Chapter 107
"Dia sudah mati!" jawab Cu-sin-tocu alias Lamkiong Eng-lok dengan parau.
"Mati... sudah mati!" gumam Liong Po-si dengan melotot. Mendadak ia meraung murka, serentak ia melompat maju untuk menghantam batok kepala lawan.
Akan tetapi, Lamkiong Eng-lok sempat menangkisnya sambil tertawa pedih, "Baik, baik, permusuhan kita selama puluhan tahun boleh juga diselesaikan saja sekarang." Maka terdengarlah suara "plak-plok" beberapa kali. Dalam waktu singkat, keduanya sudah saling gebrak enam sampai tujuh jurus.
Karena gerakan kedua orang yang keras, imbangan perahu menjadi oleng dan naik turun terlempar ombak. Perbekalan yang dimuat di perahu pun jatuh ke laut.
Sambil memegang perahu yang oleng, Lamkiong Peng berteriak, "Suhu... Paman, berhenti... berhenti..." Tapi kedua orang tua itu tidak mendengar lagi seruannya. Meski kaki keduanya tidak bisa bergerak, empat tangan mereka saling menghantam.
Lamkiong Peng serba susah; ia tidak dapat membantu guru untuk membunuh paman, sebaliknya juga tidak dapat membantu paman untuk memusuhi guru.
Mendadak terdengar Liong Po-si dan Lamkiong Peng membentak bersamaan, menyusul perahu yang terlempar ke atas oleh gelombang tinggi. Kontan perahu miring ke samping. Belum lagi sempat Lamkiong Peng menjerit, ia sudah tergelincir ke dalam laut.
Gelombang ombak mendamparkan tubuhnya dengan dahsyat sehingga ia tak berdaya. Hanya dalam hati ia dapat mengeluh, "Tamatlah segalanya."
Ia tenggelam ke dalam laut. Di tengah kondisi setengah sadar, mendadak tangannya menyentuh sesuatu. Secara bawah sadar, ia terus memegang benda itu dan tidak melepaskannya lagi.
Sang surya memancarkan cahayanya yang gilang-gemilang sehingga membuat permukaan laut gemerlap dan memantulkan kelip cahaya keemasan. Angin laut mendesir dan menimbulkan gemersik daun pohon kelapa yang banyak tumbuh di tepi pantai.
Pesisir yang berwarna keemasan itu semula tidak ada jejak manusia, tapi ombak yang tidak kenal ampun itu mendadak mengantarkan sesosok tubuh ke pantai. Tubuh itu tak bergerak, mata terpejam; entah sudah mati atau masih hidup. Janggutnya pendek kaku, namun alisnya kelihatan cakap dan masih muda. Kedua tangannya mencengkeram kencang sebuah peti kayu.
Rupanya ketika hampir tenggelam, tangan Lamkiong Peng sempat meraih sebuah peti kayu. Peti inilah yang menyelamatkan jiwanya hingga akhirnya terdampar ke pantai.
Tidak lama kemudian, tangan yang mencengkeram peti itu mulai mengendur. Kelopak mata pun bergerak dan akhirnya terbuka sedikit, tapi karena silau oleh sinar matahari, ia menutupi mata dengan tangan. Perlahan ia meronta bangun dan duduk. Ia memuntahkan air laut yang membuat perutnya terasa gembung, lalu memandang sekeliling yang lapang dan sunyi.
Sekali lagi Lamkiong Peng lolos dari renggutan maut. Namun, ia sudah kehabisan tenaga dan hatinya menciut. Apakah mungkin ia dapat bertahan hidup di pulau kecil ini? Ia berdiri; ia tidak ingin memikirkan apa yang sudah terjadi, juga tidak berani membayangkan nasib guru dan pamannya, entah mati atau masih hidup.
Ia tidak tahan sinar matahari yang menyengat, ia menuju ke bawah pohon kelapa. Di balik deretan pohon kelapa itu, ada sebuah hutan yang rindang dengan macam-macam pohon. Dengan langkah sempoyongan, Lamkiong Peng menuju ke balik pepohonan kelapa. Ketika dekat dengan hutan yang rindang itu, dilihatnya di atas tanah kuning yang kering ada bekas tapak kaki yang aneh, yakni tapak kaki raksasa.
Terkesiap anak muda itu. Pada tapak kaki itu kelihatan bekas tiga jari serupa bekas kaki burung, tapi bagian tumit dan telapak serupa kaki manusia. Ia tertarik untuk mengetahui sebenarnya bekas kaki makhluk apa itu.
Baru saja ia melangkah lagi, mendadak tanah yang diinjaknya longsor ke bawah. Rupanya di samping bekas kaki itu ada sebuah jebakan selebar satu tombak. Ketika merasa kaki menginjak tempat kosong, ia terkejut. Sekuat tenaga ia memegang tepian lubang dan berusaha melompat ke atas. Ia tidak berani lagi hinggap di sekitar situ, melainkan terus meloncat setingginya dan melayang ke dalam hutan.
Tapi mendadak kakinya tersandung ranting pohon. Ia terkejut dan berusaha hinggap di atas dahan. Tak terduga, di saat itu juga sepotong ranting menyambar. Karena getaran ranting yang serupa panah itu mengakibatkan ranting kayu yang lain bergerak, sehingga dari sana-sini menyambar panah-panah kayu yang tajam.
Dihujani panah dalam keadaan terapung, tentu saja Lamkiong Peng agak kerepotan, apalagi beberapa kali lompatan itu telah banyak memakan tenaganya. Untuk menyelamatkan diri, terpaksa ia anjlok ke bawah. Siapa tahu, begitu kaki menyentuh tanah, segera diketahuinya ia kembali terjeblos ke dalam perangkap.
Sekali ini ia mati kutu. Meski sekuat tenaga ia berusaha melompat lagi ke atas, ia sukar mengeluarkan tenaga lagi. "Plung", tahu-tahu ia terjeblos ke dalam air.
Kiranya lubang perangkap ini selain luas dan dalam, pada dasar lubang ada air sedalam enam sampai tujuh kaki. Betapapun tinggi ilmu *ginkang* seseorang, bila sudah terjeblos ke dalam lubang seperti ini, tentu juga tak berdaya seketika. Sekujur badan Lamkiong Peng terendam air, bahkan hampir tenggelam sama sekali. Sebisa mungkin ia berjinjit sehingga hidungnya dapat menongol di permukaan air.
Lebih celaka lagi, mendadak terdengar suara "brak", ada penutup yang menutupi lubang perangkap itu hingga keadaan menjadi gelap gulita.
Kejut dan sangsi Lamkiong Peng. Pikirnya, "Tak disangka di pulau terpencil ini ternyata ada manusia. Melihat cara pembuatan perangkap ini, agaknya bukan digunakan untuk menangkap binatang, melainkan ditujukan terhadap tokoh persilatan kelas tinggi yang memiliki *ginkang* yang hebat. Entah siapa gerangan pemasang perangkap ini dan siapa pula yang hendak dijebaknya."
Selagi ia merasa ngeri terhadap musuh yang tidak diketahui ini, sekonyong-konyong terdengar suara orang tertawa; suaranya seram serupa bunyi burung hantu. Kiranya pada waktu penutup lubang jebakan tadi merapat dan menimbulkan suara "bluk", suara itu menggema jauh ke tengah hutan yang lebat. Segera dari dalam sebuah rumah yang dibangun di atas dahan pohon serupa sarang burung itu, melayang keluar sesosok bayangan manusia.
Bayangan orang itu berambut panjang, rupanya seorang perempuan, namun tubuhnya hanya dibungkus dengan dedaunan dan akar-akaran. Kulit badannya tampak kering karena terbakar sinar matahari. Kesepuluh jarinya kurus kering, tulang pipi tinggi menonjol, hanya kedua matanya masih mencorong, tapi mencorong buas serupa kelaparan dan menimbulkan rasa ngeri bagi yang melihatnya.
Dia tertawa latah dan berkata, "Baru sekarang kau rasakan kelihaian nyonya..." Meski cepat gerak tubuhnya, ia melakukannya dengan hati-hati seperti di dalam hutan ini penuh perangkap. Ketika dia sudah berdiri di atas papan penutup lubang jebakan itulah baru ia berteriak pula sambil tertawa terkekeh, "Siapa itu yang di atas?"
"Mengapa kau jebak diriku dengan cara sekeji ini?" teriak Lamkiong Peng.
Karena ucapannya ini, suara tertawa di atas seketika berhenti. Perempuan kurus kering itu melongo sendiri, sorot matanya yang mencorong menampilkan rasa terkejut. Ia membentak dengan bengis, "He, bu... bukan kau... Siapa kau?"
Baru sekarang hati Lamkiong Peng merasa longgar sebab diketahuinya sasaran perangkap orang itu ternyata bukan dirinya. Tapi bila didengar dari suaranya, mau tak mau ia pun khawatir. Mendadak papan penutup itu terbuka. Sebuah wajah perempuan berambut panjang yang sangat buruk menongol di tepi lubang jebakan dan sedang memaki-maki, "Keparat, jahanam..." Begitulah ia terus memaki dengan segala kata kotor yang keji.
Kaget juga Lamkiong Peng setelah mengenali siapa perempuan ini, "Hah, kiranya engkau belum... belum mati? Engkau Tek-ih Hujin, bukan?"
"Betul, aku belum mati, akulah Tek-ih Hujin!" seru perempuan itu sambil tertawa latah. "Meski kalian menghanyutkan aku di tengah lautan bebas, namun aku justru tidak mati kelaparan dan kehausan!"
Seketika Lamkiong Peng tidak sanggup bicara lagi. Kiranya cukup lama juga Tek-ih Hujin terombang-ambing di tengah lautan dengan sekoci itu. Siang hari ia dipanggang oleh terik matahari, pada waktu malam hari dia kedinginan oleh angin lautan sehingga tubuhnya kurus kering tinggal kulit membungkus tulang.
Beberapa lelaki yang dihanyutkan bersama dia, karena *kungfu*-nya kalah tinggi daripada dia dan tipu akalnya kalah keji, akhirnya semua terbunuh olehnya dan dijadikan isi perut. Berkat darah dan daging orang-orang itulah Tek-ih Hujin bertahan berpuluh hari di tengah lautan dan akhirnya terdampar ke pulau ini.
Selama tinggal di pulau ini juga penuh derita dan sengsara; bila musim dingin tiba, ia bahkan kedinginan setengah mati. Hidup tersiksa ini telah membuat fisiknya berubah sama sekali, bahkan suaranya juga berubah. Hanya matanya saja dengan sinarnya masih tetap serupa dulu, malahan tambah memancarkan cahaya rasa benci dan dendam. Kalau tidak melihat sinar matanya itu, tentu Lamkiong Peng tidak kenal lagi bahwa perempuan kurus kering dan bermuka buruk ini adalah Tek-ih Hujin yang dahulu terkenal pintar berubah rupa dan cantik molek.
Dalam keadaan demikian, Lamkiong Peng hanya merasa menyesal saja, maka ia menutup mulut tanpa bicara.
"Kenapa engkau diam saja?" tanya Tek-ih Hujin dengan tertawa senang.
"Setelah jatuh di tanganmu, terserah padamu akan diapakan diriku," ujar Lamkiong Peng.