Chapter 09
Keruan Yap Man-jing tertegun, sejenak ia berdiri termenung, lalu mendekati Lamkiong Peng. Tanpa bicara, ia tancapkan pedang Yaploh di depan anak muda itu dan berucap dingin, "Pada tangkai pedang terdapat lagi sepucuk surat rahasia, boleh kau ambil dan dibaca sendiri!" Lalu ia berbalik dan pergi.
Sebelum So-so selesai membaca surat wasiat Putliong, Lamkiong Peng sudah tenggelam dalam lamunannya. Setelah mendengar ucapan Yap Man-jing, ia segera mencabut pedang dengan kening berkerut dan tetap merasa bimbang.
Ketika bayangan Yap Man-jing hampir menghilang, ia mendadak berteriak, "Nanti dulu, Nona Yap!" Segera ia melayang ke sana.
Man-jing berpaling dan berkata ketus, "Ada apa? Memangnya hendak kau bunuh diriku untuk membalas dendam bagi gurumu?" Wajah Lamkiong Peng yang selalu tenang menjadi agak emosi. Ia berkata dengan suara berat, "Betulkah guruku belum meninggal? Di mana sekarang beliau berada?" Tubuh Yap Man-jing seperti sedikit tergetar, tetapi cepat ia menenangkan diri dan menjawab, "Jika Putliong belum mati, mengapa dia tidak pulang ke sini?" "Untuk ini perlu ditanyakan padamu," jengek Lamkiong Peng.
"Kenapa tidak kau tanya dulu kepada dirimu sendiri?" sahut Man-jing lebih ketus. Tanpa menoleh lagi, ia memberi tanda kepada keempat perempuan pengiringnya dan berkata, "Berangkat!" Hanya sekejap, lima sosok bayangan menghilang di bawah sana.
Liong Hui, Giok-he, Ciok Tim, dan So-so lantas mendekati Lamkiong Peng. Bersamaan, mereka bertanya, "Mengapa engkau bilang suhu mungkin belum meninggal?" Dengan kening berkerut, Lamkiong Peng berkata, "Jika suhu sudah meninggal, mengapa beliau meninggalkan kata-kata seperti 'bila kalah dan mati' dan 'bilamana aku mati' dan sebagainya. Apalagi kalau suhu benar gugur dalam pertandingan tadi, dengan watak beliau yang keras, mana mungkin ditinggalkannya pesan yang ditulisnya sejelas dan selengkap ini?"
So-so segera menambahi, "Ya, tulisan beliau juga sangat rajin dan teratur, serupa waktu beliau berlatih menulis indah biasanya." "Nah, kan tambah jelas lagi," ujar Lamkiong Peng dengan mata menerawang, "Dalam keadaan begitu, umpama suhu tidak langsung dicederai lawan, pasti juga tidak mungkin meninggalkan surat wasiat serapi ini. Kuyakin di balik urusan ini pasti ada sesuatu yang tidak beres...." Ia berhenti sejenak, sorot matanya mendadak berubah muram, katanya pula dengan menyesal, "Akan tetapi, jika beliau belum meninggal, mengapa beliau tidak kembali ke sini?" Semua orang saling pandang dan tidak bisa memberi komentar.
Kedua lelaki penggotong peti tadi juga ikut mendengarkan dengan cermat. Si Tojin, yang sejak tadi hanya menonton di samping, rupanya tidak mendapat perhatian mereka oleh karena suasana yang tegang tadi. Kini Lamkiong Peng agak jauh meninggalkan peti mati yang dijaganya dan asyik bicara dengan saudara seperguruan. Mendadak Tojin menggeser ke peti mati. Secepat kilat ia menyergap selagi kedua penggotong peti ikut mendengarkan pembicaraan Lamkiong Peng. Tahu-tahu bagian belakang kepala mereka terpukul. Tanpa sempat bersuara, "bluk-bluk," kedua orang itu lantas roboh kelenger.
