Halo!

Han Bu Kong - Chapter 100

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 100

"Selama berpuluh tahun aku berusaha memperdalam ilmu pertabiban, lebih dulu aku telah merombak wujud diriku sendiri, lalu kupraktikkan berbagai operasi yang selama ini belum pernah dilakukan oleh tabib mana pun..." Ngeri Lamkiong Peng membayangkan beberapa makhluk aneh yang telah dilihatnya itu.

"Apa yang kulakukan ini tidak dapat kujelaskan begitu saja. Kelak dari apa yang kau-lihat dan kaudengar tentu akan paham lebih banyak," kata pula si kakek.

"Para penghuni pulau ini, meski semuanya adalah bekas tokoh dunia persilatan, mereka yang dapat masuk ke ruangan ini tidaklah banyak. Selama berpuluh tahun ini, segala biaya kepulauan ini berkat bantuan dari keluarga Lamkiong kalian, makanya kuberi prioritas kepadamu untuk menghuni ruangan ini."

"Setelah saya masuk ke sini, segala urusanku memang tidak pernah terpikir lagi olehku, hanya satu hal ini masih mengganjal hatiku, yaitu kuharap dapat berjumpa satu kali saja dengan pamanku itu."

"Jika segala urusan lampau sudah kau lupakan, kenapa kau ingin menemui pamanmu?" jengek si kakek.

Lamkiong Peng melengak, dilihatnya si kakek menarik muka dan berkata dengan serius, "Perlu kautahu untuk apa kuharap setiap penghuni Cu-sin-to ini melupakan segala cita rasa dan sama sekali putus dari perasaan kasih, nafsu, nama, dan keuntungan. Setiap orang yang kuajak berdiam di pulau ini seluruhnya juga merupakan tokoh inti dunia persilatan yang sudah berpengalaman."

"Saya memang tidak tahu seluk-beluk ini," jawab Lamkiong Peng.

"Soalnya aku ingin membangun sesuatu yang selama ini belum pernah dilakukan siapa pun. Kudatangkan orang pandai untuk menjadi penghuni pulau ini, dari mereka kuharapkan akan dapat mengembangkan bakat mereka supaya menciptakan sesuatu yang serba baru tanpa gangguan. Bilamana usahaku ini berhasil, maka suksesku ini takkan dibandingi oleh tokoh sejarah mana pun. Tapi lucu juga, orang dunia persilatan justru memandang Cu-sin-to ini sebagai tempat pengasingan yang misterius dan ditakuti."

"Usaha apa yang Cianpwe lakukan?" tanya Lamkiong Peng.

Meneropong sinar mata si kakek, "Tentu pernah juga terjadi atas dirimu, setiap orang pada waktu masa anak-anak tentu mempunyai banyak khayalan, setelah besar khayalan ini akan menjadi kenangan indah. Waktu kecilmu tentu juga pernah kaupikirkan betapa senangnya bila dapat menghilang, dapat menggembleng besi menjadi emas, dan berbagai hal yang mustahil?"

"Ya, memang begitulah khayalan anak kecil," kata Lamkiong Peng dengan tersenyum.

"Padahal hal-hal seperti menghilang atau menggembleng besi menjadi emas adalah khayalan yang jamak, tapi masih ada urusan lain yang jauh lebih menakjubkan yang jarang dibayangkan orang. Misalnya ada orang berkhayal tanpa sekolah, asalkan kitab dibakar menjadi abu dan abu diminum bersama air, lalu dia akan pintar secara mendadak. Ada yang berkhayal lampu tanpa minyak akan terang benderang, ada yang berfantasi kereta atau kuda dapat terbang dan menjelajahi jagat raya ini. Ada yang berkhayal setelah minum satu biji obat segera akan merasa kenyang dan tidak perlu makan sepanjang tahun..." Ia berhenti sejenak, lalu menyambung dengan tertawa, "Ada cerita lucu di zaman dahulu, konon ada orang berkhayal bilamana bulu alis seseorang tumbuh di jari tangan, maka jari akan dapat digunakan menyikat gigi. Jika lubang hidung tumbuh menghadap ke atas, tentu ingus seseorang takkan meleleh. Bilamana mata tumbuh di muka dan belakang, untuk melihat tentu tidak perlu lagi berpaling. Lelucon inilah yang menjadi khayalanku, tapi sekarang khayalan ini sudah berubah menjadi kenyataan. Umpama sekarang jika kauminta alismu dipindah ke jari atau hidungmu diputar ke atas, segera dapat kulaksanakan bagimu, tidak percaya bolehlah kaucoba."

