Halo!

Han Bu Kong - Chapter 06

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 06

Selagi keempat perempuan berbaju hijau itu terkesiap, dengan suara lembut Giok-he berkata pula, "Benar juga batu di sini sangat lunak seperti tahu!" Lalu pedang ditariknya kembali, perlahan ia mendekati Ancu dan mengembalikan pedang itu.

Air muka Ancu sebentar merah sebentar pucat, jantung pun berdetak, tanpa bicara ia terima kembali pedang itu dan melangkah ke tempat semula.

Dengan suara lembut Giok-he berkata pula, "Kuharap engkau jangan kesal, meski tusukan pedangku kelihatan jauh lebih dalam, padahal ilmu pedang dan tenagaku selisih tidak terlalu banyak daripadamu." Diam-diam ia bersyukur telah dapat mengelabui lawan dengan cara yang licik.

Kiranya pedang yang ditusukkannya itu tadi mengulangi lagi tempat yang ditusuk Ancu semula, jadi sesungguhnya dia cuma memperdalam sebagian tusukannya itu, namun kelihatannya menjadi amblas jauh lebih banyak daripada tusukan Ancu.

Dengan sendirinya Ancu tidak memperhatikan hal ini, dengan gemas ia kembali ke tempatnya tadi, mendadak ia berpaling dan mendengus, "Hm, mungkin betul kung fu-mu lebih tinggi daripadaku, tapi gurumu... Hm, kukira kalian tidak perlu lagi menunggunya." Serentak air muka Lamkiong Peng, Liong-hui, Kwe Giok-he, dan Ong So-so sama berubah.

"Apa katamu?" bentak Liong-hui sambil melompat maju.

Ancu seperti mau bicara lagi, tapi dia keburu ditarik mundur oleh ketiga orang kawannya.

Tiba-tiba Kwe Giok-he mendekati Ancu, ucapnya dengan tersenyum, "Orang suka sembarangan mengoceh kan pantas diberi hukuman, betul tidak?" Tanpa menghiraukan lagi apa reaksi lawan, secepat kilat jarinya menotok Kohcinghiat di bahu Ancu.

Seketika Ancu tercengang, seperti menyesal akan ucapannya tadi, maka totokan Giok-he seperti tidak dirasakannya.

Untungnya Watcu yang berada di sebelahnya, lantas menangkis totokan Giok-he, berbarengan ia balas mencengkeram pergelangan tangan lawan.

"Hm, berani kalian melawan diriku?" ucap Giok-he dengan tersenyum, ia tarik kembali tangannya, menyusul ia menotok lagi iga kanan Watcu.

Sembari mendorong ke samping Ancu yang masih berdiri tercengang, Watcu juga menggeser, menyusul terdengarlah suara "crang-creng" dua kali, sekaligus ia mencabut dua pedang terus balas menusuk pinggang Giok-he.

Karena didorong, Ancu tersadar, mendadak ia pun mencabut pedang dan melancarkan serangan gabungan.

"Berhenti!............Berhenti!............!" Liong Hui berteriak-teriak.

Siapa tahu, bukannya berhenti, sebaliknya Lengcu dan Hocu juga lantas ikut menerjang maju.

Liong Hui menjadi khawatir, serunya, "Selama hidupku tidak pernah bertarung dengan orang perempuan, mengapa kalian tidak lekas membantu Toaso!" Terpaksa Ong So-so melompat maju, seketika ia hantam Watcu sehingga pertarungan bertambah seru.

Perlahan Ciok Tim melangkah maju, ucapnya dengan kening berkerut, "Suhu melarang kita membawa pedang ke atas gunung, agaknya beliau tidak menghendaki kita main kekerasan, apabila nanti kita disalahkan beliau lantas bagaimana?" Liong Hui menjadi ragu, waktu ia pandang ke sana, terlihat sinar pedang bertaburan, Giok-he dan So-so berdua telah terkurung oleh barisan pedang keempat perempuan berbaju hijau, meski saat itu tidak sampai kalah, tapi jelas sukar memperoleh kemenangan.

"Bagaimana pendapatmu, Gote?" tanya Liong Hui kepada Lamkiong Peng.

Anak muda itu memandang sarung pedang hijau yang tergantung di pinggangnya dan menjawab, "Terserah kepada keputusan Toako." Alis Liong Hui berkerut rapat dan sukar mengambil keputusan.

Lamkiong Peng lantas berkata pula, "Jika kuduk kita terancam pedang orang, apakah kita pun tidak boleh turun tangan?" Mendadak Liong-hui berteriak, "Betul, ayo maju, Samte dan Gote!" Tapi belum lagi mereka bertindak, mendadak terdengar seorang mengejek di belakang mereka, "Empat lawan dua memang tidak pantas, jika lima lawan empat, rasanya juga kurang adil!

Tampaknya anak murid Tan Hong (burung hong cantik) dan Sin Liong sama suka main keroyok?" Cepat Lamkiong Peng berpaling, dilihatnya di samping peti mati sana entah sejak kapan telah berdiri seorang tojin (pendeta agama To atau Tao) dengan rambut disanggul tinggi di kepala, dahi lebar dan pipi kempot dengan sinar mata setajam mata elang, tubuhnya yang tinggi dan sangat kurus mengenakan jubah pertapaan berwarna hijau tua.

Meski ejekannya terdengar tidak keras, tapi seketika membuat Kwe Giok-he di satu pihak dan para perempuan berbaju hijau di lain pihak sama berhenti bertempur.

"Siapa kau?" segera Liong Hui membentak.

"Siapa aku? Em, sampai aku saja tidak kau kenal?" ejek sang tojin bersanggul tinggi itu sembari mendekati peti mati dengan perlahan.

Kedua lelaki penggotong peti sejak tadi berdiri diam saja, mendadak mereka membentak dan mengadang di depan sang tojin.

Dalam pada itu terdengar kesiur angin lewat, Lamkiong Peng memburu maju untuk menjaga peti.

Tojin itu mendengus dan berhenti melangkah, ia mengamat-amati Lamkiong Peng beberapa kejap, lalu menegur, "Kau mau apa?" "Dan kau mau apa?" ejek Lamkiong Peng dengan sama ketusnya.

"Haha, bagus, bagus!" mendadak tojin itu terkekeh dan berputar ke depan Liong Hui, lalu bertanya, "Janji pertemuan gurumu dan Yap Jiu-pek sepuluh tahun yang lalu apakah sudah diselesaikannya?" Liong Hui jadi tercengang, jawabnya, "Dari... dari mana kau tahu?" "Hahaha, masakah urusan gurumu aku tidak tahu?" seru sang tojin dengan gelak tertawa, lalu ia menyapu pandang sekeliling situ dan bertanya pula, "Ke mana perginya mereka berdua?" "Peduli apa denganmu?" jawab Liong-hui dengan kurang senang.

"Hehe, bagus, bagus!" tojin itu terkekeh pula, lalu berputar ke depan Ciok Tim dan bertanya, "Siapa yang kalah dan siapa yang menang?" "Tidak tahu!" jawab Ciok Tim perlahan.

Kembali sang tojin itu terkekeh dan menggeser ke depan keempat perempuan berbaju hijau, lalu bertanya, "Apakah akhirnya Yap Jiu-pek dapat mengalahkan Putliong?" Keempat perempuan itu saling pandang sekejap, tapi Kwe Giok-he lantas mengikik tawa.

Serentak sang tojin membalik tubuh dan menegur, "Apa yang kau tertawakan?" "Kutertawa geli karena akhirnya Yap Jiu-pek telah mendahului guruku lebih cepat satu langkah!" sahut Giok-he dengan tersenyum.

"Mendahului apa?" tanya sang tojin.

"Akhirnya dia mati lebih dahulu daripada guruku!" jawab Giok-he.

Tergetar hati sang tojin, seketika ia tercengang, sejenak kemudian barulah ia berucap dengan lemas, "Jadi... jadi Yap Jiu-pek sudah... sudah mati?" "Ya," jawab Giok-he.

Mendadak sang tojin menghela napas panjang, katanya kemudian, "Tak disangka ucapan Thian-ah Tojin sebelum ajalnya pada 20 tahun yang lalu ternyata sangat tepat." "Ucapan apa?" tanya Liong Hui.

"Sin Liong pasti menangkan Tan Hong..." kata sang tojin dengan menunduk.

Mendadak Ancu, salah seorang perempuan berbaju hijau itu mendengus, "Hm, meski Nona Yap sudah meninggal, tapi Putliong juga tidak pernah menang." Sang tojin menengadah, semangatnya tampak terbangkit, serunya, "Put-si-Sinliong tidak pernah menang?...........Memangnya mereka telah gugur bersama!"

"Ken... Omong kosong!" damprat Liong Hui.

Dengan tajam sang tojin menatap Liong Hui dan bertanya sekata demi sekata, "Kau mau bilang ken...apa?" "Kentut!" teriak Liong Hui.

Mendadak sang tojin mencabut pedang yang tergantung di pinggangnya, tapi baru tercabut setengah lantas dilepaskan kembali, ucapnya, "Meski engkau kurang sopan, tidak boleh aku meniru perbuatanmu." Lalu ia bergelak tertawa.

"Hm, memang ada sementara orang tidak sudi bertarung dengan kaum muda, akan tetapi... saat ini Putliong justru sedang bertanding dengan murid Nona Yap," demikian ejek Ancu.

"Kau bilang Putliong bertanding dengan kaum muda?" sang tojin menanyakan dengan heran.

"Betul," jawab Ancu tegas.

Segera Liong Hui berteriak, "Biarpun guruku bertarung dengan murid Yap Jiu-pek, namun lebih dulu beliau telah menotok beberapa hiat-to tertentu, sehingga tenaganya telah susut tujuh bagian, tindakan beliau yang luhur dan jujur ini mungkin jarang ada di dunia ini!" Gemerlap sinar mata sang tojin, sambil mengelus jenggotnya yang sudah kelabu ia tersenyum, gumamnya, "Dia ternyata menyusutkan tenaga sendiri untuk bertarung dengan orang..." "Ya walaupun begitu beliau tetap akan menang!" seru Liong Hui.

"Apa betul?" ucap sang tojin perlahan.

"Tentu saja..." teriak Liong Hui pula dan mendadak suaranya berubah lemah, "...betul." Padahal dia tidak yakin akan ucapannya itu, dan sesungguhnya dia sedang khawatir.

Tojin memandangnya dua tiga kejap, lalu melirik Lamkiong Peng yang berdiri di samping peti mati, katanya kemudian, "Sesungguhnya siapa di antara kalian yang menjadi murid utama Putliong?" "Peduli apa denganmu!" jawab Liong Hui dengan kurang senang.

"Ah agaknya dirimu inilah!" kata sang tojin dengan tersenyum.

"Memangnya mau apa jika betul!?" ejek Liong Hui.

Mendadak tojin itu menuding sarung pedang hijau di pinggang Lamkiong Peng dan bertanya, "Jika benar engkau Ciangbun-teecu (murid pewaris ketua) Jihausan-ceng, mengapa pedang Yap Loh itu berada padanya?" Pertanyaan sang tojin membuat Liong Hui tercengang, ia pandang Lamkiong Peng sekejap lalu berpaling kembali dan menjawab, "Tidak perlu kau ikut campur!"

Tojin itu mendengus, "Hm, jika hari ini gurumu kalah dan tidak kembali lagi, apakah kau tahu siapa yang akan menjadi kepala Jiceng yang disegani di dunia persilatan itu?" Liong Hui berdiri tegak tanpa menjawab, sampai sekian lama mendadak ia membentak, "Siapa bilang Suhuku tidak akan kembali lagi? Siapa yang mampu mengalahkan beliau? Putliong selamanya tak termatikan!" Suaranya yang nyaring berkumandang jauh dan menimbulkan gema bersahut-sahutan dari empat penjuru lembah gunung.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment