpaling dan berkata kepada si brewok, "Nah, anak Hui, ketahuilah bahwa bertambahnya kekuatan latihan seorang serupa halnya kawanan burung membuat sarang dan manusia membangun gedung, harus setingkat demi setingkat maju secara teratur, sedikitpun tidak dapat dipaksakan, pantang tinggi hati dan ingin maju dengan cepat, fondasi harus terpupuk dengan kuat, kalau tidak biarpun bangunan gedung sudah berdiri, jelas tidak tahan lama.
Memang ada juga obat-obat mujizat yang dapat menambah kekuatan, tapi obat ajaib demikian sangat sukar dicari. Banyak juga orang kangouw yang ingin menemukan obat mukjizat demikian sehingga menimbulkan macam-macam peristiwa menyedihkan." Liong Hui menunduk dan mengiakan.
"Apalagi pertarungan di antara jago kelas tinggi, waktu, tempat, dan si pelaku sendiri adalah faktor yang menentukan," kata Liong Po-si pula.
"Tapi kalau guruku berhasil menciptakan satu seri ilmu pedang tanpa ciri, bukankah dengan mudah dapat mengalahkanku?" kata si nona cantik.
"Didunia ini mutlak tidak ada kungfu yang tanpa ciri kelemahan," ujar Liong Po-si.
"Namun bila ciri di antara ilmu pedang gurumu itu tidak dapat kutemukan, atau satu jurus serangannya membuatku tidak berdaya untuk mematahkannya, maka jelas aku akan kalah." "Janji pertemuanmu dengan guruku belum terlaksana dan guruku lantas wafat, sungguh di alam baka pun beliau tidak bisa tenang," ucap si nona cantik.
"Hm, memangnya tidak kurasakan sebagai penyesalan selama hidupku ini?" jengek Liong Po-si.
Nona itu menengadah, katanya pula, "Sebelum wafat guruku pernah berkata kepadaku bahwa di dalam sepuluh tahun ini engkau pasti juga akan menciptakan ilmu kungfu baru untuk menghadapi beliau." "Haha, memang Cuma Yap Jiu-pek saja benar-benar sahabat yang tahu perasaanku," Seru Liong Po-si, dengan tertawa, namun tertawa yang pedih dan mengharukan.
Tiba-tiba si nona berkata pula, "Tapi kau pun tidak perlu risau karena kungfu yang kau latih selama ini tidak berguna lagi. Sebelum wafat guruku sudah memikirkan satu cara bagimu bilamana engkau ingin menentukan kalah menang dengan beliau." Suara tertawa Liong Po-si seketika berhenti, ia pandang si nona dengan tajam.
Nona cantik itu tidak menghiraukannya, katanya lagi, "Begini caranya, jika boleh kututuk tiga hiat-to tubuhmu, yaitu Koat-bun-hiat di bagian bahu, Sinconghiat di punggung, dan Yang-koan-hiat di dekat pinggul, dengan begitu tertutuplah urat nadi Tok-im yang dapat mengekang sebagian tenagamu, dengan kelihaianmu tentu tertutuknya ketiga hiat-to itu takkan membahayakan jiwamu, tapi tenagamu dapatlah susut menjadi cuma tujuh bagian saja dan berarti sama kuatnya denganku, lalu akan kugunakan ilmu pedang guruku untuk bergebrak sendiri denganmu?" Dia bicara kian kemari, akhirnya yang dituju ternyata begini.
Liong Po-si jadi melenggak lagi.
Didengarnya si nona berkata pula, "Cara ini adalah pesan guruku sebelum wafat, bilamana tidak kauterima, tentu juga aku tak dapat memaksa." Mendadak pemuda brewok Liong Hui berseru, "Huh, kau bicara seperti permainan anak kecil saja, mana boleh pertandingan dilakukan secara begitu." Si nyonya muda berbaju merah yang berdiri agak jauh disana mendadak melompat maju dan menjengek, "Hm, jika begitu, bila kuganakan ilmu silat ayahku untuk bergebrak denganmu kan juga sama saja." Nona cantik itu mendengus dan melengos, mendadak ia menengadah dan menghela nafas, katanya, "Wahai suhu, kan sudah kukatakan dia pasti takkan terima caramu ini, tapi engkau tidak percaya, sekarang terbukti dugaan suhu memang salah." Lalu ia mendekati keempat perempuan berbaju hijau di bawah pohon sana dan berucap, "Ayolah kita pergi, apa alangannya membiarkan Jiceng merajai dunia persilatan." "Nanti dulu!" bentak Liong Po-si mendadak.
