Chapter 105
Tanpa berpikir panjang, Lamkiong Peng merunduk ke depan. Dengan ilmu ginkang yang dimilikinya saat ini, tidak sulit baginya untuk menguntit musuh. Ketika ia melayang turun, ternyata di bawah hanya terdapat air laut dan tiada tempat untuk berpijak. Ia heran, ke mana menghilangnya Cu-sin-tocu bersama manusia kera tadi. Waktu ia periksa kembali, ia melihat ada tali rotan yang melambai-lambai tertiup angin di dinding tebing. Ia berpikir mungkin tali ini digunakan untuk merambat naik-turun.
Segera ia memegang tali rotan itu dan melorot ke bawah. Benar saja, hanya setelah melorot satu atau dua tombak, ia melihat celah batu dan segera menyelinap ke situ. Beberapa tombak ke dalam, tiba-tiba lorong itu melebar; di depannya terdapat sebuah gua dengan beraneka macam tonjolan batu, akan tetapi tidak terlihat bayangan seorang pun. Ia mencoba maju lagi dan menuruni jalan ke bawah. Tiba-tiba, ia melihat di depannya seolah tertutup oleh dinding kayu. Waktu ia tertegun, terdengar suara "krek", dan dari samping melompat keluar dua sosok bayangan. Ternyata itu dua manusia kera yang tanpa bicara langsung menerjang Lamkiong Peng.
Anak muda itu membentak, kedua tangannya menghantam sekaligus. Sebelum lawan mendekat, mereka sudah tergenjot hingga terpental. "Bluk!" Mereka menumbuk dinding batu, muntah darah, lalu roboh binasa. Setelah menarik napas, ia mencoba memandang lebih cermat. Baru kini ia melihat jelas bahwa dinding kayu itu ternyata adalah lambung sebuah perahu yang berdiri tegak. Segera ia teringat akan cerita Hong Man-thian tentang perahu buatan dari kayu besi itu; tentu inilah perahu yang dimaksud.
Cepat ia memutar ke sana, dan saat maju lagi, tampak sebuah kamar batu yang penuh tertimbun perbekalan serta guci air. Di pojok sana ada sebuah dipan batu dengan seseorang yang terbujur di situ. Dadanya kelihatan naik-turun; agaknya ia sedang tidur nyenyak. Waktu dipertegas, ternyata itu adalah Putliong Liong Po-si. Tentu saja Lamkiong Peng kegirangan. Serunya, "Suhu..."
Namun, baru ia bersuara, mendadak seseorang menjengke di belakangnya, "Hm, kau pun datang, bagus sekali!" Tergetar hati Lamkiong Peng. Cepat ia berpaling dan ternyata Cu-sin-tocu, dengan memegang dua tongkat bambu dan digendong manusia kera tadi, sudah muncul di sana. Lamkiong Peng sadar bahwa akibat terlalu lama menghuni pulau terpencil ini, jalan pikiran orang tua ini sudah kurang waras. Apalagi setelah kehilangan wibawa, sifat gilanya meledak dan ia ingin memusnahkan setiap orang yang dianggap sebagai musuh.
"Semua perbuatan keji itu tentu dilakukan olehmu, bukan?" tanya Lamkiong Peng dengan gusar.
Cu-sin-tocu terbahak, "Kecuali diriku, masa ada orang lain? Pendek kata, yang tunduk padaku akan hidup, yang membangkang harus mati. Jika mereka sudah mengkhianatiku, harus kubinasakan mereka sama sekali." Suara tertawanya serupa orang gila, bicaranya beringas; ngeri juga Lamkiong Peng melihat orang tua yang sudah kalap ini. Perlahan ia menyurut mundur ke arah dipan batu, tetapi manusia kera itu mendesak maju.
Mendadak Lamkiong Peng bergerak hendak menyerang, seketika manusia kera itu berbalik mundur. "Kau pun berani bergebrak denganku?" bentak Cu-sin-tocu.
