Chapter 108
"Apakah kau minta kubunuh?"
"Silakan, makin cepat makin baik."
"Haha, kau ingin kubunuh, aku justru merasa keberatan," Tek-ih Hujin terbahak, lalu menyambung, "Sekarang engkau telah menjadi mestika ratuku, mana kutega membunuhmu? Nanti setelah kehabisan tenaga, baru akan kutarik kau ke atas."
Terbayang entah apa yang akan terjadi bila jatuh dalam cengkeraman perempuan keji ini, Lamkiong Peng merasa lebih baik mati saja sekarang. Tanpa ragu, segera ia angkat tangan dan hendak menghantam kepalanya sendiri.
Mendadak Tek-ih Hujin terkekeh pula dan berseru, "Haha, masa akan kau bunuh diri begitu saja? Apakah engkau tidak ingin tahu di pulau ini masih ada siapa lagi selain diriku?"
"Hah, ada siapa lagi?" seru Lamkiong Peng.
"Biarpun pecah kepalamu, kaupikir juga takkan kau duga Bwe Kim-soat juga berada di sini," tutur Tek-ih Hujin dengan tertawa senang.
"Dia menumpang sebuah perahu tua dan terdampar ke sini. Perahunya kandas di pantai karang sana, perahu pecah dan tak dapat berlayar lagi, terpaksa ia mendarat. Waktu itu aku tidak tahu dia adalah orang yang membikin celaka diriku, sebaliknya dia juga tidak mengenali diriku..."
Kiranya tempo hari Bwe Kim-soat menumpang perahu sendirian dan meninggalkan mereka. Meski dia paham cara berlayar, namun cuma sendirian, mana dia mampu menguasai sebuah perahu di tengah gelombang laut sedahsyat itu. Di tengah lautan seluas itu, dia kehilangan arah; air minum dan perbekalan yang dibawanya pun habis. Mendingan kalau cuma lapar saja, kehausan itulah yang sukar ditahan. Dalam keadaan lapar dan haus, akhirnya ia jatuh pingsan.
Entah berapa lama ia terbawa perahu tanpa kemudi itu, akhirnya perahunya kandas karena benturan batu karang. Memangnya perahu itu sudah tua, perahu pecah, hanya tidak segera tenggelam karena tertahan oleh batu karang. Tentu saja Tek-ih Hujin sangat girang melihat ada perahu singgah di pulau itu, tapi setelah diperiksanya baru diketahui perahu itu tidak bisa dipakai lagi, bahkan dikenali bahwa perahu itu adalah bekas dipakai Hong Man-thian dan rombongannya.
Sekarang di atas perahu tertinggal seorang perempuan saja. Ia heran dan juga agak sangsi, namun dia sesungguhnya sangat kesepian tinggal di pulau ini. Kalau mendapatkan teman tentu saja sangat menyenangkan, maka ia lantas menolong Bwe Kim-soat dan membawanya ke atas pulau.
Mengingat Bwe Kim-soat pernah dalam satu perahu dengan Lamkiong Peng, Tek-ih Hujin coba mengorek keterangannya, "Apakah hubunganmu dengan Lamkiong Peng?"
Karena baru sadar, seketika Bwe Kim-soat tidak mengenali Tek-ih Hujin. Jawabnya, "Dari mana kautahu kukenal dia?"
"Selagi pingsan pernah kau sebut-sebut namanya," ujar Tek-ih Hujin.
"Dia... dia suamiku," kata Kim-soat dengan pedih.
Tentu saja Tek-ih Hujin terheran-heran, tapi dia tidak memperlihatkan tanda apa pun. Tanyanya pula dengan tak acuh, "Oo, dan mengapa sengaja kau menyamar sebagai orang kudisan yang kotor dan berbau serta menumpang kapal itu?"
Terkejut Bwe Kim-soat, "Dari... dari mana kautahu?"
"Tentu saja kutahu," sahut Tek-ih Hujin dengan tertawa.
"Masakah engkau ini Tek... Tek-ih Hujin?" Belum lanjut ucapan Kim-soat, tahu-tahu Tek-ih Hujin sudah menotoknya hingga tak bisa berkutik.
"Hahaha, Thian yang mengantarmu ke sini supaya aku dapat membalas sakit hatiku, tapi jangan kuatir, sementara ini takkan kubinasakan dirimu. Boleh kautinggal di sini bersamaku, harus kaurasakan juga rasanya orang menderita di pulau terpencil ini, kehidupan yang ingin hidup sukar dan minta mati pun tak bisa."
Begitulah Tek-ih Hujin menceritakan apa yang terjadi itu kepada Lamkiong Peng. Cemas dan gusar pula anak muda itu, teriaknya parau, "Dan sekarang di mana dia? Betapa telah kau siksa dia?"
"Hm, bagaimana keadaannya sebentar akan kaulihat sendiri."
Apa yang dikatakan Tek-ih Hujin memang bukan omong kosong, cuma saat itu Bwe Kim-soat tidak begitu buruk keadaannya sebagaimana disangka oleh Lamkiong Peng. Kiranya sesudah Bwe Kim-soat tertahan di pulau ini, Tek-ih Hujin telah menyiksanya dengan berbagai macam cara, terutama mengenai air minum; setiap hari hanya diberinya beberapa ceguk saja. Dengan sendirinya kesegaran tubuh Bwe Kim-soat sangat cepat menyusut, namun dia tetap bertahan. Meski mulai kurus, namun belum banyak menghilangkan kecantikannya.
Tek-ih Hujin merasa kagum juga terhadap kecantikan orang. Ia sengaja berolok, "Ehm, molek benar kau ini, pantas pemuda seperti Lamkiong Peng itu pun jatuh hati padamu."
"Mungkin belum kau ketahui bahwa aku inilah Bwe Kim-soat," kata Kim-soat dengan tertawa.
"He, jadi kau ini Khong-jiok Huicu?" seru Tek-ih Hujin terkejut. Dengan sendirinya ia kenal nama itu, cuma menurut perhitungan, seharusnya usia Bwe Kim-soat sudah setengah baya, mengapa sekarang kelihatan masih begini muda?
Tiba-tiba tergerak hati Tek-ih Hujin, ia yakin orang dapat awet muda tentu karena sudah menguasai sesuatu ilmu perawatan. Karena itulah ia berusaha memancing kepandaian awet muda dari Bwe Kim-soat. Tentu saja hal ini dapat diketahui oleh Bwe Kim-soat. Ia justru menggunakan hal ini untuk memeras, minta air minum lebih banyak, minta makanan sekadarnya. Lebih dari itu, ia pun minta dibebaskan dari ringkusannya walaupun hiat-to tetap tertotok dan tak bertenaga.
Diam-diam Tek-ih Hujin menggerutu, tapi dasar orang perempuan, siapa yang tidak terpikat kepada ilmu kecantikan. Demi untuk memperoleh resep awet muda dari Bwe Kim-soat, sedapatnya Tek-ih Hujin memenuhi semua tuntutannya.
Bwe Kim-soat menyadari lawan bukan orang bodoh, tentu tidak dapat ditipu begitu saja. Maka ia lantas menguraikan iwekang untuk merawat diri agar tetap awet muda. Sebagai seorang tokoh persilatan, Tek-ih Hujin tahu iwekang yang diajarkan itu tulen atau palsu; dari kalimat dan istilah yang disebut Bwe Kim-soat, jelas memang pengantar untuk memperdalam sesuatu ilmu iwekang. Maka tanpa sangsi, ia mengikuti petunjuk Bwe Kim-soat dan mulai berlatih. Ia tidak tahu justru iwekang inilah yang telah membuat Bwe Kim-soat menderita selama beberapa tahun.
Akibatnya memang begitu, Tek-ih Hujin duduk bersila dan mengerahkan tenaga dalam. Lambat laun terlihat butiran keringat menghias dahinya, sekujur badan lantas gemetar. Baru sekarang ia kaget dan merasa tertipu. Karena gejolak perasaannya, tenaga dalam lantas menyasar, bagian kaki terasa kaku dan mati rasa.
Mendadak Bwe Kim-soat tertawa dan melepaskan diri dari ringkusannya, katanya, "Eh, perasaanmu sekarang tentu sangat segar, bukan?"
"Keparat, berani kautipu diriku?" damprat Tek-ih Hujin dan cepat menghentikan latihannya. Namun sudah telanjur, badan bagian bawah terasa kaku, hanya kedua tangan masih bertenaga. Ia pikir bila orang berani mendekat, segera akan dipukulnya binasa.
Meski sudah bebas dari ringkusan, tapi tubuh tidak bertenaga karena totokan Tek-ih Hujin tadi. Dengan sendirinya Kim-soat tidak mau sembarangan mendekati orang. Sebaliknya, ia berkata, "Cici yang baik, engkau telah menyelamatkan jiwaku, maka aku pun takkan membunuhmu. Boleh kau tinggal di sini, nanti kujengukmu lagi."
Habis berkata, ia lantas melangkah pergi masuk ke dalam hutan. Tentu saja Tek-ih Hujin geregetan, ia mencaci-maki, segala kata kotor dihamburkan seluruhnya.
Setelah melintasi hutan, diam-diam Bwe Kim-soat juga memikirkan kemungkinan apa yang akan terjadi, sebab ia tahu beberapa hari lagi kelumpuhan Tek-ih Hujin itu akan sembuh kembali; hal ini sudah pernah dialaminya sendiri. Sebaliknya ia tidak tahu bilakah hiat-to sendiri yang tertotok akan dapat dilancarkannya kembali.
Setiba di balik hutan sana, setelah mengamati keadaan setempat, segera ia mengatur berbagai perangkap di dalam hutan. Lalu, menuju ke perahu rusak untuk mengambil peralatan yang diperlukan untuk memotong kayu dan sebagainya. Ia memotong beberapa puluh batang kayu dan dipasang sedemikian rupa di tengah semak-semak sebagai penghalang, di samping itu juga diaturnya banderingan batu dengan mengikat dahan pohon yang lemas. Selama dua hari ia bekerja keras sehingga lemas letih. Namun, jerih payah itu cukup menjaga keamanannya dari gangguan musuh.
Di pihak lain, Tek-ih Hujin menyaksikan kepergian Bwe Kim-soat dengan gemas dan gusar, tapi tak berdaya. Terpaksa ia harus merangkak ke dalam hutan dan berusaha menyembuhkan kelumpuhannya. Tak terduga olehnya, pada pagi hari kelima, mendadak kakinya dapat bergerak lagi. Rupanya peredaran darah dalam tubuhnya telah lancar dengan sendirinya. Ia sangat girang, ia istirahat dan menghimpun tenaga. Petangnya ia mulai mencari jejak Bwe Kim-soat, ia bersumpah akan mencencangnya.
Dengan mudah dapatlah hutan dekat pantai itu didatanginya, tapi baru saja ia melangkah masuk ke dalam hutan, sekonyong-konyong batu berhamburan dan kaki tersandung. Cepat ia melompat mundur, dengan murka ia menderu, "Perempuan hina she Bwe, kalau berani ayolah keluar!"
Tak terduga, tiba-tiba seorang mendengus. Bwe Kim-soat tampak melayang keluar dari semak-semak dalam hutan, gerakannya ringan serupa terbang, sungguh ginkang yang luar biasa. Keruan Tek-ih Hujin terkejut, "Hah, siapa... siapa yang membukakan hiattomu?"
Kim-soat tertawa, "Mungkin tidak kauketahui bahwa kungfuku yang sudah dipunahkan oleh Liong Po-si akhirnya dapat pulih juga, apalagi cuma totokanmu yang tidak berarti ini. Sudah kusiapkan tempat berbincang-bincang yang baik di dalam hutan, apakah engkau mau mampir sebentar?"
Semakin sepele cara bicara Bwe Kim-soat, semakin membuat sangsi Tek-ih Hujin. Ia tambah mengkeret dan menyangka orang hendak menjebaknya lagi.
"Hm, tidak perlu mengoceh seenaknya, keledai pun takkan kesandung untuk kedua kalinya di tempat yang sama, memangnya hendak kautipuku lagi?" seru Tek-ih Hujin sambil tertawa, lalu ia berlari kembali ke tempatnya sendiri.
Ia tidak tahu bahwa tenaga Bwe Kim-soat sebenarnya belum pulih seluruhnya; bilamana terjadi pertarungan, siapa yang lebih unggul pun belum dapat dipastikan.