Chapter 101
"Kiranya kau . . . " Hati Lamkiong Peng tergetar hebat. Ia merasa ucapan terakhir itu sudah sangat dikenalnya. Ia mencoba mengamati lebih jelas dan melihat bayangan dalam kegelapan itu berambut semrawut dengan sorot mata yang tajam. Lamat-lamat, ia dapat mengenali siapa orang tua tersebut.
"Ahh . . . Suhu!" teriak Lamkiong Peng sambil menubruk maju dan menyembah di depan orang itu.
Ternyata, kakek yang nelangsa yang duduk dalam kegelapan ini tak lain adalah guru Lamkiong Peng yang termasyhur di dunia Kangouw, tokoh nomor satu dunia persilatan yang tak terkalahkan, yaitu Putliong Liong Po-si.
Dalam keadaan dan di tempat seperti ini, pertemuan antara guru dan murid sungguh merupakan kejadian yang sukar dibayangkan. Tentu saja mereka terkejut, heran, dan merasa seperti berada dalam mimpi.
"Mengapa kau datang ke sini, Peng-ji?" tanya Liong Po-si. Ia sungguh tidak mengerti bagaimana anak muda yang baru mulai berkecimpung di dunia Kangouw ini bisa sampai ke Cu-sin-to, tempat pengasingan dirinya.
Setelah menenangkan diri, Lamkiong Peng menceritakan pengalamannya, terutama mengenai Bwe Kim-soat. Liong Po-si menghela napas dan berucap, "Orang bilang perempuan cantik kebanyakan bernasib malang. Tampaknya kemalangan nasibnya memang jauh melebihi perempuan lain."
Kedua orang itu duduk berhadapan dengan diam. Terlihat orang tua itu jauh lebih tua daripada waktu berpisah di Hoa-san dahulu. Hati Lamkiong Peng merasa pedih. Ia bertanya, "Ketika murid melihat ukiran tulisan di puncak Hoa-san dahulu, kami menyangka Suhu telah mengasingkan diri ke suatu tempat rahasia. Entah apa yang terjadi sesungguhnya di puncak Hoa-san, mengapa Suhu bisa sampai di sini?"
"Puncak Hoa-san . . . " Liong Po-si bergumam dengan menunduk sedih. Setelah sekian lama, ia baru menghela napas dan bertutur, "Empat puluh tahun yang lalu untuk pertama kalinya kudengar tentang tempat bernama Cu-sin-tian. Terhadapnya lantas timbul macam-macam khayalan. Sekarang aku benar-benar telah berada di tempat yang dimaksud, akan tetapi aku menjadi sangat kecewa. Namun . . . ai, semuanya sudah terlambat."
Tiba-tiba Lamkiong Peng bertanya, "Suhu, hawa udara yang dimaksudkan apakah sama seperti hawa udara umumnya yang tak berwujud itu? Bagaimana cara Suhu akan membuatnya menjadi santapan? Jika hawa udara dapat berubah menjadi makanan, bukankah di dunia ini tak akan ada orang kelaparan lagi?"
Liong Po-si tertawa. "Peng-ji, kau tahu orang di pulau ini hampir seluruhnya adalah orang gila. Andaikan tidak gila, setelah mengalami kurungan ratusan hari, dicuci otaknya, dan hidup sebagai orang dalam kuburan, akhirnya pun akan serupa orang gila."
Teringat kepada kawanan kakek berbaju belacu yang duduk tepekur di depan rumah dan hidup kesepian itu, tanpa terasa Lamkiong Peng menghela napas.
"Orang yang paling gila di antara orang gila itu ialah si Tocu yang berkepala besar," tutur Liong Po-si. "Pulau ini berada di bawah pimpinannya. Setiba di sini dan melihat keadaan mereka, aku jadi lebih suka tinggal dan merenung sendirian. Maka, sengaja kuberi macam-macam komentar yang aneh dan sukar dimengerti."
"Komentar apa?" tanya Lamkiong Peng.
"Kubilang kepada Cu-sin-tosu bahwa sebabnya pepohonan dan tetumbuhan lain hidup subur adalah karena mengisap unsur hawa udara. Apabila manusia dapat memisahkan semacam unsur misterius itu dari hawa udara dan menjadikannya makanan, tentu akan banyak menghemat tenaga manusia dan jumlah barang. Mengingat jagat raya ini penuh dengan hawa udara dan takkan habis terpakai, jadinya tidak bakal ada lagi orang mati kelaparan."
Ia berhenti sejenak, lalu menyambung dengan tertawa, "Setelah kuberi macam-macam omong kosong itu, Cu-sin-tocu sangat tertarik dan kagum pada teoriku. Ia menganggap gagasanku itu sebagai rencana besar yang belum pernah ada dalam sejarah. Sebab itulah aku diperlakukan secara istimewa dan diberi tempat tinggal ini dengan segala fasilitas yang ada, makanya di sini tersedia juga arak sebanyak ini."
Meski ia bicara dengan tertawa, suaranya penuh rasa hampa dan kesepian. Bahwa jago nomor satu dunia persilatan yang termasyhur ini sekarang juga perlu minum arak sekadar pelipur lara, sungguh mengharukan.
"Peng-ji," kata Liong Po-si pula, "meski setiap hari aku minum arak untuk menghilangkan rasa hampa dan sepi ini, sejauh ini aku tidak pernah putus asa dan selalu mencari kesempatan untuk bertindak. Bilamana nanti Tocu memanggil lagi dirimu, boleh kau minta agar dikirim ke sini untuk membantuku mempelajari makanan misterius yang sedang kulakukan ini. Beberapa bulan lagi akan datang kesempatan baik, di mana harapan bagi kita untuk kabur dari sini akan sangat besar."
Terbangkit semangat Lamkiong Peng mendengar keterangan ini. Ternyata di Cu-sin-to ini setiap tahun ada suatu hari raya. Pada waktu itu, setiap orang diberi kebebasan untuk bergembira ria. Walaupun pada hakikatnya kaum kakek itu tidak memiliki sesuatu yang dapat dibuat gembira, setidaknya ada kebebasan bergerak.
Esoknya, Lamkiong Peng dipanggil menghadap Cu-sin-tocu. Agaknya dia akan memberi tugas khusus kepada anak murid keluarga Lamkiong, tetapi demi mendengar permintaan Lamkiong Peng yang ingin ikut mempelajari "rencana besar" itu, ia segera meluluskan permintaannya.
Hidup dalam gua yang gelap membuat sang waktu terasa berlalu dengan sangat lambat. Tapi sekarang Lamkiong Peng sudah berhasil belajar sabar. Entah sudah lewat berapa lama lagi, baginya segalanya berlalu dengan tenang tanpa ada perubahan apa pun. Hanya Cu-sin-tocu terkadang memanggilnya menghadap, selalu menatapnya dengan penuh perhatian, serta bertanya sekadarnya dengan hambar.
Dapat dirasakan oleh Lamkiong Peng, sinar mata Cu-sin-tocu yang aneh itu lambat laun mulai keruh dan kelihatan sedih. Setiap kali bertemu lagi, rasa kusut dan sedih itu seakan-akan selalu bertambah besar. Diam-diam Lamkiong curiga, apakah mungkin Cu-sin-tocu telah merasakan tanda bahaya yang bakal menimpa pulau ini?
Selama ini Liong Po-si sangat jarang bicara. Sedangkan Lamkiong Peng sendiri tekun menyelami berbagai ilmu silat yang telah dibacanya. Ia merasa ketajaman pandangannya bertambah kuat dan tubuhnya bertambah enteng; sukar baginya untuk mengukur sampai di mana kemajuan kungfu dirinya.
Suatu hari, selagi ia duduk tenang di dalam gua bersama sang guru, mendadak di luar sana bergema suara tambur. Tidak lama kemudian seorang melompat masuk ke dalam gua; ternyata si kakek berbaju belacu dahulu. Ia memandang sekejap keadaan gua itu, lalu berucap, "Sudah tiba harinya!"
Meski air mukanya kelihatan kaku, sorot matanya memancarkan semacam cahaya misterius, seakan-akan banyak rahasia yang diketahuinya. Tergetar hati Lamkiong Peng, tanyanya, "Tiba hari apa?"
"Tiba hari kebebasan untuk berbuat apa pun sesukamu," ucap si kakek dengan dingin. Lalu ia melompat pergi lagi.
Lamkiong Peng tercengang. "Mungkinkah dia tahu?"
"Apa pun yang diketahuinya, selanjutnya dia takkan tahu apa-apa lagi," jengek Liong Po-si.
"Maksud Suhu, akan kita lenyapkan dia?" tanya Lamkiong Peng.
"Betul," pelan Liong Po-si menepuk pundak anak muda itu. "Tunggu kesempatan dan bertindak menurut keadaan. Jika tidak ada kapal atau rakit, berenang pun kita akan tinggalkan tempat ini."
Dari nada ucapan orang tua ini dapat dirasakan tekadnya yang bulat oleh Lamkiong Peng. Berbarengan, mereka lantas keluar dari gua. Pintu rahasia gua itu sudah terbuka. Waktu melangkah keluar, segera terasa angin sejuk mengembus dan membangkitkan gairah hidup Lamkiong Peng yang sudah sekian lama tersirap.
Dilihatnya kawanan kakek itu tetap duduk di depan rumah masing-masing dengan kaku dan linglung, hanya jenggot mereka yang panjang berkibar tertiup angin. Setelah menyusuri hutan, sampailah di rumah bambu itu. Keadaan gubuk yang semula jelek itu sekarang sudah berbeda jauh. Gubuk ini tetap tidak memiliki pajangan istimewa, tapi di lapangan depan rumah teruruk banyak bunga segar dan makanan. Di atas gundukan api unggun sedang dipanggang beberapa ekor kambing, kijang, dan sebagainya. Bau sedap daging panggang bercampur dengan bau harum bunga terbawa angin sejuk, sehingga membuat tempat yang semula seperti kuburan ini mendadak penuh diliputi gairah hidup.
Di sini berkumpul kawanan kakek yang belum sempat masuk ke gua gunung sana. Di antaranya banyak yang berbaju lebih teratur dan resik. Mereka asyik menanti dimulainya pesta pora ini, tapi di antara mereka sempat dilihat Lamkiong Peng saling memandang dengan sorot mata yang aneh, seakan-akan tersembunyi sesuatu rahasia.
Tergerak hati Lamkiong Peng, pikirnya, "Mungkinkah kawanan kakek ini pun sedang merancang sesuatu? Bisa jadi mereka akan memberontak atau ingin kabur dari sini."
Waktu ia menoleh, entah ke mana perginya Liong Po-si; orang tua itu sudah menghilang. Selagi Lamkiong Peng merasa ragu dan bermaksud mencari jejak sang guru, tiba-tiba terdengar di samping sana, di bawah pohon, ada suara orang tertawa.
Cepat ia berpaling. Dilihatnya Hong Man-thian duduk bersandar di bawah pohon. Bajunya sudah compang-camping, mukanya kelihatan kuyuh, jelas telah banyak tersiksa selama beberapa hari ini. Jenggotnya juga tak teratur, namun sinar matanya tetap bercahaya dan memandang dengan tajam.
Lamkiong Peng tidak dapat menahan perasaannya. Ia mendekati orang tua itu dan berkata dengan terharu, "Cianpwe, lantaran kami, engkau yang mendapat susah."
"Susah . . . " Senyuman Hong Man-thian berubah menjadi ejekan, "Justru penderitaan inilah yang merangsang kehidupan kami yang hampa ini. Penderitaan inilah yang membangkitkan semangat perlawananku."
Mendadak ia memegang pundak Lamkiong Peng dan berkata dengan semangat, "Coba lihat, kawanan kakek di sebelah sana itu, dapatkah kau lihat sesuatu kelainan pada diri mereka?"
Lamkiong Peng dapat merasakan kekuatan pada ucapan orang tua ini. Seketika teringat olehnya sinar mata kawanan kakek yang aneh itu, dan berdetak jantungnya, "Ah, apakah kalian hendak . . . "
"Betul, diam-diam sudah kuhasut mereka, kubakar semangat dan rasa gusar mereka."