Si nona menoleh dan mengejek, "Jika engkau tidak mau menepati janji terhadap orang mati tentu aku tidak menyalahkan dirimu. Anggap saja memang tidak pernah ada janjian sepuluh tahun yang lalu itu." Liong Po-si menengadah dan bergelak tertawa lantang, serunya "Selama berpuluh tahun entah sudah berapa kali menyerempet bahaya dan belum pernah kupikirkan soal mati dan hidup, lebih-lebih tidak pernah ingkar janji terhadap siapapun. Meskipun Yap Jiu-pek sudah mati, namun janji tetap janji, jika dia telah meninggalkan pesan cara bertanding denganku, mana boleh kuingkar janji padanya." Keruan Liong Hui dan si nyonya muda terkejut, cepat mereka berseru, "Ayah!...." Tapi Liong Po-si terus menarik kain kerudungnya.
Sekilas pandang terkesiap juga hati si nona cantik.
Dilihatnya wajah orang penuh bekas luka silang menyilang, biarpun dipandang di siang hari tetap juga menimbulkan rasa seram.
Dengan suara berat Liong Po-si berkata kepada Liong Hui, "Selama hidup ayahmu sudah mengalami beratus kali pertempuran besar atau kecil dan belum pernah kalah, betapapun tangguhnya lawan tetap dapat kutundukkan dia dengan pedangku, semua itu adalah karena dadaku yang lapang, tekadku yang bulat, tidak ada sesuatu yang kutakuti, tapi bila satu kali aku ingkar janji, tentu dadaku tidak lagi selapang itu, dan bisa jadi sudah lama aku mati." Sinar matanya menjadi buram, dia seperti tenggelam dalam lamunan masa lampau.
Cahaya yang surya yang baru terbit menembus kabut tipis dan menyinari wajahnya yang penuh bekas luka sehingga garis-garis bekas luka itu bersemu merah.
Pelahan ia meraba dahi sebelah kanan, disitu ada sejalur luka pedang memanjang dari dahi kanan hingga ujung mata, bila miring lagi sedikit ke kiri tentu mata kanan itu sudah lama cacat.
"Empat puluh tahun yang lalu, di benteng Giok-lui-koan....." dia bergumam pelahan dan seakan-akan terbayang kembali adegan dahulu ketika di berhadapan dengan Ko Siau-thian, itu tokoh utama Go Bi Pay yang berjuluk Coat-ceng-kiam atau si pedang tanpa kenal ampun, dengan sejurus Thian-cekenghong" Atau pelangi menghias ujung langit, pedang Ko Siau-thian telah meninggalkan bekas luka pada dahinya itu, sekarang dirabanya dengan pelahan, rasanya masih dapat merasakan penderitaan waktu kulit dagingnya tersayat pedang dahulu.
Mendadak ia menengadah dan bersuit, lalu bergelak tertawa dan berteriak, "Wahai Ko Siau-thian, meski aku tidak mampu menangkis jurus seranganmu Thianhong itu, tapi engkau sendiri masakah mampu lolos dari pedangku"...." Suara tertawanya berubah lemah, tapi waktu tangan menyentuh tiga garis bekas luka di dahi kanan, kembali terkenang olehnya kejadian lain, waktu dia berkelana menjelajah dunia, dia berhadapan dengan Pahkek, melawan jago keluarga Pang dan juga mengunjungi Siau-lim-si, dimana-mana dia menantang bertanding, setiap kali menyerempet bahaya, tapi selalu lolos dari maut dan akhirnya menang, semua itu mendatangkan julukan baginya tahun yang lalu orang Bulim mengadakan pesta di Sian-he-nia untuk mengukuhkan julukannya, dimana berkumpul ksatria dari segenap penjuru, pesta yang meriah dan juga membanggakan, terkenang pada kejadian dulu itu, tanpa terasa tersembul senyuman pada ujung mulutnya.
Pelahan ia mengelus jenggotnya sehingga menyentuh setitik bekas luka tusukan pedang, inilah akibat serangan Samkiam atau si pedang sakti tiga bunga, luka ini paling ringan, tapi juga paling berbahaya pada waktu itu.
"Kiueng (si elang sembilan sayap) Tik Bong-peng sungguh tokoh paling sulit dihadapi selama hidupku...." demikian Liong Po-si bergumam pula perlahan, "Tapi betapa lihai ilmu pedangnya tetap tidak dapat lolos di bawah pedangku".
Lalu dia meraba lagi bekas luka di tepi mata kanan, itulah tusukan pedang jago Kunlun Pai.