Chapter 102
Maka hari ini juga di pulau ini akan terjadi peristiwa besar.
"Kalau bukan kawanan orang gila di dalam gua itu yang menuju ke neraka, biarlah kami saja yang mati. Umpama mati pun lebih baik daripada hidup dengan cara begini bagi mereka." Lamkiong Peng mengangguk sependapat, katanya, "Ya, tapi mana kapalnya? Di sini kan tidak ada kapal?"
"Kapal? Untuk apa?" tanya Hong Man-thian.
Lamkiong Peng melengak, "Tidak ada kapal, dengan cara bagaimana dapat pulang ke sana?"
"Pulang? Siapa bilang mau pulang?" jengek Hong Man-thian.
Kembali Lamkiong Peng melenggong. Terdengar Hong Man-thian menghela napas dan berkata pula, "Apakah pernah kau bayangkan bila kawanan kakek yang aneh ini pulang ke daratan sana, lalu huru-hara apa yang akan timbul di dunia persilatan?"
Seketika Lamkiong Peng bungkam; sungguh ia tidak berani membayangkannya.
"Kutahu pikiranmu," kata Hong Man-thian pula sambil bangkit. Tongkat besinya sudah hilang, sekarang ia menggunakan sebatang tongkat pendek. "Marilah kita pergi minum arak dulu dan menonton permainan menarik."
Segera mereka keluar dari hutan itu. Setibanya di depan hutan, Lamkiong Peng berdiri di bawah keteduhan pohon dengan perasaan tidak tenteram. Tidak lama kemudian, mendadak suara tambur bergema keras. Lima orang kakek berbaju belacu tampak muncul, di belakang mereka mengikuti lima pelayan "manusia binatang" itu dengan menggotong sebuah dipan batu. Di atas dipan duduk bersila Cu-sin-tocu yang berkening lebar dan bermata tajam.
Waktu itu tepat lohor. Air muka Cu-sin-tocu yang pucat itu kelihatan seperti tembus cahaya; dia seperti takut kepada cahaya matahari, maka menyuruh kawanan pelayan menaruh dipannya di bawah pohon yang rindang. Baru saja dipan batu ditaruh, serentak meledak suara tertawa orang. Biasanya di pulau ini sangat jarang ada orang tertawa, apalagi tertawa keras dan bebas seperti ini.
Cu-sin-tocu menyapu pandang sekejap, lalu membentak ke arah suara tertawa itu, "Siu Yan, kau tertawa apa?"
Hong Man-thian melompat maju dan berseru, "Hong adalah she (nama keluarga) turun-temurun. Man-thian adalah nama pemberian ayah-bundaku. Seorang lelaki sejati berjalan takkan ganti nama, duduk tidak perlu tukar she. Namaku ialah Hong Man-thian, siapa yang bernama Siu Yan?"
Kiranya Siu Yan adalah nama Hong Man-thian pemberian Cu-sin-tocu, serupa halnya Lamkiong Peng juga diberinya nama Ci Cui. Kawanan kakek yang lain sudah sangat lama tidak mendengar ucapan orang segagah berani ini. Meski hati mereka sudah beku, tidak urung agak tergugah juga perasaan mereka sehingga memperlihatkan sikap terangsang. Setitik lelatu api yang jatuh ke sekam bisa juga menimbulkan bara.
Air muka Cu-sin-tocu yang kelam tetap tidak berubah. Katanya pelan, "Baiklah, apa yang kau tertawakan, Hong Man-thian?"
"Aku tertawa geli sebab kebanyakan orang yang berada di pulau ini rata-rata adalah tokoh yang pernah mengguncangkan dunia persilatan, tapi sekarang semuanya telah berubah serupa mayat hidup dan harus tunduk kepada perintah seorang gila, seorang makhluk cacat. Jika kejadian ini diceritakan, tentu tiada seorang pun mau percaya. Bukankah aneh dan menggelikan?"
Sorot mata Cu-sin-tocu yang tajam menatap wajah Hong Man-thian, mukanya tambah pucat, tapi tidak segera menanggapi. Dengan membusung dada, Hong Man-thian berteriak pula, "Kedatangan kami ke sini sebenarnya disebabkan sudah bosan kepada kehidupan dunia ramai dan ingin hidup tenang, tapi bukan datang untuk diperlakukan sadis olehmu dan hidup serupa hewan. Ingin kutanya padamu, berdasarkan apa engkau memerintah para tokoh terkemuka dunia persilatan ini?"
Kawanan kakek yang lain tetap tidak bersuara, namun sikap mereka jelas tambah terangsang. Begitu pula Lamkiong Peng; hampir saja ia bersorak memuji.
Gemerdep sinar mata Cu-sin-tocu, katanya pelan, "Bagus, kau berani bicara dan tertawa, tentunya kau yakin akan mampu menghadapiku. Nah, siapa pula yang sehaluan denganmu, boleh silakan tampil sekalian."
Lamkiong Peng berdiri di bawah pohon di samping belakang Cu-sin-tocu sehingga tidak dapat melihat sinar matanya, hanya dari suaranya memang menimbulkan semacam daya pengaruh yang sukar dibantah. Dilihatnya kawanan kakek yang berdiri di depan sana sama berubah pucat, tidak ada yang berani tampil ke muka, sebaliknya kelihatan menyurut mundur dengan takut.
"Hm, jadi cuma kau sendiri saja yang akan melawanku?" jengek Cu-sin-tocu.
Air muka Hong Man-thian juga berubah. Mendadak ia membalik tubuh dan berseru, "Hm, kalian takut apa? Memangnya kalian sudah lupa kepada persetujuan yang telah kita rundingkan selama ini?"
Kawanan kakek itu berdiri diam saja dengan menunduk. Air muka Hong Man-thian menjadi pucat juga; perlahan ia berpaling kembali menghadapi Cu-sin-tocu dengan tangan agak gemetar.
"Hm, jadi cuma kau sendiri yang berniat berebut kedudukan Tocu denganku? Kukira gampang urusannya..." mendadak ia memberi tanda.
Serentak kelima kakek berbaju belacu warna kuning melompat maju dan mengepung di sekeliling Hong Man-thian.
"Bilamana kusuruh mereka menawan dirimu, mati pun tentu kau penasaran," kata Cu-sin-tocu. "Selama ini engkau menjadi salah seorang anggota pengurus di sini, ilmu silatmu tentu selalu terlatih baik. Nah, asalkan dapat kau kalahkan diriku, selanjutnya pulau ini akan menjadi kekuasaanmu."
Tangan Hong Man-thian yang memegang tongkat tampak agak gemetar; agaknya dia sedang mengerahkan tenaga dan siap menyerang bila ada kesempatan. Cu-sin-tocu juga menatap lawannya dengan melotot. Keduanya sama tidak bergerak, namun air muka kedua orang makin lama makin prihatin, para penonton juga tambah tegang.
Lambat laun butiran keringat tampak menghiasi kening Hong Man-thian. Selagi dia hendak melancarkan serangan, sekonyong-konyong dari dalam hutan sana ada orang membentak, "Nanti dulu!"
Berbareng itu Lamkiong Peng melompat keluar. Rupanya teringat olehnya berbagai kebaikan Hong Man-thian, ia tidak dapat tinggal diam lagi dan harus menyatakan sikapnya. Selagi semua orang melengak, dengan lantang Lamkiong Peng berseru, "Lamkiong Peng juga berdiri di pihak Hong-locianpwe!" Dengan sikap gagah ia berdiri di depan Hong Man-thian.
Sorot mata Cu-sin-tocu memancarkan cahaya mengejek, katanya, "Hm, kau pun berniat ikut berebut kedudukanku?"
"Salah," kata Lamkiong Peng. "Soalnya pendirianku sepaham dengan Hong-locianpwe; bilamana aku tidak berani ikut bicara, rasanya serupa duri di dalam kerongkongan."
"Hah, bagus," jengek Cu-sin-tocu. "Anak muda serupa dirimu juga berani bicara begini. Apakah kau tidak sayang lagi akan jiwamu? Kau pun takkan menyesal atas sikapmu ini?"
"Aku tahu apa yang kulakukan, kenapa mesti menyesal," jawab Lamkiong Peng.
"Bagus!" mendadak terdengar teriakan orang di kejauhan. Sesosok bayangan melayang tiba secepat terbang dan berhenti di samping Lamkiong Peng. Siapa dia kalau bukan Putliong Liong Po-si.
"Hm, kau pun datang!" jengek Cu-sin-tocu.
"Betul, tak kau sangka bukan?" jawab Liong Po-si. "Hong-heng dan Peng-ji, silakan kalian mundur dulu, biar kubelajar kenal dengan tokoh misterius yang disegani ini. Ingin kutahu kepandaian apa yang dikuasainya."
Habis bicara, ia ambil tongkat Hong Man-thian, tanpa banyak omong lagi ia mengemplang kepala Cu-sin-tocu. Tak terduga oleh Cu-sin-tocu orang berani bergebrak begitu saja dengan dirinya. Segera lengan bajunya mengebut dengan keras; tanpa kelihatan bergerak, serangan Liong Po-si itu dapat dipatahkannya. Namun, tongkat Liong Po-si terus berputar, dalam sekejap saja ia menyerang enam-tujuh kali.
"Apa benar engkau tidak ingin hidup lagi?" bentak Cu-sin-tocu yang terbungkus di tengah bayangan tongkat.
"Betul, coba tunjukkan kepandaianmu," bentak Liong Po-si sambil tetap menyerang.
"Apakah rencanamu itu sudah kau lupakan?"
"Huh, rencana apa? Hanya untuk menipu anak kecil saja," seru Liong Po-si dengan tertawa.
Cu-sin-tocu menjadi gusar. Mendadak sebelah tangannya meraih, kontan ujung tongkat terpegang, tangan yang lain terus menghantam dada lawan. Semua orang menjerit kaget. "Krek", tongkat patah menjadi tiga bagian; bagian tengah yang patah mencelat dan menancap di batang pohon.
Dengan tongkat patah, Liong Po-si tetap menyabat ke depan, namun dadanya tepat kena dihantam oleh Cu-sin-tocu sehingga jatuh terjengkang. Namun, pundak Cu-sin-tocu juga terluka oleh tusukan tongkat patah Liong Po-si. Para penonton sama terkesiap. Lamkiong Peng memburu maju sambil berseru, "Suhu..."
Akan tetapi, Liong Po-si lantas melompat bangun dan membentak, "Minggir!" Cepat ia memburu ke depan dipan batu, kedua potong tongkat patah digunakan sebagai Boan-koan-pit, sekaligus ia menutuk beberapa hiat-to maut di dada lawan. Terkejut juga Cu-sin-tocu oleh serangan kalap Liong Po-si, kedua tangannya bekerja cepat, menangkis dan balas menyerang dengan sodokan kuat, bentaknya, "Kembali!"
"Tidak!" Liong Po-si bertahan, tongkat patah berputar dan kembali ia menutuk lagi dua-tiga kali. Karena bersuara, segera darah segar terpancur dari mulutnya. Rupanya hantaman Cu-sin-tocu yang mengenai dadanya tadi membuatnya terluka dalam.
Khawatir juga Lamkiong Peng. Dilihatnya sang guru tetap tidak gentar dan masih menyerang dengan kalap. Darah yang ditumpahkan Liong Po-si agaknya merangsang lagi semangat kawanan kakek; segera dua-tiga kelompok merubung maju, hanya para kakek penghuni gua itu tetap berdiri di samping tanpa menghiraukan.
"Awas, Suhu," desis Lamkiong Peng kepada gurunya. "Tocu ini bertempur dengan duduk sejak tadi, jika dia berdiri..."
"Sudah lama orang ini mengalami kelumpuhan akibat latihan Iwekang, kedua kakinya cacat, tidak dapat berdiri lagi," ujar Hong Man-thian.
Mendadak terdengar lagi suara "plak-plok", kembali Liong Po-si tergetar jatuh oleh adu pukulan, tubuh Cu-sin-tocu juga tergoyang. Kiranya kedua orang sama-sama terkena pukulan lawan.
"He, Suhu, bagaimana keadaanmu?" seru Lamkiong Peng khawatir sambil memburu maju.
"Boleh kau lihat mereka," ujar Liong Po-si dengan tersenyum pedih dan muka kelihatan pucat.