"Tapi kukira biarkan saja ingus tetap meleleh ke bawah, untuk berpaling juga tidak terlalu merepotkan," ujar Lamkiong Peng.

Si kakek terbahak, "Haha, bukan saja khayalanku ini sudah terlaksana sekarang, bahkan hal-hal yang mustahil dan tidak pernah terjadi sekarang juga akan terlaksana."

"Apa betul?" kaget juga Lamkiong Peng.

"Tentu saja betul," ucap si kakek. "Setelah kucuci bersih otak orang-orang itu dari pikiran kolot mereka, selanjutnya akan kusuruh mereka menekuni pekerjaan baru ini..." Ia menuding berbagai gua di kedua dinding lorong dan menyambung pula, "Di dalam gua-gua itulah tempat bekerja mereka. Coba kaubayangkan, bilamana hal-hal yang dahulu cuma khayalan belaka sekarang dapat terlaksana, bukankah sukses ini akan membuat sejarah baru bagi hidup manusia yang akan datang?"

Lamkiong Peng memandang orang tua ini dengan termangu, tidak diketahuinya sesungguhnya kakek ini seorang gila atau manusia super. Dilihatnya si kakek mendadak menarik muka lagi dan berkata, "Apa yang kubicarakan hari ini sudah terlampau banyak dan banyak pula mengganggu pekerjaan yang lebih penting. Setelah engkau masuk ruangan ini, segala tindak-tanduk dan tutur katamu sudah bebas dari pembatasan. Tapi setiap tahun engkau hanya boleh keluar dan melihat cahaya matahari satu kali. Sekarang boleh kauperiksa sekeliling tempat ini, silakan pilih satu ruangan sebagai tempat tinggalmu, besok akan kupanggil dirimu lagi."

Dengan ragu dan kejut, Lamkiong Peng melompat turun dari gua itu, dipandangnya lubang gua di kedua sisi dinding lorong, terbayang pekerjaan yang sedang berlangsung di situ. Meski hati penuh diliputi rasa ingin tahu, tapi ia tidak berani menghadap mereka, sebab tak berani dibayangkannya bagaimana jadinya dunia ini apabila berbagai khayalan itu menjadi kenyataan.

Tiba-tiba terpikir pula olehnya, "Pantas Hong Man-thian mengumpulkan barang aneh sebanyak itu, pantas juga pihak Kun-mo-to berusaha merebut usaha Hong Man-thian yang akan mengangkut harta benda keluargaku ke sini. Tentunya disebabkan pihak Kun-mo-to juga tahu apa yang sedang terjadi di sini dan khawatir khayalan ini akan menjadi kenyataan, tatkala mana orang Kun-mo-to tentu akan dijadikan budak oleh pihak Cu-sin-to."

Tengah berpikir, tanpa terasa ia sudah berada di depan gua pertama, dilihatnya ruangan gua ini agak longgar, di bawah remang cahaya lampu berduduk dua orang kakek, di atas meja penuh tertumpuk kertas tulis dan kepingan kayu. Melihat Lamkiong Peng, kedua kakek itu agak tercengang. Lamkiong Peng tidak berani bertanya nama asli mereka, hanya sekadarnya ia tanya pekerjaan yang sedang dilakukan mereka.

