Halo!

Han Bu Kong - Chapter 109

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 109

Begitulah Tek-ih Hujin menceritakan kejadian itu, walaupun tidak terperinci dengan jelas. Akhirnya ia berkata pula, "Sekembaliku di sini, aku khawatir akan diganggu oleh perempuan hina itu. Maka, aku pun mengatur berbagai perangkap di hutan ini dan kubangun rumah sarang di atas pohon. Betapapun licinnya dia, memangnya aku dapat diakali? Sejauh ini, apakah dia berani ke sini?"

Lega hati Lamkiong Peng mengetahui Bwe Kim-soat dalam keadaan selamat. Pikirnya, "Kiranya perangkap yang dipasangnya di sini ditujukan kepada Kim-soat."

"Selama ini perempuan hina itu menjaga perahu rusak itu," tutur Tek-ih Hujin pula. "Setiap hari ia berusaha memperbaiki perahu itu. Aku khawatir bila perahu selesai diperbaiki, dia akan lolos pergi dan tertinggal aku saja merana di pulau sepi ini. Akan tetapi sekarang datang lagi dirimu, aku tidak takut lagi."

Berucap sampai di sini, ia lantas terbahak-bahak.

"Hm, apakah maksudmu hendak kaugunakan diriku untuk memeras dia?" bentak Lamkiong Peng dengan gusar.

"Haha, cerdas juga kau," seru Tek-ih Hujin dengan gembira. Segera ia mengangkat Lamkiong Peng dan membawanya lari ke balik hutan.

Setelah menembus hutan lebat ini, di depan tampak tebing karang yang curam. Di samping sana ada hutan lain, di situlah tinggal Bwe Kim-soat. Lamkiong Peng hendak berseru memanggil, namun mendadak Tek-ih Hujin menotok lagi jalan darah bisunya. Lalu, ia ditaruhnya di belakang sepotong batu karang. Kemudian, Tek-ih Hujin menuju ke depan hutan dan berteriak, "Bwe Kim-soat, ayolah lekas keluar!"

Suaranya tajam melengking sehingga mengejutkan burung malam di dalam hutan dan terbang serabutan. Menyusul terdengarlah suara orang tertawa panjang. Dengan memegang setangkai ranting, Bwe Kim-soat muncul dari dalam hutan. Ia memakai jubah yang terbuat dari terpal bekas layar; meski kasar, tapi cukup bersih.

Dengan tertawa hambar ia menegur, "Kau datang kemari, tentu ada urusan. Mari, silakan masuk!"

Tek-ih Hujin tertawa dan berkata, "Adik yang baik, sekian lama tidak bertemu, engkau telah banyak bertambah cantik."

"Kemarin dapat kutangkap dua ekor kelinci hutan, sungguh sedap rasanya. Apakah mau kujamu makan?" ucap Bwe Kim-soat.

Mereka bicara seperti kenalan lama yang baru bertemu, padahal di dalam hati sama-sama ingin mengerumus pihak lawan. Mendengar suara Bwe Kim-soat, pedih dan girang hati Lamkiong Peng. Sungguh, kalau bisa ia ingin berteriak. Namun apa daya, jalan darah bisunya tertotok, rasa gemasnya tak terkatakan.

Bwe Kim-soat berkata pula, "Eh, hari ini tampaknya engkau sangat gembira. Barangkali ada sesuatu urusan yang menyenangkanmu?"

"Betul, tentunya perahu sudah hampir selesai kauperbaiki, makanya hatiku sangat senang," jawab Tek-ih Hujin.

Kim-soat tertawa terkekeh, "Aha, engkau sungguh sangat baik. Bilamana perahu sudah kuperbaiki dan kuberangkat sendiri, tentu engkau akan kesepian. Teringat hal ini sungguh aku pun ikut sedih."

Dalam hati Tek-ih Hujin menggerutu, tapi di mulut ia tertawa. "Ai, adik sungguh memperhatikan diriku. Cuma engkau pun jangan khawatir, aku tidak bakal kesepian lagi. Sebab, biarlah kuberitahukan padamu bahwa hari ini aku telah kedatangan seorang tamu."

"Oo, apa benar? Wah, tamu itu tentu orang luar biasa. Siapakah dia?"

"Lamkiong Peng!" jawab Tek-ih Hujin dengan dingin.

Seketika tubuh Bwe Kim-soat bergetar, seketika lenyap suara tertawanya. Ia menjerit kaget, "Apa katamu? Lamkiong Peng? Dia datang ke pulau ini?"

Dengan tak acuh Tek-ih Hujin menjawab, "Betul, tamuku itu ialah Lamkiong Peng. Apakah ingin kautemui dia? Ia justru sangat ingin melihatmu."

"Kenapa kutemui dia?" gumam Kim-soat. "Dalam hatiku kuanggap dia sudah mati."

"Masa sudah kaulupakan janji setia kalian? Kau lupa kalian sudah terikat menjadi suami-istri?"

"Aku tidak lupa, tapi sekarang kubenci dia," ucap Kim-soat dingin. "Ketika di Cusin-to kuminta dia membuka mata dan memandang sekejap padaku, apa pun dia tidak sudi. Kenapa sekarang harus kutemui dia?" Habis berkata demikian, ia terus hendak pergi.

"Nanti dulu," seru Tek-ih Hujin. "Dengan susah payah orang mencarimu, apa pun juga harus kautemui dia."

Kim-soat merandek, katanya, "Menemui dia atau tidak, apa gunanya?"

"Tunggu sebentar, segera kubawa dia ke sini," seru Tek-ih Hujin sambil berlari pergi. Sungguh lucu juga; semula ia berharap Bwe Kim-soat akan memohon padanya agar membawa Lamkiong Peng ke sini, siapa tahu sekarang dia yang memohon Bwe Kim-soat sudi menemui anak muda itu.

Lamkiong Peng mendengar percakapan mereka. Hati terasa duka dan juga girang; sebentar kecewa, sebentar lagi mendongkol karena Bwe Kim-soat tidak dapat memahami jalan pikirannya. Tapi segera terpikir pula olehnya, "Biasanya dia dapat berpikir panjang, jangan-jangan dia tahu maksud tujuan Tek-ih Hujin, maka sengaja hendak memperalatnya..."

Selagi sangsi, dilihatnya Tek-ih Hujin sudah berlari tiba. Ia berjongkok membetulkan baju Lamkiong Peng dan merapikan rambutnya, lalu berkata dengan bengis, "Setelah bertemu nanti, harus kaumohon dia dengan sangat, pengaruhi perasaannya, mohon dia mengampunimu, tahu tidak? Hm, kalau tidak, kau tahu sendiri, apa pun dapat kulakukan."

Lamkiong Peng mengertakkan gigi dan tidak bersuara. Tek-ih Hujin lantas mengangkatnya dan menuju ke tempat tadi. Dari jauh Lamkiong Peng melihat sesosok tubuh yang ramping berdiri memunggungi di hutan yang rindang itu. Seketika hatinya berdebar, serunya, "Kim-soat..."

Tubuh Bwe Kim-soat seperti rada gemetar tapi tetap tidak berpaling.

"Adik yang baik," kata Tek-ih Hujin dengan tertawa. "Lihatlah, Cici sudah membawa datang buah hatimu. Lihatlah betapa kurus dan cemasnya karena rindu padamu."

Sampai sekian lama barulah Kim-soat membalik tubuh, namun sikapnya tetap dingin. Melihat sikap dingin itu, berbagai isi hati yang hendak dilampiaskan Lamkiong Peng serasa tersumbat di kerongkongan dan sukar dikeluarkan. Melihat keduanya diam saja, Tek-ih Hujin menarik tangan Lamkiong Peng dan berkata, "Ayolah bicara, kenapa diam saja? Mengapa kau tidak senang melihat dia? Segala apa hendaknya kaukatakan, masa malu?"

"Apa pula yang dapat dikatakannya?" jengek Kim-soat. "Lekas kaubawa pergi dia!"

"Masa engkau benar-benar putus hubungan dengan dia?" teriak Tek-ih Hujin.

"Memang tepat ucapanmu," jawab Kim-soat.

Tek-ih Hujin mendengus, "Hm, jika begitu segera akan kusiksa dengan cara yang paling keji. Biarkan dia mati dengan tumpah darah, ingin kulihat apakah hatimu tahan." Sambil bicara, tangan lantas meraba titik jalan darah Lamkiong Peng, diam-diam ia melirik Bwe Kim-soat dan berharap orang akan turun tangan menolong.

Siapa duga Bwe Kim-soat hanya mendengus saja, "Hm, silakan mampuskan dia, aku pun ingin tahu betapa dia akan tersiksa."

Tek-ih Hujin melongo, mendadak ia melompat bangun sambil memaki, "Sungguh perempuan hina yang tak berbudi, tega kausaksikan suami mati konyol. Pantas orang kangouw menyebut dirimu perempuan berdarah dingin, ternyata benar engkau berdarah dingin dan berhati keji."

"Terima kasih atas pujianmu," ujar Kim-soat dengan tertawa. "Jika darahku tidak dingin, entah berapa kali aku sudah mati..." Mendadak ia berhenti tertawa dan mengeluarkan sebuah genta emas kecil yang dilemparkan hingga jatuh di sebelah kaki Lamkiong Peng, katanya, "Ini adalah tanda matamu ketika kita mengikat janji, sekarang kukembalikan padamu. Selanjutnya kita putus hubungan dan tidak ada sangkut paut."

Hati Lamkiong Peng serasa disayat-sayat, telinga seperti mendengung. Dengan gusar Tek-ih Hujin memaki, "Sungguh perempuan hina, biasanya cuma lelaki yang menceraikan istri, sekarang berbalik kau ceraikan suami. Sungguh keji dan tidak tahu malu."

"Huh, kukira yang paling keji dan tidak tahu malu ialah dirimu sendiri," ejek Kim-soat. "Silakan kau temani dia di sini, kapalku sudah selesai kubetulkan, selamat tinggal, aku mau berangkat!"

Sembari tertawa ia berlari pergi secepat terbang. Setiba di dalam hutan, suara tertawanya berubah menjadi ratapan, "O, Peng cilik, hendaknya maklum, jika aku tidak bersikap demikian tentu sukar mengelabui Tek-ih Hujin yang keji itu." Belum habis ucapannya, darah segar lantas tertumpah keluar. Ia melangkah ke depan dengan sempoyongan dan mencari suatu tempat, lalu duduk.

Ia tahu betapa kejinya Tek-ih Hujin, maka ia sengaja berlagak memutuskan hubungan dengan Lamkiong Peng supaya Tek-ih Hujin putus asa. Dengan sendirinya tindakannya ini harus dibayarnya dengan mahal, sebab ia telah melukai hati Lamkiong Peng. Tapi ia pun tahu semakin sukses kepalsuannya itu, betapapun liciknya Tek-ih Hujin juga dapat ditipunya.

"Nah, datanglah kemari, Tek-ih Hujin, kutunggu kedatanganmu ke hutan ini dengan berbagai perangkap. Lekas kaudatang!" demikian gumamnya.

Melihat kepergian Bwe Kim-soat tadi, remuk redam juga hati Lamkiong Peng, tanpa terasa ia pun tumpah darah. Tek-ih Hujin mondar-mandir di sekitar Lamkiong Peng, sejenak kemudian mendadak tergerak pikirannya. Ia mendorong Lamkiong Peng dan berkata, "Ayo, ke depan sana."

Setelah menyusuri hutan dan mengitari ke samping, tampak tebing curam menegak di depan, di bawah adalah pepohonan lebat. Setelah berpikir, Tek-ih Hujin mencari dua potong batu api. Terkesiap Lamkiong Peng, serunya, "He, hendak kaubakar?"

"Betul," dengus Tek-ih Hujin. "Akan kubakar ludes hutan ini. Coba lihat, perangkap apa yang diaturnya di sini."

Maklumlah, selama ini dia tidak berani menggunakan api untuk membakar hutan tempat tinggal Bwe Kim-soat, soalnya ia khawatir dibalas dengan cara yang sama oleh lawan. Bilamana terjadi demikian, tentu keduanya akan gugur bersama. Tapi sekarang dia tidak ada pertimbangan lain lagi. Dikumpulkannya ranting dan daun kering, lalu dibakar, ranting berapi terus dilemparkan ke tengah hutan. Angin meniup kencang, hawa panas, segera api menyala dengan cepat, asap tebal pun membubung tinggi.

"Haha, ingin kulihat apa yang dapat kau lakukan sekarang, kecuali...?"

"Hm, biarpun kaubakar seluruh hutan ini, bilamana dia sudah berlayar, apa yang dapat kauperbuat atas dia?" jengek Lamkiong Peng.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment