Halo!

Han Bu Kong - Chapter 07

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 07

Mendadak terdengar seseorang mengejek dengan suara tajam, "Siapa bilang di dunia ini tidak ada yang mampu mengalahkan Put Liong? Siapa yang bilang Put Liong tak bisa mati!" Hati Lamkiong Peng, Liong Hui, dan yang lainnya tergetar. Mereka segera berpaling ke arah suara itu. Dari balik kabut, muncul sesosok bayangan yang akhirnya terlihat jelas sebagai Yap Man-jing. Bajunya berkibar tertiup angin, laksana dewi kayangan yang turun dari langit.

Pada kedua tangannya, ia memegang dua batang pedang yang bersinar kilap. Sebatang di antaranya bercahaya hijau kemilau, yang segera mereka kenali sebagai pedang hijau Yap Loh. Selama berpuluh tahun, pedang itu tak pernah berpisah dengan Put Liong, sang Liong Po-si.

Seketika Liong Hui melotot, rambut dan jenggotnya seakan-akan berdiri. Dengan beringas, ia memburu ke depan Yap Man-jing dan membentak, "Bagaimana dengan Suhuku? Di mana Suhuku?"

"Di mana gurumu saat ini, tentu kau tahu sendiri. Apakah perlu bertanya lagi?" jawab Yap Man-jing ketus.

Tubuh Liong Hui terasa lemas dan hampir saja tidak sanggup berdiri tegak. Air muka Lamkiong Peng mendadak berubah pucat pasi seperti mayat. Ciok Tim juga merasa seolah dadanya digodam, sekujur badannya serasa kaku. Bahkan ketika Ong So-so yang berdiri di sampingnya menjerit pelan lalu jatuh pingsan, ia tidak menyadarinya. Kwe Giok-he juga terperanjat dan gemetar.

Sementara itu, keempat perempuan berbaju hijau tadi terus berlari menyongsong kedatangan Yap Man-jing. Sambil meraba pedangnya, si Tojin tadi bergumam, "Akhirnya Put Si Sin Liong mati juga? Ah, akhirnya dia mati juga!" Suaranya kian lama kian lemah, entah menyatakan penyesalan atau rasa syukur, gembira atau berduka. Dengan sorot mata yang tajam, Yap Man-jing mengawasi mereka dengan tenang.

Mendadak Liong Hui berteriak, "Engkau yang membunuh guruku, bayar jiwa guruku!" Seperti kerbau gila, ia terus menerjang ke depan. Serentak Ciok Tim dan Kwe Giok-he juga memburu maju. Sedangkan Lamkiong Peng baru maju selangkah lantas menyurut mundur. Ia kembali ke samping peti mati sambil memandang sekejap ke arah si Tojin; tanpa terasa air matanya menitik.

Dalam pada itu, Liong Hui sudah menerjang ke depan Yap Man-jing. Sebelah tangannya mencengkeram wajah si nona, sementara tangan lainnya meraih pedang hijau yang dipegangnya. Terdengar Yap Man-jing tertawa dingin. Segera Liong Hui merasakan pandangannya silau oleh sinar pedang. Tahu-tahu keempat perempuan berbaju hijau telah memutar pedang masing-masing dan menghadang di depannya, membentuk selapis dinding sinar pedang.

Yap Man-jing sendiri menyurut mundur. Ia memindahkan pedang hijau ke tangan kanan, lalu mendadak membentak, "Kim Thian!" Bersamaan dengan itu, ia mengeluarkan benda emas dan diacungkannya ke atas. Ternyata benda itu adalah sebilah belati bertangkai ukiran naga yang terbuat dari emas.

Perlahan ia menurunkan belati naga emas itu sebatas hidung, lalu membentak lagi, "Kawanan naga hendaknya menerima perintah!"

Melihat belati emas itu, air muka Liong Hui berubah pucat lagi. Ia berdiri terkesima dengan pikiran kacau, merasa bingung oleh apa yang terjadi. Sinar mata si Tojin tadi tampak berkedip. Kembali ia bergumam, "Kim Liong Bit Leng kembali muncul lagi di dunia persilatan. Hehe!"

Mendadak terlihat Liong Hui melangkah mundur dua-tiga tindak, lalu bertekuk lutut dan menyembah. Meski wajahnya menampilkan rasa gusar dan gemas, itu merupakan tanda bahwa ia menyembah bukan karena sukarela, melainkan terpaksa. Yap Man-jing tertawa dingin kembali, dan keempat perempuan berbaju hijau lantas menarik pedang mereka.

Lalu Yap Man-jing menggeser maju melewati keempat perempuan berbaju hijau. Setiap langkahnya disertai ketukan pedang yang dipegangnya sehingga menimbulkan suara "tring" yang nyaring, memecah suasana mencekam ini.

Kwe Giok-he mendekati Liong Hui dan berkata dengan suara tertahan, "Meski Kim Leng berada padanya, tapi..."

Pandangan Yap Man-jing beralih kepada Kwe Giok-he. Mendadak ia membalik belati emas itu ke bawah dan mendengus, "Hm, apakah kau tidak mau tunduk?"

Giok-he memandang belati yang dipegang Yap Man-jing lalu menjawab tenang, "Kalau tunduk bagaimana, bila tidak tunduk bagaimana pula?"

Berubah lagi air muka Liong Hui yang masih berlutut. Ia menoleh memandang istrinya sekejap, lalu berucap dengan nada gemetar, "Moaycu, mana... mana boleh?"

Mendadak alis Kwe Giok-he berdiri, ia berteriak, "Dia telah membunuh guru kita dan mencuri benda pusaka beliau! Apakah kita masih harus tunduk kepada perintahnya?"

Saat itu Ciok Tim baru saja mengangkat Ong So-so yang pingsan. Mendadak terlihat bayangan orang berkelebat, tahu-tahu Giok-he sudah berada di depannya dan bertanya, "Samte dan Simoay, bagaimana dengan kalian? Apakah kita harus tunduk kepada perintahnya?"

Ciok Tim melirik sekejap ke arah belati emas yang dipegang Yap Man-jing, lalu menunduk diam tanpa menjawab. Giok-he lantas mendekati Lamkiong Peng dan bertanya dengan suara gemetar, "Gote, biasanya engkau paling bisa berpikir. Meski Kim Leng merupakan pusaka tanda kebesaran Ji Ceng kita, dalam keadaan demikian apakah kita masih harus tunduk?"

Dengan wajah dingin, Lamkiong Peng memandang sekejap ke arah Yap Man-jing. Sejak tadi Yap Man-jing mengawasi Kwe Giok-he, tiba-tiba ia mendengus, "Hm, Kim Leng sudah muncul dan kalian berani membangkang? Apakah karena Put Liong baru saja mati lantas kalian melupakan sumpah saat mengangkat guru padanya?"

Rambut Giok-he agak kusut, butiran keringat menghiasi dahinya. Biasanya ia banyak akal dan periang, mampu menyelesaikan urusan genting dengan senda gurau. Namun sekarang ia kelihatan gugup dan bingung. Agaknya ia menduga perintah yang akan diucapkan Yap Man-jing tidak akan menguntungkannya.

Liong Hui memandang sekejap lagi kepada istrinya, lalu menghela napas panjang dan berkata, "Jika Kim Leng sudah berada di tanganmu, apa pula yang dapat kukatakan."

"Bagus jika engkau belum lupa pada ajaran gurumu!" ejek Man-jing.

"Hanya kenal pada Leng dan tidak kenal orang?" ucap Liong Hui dengan lesu. Mendadak ia menengadah dan membentak, "Tapi telah kau bunuh guruku! Aku..." Sampai di sini suaranya tersendat penuh emosi, sukar baginya meneruskan ucapan.

Lamkiong Peng tetap tenang, katanya kemudian, "Aku tahu, biarpun Kim Liong Bit Leng berada padamu, pasti ada persoalan yang belum diketahui di balik urusan ini. Jika tidak, tanda perintah ini pasti sudah dimusnahkan oleh Suhu dan tidak mungkin dibiarkan jatuh ke tanganmu. Apa pun itu, cobalah uraikan dulu pesan beliau yang akan kau sampaikan kepada kami."

Yap Man-jing menghela napas panjang. "Nyata, hanya engkau yang dapat menyelami jalan pikiran Put Liong."

Mendadak Kwe Giok-he membentak, "Tapi pesan lisan tidak ada bukti! Bagaimana kami dapat membedakan benar atau tidaknya pesan itu? Samte, Simoay, perempuan ini telah membunuh Suhu! Jika kita tidak menuntut balas, apakah kita masih terhitung manusia?"

Seketika Ciok Tim mengangkat kepala dengan mata melotot sambil mengepal erat kedua tinjunya.

Tiba-tiba Yap Man-jing mengejek, "Hm, kau bilang pesan lisan tanpa bukti?" Ia lantas menggigit belati emas dengan mulut, lalu mengeluarkan sehelai kertas yang terlipat rapi. Dengan satu jentikan jari, kertas itu disambitkan ke depan Liong Hui.

Segera Giok-he memburu maju sambil membentak, "Coba kulihat!"

Selagi ia hendak menjemput surat itu, sekonyong-konyong bagian iganya terasa kesemutan. Rupanya Yap Man-jing telah bertindak; dengan ujung belati emas ia mengancam iga Giok-he dan membentak, "Kau mau apa?"

"Sebagai muridnya, masakah aku tidak boleh membaca surat wasiat guru sendiri?" teriak Giok-he. Meski mulutnya membantah, tubuhnya tidak berani bergerak sama sekali.

"Mundur dulu ke sana!" bentak Man-jing.

"Kau ini siapa, berani memerintah diriku!" jawab Giok-he gusar. Namun segera dirasakannya setengah badannya kaku kesemutan, sehingga tanpa terasa ia menyurut mundur ke belakang Liong Hui. Karena perhatiannya terpusat pada surat wasiat gurunya, ia agak lengah dan dapat diatasi oleh Yap Man-jing. Sungguh besar rasa gusar dan dongkol Giok-he; bibirnya sampai gemetar dan ia sukar bicara lagi.

Liong Hui sangat sayang kepada istrinya. Ia segera bangkit dan memegang tangannya yang terasa sangat dingin, lalu bertanya dengan kuatir, "Bagaimana, Moaycu? Engkau tidak apa-apa?"

Tersembul senyuman terhibur di bibir Kwe Giok-he. Sahutnya, "Aku... aku tidak apa-apa!" Mendadak ia membisiki Liong Hui dengan suara tertahan, "Lekas kau baca surat wasiat itu. Bila isinya tidak menguntungkan kita, sebaiknya jangan kau baca dengan suara keras!"

Liong Hui tertegun. Ia memandang istrinya dengan bingung; agaknya baru sekarang ia dapat memahami jalan pikiran istrinya itu.

Didengarnya Yap Man-jing kembali mengejek, "Hm, pesan peninggalan guru tidak lekas dibaca, malah sibuk menghibur istri yang sok aksi, huh?"

Muka Liong Hui menjadi merah. Perlahan ia membalikkan tubuh untuk mengambil surat wasiat itu. Siapa tahu, pedang Yap Man-jing menyambar dari samping. Dengan ujung pedang hijau Yap Loh, ia mencungkit surat tersebut.

"Apa maksudmu ini?" hardik Liong Hui dengan tidak senang.

"Kau kelihatan enggan membaca surat ini, biarkan orang lain saja yang membacanya," ejek Man-jing. Sorot matanya berputar, memandang setiap orang secara bergiliran, tampak sedang mencari calon untuk membaca surat wasiat tersebut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment