Halo!

Han Bu Kong - Chapter 103

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 103

Saat Lamkiong Peng berpaling ke sana, terlihat kawanan kakek berbaju belacu lama bangkit semangat perlawanannya. Serentak Cu-sin-tocu terkepung di tengah. Cu-sin-tocu duduk diam saja dengan muka pucat. Sejenak kemudian, mendadak ia pun muntah darah.

"Huh, kau pun terluka parah," ejek Hong Man-thian.

"Apa yang akan kaukatakan lagi?"

"Ya, aku terluka parah. Apa yang dapat kukatakan lagi? Terpaksa kuserahkan tempatku ini," ujar Cu-sin-tocu. "Bukan cuma kedudukan saja yang kuserahkan, juga jiwaku kuserahkan. Cuma kuharap aku diberi kesempatan untuk membereskan segala sesuatu sebelum ajalku."

Para kakek menjadi ragu. Selagi Hong Man-thian hendak bicara, tiba-tiba Liong Po-si berkata, "Biarkan dia pergi."

Lalu Cu-sin-tocu berpaling ke arah kelima kakek anggota pengurus yang berbaju belacu warna kuning, tanyanya, "Dan bagaimana dengan kalian?"

Para kakek anggota pengurus saling pandang sekejap. Tanpa bersuara, mereka menyingkir jauh ke sana.

"Bagus, kalian juga meninggalkan diriku," ucap Cu-sin-tocu dengan tersenyum pedih.

Mendadak terdengar suara meraung, menyusul jeritan orang. Kiranya kelima manusia binatang itu serentak menerjang tiba. Seorang kakek yang lengah telah dipegang mereka dan terbeset mentah-mentah menjadi dua sehingga darah daging berceceran. Kakek yang lain menjadi murka. Serentak mereka melancarkan serangan balasan. Segera terdengar dua kali jeritan ngeri; dua manusia kera itu terlempar dan terbanting binasa.

"Berhenti!" cepat Cu-sin-tocu membentak.

Waktu kawanan kakek itu tersentak kaget, Cu-sin-tocu lantas memberi tanda pada ketiga manusia kera itu, bentaknya pula, "Bawa aku pulang!"

Cepat ketiga manusia kera mengangkat dipan batu dan dibawa ke gua. Cu-sin-tocu sempat menoleh dan berkata, "Segera akan kuberi kabar pada waktu matahari terbenam nanti!"

"Memangnya kami khawatir tak ada kabarmu?" ejek Hong Man-thian.

Cu-sin-tocu mendengus. Mendadak ia melirik ke arah Lamkiong Peng seperti hendak bicara tapi urung, dan terus dibawa pergi.

Sementara itu, air muka Liong Po-si tambah pucat, napas pun mulai lemah. Melihat keadaan sang guru yang gawat itu, Lamkiong Peng sangat sedih. Mendadak ia bangkit dan berteriak kepada para kakek, "Kalian dahulu adalah kaum ksatria pujaan, kenapa sekarang sama berubah menjadi pengecut? Bilamana tadi kalian ikut bertindak, tentu guruku tak akan mengalami cedera seperti ini."

Semua orang berdiri termangu, sorot mata mereka tampak buram.

"Wahai Suhu, jika merasa bukan tandingan lawan, untuk apa..." Belum lanjut keluhan Lamkiong Peng, perlahan Liong Po-si membuka mata, katanya dengan tersenyum pedih, "Peng-ji, duduk saja, dengarkan suatu ceritaku."

Seketika semua orang diam dan ikut mendengarkan apa yang akan diceritakan orang tua itu. Dengan perlahan Liong Po-si bertutur, "Di suatu hutan zaman purba, suasana tenang dan damai. Siapa tahu mendadak datang seekor binatang buas; setiap hari pasti seekor binatang kecil akan dimakannya. Tentu saja kawanan binatang lain panik, tapi tidak ada yang mampu melawan dan terpaksa mereka hidup terinjak-injak di bawah keganasan binatang buas itu.

Saking tak tahan, akhirnya kawanan binatang itu berkumpul dan mencari akal bagaimana cara merobohkan binatang buas itu. Namun semuanya tak berdaya, hanya seekor kelinci saja menyatakan mempunyai akal yang mampu membunuh binatang buas itu.

Akhirnya kelinci itu dimakan binatang buas itu, tentu saja ia mati keracunan. Maka suasana hutan itu pun kembali tenteram dan damai. Namun hati kawanan binatang lain sedih atas pengorbanan si kelinci. Coba katakan, pengorbanan kelinci itu berharga atau tidak?"

Habis bercerita, keadaan sunyi senyap, tiada seorang pun bersuara. Lamkiong Peng pun menunduk dan mencucurkan air mata terharu.

Liong Po-si tersenyum, lalu menyambung ceritanya, "Tadi telah kuperiksa sekeliling pulau ini, ternyata tidak ada harapan bagi kita untuk kabur dari sini, maka timbul niatku meniru pengorbanan si kelinci untuk menyelamatkan orang banyak.

Serangan Tocu tadi sebenarnya cuma tipu pancingan saja; ia yakin aku pasti mampu menghindar, tak disangka aku justru tidak mengelak dan tidak menghindar, tapi pada detik menentukan yang cuma sekilas itu kulancarkan serangan maut dan melukainya. Meski aku pun terluka, namun pengorbanan ini rasanya cukup berharga."

"Liong-taihiap, sungguh aku..." tersendat ucapan Hong Man-thian sehingga tidak sanggup melanjutkan. Ia coba periksa keadaan luka Liong Po-si, kawanan kakek yang lain juga memberikan obat luka. Meski Liong Po-si menyadari lukanya sukar disembuhkan, namun ia pun tidak menolak pemberian obat itu.

Sementara itu sang surya sudah bergeser ke barat, senja sudah tiba. Tertampak seorang manusia kera berlari datang dengan membawa sehelai surat. Cepat Hong Man-thian menerimanya, dengan kening berkerenyit ia membaca dengan suara lantang, "Sudah kuputuskan akan mengundurkan diri. Bila di antara kalian ada yang ingin menjadi Tocu, silakan ikut kemari bersama utusan ini untuk berunding lebih lanjut tentang penggantiku."

Selesai Hong Man-thian membacakan surat ringkas ini, serentak kawanan kakek itu gempar. Kelihatan kelima kakek berbaju belacu juga sibuk membicarakan hal ini. Mendadak Hong Man-thian berteriak, "Bukan tujuan kita untuk menjadi Tocu segala, tapi barang siapa yang terpilih hendaknya jangan lupa pada pengorbanan Liong-taihiap ini. Kalau tidak, harus dia hadapi aku lebih dulu."

"Kau sendiri perlu ke sana..."

"Jangan kau pikirkan urusan ini," sela Hong Man-thian. "Yang penting harus kita usahakan meninggalkan pulau ini."

Sementara itu si manusia kera sudah mendahului melangkah pergi dan diikuti serombongan kakek. Cuaca mulai gelap, belum lagi mereka tiba di tempat tujuan, sekonyong-konyong terdengar suara gemuruh bergema dari gua rahasia; suaranya menggelegar dan dalam sekejap suasana lantas sunyi kembali.

"Celaka!" teriak Liong Po-si, kawanan kakek juga melongo.

"Ada urusan apa?" tanya Lamkiong Peng.

Tapi Hong Man-thian terus berlari ke sana bersama kawanan kakek.

"Peng-ji, coba kau pun melihat ke sana, apa yang terjadi sesungguhnya," kata Liong Po-si.

Lamkiong Peng mengiakan sambil berlari pergi secepat terbang. Ginkangnya sekarang sudah berlipat lebih tinggi daripada dulu, hanya sekejap saja ia sudah sampai di depan tebing yang curam itu. Tertampak pintu gua rahasia itu tertutup rapat. Hong Man-thian dan kawanan kakek berdiri di situ dengan tertegun.

"Apa yang terjadi?" tanya Lamkiong Peng dengan bingung.

"Wah, kenapa kulupakan langkah ini," ucap Hong Man-thian sambil mengentak kaki. "Sungguh tak disangka keparat ini sedemikian keji..."

Melihat orang tua itu juga bisa gelisah, Lamkiong Peng coba tanya pula apa yang terjadi. Hong Man-thian menghela napas, tuturnya, "Gua ini sebenarnya tempat yang biasa digunakan untuk bersembunyi orang yang lari dari daratan sana. Lubang masuk keluar gua dibangun serupa makam kuno dengan batu penutup yang bisa anjlok sendiri. Sekarang Tocu itu sudah melepaskan batu penutup sehingga jalan keluar sudah tersumbat buntu, kawan yang berada di dalam gua jelas akan terkubur hidup-hidup bersama dia. Memang sudah kuduga orang itu pasti akan bertindak secara drastis, tak disangka dia dapat berlaku sekejam ini; kematian sendiri harus disertai teman kubur sebanyak ini."

Lamkiong Peng merasa ngeri, "Apakah tidak ada jalan untuk menyelamatkan mereka?"

"Sekali batu penyumbat sudah dilepaskan, biarpun malaikat dewata juga sukar masuk-keluar. Bukan saja mereka akan tamat seluruhnya, bahkan keadaan kita juga... juga mengkhawatirkan," tutur Hong Man-thian sambil menggeleng.

"Kenapa jadi begitu?" tanya Lamkiong Peng cepat.

"Kau tahu, semua perbekalan yang tersedia di pulau ini tersimpan di dalam gua. Pulau ini tidak menghasilkan tetumbuhan yang dapat dimakan, binatang juga sangat sedikit. Ai, selanjutnya mungkin kita harus isi perut dengan akar rumput atau kulit pohon."

Perasaan semua orang jadi tertekan, semua merasa sedih.

"Jika pulau ini tidak dapat didiami lagi, lebih baik kita berusaha pulang ke daratan selekasnya," ujar Lamkiong Peng.

"Omong sih gampang, tapi praktiknya maha sukar," ujar Hong Man-thian. "Lautan seluas ini, andaikan kita dapat membuat perahu kecil atau rakit, juga takkan tahan hantaman gelombang ombak yang dahsyat."

"Bukankah tempo hari Cianpwe juga mengarungi samudra jauh dari daratan sana, masa sekarang..."

"Sekarang musimnya berbeda," ujar Hong Man-thian. "Mestinya di pulau ini ada belasan kapal yang terbuat dari kayu besi yang kuat dan tahan hantaman ombak, sebab itulah biasanya kami gunakan kapal itu pada waktu tertentu untuk pergi dan pulang dari sini ke daratan sana. Kini kapal itu tersisa tiga buah saja, tapi sisa ketiga kapal itu juga berada di dalam gua."

Belum lagi mereka merasakan hasil kemenangan, segera mereka diliputi kesedihan lagi akan nasib mereka selanjutnya. Selama beberapa hari, luka Liong Po-si sudah ada kemajuan, namun tetap parah. Tenaga pukulan Tocu itu sungguh hebat, kalau bukan Liong Po-si, pasti sudah binasa. Untung juga di tengah pulau ada sumber air tawar yang dapat diminum mereka, namun hidup mereka serupa orang yang terkurung di gurun pasir. Bilamana Liong Po-si tidur, Lamkiong Peng lantas berbicara dengan kawanan kakek itu mengenai ilmu silat. Padanya sudah hafal berbagai macam kungfu sakti yang dibacanya dari kitab-kitab pusaka itu, sekarang ditambah lagi petunjuk kawanan kakek yang berpengalaman luas, tentu saja kemajuannya sangat mengejutkan. Tapi bila teringat olehnya hidupnya akan berakhir di pulau terpencil ini dalam waktu tidak lama lagi, biarpun kungfunya maha sakti juga tidak ada gunanya. Bila teringat demikian, segera hatinya berduka.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment