Chapter 110
Tergetar hati Tek-ih Hujin, ia termangu-mangu sejenak, lalu mendadak ia berteriak, "Baik, biarlah kita mati seluruhnya dan habis perkara!" Ia menepuk Hiat-to, anak muda itu, sehingga dapat bergerak bebas, lalu didorongnya sambil berteriak, "Ayolah, terjang sana, susul dia!"
Tak terduga tangan Lamkiong Peng lantas meraih ke belakang, Tek-ih Hujin ditarik, lalu terus dilemparkan ke bawah. Kontan Tek-ih Hujin tergelincir masuk ke dalam hutan yang mulai terjilat api itu. Sambil menjerit, tubuh Tek-ih Hujin disambar lidah api. Cepat ia melompat bangun dan berlari ke tempat yang belum terbakar seperti kesetanan.
Tak terduga, baru beberapa tombak ia berlari, mendadak ia menjerit lagi. Ia jatuh tersungkur. Tahu-tahu tubuhnya terkerek terbalik ke atas; rupanya kakinya terjerat oleh rotan yang terpasang di situ. Menyusul dari kerindangan pepohonan, menyambar keluar panah kayu seperti hujan. Sebagian panah itu menghunjam tubuhnya.
Lamkiong Peng tertegun menyaksikan itu. Ia menghela napas dan berlari ke arah kedatangannya tadi sambil berteriak, "Kim-soat, dia sudah terperangkap, dapatkah kaulihat?" Ia mengira Bwe Kim-soat tadi sengaja memancing kedatangan musuh, setelah terjebak tentu dia akan muncul. Namun, saat itu Bwe Kim-soat sendiri dalam keadaan tak sadar; meski Lamkiong Peng berteriak-teriak, tetap tidak ada jawaban.
Ia kecewa dan juga putus asa. Mendadak ia pun menerjang ke dalam hutan. Ia lupa bahwa setiap jengkal tanah di tengah hutan ini penuh perangkap. Belum beberapa langkah ia berlari, ia segera jatuh tersandung. Sepotong batu menyambar dari balik pohon dan tepat menghantam punggungnya; kembali ia tumpah darah dan jatuh kelengar.
Angin laut meniup kencang, api tambah berkobar. Tidak seberapa lama, pulau kecil itu sudah berubah menjadi lautan api. Lamkiong Peng bertiga tetap tidak sadar di tempat masing-masing. Api yang berkobar itu semakin mendekat; tampaknya dalam waktu singkat mereka pasti akan terbakar menjadi abu dan tamatlah segalanya.
Pada waktu yang hampir bersamaan, jauh di lautan lepas itu tampak sebuah kapal layar sedang melaju kencang mendapat angin buritan. Layar kapal itu tampak indah berwarna-warni, kelasi kapal juga berbaju sutra warna-warni dengan rambut panjang sebatas pundak. Bila diamati, baru ketahuan mereka adalah kaum wanita seluruhnya. Cuma, mereka berotot kuat dan berbadan tegap sehingga tidak kalah dengan kelasi lelaki.
Seorang perempuan kekar berambut pendek berdiri di atas geladak dengan bertolak pinggang. Mendadak ia berteriak, "Aha, daratan!" Seorang pemuda berbaju perlente menongol dari balik tabir kabin dan lari ke samping si perempuan tegap. Waktu memandang ke depan sana, benar juga, di kejauhan muncul bayangan daratan. Segera ia memberi tanda dan berseru, "Putar haluan, maju dengan kecepatan penuh!" Serentak kawanan kelasi wanita itu bersorak; kelasi yang sudah lama berlayar tentu saja sangat senang bilamana melihat daratan.
"Apa sudah kelihatan daratan?" terdengar suara merdu bertanya dari dalam kabin. Dua nona jelita lantas muncul. Seorang berbaju mewah dan berpupur tebal, memakai ikat kepala kain hijau, dan gelang tangannya berbunyi gemerincing; tampaknya dia adalah pengantin baru. Nona yang lain tidak berdandan juga tidak bersolek, tapi justru kelihatan kecantikannya yang asli.
"Betul, di depan sudah kelihatan daratan," jawab anak muda tadi sambil menoleh. Perlahan nona yang bersolek itu menghela napas, ucapnya, "Semoga pulau ini betul Cu-sin-to menurut dongeng itu, supaya adikku ini tidak khawatir setiap hari. Selama ini entah sudah berapa banyak tubuhnya bertambah kurus."
Si pemuda menanggapi, "Bukan cuma dia saja yang gelisah, aku juga..." Belum lanjut ucapannya, mendadak dilihatnya asap tebal mengepul di daratan sana. Ia berteriak kaget, "Hah, timbul kebakaran di sana!"
"Jika di pulau itu ada api, pasti ada manusia yang tinggal di sana. Jangan-jangan pulau ini memang betul Cu-sin-to adanya," ujar nona bersolek tadi. Si nona berbaju hijau tadi juga kelihatan bersemangat, air mukanya yang dingin mendadak bersemu merah.
Cepat pemuda itu berteriak dan memberi tanda, "Ayo, cepat! Kebakaran di pulau itu, api menjalar dengan cepat. Kita harus mencapai sana sebelum api meluas, kalau tidak..." Ia seperti merasakan alamat tidak enak, maka ia memandangi nona baju hijau sekejap dan tidak melanjutkan ucapannya.
Kapal layar itu meluncur mengikuti angin buritan, maka tidak lama kemudian sudah mencapai pantai. Sebelum kapal menepi, si pemuda dan kedua nona tadi lantas melompat ke daratan. Nona baju hijau itu paling cemas; serentak ia berlari secepat terbang ke hutan yang berkobar itu. Si pemuda dan nona berdandan mewah itu melompat ke atas batu karang yang tinggi sambil berteriak, "Adakah orang di tengah pulau?"
Suaranya keras bergema jauh, namun tenggelam di tengah api yang berkobar dengan suaranya yang gemuruh itu. Dari pulau tiada kelihatan jawaban. Berkerut kening si nona bersolek, katanya, "Jika ada orang di tengah pulau kenapa tidak ada jawaban? Tampaknya..."
Belum lenyap suaranya, mendadak pemuda berbaju mewah berteriak, "Hei, lihat, apa itu?" Waktu si nona memandang ke arah yang ditunjuk, terlihat di tengah asap tebal itu, di dalam hutan seperti ada sesosok bayangan tergantung di udara. Keduanya saling pandang sekejap, segera anak muda itu menanggalkan baju luar untuk membungkus kepala.
"Jangan, berbahaya," ucap si nona.
"Selama hidupku sudah kenyang menghadapi hal-hal yang berbahaya, engkau jangan khawatir," kata pemuda itu sambil mengeluarkan sebuah tombak bergagang lemas. Sekali putar terjadilah lingkaran sinar, dengan gesit ia terus melayang ke sana, menerobos ke dalam hutan.
Sesudah dekat, pemuda itu melihat di dahan pohon besar bergantung seorang perempuan bermuka jelek dengan posisi terjungkir. Tubuhnya berdarah, rambutnya terurai dan sebagian sudah terbakar. Bilamana dia terlambat sedikit saja, perempuan ini pasti akan terbakar menjadi arang. Tanpa pikir panjang ia melompat ke depan, sekali tebas ia putuskan rotan yang mengikat kaki perempuan itu, lalu menangkap tubuhnya dan dibawa lari kembali ke atas batu karang tadi.
Cepat si nona cantik memadamkan lelatu api yang hinggap di tubuh pemuda itu. Tanyanya dengan khawatir, "Tidak terbakar, bukan?"
"Haha, hanya api begitu saja bukan apa-apa bagiku," ujar pemuda itu dengan tertawa.
"Siapa perempuan ini? Kenapa begini rupanya?" tanya si nona.
"Jangan urus siapa dia. Jika di atas pulau ada orang, tentu tidak cuma dia saja seorang. Apakah mungkin dia menggantung dirinya sendiri di situ?"
Belum lanjut mereka bicara, mendadak dari kejauhan sana si nona baju hijau tadi lagi berteriak, "Itu dia, di situ, Lamkiong Peng! Dia... dia memang benar berada di sini."
Hati si pemuda dan si nona cantik tergetar, seru mereka, "Haha, dia telah menemukannya." Segera mereka berlari ke sana. Tampak nona baju hijau duduk di atas batu karang sambil memangku seseorang; mukanya cemas, gugup, berair mata, tapi juga gembira. Katanya demi melihat kedua kawannya, "Dia... dia terluka."
"Apakah parah?" tanya si nona cantik.
"Sangat parah. Untung luka luar, sudah kuberi obat," tutur si nona baju hijau.
Pemuda itu menaruh Tek-ih Hujin di tanah, lalu membantu menolong Lamkiong Peng. "Jangan menangis, adik bodoh, kan sudah kautemukan dia," ucap si nona cantik sambil mengusapkan air mata si nona baju hijau.
"Tidak, aku tidak menangis, aku terlampau gembira," kata si nona baju hijau. Dia bilang tidak menangis, namun air mata terus meleleh.
Dengan bantuan tenaga dalam pemuda perlente itu, perlahan Lamkiong Peng mulai siuman. Waktu membuka mata dilihatnya tiga buah wajah yang sudah dikenalnya; seketika rasa duka dan girang membanjiri hatinya, ia sangka berada dalam mimpi. Agak gemetar tubuh si nona baju hijau begitu beradu pandang dengan Lamkiong Peng. Segera ia menunduk malu dan melepaskan tangannya yang merangkul anak muda itu.
Lamkiong Peng berdiri, sapanya kepada pemuda perlente itu, "Tik-heng, sekian lama berpisah, sungguh seperti lahir kembali pertemuan ini."
Mendadak si nona cantik bersolek tadi menyela, "Lamkiong Peng, dengan susah payah Nona Yap mencarimu kian kemari, akhirnya jiwamu dapat diselamatkannya, masa tidak kau lihat dia?"
Lamkiong Peng melongo, perlahan pandangannya beralih ke arah si nona baju hijau, ucapnya, "Nona... Nona Yap, sungguh aku..."
"Lukamu belum sembuh, lebih baik jangan banyak bicara dulu," kata si nona baju hijau alias Yap Man-jing.
Lamkiong Peng memandang nona cantik bersolek itu sekejap, tanyanya dengan ragu, "Dan ini... ini..."
"Dia inilah pengantin baru, iparmu alias istriku..." pemuda baju perlente itu bergelak tertawa.
Lamkiong Peng tercengang, tapi cepat ia berseru girang, "Aha, tak kusangka Tik-heng sudah menikah, selamat dan berbahagialah!"
Kiranya pemuda perlente ini adalah Tik Yang dan nona cantik itu bernama Ih Loh. Tik Yang tertawa, katanya, "Haha, dalam urusan lain aku memang ketinggalan jauh, tapi urusan kawin aku telah mendahuluimu. Pertemuan kita ini sungguh sangat..."
Mendadak ucapannya terhenti ketika dilihatnya air muka Lamkiong Peng berubah pucat. Ia melongo dan mencoba tanya apa yang terjadi. Dengan menyesal Lamkiong Peng lantas menceritakan kisah cintanya dengan Bwe Kim-soat serta sikap Kim-soat terakhir tadi.
Mengenai Bwe Kim-soat, selagi dalam keadaan tak sadar, samar-samar dirasakan hawa panas yang sukar tertahan. Waktu ia membuka mata, dilihatnya hutan di sekelilingnya sudah hampir berubah menjadi lautan api. Ia terkejut dan cepat melompat bangun. Ketika teringat pada Lamkiong Peng, ia menjadi khawatir akan keselamatan anak muda itu. Segera ia berdiri keluar hutan. Selagi ia hendak bersuara memanggil, pada saat itulah dilihatnya di ketinggian tebing karang sana ada beberapa bayangan orang. Bahkan Lamkiong Peng yang dicemaskan keselamatannya saat itu justru berada dalam pangkuan seorang gadis.