Chapter 05
Kwe Giok-he memandang Lamkiong Peng sejenak, lalu menggapai dan memanggil, "Kemari, Simoay!" Anak dara yang berdiri agak jauh itu mendekat dengan menunduk. Langkahnya ringan dan gesit, menunjukkan kemahirannya dalam kungfu. Namun, gerak-geriknya malu-malu seperti gadis pingitan, sama sekali tidak menunjukkan ciri khas murid Jiceng atau perkampungan Ji-hau yang disegani.
Sambil memainkan ujung bajunya seperti gadis pemalu, ia menyapa, "Ada apa, Toaso?" Giok-he tersenyum dan berkata, "Gote datang belakangan tapi menonjol paling atas sehingga mewarisi pusaka Yaploh dari suhu. Kau gembira atau tidak?" Anak dara yang memang pemalu itu semakin ragu. Wajahnya yang putih bersemu merah, dan kepalanya menunduk lebih rendah.
Pemuda kurus yang sejak tadi diam saja tiba-tiba menyela, "Bukan saja Simoay merasa gembira, aku juga sangat senang!" Dengan wajah berseri, Kwe Giok-he memandang mereka bergantian, lalu berkata, "Kalian sungguh dua sejoli yang setimpal, sampai hati kalian pun sama. Pantas orang Kangouw suka merangkai Ciok Tim dan So-so menjadi satu dan menyebut mereka sebagai Liongkiam (sepasang pedang keluarga Liong), cuma sayang..." Ia berhenti, berdehem pelahan, dan melirik Lamkiong Peng.
Ciok Tim, pemuda kurus itu, juga memandang Lamkiong Peng. Samar-samar, di antara alisnya terlihat rasa iri. Namun, dengan lantang ia berseru, "Tapi selanjutnya bila ditambah Gote, mungkin orang kangouw akan menyebut kami sebagai Liongkiam (tiga pedang keluarga Liong)!"
"Rupanya engkau belum tahu," kata Giok-he sambil tertawa. "Meskipun belum lama Gote masuk perguruan kita, keluarga Lamkiong dari daerah Kanglam terkenal sebagai keluarga hartawan. Maka, sudah lama orang Bulim sama memberi julukan kepada Gote sebagai Huliong (Si naga sakti kaya dan jaya)!"
"Toaso memang berpengetahuan luas," kata Ciok Tim sambil tertawa. "Saya sendiri jarang berkelana di dunia kangouw, pengetahuan saya kalau dibandingkan Toaso sungguh jauh berbeda." Tiba-tiba si brewok Liong-hui menyela, "Memang pernah kudengar disebutnya nama Huliong, tapi itu cuma sanjung puji dari kalangan piaukok (perusahaan pengawalan) yang memiliki hubungan erat dengan grup keluarga Lamkiong. Masa kau anggap sungguh-sungguh?"
"Baik, baik, kau lebih tahu dan aku tidak tahu," gerutu Giok-he sambil melotot. Mestinya Liong-hui hendak berbicara lagi, tetapi melihat air muka istrinya yang kurang senang, ia seketika mengurungkan niatnya.
Semua orang terdiam. Hanya angin berdesir dan dedaunan gemerisik. Awan yang mengambang di udara melayang ke sana kemari, serupa urusan dunia persilatan yang selalu berubah suka dukanya.
Cukup lama keempat perempuan berbaju hijau ringkas itu tetap berdiri di bawah pohon cemara. Sesekali mereka melirik ke arah murid Jiceng ini. Tampaknya mereka merasakan adanya pertentangan dan saling curiga di antara murid keluarga Liong. Oleh sebab itu, di antara kerlingan mereka terkadang terselip rasa menghina dan mencemoohkan.
Sudah cukup lama, mendadak Liong-hui bangkit dan memandang cuaca. Ucapnya dengan suara tertahan, "Rasanya kepergian Suhu sudah... sudah lebih setengah jam!"
Kwe Giok-he menjawab, "Engkau selalu tidak sabaran, pantas suhu tidak mau mewariskan Yaploh kepadamu. Coba kaulihat, sedikit pun Gote tidak kelihatan gelisah."
Mau tak mau berubah muka Liong Hui. Ucapnya tergagap, "Toh sesama saudara sendiri, diwariskan kepada... kepada siapa kan sama saja."
"Hm, tentu saja sama," cibir Giok-he.
Lamkiong Peng tampak adem ayem saja. Ia tersenyum dan mendekati Kwe Giok-he. Katanya sambil tersenyum, "Toaso, apakah kau tahu sebab apa aku tidak gelisah?" Meskipun ia berbicara sambil tersenyum, ucapannya tegas dan mantap.
Giok-he tersenyum dan menjawab, "O, dari... dari mana kutahu."
Mendadak Liong-hui menyela, "Masa kau tahu hati Gote tidak gelisah? Sebelum jelas kalah menang suhu, setiap orang pasti gelisah."
"Setiap orang memang gelisah, cuma aku saja tidak," ujar Lamkiong Peng. Seketika air muka Ciok Tim dan Liong-hui berubah. Kwe Giok-he mendengus, sedangkan Ong So-so, si anak dara, juga mengernyitkan dahi, memandang anak muda itu dengan heran.
Perlahan Lamkiong Peng menutur, "Sebabnya aku tidak gelisah adalah karena aku lebih daripada yakin bahwa suhu pasti takkan kalah!" Mendadak keempat perempuan berbaju hijau di bawah pohon itu sama mendengus dan melengos ke sana. Giok-he juga mendengus. Liong-hui lantas bertanya, "Berdasarkan apa kau berani memastikannya? Setelah tenaga dalam suhu susut sebanyak itu, sungguh hampir tidak ada kesempatan menang baginya. Apalagi Nona she Yap itu kelihatan sangat licin dan licik."
"Sebenarnya dalam menganalisis sesuatu urusan, Gote biasanya sangat meyakinkan. Tapi apa yang kau katakan tadi rasanya sukar dipercaya orang!" tukas Ciok Tim tiba-tiba. Ia selalu berbicara perlahan, setiap kalimat diucapkan secara teratur, seakan-akan khawatir salah ucap.
Dengan tersenyum, Lamkiong Peng menjawab, "Pukulanku tadi, selain berhasil menguji kebenaran keterangan nona she Yap itu dan memang tidak berdusta kepada suhu, juga dapat kuketahui gerak tubuh suhu jauh lebih cepat daripada nona itu." Ia berhenti sejenak, lalu menyambung perlahan, "Waktu itu kulancarkan serangan sekaligus kepada mereka berdua. Nona she Yap itu berdiri di sebelah kananku. Meskipun tangan kanannya memegang pedang, tapi tanpa bergeser ia dapat menangkis pukulanku dengan tangan kiri..." Dengan telapak tangan kiri ia memberi contoh, lalu menyambung, "Tapi waktu itu suhu berdiri di sebelah kiriku. Tangan kanan beliau juga memegang pedang. Waktu kupukul, dengan sendirinya beliau tidak dapat menangkis dengan pedang yang dipegangnya pada tangan kanan, sebab itulah beliau harus berputar untuk menangkis seranganku dengan tangan kiri."
Ia berbicara teratur dan jelas, sehingga tanpa terasa keempat perempuan berbaju hijau itu pun berpaling dan ikut mendengarkan dengan cermat. "Dalam keadaan begitu," demikian Lamkiong Peng menyambung, "gerak tangan suhu jelas lebih banyak satu kali dan pada waktu menangkis pukulanku seharusnya juga lebih lambat sejenak daripada nona she Yap itu. Namun, pada waktu empat tangan beradu, suara yang timbul terjadi berbareng tanpa ada perbedaan mana lebih dulu. Dari kejadian ini, bukankah terbukti gerak tangan suhu memang lebih cepat daripada nona Yap itu? Meskipun selisihnya tidak banyak, tapi pertarungan di antara jago kelas tinggi, selisih sedetik saja dapat menentukan kalah dan menang. Apalagi suhu sudah berpengalaman beratus kali bertempur, maka kubilang beliau tidak mungkin kalah."
Uraian Lamkiong Peng ini membuat si anak dara alias Ong So-so tersenyum cerah. Ciok Tim mengangguk-angguk. Kwe Giok-he bertopang dagu dan termenung. Malahan Liong-hui lantas bertepuk tangan sambil tertawa, "Haha, betul! Memang ditimbang dari sudut manapun, tidak mungkin suhu bisa kalah." Dengan telapak tangannya yang lebar ia menepuk pundak Lamkiong Peng dengan keras sambil berseru, "Gote, engkau memang hebat. Sekarang Toako juga tidak perlu cemas lagi."
Mendadak keempat perempuan berbaju hijau ringkas itu sama mendengus. Yang berdiri di ujung kiri lantas bertanya kepada teman di sebelahnya, "Lengcu, apakah kau cemas?" Lengcu menggeleng kepala dan ganti bertanya kepada kawan di sebelahnya lagi, "Apakah kau cemas, Watcu?"
"Aku juga tidak cemas!" jawab Watcu.
"Jika begitu, Ho Cu tentu juga tidak perlu cemas," ujar Lengcu.
"Aku memang tidak cemas sedikit pun," kata Ho Cu dengan tertawa. "Barangkali An Cu yang lagi cemas."
"Aku pun tidak cemas," kata An Cu yang berdiri di ujung kanan. "Tapi apa sebabnya aku tidak cemas, tidak dapat kuberitahukan kepada kalian."
Keempat orang itu lantas saling pandang, lalu sama mendekap mulut dan tertawa cekikikan. Dengan mendongkol, mendadak Liong Hui mencibir, "Hm, kalau tidak mengingat kalian ini orang perempuan, tentu akan kuberi hajar adat!" Serentak keempat perempuan itu berhenti tertawa. Kontan An Cu balas mencibir, "Hm, kalau tidak mengingat kau ini orang lelaki, pasti kuberi hajaran setimpal!"
Tidak kepalang gusar, Liong Hui sambil membentak mendadak ia membalik dan menghantam sepotong batu hijau di sebelahnya. "Blang!" Batu hancur dan kerikil berhamburan. Batu karang yang keras itu ternyata terpukul remuk.
"Hm, tenaga pukulan yang hebat!" cibir An Cu. Mendadak tangannya berputar. "Creng!" pedang dilolosnya. Di tengah berkelebatnya sinar pedang, ia terus melompat ke depan sepotong batu yang lain. Sekali menusuk, "Bles!" tahu-tahu ujung pedangnya telah ambles lebih satu kaki ke dalam batu, serupa bambu menancap di atas lumpur saja.
Selagi Liong Hui terkesiap, terdengar An Cu berkata dengan tertawa, "Hah, rupanya batu di sini sangat lunak!"
"Ilmu pedang hebat!" seru Kwe Giok-he tiba-tiba. Dengan tersenyum ia mendekati An Cu dan berucap, "Taci, bolehkah aku pun mencobanya?" An Cu tampak melengak. Sebelum ia menjawab, mendadak Kwe Giok-he turun tangan secepat kilat. Jari tangannya yang putih halus itu mengebas ke iga lawan. Karena terkejut, An Cu menggeser ke samping. Meski dapat menghindarkan serangan lawan, tapi pedang tidak sempat ditariknya kembali dan masih tertancap di dalam batu.
Dengan suara halus, Giok-he lantas berkata, "Terima kasih atas kemurahan hatimu. Setelah kucoba, segera kukembalikan!" Perlahan ia lantas menarik pedang itu dari jepitan batu. Dipandangnya pedang itu dengan cermat. Tampaknya ia lagi mengamati pedang yang dipegangnya, tapi sebenarnya sedang menyelami batu gunung itu. Sejenak kemudian ia tersenyum manis lagi. Perlahan ia mengangkat pedang ke atas, sekali berputar pedang lantas disarungkan ke depan. Kembali terdengar suara "bles", perlahan batang pedang amblas lagi ke dalam batu hampir separuh.