Salah seorang kakek itu lantas menjelaskan bahwa mereka sedang mempelajari semacam cara baru membangun rumah, yaitu dimulai dari atap rumah dan menurun ke bawah, akhirnya baru membikin fondasi rumah. Menurut keterangannya, cara mereka itu serupa cara dua macam serangga yang paling pintar membangun sarangnya, yaitu tawon dan labah-labah.

Lamkiong Peng mengucapkan terima kasih dan pindah ke ruangan yang lain. Tertampak di situ juga penuh tertumpuk bahan riset dua penghuninya, yaitu berbentuk macam-macam kaleng yang berukuran tidak sama serta lapisan tepung terigu yang sudah diaduk. Menurut penjelasan kedua kakek itu, mereka sudah hampir berhasil menciptakan sejenis air obat misterius, dengan air obat itu sebagai tinta, lalu dituliskan isi kitab pengetahuan apa pun di atas lapisan adukan tepung, kemudian berpuasa sepuluh hari, habis itu panganan tepung dimakan, maka segala ilmu pengetahuan dari isi kitab dapat dikuasai sepenuhnya oleh orang yang makan adukan tepung itu.

Lamkiong Peng mengucapkan terima kasih atas penjelasan itu walaupun dengan perasaan bimbang. Di ruangan gua lainnya dilihatnya cahaya lampu terang benderang serupa siang hari, sekeliling ruangan tergantung botol kristal yang tak terhitung jumlahnya, dalam botol berisi macam-macam warna air obat. Sekilas pandang mata bisa silau oleh warna-warni botol kristal yang indah itu. Tapi kakek penghuni gua ini tampak kurus kering tinggal kulit membungkus tulang, jenggotnya yang sudah putih seluruhnya memanjang hingga menyentuh lantai. Kiranya kakek ini menekuni ilmu menghilang selama lebih 60 tahun, begitu melihat Lamkiong Peng segera ia mengajaknya bicara tentang ilmu yang sedang ditekuninya itu, dalilnya sungguh ajaib dan sukar dilakukan. Lamkiong Peng mendengarkan dengan cermat, tapi sukar memahami intisarinya. Hanya diketahuinya si kakek berusaha membuat tubuh manusia berubah tembus cahaya seluruhnya serupa benda kristal, dengan begitu manusia menjadi serupa benda tak berwujud dan takkan terlihat lagi.

Keluar dari gua ini, pikiran Lamkiong Peng tambah bingung. Selanjutnya ditemui lagi pandai besi yang sedang menggembleng benda logam supaya berubah menjadi emas. Lalu filosof yang duduk tepekur dalam kegelapan dan berbagai kakek yang aneh yang tidak pernah dilihat dan didengarnya. Tentu saja pikiran Lamkiong Peng tambah ruwet, sungguh sukar dipastikan apakah kawanan kakek ini memang betul manusia super atau orang sinting, juga tak diketahuinya apakah riset mereka itu akhirnya akan menjadi kenyataan atau tidak.

Yang jelas rasa ingin tahu Lamkiong Peng bertambah besar, dari lubang gua tingkat bawah sekarang dia memeriksa gua bagian atas. Ia melompat ke atas, di suatu lubang gua itu kelihatan gelap gulita seperti tiada jejak seorang pun. Selagi dia hendak tinggal pergi, tiba-tiba dalam kegelapan bergema suara orang, "Siapa itu?"

Lamkiong Peng coba memandang ke sana, setelah diperhatikan, tertampak di pojok gua yang gelap itu duduk sesosok bayangan, di depannya berserakan botol dan kaleng serta benda lain. "Entah apa pula yang sedang dipelajari orang sinting ini?" demikian pikirnya. Segera ia mengatakan maksud kedatangannya.

Suara serak tua itu berkata, "Aku sedang mempelajari mengubah hawa udara menjadi makanan. Kautahu hawa udara itu apa? Hawa udara adalah..." Mendadak terhenti ucapannya ketika perlahan ia mendongak, serunya dengan suara gemetar, "Hei, Peng-ji..."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment