Halo!

Han Bu Kong - Chapter 106

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 106

"Tidak, berat atau tidak, harus pergi." Lamkiong Peng menggelengkan kepala. Bukannya ia tidak ingin meninggalkan pulau ini, ia hanya tidak tega pada kawan-kawan yang tertinggal di sana.

Terpaksa ia mendayung sekuat tenaga. Pulau itu terlihat semakin kecil, sampai akhirnya hanya tersisa setitik hitam saja di kejauhan, lalu lenyap dari pandangan.

Ujung tongkat Cu-sin-tocu tetap mengancam di dekat tenggorokan Liong Po-si yang masih belum sadar itu. Kelopak matanya terlihat terpejam, agaknya sudah tidur.

Perlahan Lamkiong Peng mengangkat dayungnya dan bermaksud menghantam kepala orang tua itu. Siapa tahu?

Namun, baru saja dayung terangkat sedikit, Cu-sin-tocu segera membuka mata. Terpaksa ia menjatuhkan dayung ke air dan berteriak dengan gusar, "Sesungguhnya hendak kauapakan kami?"

"Mestinya kau harus berterima kasih padaku," ujar Cu-sin-tocu. "Kubawa pergi dirimu, tujuanku dalam waktu setahun akan kuwariskan segenap ilmu pertabibanku kepadamu. Dengan ilmu itu, harus kausembuhkan kelumpuhan kakiku."

"Siapa yang sudi belajar ilmu pertabibanmu yang gila itu?" jawab Lamkiong Peng dengan gusar.

"Mau atau tidak mau belajar, tetap harus kauterima, sebab hal ini bukan permintaanku, melainkan perintah. Jika tidak kauterima, hm, tentu kautahu sendiri akibatnya, sebab kedua kaki gurumu juga akan serupa kakiku ini."

"Apa maksudmu? Jadi, akan kau..."

"Betul, sudah kutotok dengan cara yang berat sehingga kaki gurumu pun sudah cacat. Jika hendak kausembuhkan dia, harus kaubelajar ilmu pertabibanku dan lebih dulu harus menyembuhkan kakiku."

"Keparat! Biar ku..." Segera Lamkiong Peng hendak menerjang musuh. Tapi baru saja bergerak, tongkat Cu-sin-tocu mengancam tenggorokan Liong Po-si sambil membentak, "Berani sembarang bergerak?"

Lamkiong Peng mati kutu. Dengan menunduk, ia duduk kembali, "Kenapa kau..."

"Soalnya meski aku menguasai ilmu pertabiban mahatinggi, aku tidak mampu melakukan pembedahan atas kakiku sendiri," ujar Cu-sin-tocu.

"Di atas pulau tadi masih ada beratus orang lain, mengapa kaupilih diriku saja?"

"Sudah tentu ada alasanku, cuma sekarang belum dapat kuberitahukan padamu," ujar Cu-sin-tocu dengan tersenyum.

Melihat senyuman orang itu yang sangat aneh, seperti ada sesuatu rahasia, seketika ia menjadi sangsi. Namun, ia justru mendayung lebih kuat. Entah sudah berapa jauh ia mendayung, tangannya terasa perih, namun pikirannya mulai tenang dan merenungkan akal untuk meloloskan diri.

Malam sudah larut, bintang bertaburan di langit, perahu kecil ini terombang-ambing di lautan lepas yang gelap dan tak terlihat ujung pangkalnya, sunyi ngeri rasanya. Cu-sin-tocu juga sedang memandangi bintang di langit untuk membedakan arah. Sorot matanya yang beringas itu kini sudah berubah juga, tampak ia pun sedih, seperti menanggung tekanan batin.

Sekonyong-konyong angin mulai bertiup, angin kencang menghimpun awan tebal sehingga kerlipan bintang mulai tak kelihatan.

"Celaka!" keluh Cu-sin-tocu sambil memandang kejauhan.

"Ada apa?" tanya Lamkiong Peng.

"Sebentar lagi akan datang hujan badai," sahut Cu-sin-tocu khawatir.

Baru habis ucapannya, gumpalan awan hitam sudah meluas hingga berpuluh kali lebih banyak, seluruh langit seakan-akan tertutup semua. Angin bertambah keras, di tengah deru angin seperti membawa butiran air hujan sebesar biji kacang. Ombak juga bergolak hebat; jika perahu biasa, mungkin akan terbalik.

Setelah ragu sebentar, akhirnya Cu-sin-tocu menepuk *hiat-to* Liong Po-si, lalu menarik napas dalam, lalu memandang sekeliling.

"Suhu, engkau tidak apa-apa, bukan?" seru Lamkiong Peng.

Sinar mata Liong Po-si menerong terang, teriaknya dengan kejut dan gusar, "Mengapa aku berada di sini?"

"Sekarang bukan waktunya untuk bicara," kata Cu-sin-tocu. "Meski perahu ini terbuat dari kayu besi yang berat, tapi juga tidak tahan damparan ombak sedahsyat ini. Tampaknya angin yang akan berjangkit adalah sejenis *Liong-kui-hong* (angin lesus berputar), tiada jalan lagi bagi kita kecuali harus berusaha mengerahkan tenaga untuk menahan perahu ini agar jangan oleng..."

Pada saat dia bicara itulah, hujan deras dan badai lantas berjangkit, ombak mendampar dengan dahsyatnya sehingga perahu seolah-olah terlempar ke udara mengikuti gelombang. Sekuatnya mereka bertiga mengerahkan tenaga dalam untuk menahan perahu. Ombak mendampar susul-menyusul, suasana gelap gulita. Sekujur badan Lamkiong Peng sudah basah kuyup, ia mendapatkan sebuah ember untuk membuang air yang masuk ke dalam perahu. Namun, hujan tambah deras, air di dalam perahu bertambah banyak dan tidak berkurang.

Menghadapi bahaya maut membuat mereka melupakan permusuhan pribadi. Sekarang mereka harus bersatu dan bergotong royong menghadapi maut, harus berjuang mati-matian supaya perahu tidak terbalik dan tenggelam. Perjuangan mereka ini sungguh sangat sulit sebab ombak semakin dahsyat. Betapa kukuh perahu ini dan betapa tinggi ilmu silat mereka, tampaknya tetap lebih banyak celaka daripada selamatnya.

Dalam keadaan demikian, mendadak Cu-sin-tocu berseru, "Liong Po-si, Lamkiong Peng, apakah kalian benci padaku karena kubawa kalian ke tengah lautan ini?" Namun, kedua orang itu sedang menghadapi pergolakan ombak yang mengkhawatirkan itu, mereka tidak menjawabnya.

Cu-sin-tocu menghela napas panjang, katanya pula, "Kekuatan manusia memang tidak dapat melawan kekuasaan Thian. Semula ingin kututup terus rahasia ini, tapi sekarang kita lagi menghadapi maut, setiap saat ada kemungkinan akan tenggelam ke dasar laut, rasanya aku pun tidak perlu menunggu lagi."

"Rahasia apa?" serentak Liong Po-si dan Lamkiong Peng bertanya dengan tercengang.

"Apakah kalian tahu siapa aku?" teriak Cu-sin-tocu.

Lamkiong Peng melengak, sedang Liong Po-si lantas menegas, "Sesungguhnya siapa kau?"

"Lamkiong Peng, ketahuilah, aku inilah pamanmu," teriak Cu-sin-tocu dengan terbahak. "Dan kau, Liong Po-si, akulah yang merusak kebahagiaan selama hidupmu."

Terguncang perasaan Lamkiong Peng, berbagai tanda tanya yang membuatnya bingung selama ini sekarang jadi terjawab. Pantas orang tua ini memperlakukan diriku lain daripada orang lain, pantas juga dia mengharuskan aku mewarisi ilmu pertabibannya. Pada waktu dia meninggalkan rumah, dia membunuh anak-istrinya, tentu hatinya sangat sedih dan menyesal. Kehidupan sepi dan merana selama berpuluh tahun tentu membuat tekanan batinnya bertambah berat sehingga pikiran pun kurang waras, makanya dia melakukan hal-hal yang kejam dan gila itu.

Tapi sebab apa pula dia merusak kebahagiaan hidup Liong Po-si? Seketika Lamkiong Peng merasa heran, sedih, kasihan, kejut, dan juga gusar.

Dilihatnya Liong Po-si juga terkejut dan bertanya, "Hah, jadi... jadi engkau ini Lamkiong Eng-lok? Jadi kaulah yang membuat Yap Jiu-pek membenciku selama hidup, engkaulah orang berkedok kain hijau dahulu itu?"

Sekuatnya Cu-sin-tocu memegangi perahu yang oleng itu, pikirannya juga bergolak serupa ombak samudra yang mengamuk itu. Dengan suara parau ia menjawab, "Betul, akulah Lamkiong Eng-lok, akulah si orang berkedok kain hijau itu. Empat puluh tahun yang lalu, waktu pertama kali kulihat Yap Jiu-pek, saat itu juga aku jatuh cinta padanya dan lupa daratan bahwa aku sudah mempunyai anak-istri, juga lupa tidak lama lagi aku harus meninggalkan masyarakat ramai dan hidup terpencil kesepian di pulau itu.

"Waktu itu antara kalian berdua sudah terkenal sebagai pasangan setimpal di dunia *kangouw*, timbul benci dan iriku. Aku bertekad mengacau hubungan kalian. Dengan sendirinya orang *kangouw* takkan menduga semua itu dilakukan olehku, sebab orang *kangouw* tidak ada yang tahu putra sulung pujaan keluarga Lamkiong menguasai kungfu yang mengejutkan.

"Ketika akhirnya terjadi pertengkaran dan bahkan menjadi musuh antara Yap Jiu-pek denganmu, pada saat itu pula aku berangkat jauh ke lautan sini dengan meninggalkan kampung halaman. Karena rasa sedih dan dengki, aku bertekad akan berpisah selamanya dengan kehidupan ramai, maka secara kejam kubunuh anak-istri sendiri." Mendadak angin menderu dan bertiup dengan keras sehingga menambah seram ucapan yang terakhir itu.

"Meski kaupergi meninggalkan dunia ramai, tapi hidupku telah kaubikin susah," teriak Liong Po-si dengan gemas. Seketika rasa dendam lama dan benci baru timbul serentak, segera ia bermaksud menghantam.

"Nanti dulu," bentak Lamkiong Eng-lok. "Sekalipun kauingin balas dendam, hendaknya tunggu dulu setelah habis ceritaku." Mukanya kelihatan basah, entah air laut atau air mata, dengan suara parau ia menyambung lagi, "Setiba di atas pulau, tetap tak dapat kulupakan kehidupan dunia ramai sana, terlebih tidak dapat melupakan kalian, tambah lama tambah jelas terbayang kejadian masa lampau. Bayangan Yap Jiu-pek juga sukar terhapus dalam benakku."

Liong Po-si menggerung murka, tapi Lamkiong Eng-lok meneruskan lagi, "Untung turun-temurun orang keluarga Lamkiong adalah Cu-sin-tocu..."

"Apa katamu?" tergetar hati Lamkiong Peng.

"Kautahu, pulau para dewata ini justru adalah ciptaan keluarga Lamkiong. Setiap keturunan keluarga Lamkiong kita, anak sulung harus dikirim ke sini, yaitu untuk mewarisi kedudukan Tocu. Hal ini tetap merupakan rahasia dunia persilatan selama ini, sebab itulah kau pun tidak tahu. Waktu kaudatang mulamula sudah kukatakan akan memberi tugas padamu, maksudku adalah bila aku sudah wafat, kedudukan Tocu akan kuserahkan padamu."

Mendadak Liong Po-si berteriak, "Setelah kaujadi Tocu di sini, engkau belum melupakan kami dan mengirim utusan untuk mencari kami dan akhirnya bertemu di puncak Hoa-san. Pada saat kami sedang lengah, aku telah dikerjai kalian dan dibawa ke sini... Sekarang ingin kutanya padamu. Yap Jiu-pek telah kausembunyikan di mana?"

Lamkiong Eng-lok termenung sejenak, katanya kemudian, "Yap Jiu-pek su... sudah terjerumus ke dalam jurang, dia sudah mati, sampai mayat pun sukar ditemukan lagi. Karena pukulan batin itulah, maka pikiranku rada terganggu..." Deru ombak yang mendampar membuat suaranya terputus-putus dan hampir tak terdengar.

"Kaubilang apa?" bentak Liong Po-si.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment