Halo!

Han Bu Kong - Chapter 10

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 10

Pada saat itu, tidak sempat baginya memikirkan hal-hal demikian. Mendadak ia melompat lebih cepat ke depan, hanya beberapa kali naik turun, dan jaraknya dengan Tojin semakin dekat.

Tiba-tiba terasa setitik bayangan hitam menyambar, menghantam lengan kanannya. Lamkiong Peng terkesiap oleh sambaran angin keras ini. Cepat ia membalik tangan kanan dan meraihnya. Dengan tepat, setitik bayangan ini berhasil dipegangnya, tetapi karena itu sarung pedang hijau yang dipegangnya jadi terlepas dan jatuh ke dalam jurang.

Ketika bayangan hitam itu terpegang, segera dirasakan dingin dan basah. Sekilas melirik, ternyata yang terpegang adalah bangkai burung.

Ia tersenyum mengejek pada diri sendiri. Sungguh terlalu, dunia selebar ini, masakan seekor burung mati bisa begitu kebetulan menimpanya.

Bagaimanapun, hal ini dirasakan sebagai "ada jodoh", dan bangkai burung itu dimasukkan ke dalam bajunya.

Ketika ia memandang ke depan, ia sudah dekat dengan puncak gunung. Jaraknya dengan Tojin juga tinggal beberapa meter saja. Biarpun Tojin itu sangat kuat, tetapi dengan mengangkat sebuah peti mati dan berlari di tanah pegunungan yang curam demikian, akhirnya ia mulai lelah juga.

Ketika larinya mulai melambat, tiba-tiba terdengar bentakan dari belakang, "Berhenti!"

Ia sedikit melirik ke samping. Terlihatlah sebatang pedang hijau kemilau menyambar dari belakang. Jaraknya sudah cukup dekat, dan angin tajamnya sudah dapat dirasakan.

Tojin masih terus berlari, hanya saja, diam-diam ia telah siap berputar.

Ketika menurut perhitungannya saatnya sudah tepat, mendadak ia membentak sambil berbalik. Peti mati itu diangkatnya, lalu dikeprukkan ke atas kepala Lamkiong Peng.

Peti mati buatan kayu cendana itu sangat berat. Ditambah lagi, Tojin menghantam dengan sekuat tenaga, sehingga bobot peti itu menjadi beribu kati beratnya.

Cepat Lamkiong Peng bermaksud menahan langkahnya, akan tetapi sudah terlambat. Terlihat segumpal bayangan hitam dengan angin dahsyat menindih dari atas.

Berada di lereng gunung yang terjal begini jelas sukar baginya untuk menghindar.

Karena terdesak, Lamkiong Peng juga membentak sambil memutar pedangnya. Dengan cepat, ujung pedang memapak peti mati yang menindih dari atas itu.

Dalam sekejap saja, ujung pedangnya menusuk beberapa kali. Terdengar suara "tok-tek" berulang-ulang. Setiap tusukan pedangnya serentak mengurangi daya tindih peti. Inilah gerakan ringan melawan berat kaum ahli, gerak tangkis demikian memerlukan perhitungan yang jitu dan berani.

Dengan wajah kelam, Tojin berusaha menekan peti mati itu sekuatnya. Lamkiong Peng juga memasang kuda-kuda dengan kuat dan menegakkan pedang untuk menyanggah daya tekan peti.

Dalam keadaan demikian, kedua orang sama-sama tidak berani lengah. Sebab, mereka tahu, sedikit saja lengah tentu akan terjerumus ke jurang yang tak terbayangkan dalamnya.

Panjang peti itu lebih dari dua meter, sedangkan ujung pedang hanya setitik saja.

Peti menindih dari atas, pedang harus tegak untuk menahan daya tekan yang kuat itu. Betapa berbahayanya, tentu dapat dibayangkan.

Lamkiong Peng merasakan daya tekan peti semakin berat. Batang pedang buatan baja itu mulai melengkung.

Kain baju Lamkiong Peng mulai mengembung. Rambut dan jenggot Tojin seakan-akan berdiri tegak. Kedua orang sama-sama mengerahkan segenap tenaga dan berdiri sekukuh tonggak, namun sedikit demi sedikit kaki Lamkiong Peng mulai bergeser perlahan.

Jika dia tidak menggeser kaki, akhirnya kaki akan amblas. Tetapi, geseran yang perlahan ini baginya sekarang boleh dikatakan mahasulit.

Yang lebih sulit lagi adalah dia harus berjaga agar ujung pedangnya jangan sampai menusuk masuk ke dalam peti.

Sebab, jika ujung pedang masuk peti, segera peti akan menindih ke bawah, dan ini berarti maut baginya.

Angin gunung mendesir di sisi telinganya. Lamkiong Peng merasakan pedang yang dipegangnya, dari dingin mulai berubah menjadi panas.

Pandangannya mulai kabur, maklum, segenap tenaganya hampir terkuras habis.

Wajah Tojin kelihatan semakin guram, sinar matanya semakin beringas. Dengan menyeringai, mendadak ia membentak, "Tidak turun ke bawah?!" "Belum tentu bisa!" jawab Lamkiong Peng sambil membusungkan dada.

"Hmm, usiamu masih muda belia. Jika mati begini saja tanpa ada yang mengurus mayatmu, sungguh aku merasa kasihan padamu," ejek Tojin.

"Huh, entah siapa yang akan mati!" kata Lamkiong Peng. Diam-diam ia merasa menyesal, mengapa tidak ada seorang pun saudara seperguruannya menyusul kemari. "Apakah betul mayatnya tak terurus? Mengapa mereka tidak menyusul kemari? Apakah..." Selagi dia membatin demikian, sekonyong-konyong dirasakan daya tekan peti mati bertambah kuat. Ia terkejut dan cepat menenangkan diri, lalu bertahan lebih kuat.

Ia sadar, agaknya Tojin sengaja membuyarkan konsentrasinya dengan ucapannya.

Tiba-tiba dilihatnya di bawah bayangan peti mati, dahi Tojin berhias butiran keringat. Pikirannya tergerak, agaknya lawan sendiri juga sudah payah. "Asalkan aku bertahan sebentar lagi, tentu akan dapat mengatasi lawan," batinnya.

Segera ia balas mengejek, "Hmm, memangnya kau kira aku tidak tahu keadaanmu? Biarpun ilmu tenaga dalammu lebih tinggi daripadaku, tetapi engkau telah berlari sejauh ini dengan mengangkat benda seberat ini. Tenaga yang telah kau kuras jelas jauh lebih banyak daripadaku. Biarpun keadaanku cukup payah, akan tetapi engkau justru serupa pelita yang kehabisan minyak."

Air muka Tojin yang kelam itu kembali berubah menjadi lebih gelap. Peti mati yang dipegangnya terasa bergetar. Kesempatan itu digunakan Lamkiong Peng untuk menolak dengan pedangnya, sehingga terangkat lebih tinggi sedikit.

Lengan Tojin yang putih itu mulai berubah merah dan akhirnya menjadi kebiru-biruan.

Lamkiong Peng merasa lega. Perlahan ia berkata pula, "Jika kita terus bertahan seperti ini, meskipun aku bisa celaka, tetapi engkau pasti mampus."

Dia sengaja mempertegas kata "mampus" dengan suara keras, lalu menyambung pula, "Hmm, hanya karena sebuah peti mati kayu cendana saja mengapa kau bela mati-matian? Jika kau mau lepas tangan sekarang juga, mengingat sesama kaum persilatan, takkan kuusut lebih lanjut perbuatanmu ini dan akan kulepaskan kau pergi."

Uraiannya, meskipun bermaksud mengacaukan semangat tempur lawan, tetapi ada sebagian kata-katanya juga timbul dari lubuk hatinya yang murni.

Tak terduga, Tojin lantas tertawa dingin dan membentak, "Hmm, masakan aku mudah mati begitu saja? Jika mati, tentu juga bersamamu!" Mendadak ia mengerahkan sisa tenaganya dan menekan peti mati menjadi lebih kuat.

Selagi Lamkiong Peng terkesiap, dilihatnya Tojin merendah ke bawah sedikit, dan sebelah kakinya bahkan terus menendang.

Tenaga Tojin dikerahkan seluruhnya pada kedua tangannya, maka tendangannya sebenarnya tidak keras. Tetapi, tempat yang diarahkan justru sangat berbahaya, yaitu bagian selangkangan. Bagian lemah ini cukup fatal bila terdepak dengan tepat, tidak perlu terlalu keras.

Dalam keadaan begini, jika Lamkiong Peng menghindari tendangan ini, berarti kuda-kudanya akan goyah dan peti mati akan jatuh dari atas. Sebaliknya, jika tidak mengelak, pasti juga akan celaka.

Dalam gusarnya, tanpa berpikir ia mengayun telapak tangan kiri ke bawah. Ditabasnya pergelangan kaki lawan.

Baik waktu maupun tempat yang diarahkan sungguh sangat tepat.

Tetapi Tojin itu segera juga berganti gerakan. Kedua tangan tetap memegang peti mati, tubuhnya terapung, kaki kanan ditarik kembali, dan kaki kiri terus menendang pula secepat kilat.

Lamkiong Peng juga tidak kalah cepatnya. Tangan kiri berputar, kembali ia mencengkeram kaki lawan.

Diam-diam ia pun terkesiap. Cara Tojin ini jelas sudah kalap, kalau perlu ingin gugur bersama dengannya.

Sebab, dengan tubuh bergantungan dan kedua kaki menendang secara bergantian, bilamana Lamkiong Peng tertendang dan jatuh ke dalam jurang, Tojin sendiri juga pasti akan ikut terjeblos ke jurang.

Dalam sekejap itu, meskipun Lamkiong Peng dapat menahan beberapa kali tendangan berantai Tojin, tetapi tangan kanan yang memegang pedang terasa linu pegal. Peti mati terasa semakin menekan ke bawah, dan tangan kiri juga mulai sukar menahan tendangan kilat musuh.

Dalam keadaan terdesak, jika dia mau melepaskan pedang dan melompat mundur, jelas dia dapat menyelamatkan jiwanya sendiri.

Tetapi dia lantas teringat pada pesan sang guru yang telah menyerahkan pedang pusaka Yap-siangjiuloh kepadanya dengan tugas membela peti sakti itu: "Peti rusak, orang binasa." Demikian kata terakhir amanat sang guru itu.

Diam-diam ia menghela napas. Sukar diselaminya sesungguhnya ada keistimewaan apa pada peti mati ini sehingga perlu dibela mati-matian. Tetapi, apa pun juga, dia harus patuh pada amanat sang guru.

"Peti rusak, orang binasa!" Itulah amanat yang tidak boleh dilupakan. Mendadak ia berteriak, "Baiklah, biar kita gugur bersama!" Mendadak, ujung pedang menolak sekuatnya ke atas. Tangan kiri terus mencengkeram ke depan. Dia tidak lagi menangkis tendangan Tojin, melainkan mencengkeram dada orang itu.

Ia menjadi nekat dan tidak memikirkan akibatnya lagi. Yang penting, amanat sang guru telah dilaksanakannya.

Air muka Tojin juga berubah melihat kekalapan anak muda itu. Mendadak ia tertawa keras, "Hahaha! Bagus, bagus, biarlah kita bertiga gugur bersama!"

Hati Lamkiong Peng tergetar. "Bertiga?!" ucapnya tanpa terasa.

Mendadak ia menahan serangannya dan kembali menegaskan dengan membentak, "Dari mana datangnya orang ketiga?" Meskipun timbul rasa curiganya dan ingin tahu sesungguhnya apa yang dimaksudkan Tojin, tetapi dalam keadaan begini, ibarat orang sudah berada di punggung harimau, ingin turun pun tidak bisa lagi.

Didengarnya Tojin lantas membentak, "Di sini juga ada tiga orang!" Bersamaan itu, kedua kakinya menendang pula secara berantai.

Diam-diam Lamkiong Peng juga sudah siap untuk gugur bersama orang gila ini demi menunaikan kewajibannya membela peti mati itu sesuai amanat sang guru.

Siapa sangka, pada detik terakhir yang menentukan itu, tiba-tiba terjadi sesuatu yang mendekati keajaiban.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment