Halo!

Han Bu Kong - Chapter 08

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 08

Tiba-tiba ia mendekati Ong So-so dan berkata, "Ambil surat ini dan bacalah dengan suara keras supaya didengar semua orang!" So-so baru saja siuman dari pingsannya, mukanya masih pucat. Ia mencoba melirik Giok-he sejenak, lalu bertanya, "Kenapa kau suruh kubaca pesan tinggalan Suhu?" Sembari bicara, ia tidak urung mengambil surat yang tersampir di ujung pedang orang itu. Setelah ragu sejenak lagi, ia memandang Ciok Tim, lalu memandang pula Lamkiong Peng, akhirnya dia membentangkan kertas surat itu.

"Baca dengan suara keras, satu kata pun tidak boleh ketinggalan, baca selengkapnya!" seru Yap Man-jing.

Giok-he dan Liong Hui saling pandang sejenak. Ia merasakan tangan sang istri sedingin es, ia menghela napas dan menghiburnya, "Segalanya terserah pada takdir, buat apa engkau cemas." Giok-he memejamkan mata, dua titik air mata lantas menetes.

Liong Hui menggenggam tangan istrinya dengan erat.

Didengarnya So-so telah mulai membaca.

"Janji pertarunganku dengan Yap Jiu-pek sudah dilakukan sejak sepuluh tahun yang lalu. Yang menang tetap hidup, yang kalah harus mati. Apa pun yang terjadi takkan disesalkan pihak mana pun, juga takkan benci dan dendam. Jika aku kalah dan mati, ini pun kulakukan dengan sukarela. Setiap anak muridku dilarang menuntut balas terhadap anak murid Tan-hong. Yang melanggar pesan ini bukanlah muridku, pemegang Kimleng berhak memecatnya dari perguruan." Mungkin karena tegang dan juga emosional, meski sedapatnya ia menenangkan diri, suara So-so tetap agak bergetar.

Sampai di sini ia berganti napas, setelah agak tenang barulah ia membaca lebih lanjut.

"Di antara anak muridku, anak Hui adalah yang pertama masuk perguruan. Ia juga terhitung sebagai keponakanku sendiri, jujur dan lugas, sangat kusayang. Hanya saja pribadinya teramat lugu dan kaku, mudah menerima hasutan. Inilah kekurangannya sehingga sukar mengemban pekerjaan besar dan tidak dapat menghasilkan sesuatu." Sampai di sini So-so berhenti sejenak sambil melirik Liong Hui.

Liong Hui tampak menunduk kikuk.

Segera So-so menyambung lagi, "Adapun pribadi anak Tim cukup kuat, tegas, dan bijaksana. So-so halus budi dan lemah lembut?" Karena menyangkut diri sendiri, muka So-so menjadi merah. Ia membetulkan rambutnya yang kusut, lalu menyambung, "Hanya anak Peng saja berasal dari keluarga ternama, sejak kecil mendapat didikan ketat, tidak ada sifat dugal atau nakal. Terlebih pembawaannya pendiam dan tidak suka menonjol, malahan bakatnya sangat tinggi, maka kuputuskan?" Sampai di sini mendadak terdengar Kwe Giok-he menangis sedih.

Liong Hui menghela napas dan merangkulnya perlahan. Terdengar Giok-he berkeluh, "Oh... sudah banyak yang kukerjakan bagi Cihausan-ceng, tetapi... tetapi beliau sama sekali tidak menyinggung diriku di dalam pesan ini."

"Sabarlah, Moaycu, mengapa hari ini engkau berubah menjadi begini!" ucap Liong Hui dengan kening berkerut.

Giok-he mengangkat kepala, mukanya penuh air mata, katanya, "Sungguh hatiku sangat sedih. Sudah... sudah sekian tahun kukerja keras bagi Suhu, tetapi... tetapi apa yang kita peroleh?" Mendadak Yap Man-jing mendengus dan memalingkan muka, seolah tidak sudi melihatnya.

Namun, dia tetap berjaga di samping So-so.

Sesudah termangu sejenak, lalu So-so membaca lagi, "Maka sudah kuputuskan menyerahkan Yaploh yang sudah berpuluh tahun tidak pernah berpisah denganku ini serta tugas menjaga peti wasiat kepada anak Peng. Tugas ini harus dilaksanakan hingga tuntas, peti rusak orang pun binasa." Berkerut juga kening So-so, agaknya dia tidak paham arti kalimat terakhir itu. Ia termenung sejenak dan mengulang lagi kalimat itu, "Peti rusak orang pun binasa!"

Kemudian ia melanjutkan, "Selama hidupku ada tiga cita-citaku yang belum terlaksana. Semua ini juga harus dilaksanakan oleh anak Peng. Ketiga urusan ini sudah kuberitahukan kepada Nona Yap Man-jing." Kembali So-so berhenti, sinar mata Ciok Tim tampak berbinar.

So-so lantas melanjutkan, "Selama beberapa puluh tahun aku berkecimpung di dunia kangouw, tidak bisa terhindar dari lumuran darah kedua tanganku. Namun, bila kuraba hati dan bertanya pada diri sendiri, rasanya aku tidak pernah berbuat sesuatu yang melanggar keadilan dan kemanusiaan. Selanjutnya aku tidak mampu mengikuti kejadian duniawi lagi, Ji-hau-sanceng yang kudirikan ini seterusnya kuserahkan kepada..." Mendadak So-so berhenti pula sambil menarik napas dalam-dalam, air mukanya kelihatan terheran-heran.

"Serahkan kepada siapa? Lanjutkan!" seru Yap Man-jing dengan tidak sabar.

Bola mata Ong So-so berputar, tanyanya lirih, "Memangnya surat ini belum kau baca?" Alis Yap Man-jing terangkat, katanya lantang, "Memangnya kau kira anak murid Tan-hong adalah manusia rendah begitu?" So-so menghela napas hampa, katanya, "Oh, tadinya kukira surat ini sudah kau baca. Karena menguntungkanmu, tentu saja kau serahkan kepada kami. Jika isinya tidak menguntungkanmu, tentu takkan kau serahkan kepada kami." Nadanya jelas penuh rasa kagum dan hormat kepada orang tersebut, juga penuh rasa kasih sayang dan kelembutan.

Setiap gerak-gerik So-so memang muncul sewajarnya dan setulusnya, sehingga siapa pun tidak tega menyusahkan dia.

Tangis Giok-he mulai reda, tiba-tiba ia menengadah dan bertanya, "Apakah betul surat itu tulisan tangan Suhu?" So-so mengangguk perlahan.

Giok-he mengusap air matanya dan berkata pula, "Kau kenal tulisan pribadi Suhu?" "Akhir-akhir ini Suhu sering berlatih menulis," tutur So-so perlahan, "dan akulah yang selalu meladeni beliau dengan mengasahkan bak tinta untuknya." Sampai di sini, dua titik air mata lantas menetes, rupanya dia terkenang kepada sang guru yang berbudi itu.

Ketika dia hendak menyeka air matanya, tiba-tiba pundaknya ditepuk orang perlahan. Ternyata Yap Man-jing telah menyodorkan saputangan kepadanya.

Giok-he terdiam sejenak, kemudian ia tanya, "Lantas bagaimana, Suhu menyerahkan pengurusan Ciceng kepada siapa?" So-so mengusap air matanya, lalu mengembalikan saputangan kepada Yap Man-jing dengan senyum terima kasih. Ia membetulkan kertas surat yang dipegangnya, lalu membaca lagi, "Ciceng seterusnya kuserahkan kepada anak Hui dan Giok-he suami-istri!" Serentak Giok-he berdiri tegak dan memandang langit yang biru kelam. Ia termangu-mangu sekian lama, air mukanya tampak malu dan menyesal.

Liong Hui berdehem perlahan, ucapnya lirih, "Moaycu, betapa pun Suhu ternyata tidak melupakan dirimu!" "Oh, Suhu..." mendadak Giok-he berseru dan menjatuhkan diri ke dalam pelukan sang suami dan kembali menangis.

Kembali Yap Man-jing mengejeknya lagi dengan hina, "Hmm, baru sekarang kau ingat kepada Suhu dan baru berduka baginya!" Tangis Giok-he tambah keras, sedangkan Liong Hui menunduk diam.

Terdengar So-so membaca lagi, "Ciceng adalah hasil usaha selama hidupku. Tanpa orang jujur dan lugas seperti anak Hui, tentu takkan mampu mengerahkan para pahlawan sedunia. Tanpa kecerdasan dan kepintaran Giok-he untuk membantu kekurangan anak Hui, tentu juga Ciceng sukar berdiri tegak abadi." Lamkiong Peng menghela napas, agaknya dia sangat kagum dan bersyukur terhadap pembagian tugas dan kewajiban dalam pesan sang guru.

Ketika ia memandang ke sana, terlihat Ong So-so lagi memandang surat yang dipegangnya dengan terkesima dan tidak membaca lebih lanjut.

Ciok Tim juga memandang ke sana, mendadak terlihat rasa girangnya. Serunya, "Simoay, kenapa tidak kau lanjutkan membaca!" "Aku... aku...." mendadak So-so menunduk dengan muka merah, tetapi air mata lantas berlinang.

"Pesan Suhu, masakah tidak kau baca lebih lanjut?" ujar Ciok Tim. Dia hanya memerhatikan surat wasiat itu, sikap So-so yang malu dan juga kecewa tidak dilihatnya.

Perlahan So-so mengusap air mata, lalu membaca lagi, "Kimleng adalah pusaka tertinggi perguruan kita. Selanjutnya kuserahkan kepada anak Tim dan... dan So-so untuk dipegang bersama. Dengan ketulusan anak Tim dan kepolosan So-so, kuyakin mereka takkan sembarangan menyalahgunakan benda pusaka ini. Dengan Liongkiam, gabungan kedua pedang ini pasti takkan membuat nama perguruan kehilangan wibawa. Segala urusan penting perkampungan sudah teratur dengan baik. Untuk ini, anak Peng tidak perlu resah. Sesudah pulang dan berbenah seperlunya, tiga bulan kemudian boleh menemui Nona Yap Man-jing di puncak Hoa-san untuk bersama-sama menyelesaikan tiga cita-citaku yang belum terlaksana itu, tetapi juga jangan jauh meninggalkan peti sakti tinggalanku. Ingat dengan baik." So-so membaca semakin cepat, rasa kecewa pada wajahnya juga semakin kentara.

Sementara itu, tangis Giok-he sudah reda. Ia menghela napas perlahan dan membisiki Liong Hui, "Segalanya cukup diketahui oleh Suhu, hanya perasaan Simoay saja tidak diketahuinya." "Perasaan apa?" tanya Liong Hui keheranan.

"Simoay lebih suka berkelana di dunia kangouw bersama Gote daripada bersama Samte memegang Bit-leng, tanda kekuasaan perguruan kita," tutur Giok-he.

"Oh, tampaknya engkau serba tahu," ujar Liong Hui.

Dalam pada itu So-so telah membaca lagi, "Selama hidupku, ke atas tidak bersalah kepada Thian, ke bawah tidak malu terhadap sesamanya. Biarpun mati, di alam baka pun dapatlah kututup mata dengan tertawa." Ketika mengakhiri isi surat wasiat ini, suara So-so menjadi tersendat. Perlahan ia melipat surat itu. Terlihat Yap Man-jing telah menyodorkan belati naga emas kepadanya sambil berpesan, "Jagalah dengan baik!" "Terima kasih," jawab So-so lirih.

Man-jing tersenyum.

Tiba-tiba So-so menambahkan perlahan, "Hendaknya selanjutnya kau pun dapat menjaga dia dengan baik." Dengan mata merah basah, So-so lantas menyingkir.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment