Halo!

Han Bu Kong - Chapter 11

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 11

Lamkiong Peng merasakan pedang yang menahan peti mati itu mendadak menjadi ringan. Peti yang semula menindih dengan sangat kuat itu kini seolah-olah berubah menjadi benda tak berbobot.

Begitu berat peti mati tersebut menghilang, keadaan segera berubah.

Si Tojin mendadak merasakan semacam tenaga gaib muncul dari dalam peti. Tenaga itu melenyapkan tenaga murni pada kedua tangannya yang memegang peti, sehingga tubuh bagian bawahnya kehilangan daya gerak.

Baru saja kedua kakinya menendang, seluruh tubuhnya langsung anjlok ke bawah.

Perubahan mendadak ini sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk berpikir. Dalam kekagetannya, ia segera melejit ke udara dan mendarat di tanah dengan posisi setengah berjongkok, lalu cepat-cepat melompat mundur.

Lamkiong Peng pun terkejut. Ia menarik pedangnya dari peti dan ikut melompat mundur.

Keduanya berdiri berhadapan setelah melompat mundur. Si Tojin mengepalkan tinju dengan wajah muram dan mata melotot ke arah peti mati itu.

Lamkiong Peng juga memandang peti mati itu dengan penuh keheranan dan kebingungan.

Terlihat peti mati itu melayang sejenak di udara meski sudah terlepas dari dukungan kedua orang tersebut. Setelah itu, peti baru menurun perlahan-lahan seakan ditopang oleh seseorang yang tidak kasatmata. Peti itu mendarat di tanah dengan sangat lembut tanpa menimbulkan suara sedikit pun.

Mau tidak mau, Lamkiong Peng merasa ngeri menyaksikan kejadian luar biasa ini.

Meski sudah banyak dongeng seram yang pernah didengarnya, apa yang dilihatnya saat ini sungguh sulit dipercaya.

Si Tojin pun menatap peti mati itu dengan sorot mata terkejut dan sangsi. Bibirnya tampak sedikit gemetar. Tiba-tiba ia berkata, "Ba... bagus sekali, ternyata benar engkau tidak... tidak mati!" Setelah itu, ia menyerbu kembali ke arah peti mati.

Lamkiong Peng kembali terkejut. Tanpa berpikir panjang, ia membentak, "Kau mau apa?" Ia segera memutar pedangnya untuk menghadang si Tojin.

Karena usianya lebih muda dan fisiknya kuat, tenaganya dapat pulih dengan lebih cepat.

Saat si Tojin menerjang ke depan peti mati, sebuah sinar hijau menyambar tiba-tiba. Jika tidak segera menarik diri, maut akan menjemputnya.

"Mundur!" bentak Lamkiong Peng.

Benar saja, si Tojin terpaksa melompat mundur kembali ke tempat semula.

Dengan pedang melintang di depan dada, Lamkiong Peng segera mengadang di depan peti mati tersebut.

Tiba-tiba si Tojin menghela napas. "Ai, permusuhan apa yang ada di antara kita sehingga engkau berbuat begini kepadaku?" ucapnya. Perkataan orang ini membingungkan Lamkiong Peng; sulit dibedakan apakah itu ucapan menyesal, mengomel, atau memohon. Setelah tertegun sejenak, barulah ia menjawab, "Selamanya kita tidak saling kenal, mana mungkin ada permusuhan?"

Si Tojin tampak seperti orang linglung dan masih memandang peti mati dengan termenung. Sejenak kemudian, tiba-tiba ia berkata lagi, "Asalkan kau serahkan peti ini kepadaku, seterusnya engkau adalah penolong terbesarku. Selama hidup, aku tidak akan melupakan kebaikanmu dan pasti akan kubalas dengan jasa sebesar-besarnya."

Lamkiong Peng menatapnya tajam lalu mendengus, "Hm, setelah tidak mampu merampas dengan kekerasan, sekarang kau hendak menggunakan cara memohon dengan halus?"

Mendadak si Tojin membusungkan dada dan menjawab dengan angkuh, "Selama hidup, aku tidak pernah memohon kepada orang lain."

"Hm, apa pun itu, selangkah pun tidak boleh lagi kau mendekati peti ini," ejek Lamkiong Peng.

Si Tojin merasa sangat kecewa dan tidak berdaya. Berbagai cara telah digunakannya—merampas, menyerang, hingga memohon—namun semua itu tetap tidak dapat melunakkan tekad anak muda yang membela peti mati tersebut dengan teguh.

Karena kehabisan akal, akhirnya si Tojin berkata dengan sungguh-sungguh, "Apakah kau tahu alasan gurumu menyuruhmu menjaga peti mati ini?"

"Tidak tahu!" jawab Lamkiong Peng.

Sorot mata si Tojin kembali menampilkan secercah harapan. "Jika tidak tahu sebabnya, apakah sepadan kau membela ini dengan jiwa ragamu?"

"Pokoknya itulah amanat perguruan. Tidak ada gunanya kau bersilat lidah dan berusaha menghasut," ejek Lamkiong Peng. "Hehe, apakah kau kira aku benar-benar tidak dapat menundukkanmu? Jika nanti tenagaku sudah pulih sepenuhnya, memangnya kau mampu melawan lebih lama?"

"Belum dicoba, tidak perlu membual dulu. Pokoknya, hidup dan matiku sudah kupertaruhkan demi peti pusaka ini."

Si Tojin memejamkan mata sejenak dan termenung. Saat ia membuka mata lagi, ia menghela napas panjang dan berucap lirih, "Ai, sungguh aku tidak mengerti mengapa kau membela peti ini mati-matian tanpa menyayangkan nyawamu sendiri."

"Hm, aku pun tidak mengerti untuk apa peti ini hendak kau rampas dengan mati-matian," jawab Lamkiong Peng dengan ketus.

Si Tojin mengepalkan tinjunya erat-erat sambil menggertakkan gigi. Mendadak ia melangkah maju dan menatap Lamkiong Peng dengan tajam. Setelah sekian lama, barulah ia berkata, "Apakah kau ingin aku berterus terang tentang seluk-beluk urusan ini agar kau mau menyerahkan peti ini?"

"Biar kau beberkan seluk-beluk urusannya pun, aku tetap tidak akan melepaskannya," jawab anak muda itu.

Tojin itu menengadah memandang jauh ke langit seolah tidak mendengar ucapan Lamkiong Peng. Perlahan ia berkata lagi, "Ada orang yang selama hidupnya giat bekerja dan keras berusaha, selalu berbuat baik, serta tidak berani salah melangkah sedikit pun. Namun, sekali saja dia salah langkah, di mata umum dia langsung berubah menjadi pendosa yang tidak terampunkan. Sebaliknya, ada pula orang yang selama hidupnya hanya berbuat jahat, tetapi pada suatu kesempatan secara kebetulan berbuat suatu kebaikan, sehingga orang pun memaafkan segala dosanya..."

Dia berbicara perlahan dan lirih seperti bergumam, atau seperti sedang berkeluh kesah kepada Yang Mahakuasa.

Sampai di sini, tiba-tiba ia tertawa getir dan berseru, "Coba katakan, adilkah Thian memperlakukan manusia seperti itu?"

Lamkiong Peng melongo bingung. Ia heran mengapa Tojin bersanggul tinggi yang misterius ini dalam keadaan demikian bisa membicarakan hal-hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian tadi.

Saat ia memandang ke sana, dilihatnya air muka si Tojin yang semula sedih dan kecewa mendadak berubah menjadi gusar. Dengan tangannya yang kurus dan sedikit gemetar, ia menuding Lamkiong Peng dan membentak, "Kau membela peti mati ini senekat itu, memangnya kau tahu siapa yang berada di dalam peti ini?"

Keajaiban yang muncul dari peti mati tadi sebenarnya sudah dirasakan oleh Lamkiong Peng. Pasti ada misteri yang belum terungkap. Samar-samar ia memang merasa bahwa peti ini sangat mungkin berisi seseorang.

Namun, yang membuatnya tidak percaya adalah rekam jejak gurunya yang selama hidup terkenal gemilang. Tidak ada perbuatan sang guru yang perlu dirahasiakan, dan tidak ada tindakannya yang merugikan orang lain. Sebab itulah ia tetap tidak percaya pada ucapan si Tojin. "Memangnya peti ini berisi seorang manusia?" tanyanya.

Tojin itu tertawa dingin. Katanya, "Di dunia persilatan, nama Put-liong yang membawa peti mati untuk mencari kekalahan sangat terkenal. Selama puluhan tahun hal itu telah menjadi buah bibir orang-orang Kang-ouw. Sekarang Put-liong telah mati. Entah apakah cerita ini akan terus melegenda, namun..."

Sampai di sini, mendadak ia menengadah dan tertawa keras, lalu melanjutkan, "Padahal, siapa yang tahu duduk perkara yang sebenarnya?"

Suara tawanya penuh rasa ejek dan penghinaan. Hal ini membuat Lamkiong Peng kurang senang. Dengan lantang ia bertanya, "Duduk perkara apa?"

"Hm, memangnya kau kira Put-liong selalu membawa peti dalam perjalanannya hanya bertujuan mencari lawan bertanding supaya dia bisa merasakan kekalahan dan ingin mati? Huh, peti mati ini dibawanya kian kemari tidak lain karena di dalam peti mati ini tersembunyi seseorang!"

"Siapa?" tanya Lamkiong Peng dengan wajah berubah.

"Siapa? Hahahaha!" Kembali si Tojin tertawa keras. "Seorang perempuan! Ya, seorang perempuan! Perempuan yang sangat jahat dan jalang, tetapi juga secantik bidadari!"

Seketika hati Lamkiong Peng tergetar. Dadanya terasa seperti dihantam palu godam dengan keras. Dengan mendelik ia membentak, "Apa katamu?"

"Apa kataku?" Si Tojin menukas dengan tawa getir. "Kubilang gurumu, Putsisin-liong Liong Po-si, meski mendapat nama kehormatan sebagai jagoan nomor satu yang membawa peti mati untuk mencari kekalahan, sebenarnya hanya melakukan itu demi membela seorang perempuan jalang!"

Suara tawanya semakin keras, ucapannya pun semakin lantang. Seketika gema suaranya memantul dari berbagai penjuru lembah gunung dan membahana dengan kata-kata "perempuan jalang... perempuan jalang."

Gema suara yang menusuk telinga itu bagaikan belati tajam yang menikam hati Lamkiong Peng. Hal ini menyangkut orang yang paling dihormatinya.

Meski berusaha menahan perasaannya, darah panas yang bergejolak sulit dibendung. Wajahnya yang pucat berubah menjadi merah padam. Tiba-tiba ia berteriak, "Diam! Berani kau menodai kehormatan guruku lagi, segera ku...!"

"Hahaha, kehormatan gurumu?" potong si Tojin mengejek. "Hm, apa yang kukatakan tadi justru berdasarkan fakta; semuanya kejadian nyata. Jika engkau tidak percaya, silakan buka dan periksa peti itu, maka segera akan kau ketahui siapa yang sebenarnya tersembunyi di sana."

"Memangnya siapa?" tanya Lamkiong Peng.

"Meski usiamu masih muda, sebagai orang persilatan tentu kau pernah mendengar nama..." Si Tojin berhenti sejenak, lalu menyebut kata demi kata, "Kong-jiok Huicu Bwe Kim-soat!"

Seketika Lamkiong Peng merinding dan terdiam. Ia mendengar si Tojin berkata lagi seperti orang yang sedang berpantun, "Segala makhluk di dunia ini, mana yang paling berbisa? Ialah Kong-jiok Huicu—empedu si merak..."

Suaranya melemah dan terputus. Air mukanya juga pucat dan tampak berkerut-kerut penuh penderitaan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment