Chapter 04
Si nyonya muda berbaju merah tertawa dan berkata, "Usia Gote masih muda belia, tak tersangka sudah mempunyai kecerdasan dan kekuatan sehebat ini." Liong Po-si berucap dengan gegetun, "Sesudah lama baru ketahuan hati manusia, setelah perjalanan jauh baru tahu tenaga kuda. Untuk mengetahui watak dan kecerdasan seseorang juga baru kelihatan bila menghadapi keadaan genting."
Pemuda lembut tadi menunduk. Sedangkan Liong Hui saling pandang sekejap dengan si nyonya muda. Anak dara yang berdiri berdampingan dengan si pemuda lembut tadi tampak tersenyum senang dan bangga.
Baru sekarang pandangan si nona cantik berpindah dari wajah si pemuda lembut, lalu menjenguk, "Nah, sesudah dicoba, bolehkah dimulai sekarang?" "Tentu saja," kata Liong Po-si sambil mengayunkan pedangnya sehingga menerbitkan suara dering nyaring dan mengakibatkan rontoknya lidi cemara yang menjatuhi tubuh keempat perempuan berbaju hijau ringkas itu.
Meski tenaga dalam Liong Po-si sudah surut banyak, tapi tetap selihai ini, tanpa terasa keempat perempuan itu saling pandang dengan terkesiap. Tapi si nona cantik anggap seperti tidak tahu, ucapnya ketus, "Jika boleh mulai, silakan Anda ikut padaku!" Liong Po-si jadi melenggong lagi, "Masakah bukan disini?" "Ya, disini bukan tempat yang baik untuk bertanding," segera si nona cantik sepeti hendak membalik ke sana.
"Sebab apa?" tanya Liong Po-si. "Jika kubunuh dirimu, tentu anak muridmu akan menuntut balas padaku, padahal pengaruh Jiceng di dunia persilatan sangat besar, sebaliknya guruku cuma menerima seorang murid seperti diriku saja, bila mereka menuntut balas kepadaku, tentu aku tidak mampu melawannya, betul tidak?" "Dengan sendirinya engkau tidak mampu melawan!" bentak Liong-hui. "Hm, hanya mengandalakan sedikit kepandaianmu ini kaukira dapat mengalahkan guru kami?" jenguk si nyonya muda mendadak.
Liong Po-si melirik kedua anak muridnya itu sekejap, diam-diam seperti merasa menyesal, segera ia berkata, "Tentu maksudmu ingin merahasiakan ilmu pedangmu untuk berjaga bila mana anak muridku menuntut balas padamu setelah berhasil kaubunuh diriku, begitu?" "Betul," jawab si nona cantik.
"Pada waktu suhu mengajarkan ilmu pedang ini padaku, kecuali menugasku membunuhmu, ada juga orang lain yang harus kubunuh, mana boleh kuperlihatkan ilmu pedang ini di depan umum sehingga orang sempat mempelajari ciri kelemahan ilmu pedangku ini" "Ya betul juga, bila mana aku menciptakan sesuatu kungfu baru, tentu kau pun akan merahasiakannya," ujar Liong Po-si dengan mengangguk.
Mendadak ia menghela nafas panjang dan menatap tajam si nona cantik, lalu bertanya sekata demi sekata, "Menjelang wafatnya gurumu, apakah dia masih begitu benci padaku?" "Bila benci dan dendam sudah mendalam apa bedanya waktu hidup atau sudah mati?" jenguk si nona.
"Haha, apa bedanya...apa bedanya...." mendadak Liong Po-si menegadah dan bersuit, lalu membentak, "Baik, dimana tempatnya? Ayo, akan kuikuti!" Tanpa bicara lagi si nona cantik lantas membalik tubuh dan melangkah pergi.
Mendadak si brewok Liong-hui membentak "Nanti dulu!" Tapi si nona tetap melangkah ke depan seperti tidak mendengar. Tiba-tiba terdengar kesiur angin lewat, tahu-tahu si pemuda lembut sudah menghadang di depannya.
Bekerenyit juga kening si nona cantik, ia menoleh memandang Liong Po-si sekejap. Segera Putliong, Liong Po-si membentak, "Kalian mau apa lagi?" Si nyonya muda melompat maju dan berkata, "Betapapun kita harus berjaga segala kemungkinan, apabila mereka telah mengatur perangkap disana, bukankah suhu akan terjebak?" Liong Po-si menjadi sangsi, ia memandanga sekejap si nona cantik.
Si nona cantik balas menatapnya dengan dingin seakan akan sedang berkata, "Pergi atau tidak terserah padamu......." Sebelum Liong Po-si berkata pula, cepat si nyonya muda mendahului bicara, "Sampai saat ini belum juga kami minta petunjuk akan nama nona yang terhormat, sungguh kurang sopan." Dia bicara dengan lemah lembut dan tersenyum pula sehingga mau tak mau orang harus menjawab pertanyaannya.
Meski air muka si nona tetap dingin, tidak urung ia menjawab singkat, "Namaku Yap Man-jing." "Sungguh nama yang bagus," ujar si nyonya muda dengan tersenyum. "Dan namaku Kwe Giok-he, nama kampungan, tapi.....ai, apa boleh buat." Dalam keadaan demikian dan di tempat seperti ini dia justru bicara tetek bengek, tampaknya Liong Po-si merasa tidak sabar, tapi agaknya dia sangat sayang kepada si nyonya muda itu maka dia tidak mencegahnya.
Si brewok Liong-hui tampaknya juga sangat hormat dan juga jeri terhadap nyonya muda itu. Hanya si pemuda lembut saja tetap kelihatan kaku tanpa emosi. Tidak bicara juga tidak tertawa.
Terdengar nyonya muda itu menyambung lagi, "Nona Yap, meski kita tidak pernah bertemu sebelum ini, namun gurumu sudah lama kami dengar, ditambah lagi nona Yap sendiri begini cantik dan menyengkan, sebab itulah segala apa yang diucapkan nona Yap telah kami turuti semua." Si nona cantik alias Yap Man-jing hanya mendengus saja tanpa menanggapi.
Maka Kwe Giok-he meneruskan lagi, "Cuma syarat yang dikemukakan nona Yap tadi, betapapun kami rasakan agak kurang baik..." "Kurang baik apa? Urusan ini tidak ada sangkutpautnya denganmu, mengapa engkau ikut campur?" jenguk Yap Man-jing dengan ketus.
Namun Kwe Giok-he tetap tersenyum cerah dan berkata, "Jika benar nona Yap tidak menghendaki kami melihat rahasia ilmu pedang gurumu, seharusnya hal ini kaubicarakan jauh sebelumnya, mengapa mesti menunggu sampai sekarang baru dikemukakan olehmu. Sungguh aku tidak habis mengerti akan dalil ini." Yap Man-jing memandangnya beberapa kejap, lalu menjenguk, "Hm, apa benar kau minta kukatakan terus terang?" "Sebabnya kutanya kepada nona memang berharap engkau suka memberitahukan apa alasannya, kalau tidak untuk apa kuikut bicara?" Ujar Kwe Giok-he dengan tersenyum.
Pelahan Yap Man-jing mengerling sekejap setiap orang yang hadir disini seolah-olah sudah dipandangnya semua, lalu mengejek, "Sebabnya hal ini tidak kukemukakan tadi adalah lantaran kulihat diantara kalian yang berada disini tidak ada seorang pun yang dapat melihat ciri kelemahan ilmu pedangku." "Dan mengapa sekarang harus kaukemukakan?" tanya Kwe Giok-he.
Seperti tidak sengaja Yap Man-jing melirik sekejap si pemuda lembut, lalu berkata, "Sebabnya kukemukakan syaratku ini adalah lantaran tiba-tiba kulihat di antara anak murid Putliong ternyata bukan orang goblok semua, sedikitnya ada satu diantaranya yang terhitung pintar." Air muka Kwe Giok-he rada berubah, tapi segera ia tersenyum lagi dan berkata, "Terimakasih atas pujian nona Yap.
Pantas Sip-tiok-li mati begitu dini dengan hati lega, sebab dia mempunya seorang murid baik sebagai nona." Kata berjawab, gayung bersambut, kontan Kwe Giok-he membalas ucapan orang dengan sama tajamnya, namun tetap ramah tamah dan tersenyum manis.
Air muka Yap Man-jing tampak berubah juga, ia mendengus terus hendak melangkah pergi. Dengan tersenyum Kwe Giok-he memandang bayangan punggung orang, agaknya dia merasa senang karena dapat mengalahkan orang dengan perang lidah.
Siapa tahu mendadak Liong Po-si menghela nafas dan memandangnya dengan sorot mata buram, ucapnya, "Alangkah baiknya bila mana anak hui memiliki setengah kecerdasanmu." Giok he mcununduk dengan tersenyum, tapi Liong Po-si lantas menambahkan, "Cuma sayang engkau terlampau pintar." Habis ini segera ia berteriak, "Tunggu dulu, nona Yap!" Sekali lagu Yap Man-jing berhenti, katanya tanpa menoleh, "Ikut pergi atau tidak terserah kepada keputusanmu, buat apa banyak bicara lagi." Liong Po-si berdehem, lalu berkata pula, "Selama hidup Yap Jiu-pek terkenal jujur, kuyakin anak muridnya pasti juga bukan manusia pengecut.
Selama hidupku tidak pernah gentar terhadap apapun, andaikan di sana terdapat sesuatu perangkap juga bukan soal bagiku." Mendadak Yap Man-jing berpaling, meski tetap dingin air mukanya, tapi tampak menampilkan rasa kagum dan hormat.
"Hanya saja pedangku ini sudah mendampingiku selama beberapa puluh tahun, meski bukan senjata wasiat segala, namun juga pernah banyak mengalahkan berbagai tokoh ternama dunia persilatan," demikian Liong Po-si bicara lebih lanjut dengan bangga dan juga setengah terharu.
"Maka bila mana hari ini aku tidak dapat pulang dengan hidup, kuharap nona dapat menyerahkan kembali pedangku ini kepada muridku Lamkiong Peng." Suaranya yang kereng kini telah berubah menjadi rasa duka dan sedih, suara duka demikian belum pernah di dengar oleh anak muridnya, sampai si pemuda lembut Lamkiong Peng juga tercengang.
"Dan bila aku yang tidak kembali dengan hidup, kuharap juga kauserahkan pedangku Liongim (ringkik naga suara malaikat) ini kepada mereka," tiba-tiba si nona cantik Yap Man-jing juga meninggalkan pesan sambil menunjuk keempat perempuan berbaju hijau tadi.
"Baik" sahut Liong Po-si. Serentak Yap Man-jing melangkah ke sana sambil berkata, "Ayo berangkat!" Sekilas ia lirik lagi Lamkiong Peng sekejap.
Tanpa ragu lagi Liong Po-si lantas ikut berangkat. Tapi baru saja lewat di samping Lamkiong Peng, mendadak ia menyurut mundur lagi selangkah dan menepuk pundak anak muda itu, seperti mau bicara tapi urung.
Ia cuma tersenyum saja, lalu menghela nafas pelahan, ketika dia melangkah ke depan lagi, dalam sekejap lantas menghilang di balik gumpalan awan.
Meski bayangan sang guru sudah menghilang, Lamkiong Peng masih berdiri mematung sambil memandangi awan yang mengambang di udara itu, meski wajahnya kaku dingin, namu sorot matanya memancarkan perasaan hangat.
Terdengar Kwe Giok-he yang berdiri di belakangnya lagi bergumam, "Yapsiangjiu-loh....Liongim....Tak tersangka antara suhu dan Tan Hong, Yap Jiu-pek memang terjalin..." Tiba-tiba Liong Hui berdehem, katanya "Urusan pribadi suhu sebaiknya jangan dibicarakan." Dia mendekati Lamkiong Peng dan berdiri diam sejenak sambil mengelus janggut, lalu memutar balik dan berduduk di atas batu sana serta mengelamun memandangi awan yang mengapung di udara.