Sama sekali si Tojin tidak menghiraukan korbannya lagi. Secepatnya ia angkat peti mati itu, lalu dibawa lari ke bawah gunung. Lamkiong Peng sendiri lagi memikirkan isi surat wasiat yang mencurigakan itu, ketika itulah terdengar suara "bluk" dua kali, disusul jeritan kaget Ong So-so, "Hei, apa yang kau lakukan!" Pembawaan So-so memang polos dan pemalu. Mimpi pun tak terduga olehnya ada orang akan merampas peti mati kayu cendana itu. Karena kagetnya, ia hanya berdiri terpaku.
Tetapi karena jeritannya, buyarlah lamunan Lamkiong Peng. Cepat ia membalik tubuh dan sekilas pandang sempat melihat bayangan si Tojin yang kabur ke bawah gunung dengan mengangkat peti mati itu. Sungguh tidak kepalang kejutnya. Tanpa pikir, ia lantas mengejar. Hanya beberapa kali loncatan saja, ia sudah jauh di bawah sana. "Toako, Samko ...." seru So-so khawatir. Liong Hui juga berteriak, "Lekas kejar!" "Kejar apa?" kata Giok-he. "Kejar perampok peti mati itu," seru Liong Hui gusar. "Hanya sebuah peti mati saja, biarpun terbuat dari kayu cendana, memangnya berapa harganya?" ujar Giok-he. "Tapi apakah boleh kita membiarkan Gote sendiri menyerempet bahaya?" "Dan bagaimana dengan suhu, apakah beliau tidak kita urus lagi?" jengek Giok-he.
Serentak Liong Hui memutar balik dan menegur, "Apa katamu?" Giok-he menghela napas, ucapnya, "Kukira apa yang dikatakan Gote tadi memang beralasan. Pokoknya kita tidak peduli apakah suhu benar sudah meninggal atau belum, yang penting kita harus memeriksa ke tempat yang didatangi beliau tadi. Apabila suhu memang benar belum meninggal, kan beruntung sekali kita!" "Akan... akan tetapi bagaimana dengan Gote?" ucap Liong Hui ragu. "Tadi telah kau lihat gerakan Kimhun (naga emas menembus awan) Gote itu, bagaimana kalau dibandingkan kepandaianmu?" tanya Giok-he. Liong Hui jadi terdiam, "Ini...." "Ini menandakan kepandaian Gote sesungguhnya di luar ukuran kita," tukas Giok-he, "Dengan kungfu yang dikuasainya sekarang, bukan soal lagi baginya untuk menghadapi jago mana pun. Untuk menjaga diri tentu saja terlebih mudah." Liong Hui termenung, katanya kemudian, "Ya, ini... ini juga betul."
So-so tampak gelisah, menyela, "Akan tetapi kalau Tojin itu berani main rampas peti mati, hal ini menandakan di dalam peti itu pasti ada sesuatu rahasia yang tidak kita ketahui ...." Perlahan Giok-he menepuk pundak So-so dan berkata lembut, "Simoay, apa pun usiamu masih terlalu muda, ada sementara urusan yang sukar kau pahami. Sebabnya Tojin itu menyerempet bahaya merampas peti mati itu, tujuannya tidak lebih hanya menggunakan kejadian ini untuk membuat namanya terkenal saja." "Namun... namun bila tiada sesuatu rahasia dalam peti, untuk apa suhu menyuruh... menyuruh dia menjaga peti itu dengan baik?" kata So-so. Giok-he menjadi kurang senang, katanya pula, "Sekalipun di dalam peti mati ada rahasia, memangnya rahasia itu bisa lebih penting daripada urusan mati hidup suhu?" So-so meremas-remas kedua tangan sendiri dengan bimbang. Meski ia merasa ucapan sang suhu kurang benar, tapi rasanya sukar membantahnya.
Segera Liong Hui menyela dengan mengangguk, "Simoay, ucapan Toasomu memang cukup beralasan. Kulihat kepandaian Tojin itu toh tidak terlalu tinggi, Gote pasti tidak akan mengalami kesukaran, lebih penting kita menyelidiki urusan suhu saja." Sejak tadi Ciok Tim hanya termenung saja. Dia seperti mau ikut bicara, tapi setelah memandang So-so sekejap, lalu urung membuka mulut. Giok-he tertawa cerah, perlahan ia tepuk pundak So-so lagi sekali, katanya, "Turutlah pada perkataan toaso, pasti tidak salah lagi. Bila terjadi apa-apa atas diri Gote, boleh kau minta pertanggungan jawab toasomu ini, tidak perlu khawatir." Ciok Tim tampak berpaling ke arah lain. Giok-he lantas berkata pula, "Samte dan Simoay, mari kita pergi mencari suhu!" So-so mengangguk dan ikut melangkah ke sana bersama Giok-he, namun melirik sekejap juga ke arah menghilangnya bayangan Lamkiong Peng dengan perasaan berat. "Jika Simoay tidak mau ikut mencari suhu, dengan tenaga kita bertiga rasanya juga cukup," kata Ciok Tim tiba-tiba. "Ah, kenapa Samte bicara demikian," ujar Giok-he tertawa. "Biasanya Simoay paling berbakti kepada suhu, selama ini suhu juga paling sayang pada Simoay, mana bisa dia tidak mau mencari suhu?" "Ya, betul," tukas Liong Hui.
Pada saat itulah terlihat seekor burung terbang tinggi menembus awan, mendadak berbunyi panjang. Suaranya bergema seakan mengejek kebodohan Liong Hui, kecerdikan Kwe Giok-he, kecemburuan Ciok Tim, dan kelemahan So-so. Hanya sehabis berbunyi, mendadak burung itu pun menumbuk dinding tebing di tengah kabut tebal. Liong Hui berjalan di depan dengan cepat, memandangi bangkai burung yang terjerumus ke bawah itu, katanya sambil menoleh, "Burung ini sungguh amat bodoh!" "Burung yang kehilangan pasangan tidak mau hidup sendirian, maka sengaja membunuh diri dengan menumbuk dinding tebing," tutur Ciok Tim. "Jika aku menjadi burung itu, aku lebih suka mati merana!" ucap So-so hampa. "Kalian keliru semua," kata Giok-he tersenyum. "Burung itu tidaklah bodoh, juga tidak kesepian, dia tertumbuk mati hanya lantaran terbangnya terlalu tinggi dan karena lengahnya sendiri." "Terbang terlalu tinggi bisa mati tabrakan, terbang terlalu rendah bisa terbidik oleh pemburu," ujar Liong Hui menyesal. "Ai, tak tersangka menjadi manusia sulit, menjadi burung juga tidak sederhana." Tengah bicara, mereka berempat sudah bergerak cukup jauh. Tanah pegunungan yang kacau tadi kini tertinggal pohon cemara tua yang tetap berdiri tegak dengan desir angin kencang dan awan tebal. Burung yang terjerumus ke jurang itu tertiup angin, melayang jatuh ke bawah sana.
Saat itu Lamkiong Peng sedang mengejar si Tojin secepat terbang. Ia sudah melampaui tugu Han-bun-kong, dengan gelisah ia mengejar sepenuh tenaga. Meski Tojin itu mengangkat sebuah peti mati, tapi gerak tubuhnya tetap sangat gesit dan cepat. Lamkiong Peng merasa bayangan di depan makin jelas terlihat, tapi seketika tetap tak tersusulkan. Sungguh ia tidak tahu mengapa Tojin ini sengaja menyerempet bahaya hanya untuk merampas sebuah peti mati, juga tidak dimengertinya mengapa gurunya menyuruhnya menjaga peti mati dengan baik. Tiba-tiba teringatlah olehnya macam-macam dongeng kuno. Apakah mungkin di dalam peti mati ini tersimpan sesuatu rahasia dan rahasia ini menyangkut seperti harta karun yang sudah lama diincar orang, atau tersimpan semacam senjata wasiat atau sejilid kitab pusaka ilmu silat maha tinggi? Pikiran demikian terlintas dalam benaknya dengan cepat, dan pada detik itulah bayangan Tojin di depan mendadak bergerak lamban. Ketika ia menoleh, tiada tampak seorang saudara seperguruan yang menyusul kemari. Ia menjadi ragu apakah telah terjadi sesuatu di sana.