"Tidak cuma bergebrak saja, bahkan ingin kutumpas dirimu," teriak Lamkiong Peng terus melancarkan pukulan berantai. Namun, Cu-sin-tocu lantas memutar tongkatnya sehingga serangan Lamkiong Peng tertahan. Dengan penuh semangat, Lamkiong Peng melancarkan serangan lagi dengan berbagai jurus, di antaranya terselip kungfu yang baru dipelajarinya dari berbagai kitab pusaka yang ia baca di pulau ini.
"Haha, anak keluarga Lamkiong memang serba pintar," seru Cu-sin-tocu dengan tertawa. "Meski cuma beberapa jilid buku yang kuberi kau baca, hasil yang kau tarik ternyata tidak mengecewakan." Sembari bicara, ia terus berputar dan mematahkan setiap pukulan Lamkiong Peng. Perawakan manusia kera itu memang tinggi besar, dan karena Cu-sin-tocu mendekap di atas punggungnya, kedudukannya menjadi lebih tinggi dan lebih menguntungkan. Lambat laun, serangan Lamkiong Peng semakin berat.
Tiba-tiba timbul pikirannya untuk tidak lagi menyerang Cu-sin-tocu, melainkan hanya mencecar manusia kera itu. Karena kedua tangan manusia kera tersebut harus digunakan untuk mendukung Cu-sin-tocu yang digendongnya, dengan sendirinya ia tidak sanggup menangkis. Ia hanya menggerung murka dan tidak dapat membalas. Setelah beberapa kali menghindar, tahu-tahu ia sudah menyurut mundur sampai di luar gua.
Segera serangan Lamkiong Peng bertambah gencar. Suatu kali ia yakin pasti dapat merobohkan musuh, namun tiba-tiba bayangan tongkat menyambar sehingga ia terpaksa melompat mundur. "Sudah belasan jurus kau serang, sekarang giliranku," seru Cu-sin-tocu, kini ia menyerang dengan cerdik sambil melindungi manusia kera yang digendongnya. Karena lawan lebih tinggi, sukar bagi Lamkiong Peng untuk membalas, kembali ia terdesak mundur hingga mepet dinding.
Mendadak tongkat menyambar tiba. Cepat Lamkiong Peng menggeser ke samping, "Brak!", tongkat mengenai dinding hingga batu kerikil berhamburan. Untuk mundur lagi sudah tidak mungkin, tiba-tiba Lamkiong Peng melihat mayat manusia kera yang mati tadi menggeletak di sampingnya. Cepat ia meraihnya lalu dilemparkan ke arah musuh. Darah mayat itu belum kering sehingga berhamburan mengenai kepala dan muka manusia kera yang menggendong Cu-sin-tocu. Bau anyir darah merangsang kebuasannya; mendadak ia meraung, bangkai kawannya ditangkap lalu dirobek, bahkan isi perutnya terus dilahap.
Dalam keadaan begitu, Cu-sin-tocu jadi tidak terpegang lagi dan terperosok ke bawah. Cepat sebelah tongkatnya menahan tanah, sementara tongkat yang lain menotok manusia kera yang buas itu hingga roboh. Berbarengan dengan itu, ia pun terkulai di tanah. Tentu saja Lamkiong Peng tidak tinggal diam, serentak ia menubruk maju. Terpaksa Cu-sin-tocu menggunakan tongkat untuk menolak tanah sehingga tubuhnya melayang ke dalam kamar batu.
Lamkiong Peng berteriak kaget dan cepat memburu. Dilihatnya Cu-sin-tocu sudah hinggap di atas dipan batu, "Hm, apakah kau minta kumampuskan gurumu?" Seketika Lamkiong Peng tidak bisa berkutik dan tidak berani melangkah maju lagi.
"Sudah kutotok hiat-to tidurnya. Cukup tongkatku kutekan ke bawah dan jiwanya segera melayang, tapi bila kau mau..."
"Mau apa?" teriak Lamkiong Peng.
"Asal kau mau bekerja menurut perintahku, tentu beres urusan ini."
"Sungguh tak disangka orang terhormat semacam dirimu juga dapat bertindak serendah ini," damprat Lamkiong Peng.
"Haha, tidak perlu kau gunakan kata-kata kasar untuk memancingku," seru Cu-sin-tocu. "Pokoknya, jika engkau tidak mau menurut, maka jiwa gurumu berarti akan amblas di tanganmu."
"Apa kehendakmu?" tanya Lamkiong Peng.
"Anak buah yang melayaniku sudah kau bunuh semua," ucap Cu-sin-tocu. "Maka sebagai gantinya, kau harus mengerjakan semua tugas mereka. Nah, kuberi waktu satu jam bagimu untuk menggusur perahu ini ke mulut gua, lalu mengusung semua perbekalan ini dan dimuat ke atas perahu. Jika melampaui batas waktu atau sengaja main gila padaku, hm, tentu kau tahu sendiri akibatnya."
"Maksudmu hendak meninggalkan pulau ini?" tanya Lamkiong Peng terkejut.
"Betul, pulau ini sudah terbakar ludes, hilanglah segala rencanaku yang telah kuatur selama ini. Untuk apa pula kutinggal lagi di sini dan hidup serupa orang hutan?" kata Cu-sin-tocu dengan tertawa. "Meski orang-orang itu belum mati seluruhnya, biarkan mereka tinggal di sini dan apa yang akan mereka alami pun sudah cukup setimpal bagi mereka." Terkejut dan gusar, Lamkiong Peng seketika tidak sanggup bersuara.
"Tapi jangan kau kuatir," kata Cu-sin-tocu pula. "Kalian berdua guru dan murid bukan saja akan kubawa serta, bisa jadi akan kuwariskan pula ilmu pertabibanku yang telah kupelajari selama berpuluh tahun ini. Coba kau bayangkan, bilamana dapat kaukuasai ilmu mukjizat, dapat kau tentukan mati-hidup orang, dapat kau pindah dan sambung anggota badan orang, bagaimana perasaanmu nanti?"
Namun Lamkiong Peng tetap tidak bergerak, jawabnya, "Tidak perlu..."
"Lekas kerjakan!" bentak Cu-sin-tocu mendadak sambil mengangkat tongkatnya. Diam-diam Lamkiong Peng merasa menyesal; sebenarnya ia rela menerima risiko apa pun, tapi ia tidak ingin keselamatan sang guru terancam. Terpaksa ia kerjakan apa yang diminta. Ukuran perahu itu cukup besar dan sangat berat. Dengan sepenuh tenaga, barulah Lamkiong Peng dapat mengangkut semua barang ke mulut gua. Di luar gua adalah lautan; rupanya di sini adalah sebuah kanal sempit yang menembus ke laut. Setelah segala sesuatu selesai dikerjakan, tentu saja ia mandi keringat dan letih.
"Boleh juga. Sekarang boleh kau duduk di mulut gua sana, jangan sembarangan bertindak," kata Cu-sin-tocu. Tiada jalan lain, terpaksa Lamkiong Peng menurut. Setelah menunggu sejenak, tampak Cu-sin-tocu memanggul Liong Po-si dan berlompatan dengan kedua tongkatnya menuju ke atas perahu.
"Dorong perahu ini ke air, lalu kau pun melompat ke atas perahu!" bentak Cu-sin-tocu. Terpaksa Lamkiong Peng melakukan apa yang diperintahkan. Jika ia tidak naik ke atas perahu, jelas sang guru sudah ikut terbawa. Mau tak mau, ia pun melompat ke dalam perahu. Waktu tongkat Cu-sin-tocu menolak tepian kanal, segera perahu itu meluncur. Hanya beberapa kali tolakan saja, perahu itu sudah keluar gua dan berada di lautan lepas. Terlihat ombak mendampar-dampar, perahu terombang-ambing dan berguncang hebat.
Mau tak mau, berubah juga air muka Cu-sin-tocu. Katanya, "Ambil pengayuh dan dayung sekuatnya, akan kupegang kemudi di buritan." Melihat perubahan air muka orang itu, perlahan Lamkiong Peng berucap, "Pulau yang telah kau benahi selama berpuluh tahun dengan susah payah, apakah tidak berat kau tinggalkan begini saja?"
"Tentu saja berat," jengkel Cu-sin-tocu.
"Jika begitu, lebih baik kembali saja ke sana," seru Lamkiong Peng.