Halo!

Han Bu Kong - Chapter 104

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 104

Selang beberapa hari, hawa bertambah panas. Lamkiong Peng berjaga di samping Liong Po-si dan mengipasinya dengan kipas daun untuk mengusir nyamuk dan lalat.

"Bikin susah dirimu saja, Anak Peng," ucap Liong Po-si dengan pedih.

"Ah, yang susah justru Suhu," kata anak muda itu. "Suhu, sungguh murid tidak mengerti mengapa Suhu bisa datang ke sini dari puncak Hoa-san?"

Liong Po-si menghela napas. "Kalau diceritakan, sungguh sangat panjang. Hari itu di puncak Hoa-san, kulihat Yap Jiu-pek ternyata belum mati. Tentu saja aku kaget sekaligus girang. Sepanjang jalan dia telah mempermainkan diriku dengan berbagai cara, dan karena tidak mau menyerah kalah, aku terus menerjang ke atas. Tapi sesudah melihat keadaannya yang mengharukan, rasa dongkolku lantas lenyap."

Diam-diam Lamkiong Peng merasa sang guru yang gagah perkasa itu ternyata juga berhati lemah terhadap perempuan. Segera teringat olehnya akan Bwe Kim-soat.

Didengarnya Liong Po-si menyambung lagi, "Sesaat itu aku berdiri tertegun di depannya dan tidak tahu apa yang harus kukatakan, waktu..."

Belum lanjut ceritanya, mendadak di kejauhan terdengar suara ribut dan jeritan di sana-sini.

"Ada apa?" tanya Liong Po-si.

"Akan kuperiksa ke sana," kata Lamkiong Peng sambil menyelinap keluar dari gubuk itu.

Dilihatnya bayangan orang berkelebat di dalam hutan ke sana kemari dengan cepat. Terdengar pula suara Hong Man-thian berkata, "Coba periksa sekeliling, kujaga di sini!"

Cepat Lamkiong Peng memburu ke sana. Setiba di tepi sebuah sungai kecil, tampak empat sosok mayat bergelimpangan. Wajah Hong Man-thian tampak kelam, tongkat kayu yang dipegangnya berulang kali mengentak tanah.

"Ken... kenapa mereka mati? Masa..."

"Coba lihat," ucap Hong Man-thian.

Waktu Lamkiong Peng mengamati, dilihatnya tubuh keempat mayat itu telah berubah menjadi hitam serupa daging busuk, baunya bacin. Padahal tidak terlihat tanda terluka, namun air muka korban kelihatan berkerut serupa orang yang menderita keracunan.

"Jangan-jangan ada racun dalam air?" sela Lamkiong Peng.

Belum lagi Hong Man-thian menjawab, seorang kakek berlari datang dengan membawa sebuah mangkuk perak. Waktu air sungai diceduk, mangkuk perak segera berubah hitam warnanya.

"Hah, benar air beracun," seru Lamkiong Peng kaget.

Seketika Hong Man-thian tak bisa bicara. Jika satu-satunya sumber air di pulau ini juga beracun, maka nasib mereka selanjutnya sukar dibayangkan.

Selagi semua orang tak berdaya, mendadak Lamkiong Peng berseru, "Tidak menjadi soal, air sungai ini terus mengalir. Umpama di hulu sungai diracuni, suatu ketika air yang beracun juga akan habis teralir. Asal kita berjaga di bagian hulu, tentu takkan sampai mati kehausan."

"Hah, betul, lekas ke sana!" seru Hong Man-thian.

Sementara itu, beberapa kakek sudah memeriksa ke sekeliling dan telah kembali dengan tangan hampa; dua di antaranya lantas lari ke hulu sungai untuk berjaga.

"Untung sumber air ini terus mengalir, namun urusan ini belum selesai. Sebelum orang yang menaruh racun ditemukan, selama itu kita tetap akan terganggu," ujar Hong Man-thian.

Semua orang saling pandang dan tidak dapat menerka siapa yang menaruh racun dalam air. Waktu Lamkiong Peng memandang ke sana, mendadak ia berteriak kaget, "He, lihat!"

Semua orang memandang ke arah yang ditunjuk. Ternyata asap tebal mengepul di tengah hutan; di tengah asap terbawa jilatan api. Ketika tertiup angin, api segera berkobar makin berbahaya.

"Wah, hutan terbakar!" seru Hong Man-thian khawatir.

Serentak mereka memburu ke sana. Hanya sekejap saja mereka sudah sampai di depan hutan, namun begitu sukar mendekat karena api yang menjilat dengan hebatnya. Angin pun meniup dengan santar sehingga makin menambah berkobarnya api. Hanya sekejap saja hutan itu sudah berubah menjadi lautan api. Padahal, di dalam hutan ada tetumbuhan yang merupakan sumber hidup mereka; sekarang sudah hangus semuanya.

Selagi mereka melongo tak berdaya, mendadak dari tengah hutan yang terbakar itu melompat keluar dua sosok bayangan. Kiranya kedua kakek yang disuruh memeriksa sekeliling; baju mereka sudah terjilat api, rambut dan jenggot juga terbakar. Segera mereka menjatuhkan diri dan menggelinding di tanah untuk memadamkan api. Begitu melompat bangun lagi, seorang lantas menuding ke tengah hutan sambil berseru, "Dia..." tapi baru bersuara, ia lantas roboh lagi.

"Siapa maksudmu?" Lamkiong Peng mendekatinya dan bertanya.

Dilihatnya kulit badannya sudah melepuh terbakar. Nyata lukanya sangat parah; berkat *lweekang*-nya yang tinggi ia bertahan dan menerjang keluar hutan, namun akhirnya tetap mati karena lukanya. Waktu Lamkiong Peng berpaling, dilihatnya kakek yang satu lagi juga sudah menggeletak tak berkutik.

"Siapa... siapa maksudnya?" gumam Hong Man-thian dengan beringas. Mendadak ia menambahkan, "Lekas kembali ke sana, jangan sampai tempat tinggal di sana juga dibakar musuh!"

Belum habis ucapannya, serentak mereka lari kembali ke tempat tadi. Sesudah dekat dan melihat gubuk itu tidak terhalang, barulah hati mereka merasa tenteram.

"Suhu... Suhu..." dari jauh Lamkiong Peng lantas berteriak; lamat-lamat ia merasa firasat tidak enak.

Benar juga, setiba di depan gubuk, waktu ia melongok ke dalam, seketika air mukanya pucat. Ia sempoyongan dan jatuh terduduk sambil berteriak, "Oh, Suhu... Suhu..."

Ternyata Liong Po-si sudah tidak terlihat lagi di situ, entah menghilang ke mana. Tentu saja Hong Man-thian dan yang lain juga kaget. Dalam pada itu, suara pletak-pletok api yang menyala terdengar semakin dahsyat.

"Liong-taihiap hilang, kita wajib mencarinya. Hendaknya sebagian berjaga di sini dan sebagian ikut padaku..."

Belum lagi selesai ucapan Hong Man-thian, tiba-tiba seorang menjengek, "Hm, kau ini kutu apa?"

Lima orang kakek berjenggot panjang dengan rambut semrawut muncul dari sana. Salah satunya lantas bicara, "Suasana pulau ini mestinya aman dan damai, tapi sejak kau pulang dari daratan, keadaan lantas kacau. Seharusnya kau mati saja untuk menebus dosamu, tapi kau malah main perintah di sini."

"Huh, apakah kalian rela diperintah oleh orang gila itu?" teriak Hong Man-thian.

"Tapi apa pula yang kau dapatkan sekarang? Jelas kalian pun akan mati kelaparan dan kehausan tanpa berdaya," jengek kakek berjenggot panjang itu sembari mendekat.

"Lantas apa kehendakmu?" bentak Hong Man-thian.

"Membunuhmu!" teriak si kakek terus menghantam.

"Hm, manusia tidak tahu diri! Rela diperbudak orang. Tahu begini rendah jiwa kalian, buat apa kususah payah berjuang?" kata Man-thian sambil memutar tongkatnya; sekaligus ia membalas menyerang beberapa kali.

Akan tetapi, keempat kakek lain tidak tinggal diam, serentak mereka pun menerjang maju. Betapapun tangguh Hong Man-thian, ia juga rada kerepotan menghadapi kerubutan keempat kakek itu.

Selagi orang lain hendak memberi bantuan, mendadak ada orang berteriak pula, "Berhenti, berhenti!"

Tiga orang kakek berambut putih membawa tiga sosok mayat berlari datang. Kakek yang paling depan segera berteriak, "Baru saja ada tiga orang kawan disergap di semak-semak sana. Semuanya mati dengan tubuh biru, jelas juga mati keracunan. Keadaan pulau ini penuh bahaya. Dalam keadaan demikian, kita justru harus bersatu padu untuk menghadapi kesukaran bersama. Jika saling membunuh, akibatnya cuma akan merugikan kita sendiri."

Uraian ini agaknya telah menggugah hati nurani semua orang. Seketika pertempuran berhenti.

"Betul," seru Hong Man-thian. "Kita harus mencari dulu biang keladi yang menyalakan api dan meracuni air minum itu. Selanjutnya, kita bahkan harus bersatu untuk berusaha mencari hidup bersama. Kuyakin akhirnya kita pasti dapat selamat."

Sekarang tiada lagi yang membantah, semuanya menurut pendapat Hong Man-thian itu. Sebagian tinggal di sini untuk berjaga, yang lain lantas terpencar untuk menyelidiki jejak musuh dan juga mencari Liong Po-si.

Ombak mendampar menimbulkan suara mendebur, angin mendesir seakan-akan menyayat daun telinga. Lamkiong Peng berjalan menyusuri pantai. Tampak rumah hitam berdiri megah di depan sana; rumah yang entah telah mengubur banyak pahlawan dunia. Terpikir olehnya musuh yang tak kelihatan ini. Ia mencari tanpa arah tertentu, padahal sejauh mata memandang, pantai kelihatan rata, tiada seorang pun.

Tiba-tiba terlihat olehnya sebuah sepatu anyaman rumput tertinggal di sela-sela batu sana. Ujung sepatu menghadap ke timur dan kelihatan ada tetesan darah.

Tergerak hati Lamkiong Peng, "Apakah inilah barang tinggalan Suhu?"

Segera ia menoleh ke arah yang ditunjuk oleh ujung sepatu. Tidak jauh dari situ, benar juga ditemukan sebelah sepatu lagi. Kini ujung sepatu mengarah miring ke barat laut.

Tanpa pikir panjang, Lamkiong Peng mengikuti petunjuk itu. Dilihatnya tebing karang malang melintang di tepi laut. Dinding tebing terjal sekali; di bawahnya adalah air laut yang mendebur-debur. Diam-diam ia mengukur dan menaksir, dapat dihitung tebing karang ini seperti bagian atas gua yang sudah tertutup buntu itu. Ia coba menyelidiki lagi sekitar situ, tebing itu memang sangat rapat dan tiada jalan tembus.

Matahari sudah terbenam, sisa cahaya senja menyinari permukaan laut dan memantulkan pemandangan yang indah. Sudah tentu Lamkiong Peng tidak ada minat untuk menikmati pemandangan itu. Dengan kesal ia duduk di atas batu karang. Tiba-tiba terdengar suara bicara orang yang perlahan sayup-sayup berkumandang dari bawah dinding tebing sana. Lamat-lamat dapat dikenali sebagai suara Cu-sin-tocu itu. Dia seperti berkata, "Kenapa Liong Po-si bertelanjang kaki, ke mana pergi sepatunya?"

Sejenak kemudian, dari balik dinding tebing sana menongol kepala Cu-sin-tocu yang berdahi lebar dengan rambut semrawut itu.

Lamkiong Peng tidak berani bergerak dan mendekam di tempatnya. Dilihatnya Cu-sin-tocu digendong oleh seorang manusia kera, dengan langkah cepat sebentar saja sudah menyusup masuk ke sela-sela karang sana.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment