Chapter 03
Bagian iganya juga terdapat bekas luka pedang Butongpai. Diam-diam, ia mengakui kebaikan hati orang Bu Tong, yang hanya menyerang tubuhnya tanpa merusak wajahnya. Sebab itulah, Liong Po-si sendiri juga tidak membunuh lawannya. Tapi, siapa yang menyangka bahwa dalam pertarungan di Wi-san, ketiga sesepuh Butongpai yang berhati welas asih itu juga tewas.
Terkenang kepada semua kejadian masa lampau, Liong Po-si menghela nafas panjang lagi. Dalam pertarungan di Wi-san, hampir segenap jago inti dunia persilatan telah tewas seluruhnya. Sebaliknya, Liong Po-si sendiri tidak mengalami cedera apapun. Memangnya, apa sebabnya? "Hal ini lantaran segala ilmu silat di dunia ini telah kuuji dan kupelajari, maka tidak ada lagi sesuatu kungfu yang mampu melukaiku!" Ia memandang jauh ke puncak di gunung seberang sana, dan mendadak timbul semacam perasaan kosong yang sukar dijelaskan.
Ingin menang tapi tidak bisa adalah hal yang menyedihkan, minta kalah tidak dapat juga mengharukan. Segala kejadian masa lampau solah-olah awan yang mengambang di udara itu melayang lewat dalam benaknya. Mendadak, suara elang berkumandang dari bawah gunung, menyadarkan lamunan Liong Po-si.
Suasana di atas puncak terasa sunyi senyap, sorot mata tajam si nona cantik lagi menatapnya, seperti sedang menunggu, seperti juga hormat dan kagum, tapi juga seperti meremehkan. Sekonyong-konyong, Liong Po-si tertawa lantang sambil membentangkan kedua tangannya, terdengar suara "trang-tring" nyaring, belasan kancing emas jubahnya sama rontok jatuh ke tanah.
Terkesiap si brewok Liong-hui, serunya, "Ayah, buat apa?" "Jika tidak kulayani ilmu pedang tinggalan Yap Jiu-pek, selain dia mati tidak tentram di alam baka, akupun menyesal selama hidup," kata Liong Po-si dengan tertawa. Si nona cantik mendengus, pelahan ia mengeratkan tali pinggang dan siap tempur. "Tapi... tapi hal ini kurang adil, Ayah..." seru Liong-hui pula.
"Kautahu apa?" bentak Liong Po-si. Mendadak ia tertawa lagi. "Hahaha, selama hidupku dijuluki Put-si, bilamana sudah tua harus mati di bawah pedang orang lain, rasanya juga menggembirakan bagiku." Cepat, Liong-hui menyurut mundur ketika melihat tangan sang ayah bergerak, jubah satin berwarna ungu mendadak terlempar ke atas serupa segumpal awan terbang ke angkasa, lalu mampir di pucuk cemara.
"Koat-bun, Sin-cong, Yang-koan..." dengan ketus si nona cantik menyebut nama ketiga hiat-to. Liong Po-si mendengus, ia lantas memutar punggungnya ke arah Liong-hui, katanya dengan tenang, "Anak Hui, apakah masih ingat gerakan Ho-cui-keng?" "Masih," jawab Liong-hui dengan ragu.
"Nah, gunakan gaya Ho-cui-keng untuk menutuk ketiga hiat-to yang disebutnya itu," ucap Liong Po-si. "Tapi... Ayah..." "Cepat!" bentak si kakek. Liong-hui ragu sejenak pula, akhirnya ia menggertak gigi dan memburu maju ke belakang sang ayah, tangan kanan terangkat, jari telunjuk dan jempol terangkap serupa paruh burung bangau dan pelahan menutuk Koat-bun-hiat di bagian pundak.
Si nyonya muda berbaju merah menghela nafas, ia berpaling ke arah lain, sekilas terlihat barang yang tertutup oleh kain satin yang diusung oleh kedua orang berbaju hitam tadi. Serentak, ia berpaling kembali dan dilihatnya si brewok Liong-hui belum lagi melancarkan tutukannya, rupanya baru terjulur sampai setengah jalan. Tangan Liong-hui lantas bergemetar dan tidak sanggup turun tangan lebih lanjut.
Liong Po-si melirik ke belakang dan mendamprat, "Manusia tak... becus!" Cukup bengis ia memaki, tapi ketika mengucapkan "becus", suaranya berubah menjadi lunak. Liong-hui meluruskan kembali kedua tangannya dan menghela nafas, ucapnya, "Ayah, kupikir urusan ini agak ganjil..." Belum lanjut ucapannya, sekonyong-konyong sesosok bayangan orang melayang tiba, kiranya si pemuda belia yang tampak lemah lembut dan selalu mengikut di belakang pemuda kurus berbaju hitam itu bersama seorang anak dara tadi.
"Untuk apa kaudatang kemari, Gote?" seru Liong-hui dengan kening berkernyit. Pemuda lemah itu menjawab dengan lugas, "Jika Toako tidak sanggup turun tangan, biarlah siaute saja menggantikan engkau." "Apa kaugila?" bentak Liong-hui dengan mendelik. Pemuda lemah itu memandang lurus ke depan dengan air muka kaku.
Putliong membalik tubuh dan mengawasi anak muda itu beberapa kejap, lalu berkata dengan gegetun, "Ai, selama ini kuanggap kau terlalu lemah lembut serupa anak perempuan, tak tersangka diluar kau halus tapi keras didalam, serupa diriku pada waktu muda. Jika sekali ini aku dapat..." mendadak ia terbatuk, lalu menyambung, "Baiklah, jika kaupun paham gerakan Ho-cui-keng, boleh lekas kau turun tangan." Liong-hui lantas melangkah mundur dengan menunduk, seperti tidak ingin melihat apa yang bakal terjadi.
Maka terdengarlah suara "tek-tek-tek" pelahan tiga kali. Liong Po-si lantas menghela nafas lega, lalu menarik nafas lagi dalam-dalam, disusul dengan suara mendering dan cahaya pedang yang menyilaukan mata. Dalam pada itu, si nyonya muda lantas mendekati Liong-hui, dibisikinya, "Untuk apa kausedih, toh ayah tidak pasti kalah." Mendadak, Liong-hui mengangkat kepalanya, seperti mau bicara, tapi urung.
Terlihat si nona cantik tadi telah menerima sebatang pedang dari salah seorang perempuan berbaju hijau tadi, disentilnya batang pedang dengan dua jarinya, "tring", terdengar suara nyaring bergema. Liong Po-si juga sedang memandang pedang sendiri yang bercahaya hijau, sampai sekian lama ia tidak bergerak, hanya jarinya saja yang meraba-raba batang pedang serupa seorang ibu membelai anak kesayangannya.
Kemudian, dia menanggalkan sarung pedangnya yang masih tergantung di pinggangnya, ia membalik dan menyerahkan sarung pedang itu kepada si pemuda lemah tadi. Pemuda yang berwajah putih cakap itu mendadak terkilas rasa kejut dan heran, cepat ia sambut pemberian sarung pedang itu.
"Mulai hari ini, pedang Yaploh ini adalah milikmu," demikian kata Liong Po-si. Dengan sinar mata meneorong, pemuda itu memegang sarung pedang dan melangkah mundur, lalu dia berlutut dan menyembah tiga kali kepada Liong Po-si.
Air muka si brewok Liong-hui berubah hebat, alisnya yang tebal berkerut, dia seperti mau bicara, tapi si nyonya muda berbaju merah telah menarik ujung bajunya, keduanya saling pandang sekejap, lalu menunduk diam. "Jangan sia-siakan pedang ini!" demikian pesan Liong Po-si.
Pemuda lembut itu lantas berbangkit, mendadak ia mendekati benda panjang yang tertutup oleh kain satin itu, pelahan ia menjulurkan sarung pedang untuk menyingkap kain penutup panca warna itu. Maka tertampaklah benda itu, ternyata sebuah peti mati terbuat dari kayu cendana.
Liong Po-si menatap anak muda itu tanpa berkedip, tanyanya dengan suara berat, "Adakah yang ingin kaukatakan?" Pemuda itu kembali berlutut lagi pelahan dan menyembah tiga kali terhadap peti mati itu, mendadak ia melolos sebilah belati dan menusuk ujung jari sendiri, darah lantas mengucur keluar, ia kebaskan tangannya sehingga beberapa titik darah menetes di atas peti mati.
Air muka Liong Po-si yang kereng mendadak tersembul senyuman puas, ucapnya, "Bagus-bagus!" Habis itu, barulah ia mendekati si nona cantik tadi. "Anda menyiapkan peti mati dengan harapan akan kalah, Putliong memang tidak malu disebut sebagai jago perkasa nomor satu di dunia persilatan," kata si nona dengan tersenyum.
Sampai sini, barulah nona ini memperlihatkan senyuman yang manis bagaikan bunga yang mekar semarak, senyum yang memikat dan sukar dilukiskan. Pemuda lemah tadi telah menggantungkan sarung pedang kulit ikan hiu pada pinggangnya, mendadak sorot matanya memancarkan cahaya aneh menatap wajah si nona cantik, lalu selangkah demi selangkah didekatinya dengan pelahan.
Nona itu mengerling, sinar mata kedua orang kebentrok, tanpa terasa si nona terkesima. Sesudah pemuda itu berada di depannya, barulah ia menegur, "Kaumau apa?" Liong Po-si juga lantas berkata, "Disini sudah tidak ada lagi urusanmu, kenapa tidak mengundurkan diri saja!" Namun, anak muda itu tidak menjawab, mendadak kedua tangannya terpentang, telapak tangan kiri menghantam iga si nona, sebaliknya telapak tangan kanan memukul iga kiri Putliong, Liong Po-si.
Sungguh luar biasa kecepatan dan ketepatan kedua serangan pemuda ini, si nona cantik dan Liong Po-si sama terkesiap, mereka tidak menyangka mendadak bisa diserang. Pada saat mereka melenggong itulah, tangan si pemuda lemah sudah menyambar tiba, cepat si nona cantik menangkis dengan sebelah tangan, "plok", kedua tangan beradu.
Liong Po-si terpaksa juga menangkis, ia menggeser dan angkat sebelah tangannya, ia pun beradu tangan dengan muridnya itu. Di tengah suara adu pukulan itu, si brewok Liong-hui memburu maju sambil membentak, "Apa kau gila, Gote?" Tapi segera terlihat pemuda lembut itu menarik kembali tangannya dan menggeser mundur, lalu berkata dengan hormat, "Suhu, nona ini tidak berdusta!" "Maksudmu, kekuatanku sekarang telah seimbang dengan dia?" tanya Liong Po-si, mendadak ia bergelak tertawa dan berkata pula, "Haha, bagus, bagus, baru sekarang kutemukan lawan yang sama kuat!" Liong-hui tampak tercengang sejenak, katanya kemudian kepada pemuda lembut, "Kiranya tujuanmu cuma untuk menguji kekuatan perempuan itu apakah sebanding dengan suhu apa tidak?" "Ya begitulah," sahut anak muda itu dengan menunduk.
"Jika maksudnya bukan untuk meneoba, mana dia bisa menyerang guru sendiri, kan mubazir pertanyaanmu itu" ujar Liong Po-si dengan tertawa cerah. Kakek yang gagah dan kereng ini, meski sekarang menghadapi pertempuran yang pasti sangat berbahaya, namun hatinya justru terasa sangat gembira, entah lantaran menemukan lawan yang "sama kuat" atau karena merasa tindakan muridnya itu sangat cocok dengan seleranya. Liong-hui tampak kikuk dan mundur teratur sambil melirik sekejap kepada pemuda lembut itu.